Banyak hal yang kini membuat keduanya mulai merasa nyaman. Segala interaksi di antara mereka mengalir dengan begitu normal dan membuat kata asing tak sesuai lagi diberikan pada mereka. Meski begitu, ada rasa takut yang mengintai Amanda setiap kali rasa itu merasuki sanubarinya. Ia takut kalau semua kenyamanan di antara mereka akan segera berakhir. Ia takut bila Rai lagi-lagi akan menyadarkan apa yang ada di antara mereka.
Amanda pun tidak pernah berhenti mengingat dirinya sendiri bahwa semua kebahagiaan yang dirasakannya saat ini adalah semu yang suatu saat nanti akan menemukan titi akhir. Walau sadar, semua yang ada di antara mereka akan segera berakhir, Amanda berharap ia bisa menikmati semua kesemuan itu sedikit lebih lama lagi.
Ia ingin mengabadikan apa yang ada di antara mereka seperti sebuah foto yang mampu mengabadikan moment kebahagiaan seseorang. Andai saja semudah itu cara kita mengabadikan kebahagiaan, maka tak ada seorang pun di dunia ini yang akan merasa sedih, bukan?
Sang photographer menunjukkan hasil-hasil foto mentah keduanya dan menanyakan pada mereka foto mana yang mau dicetak dalam ukuran besar. Rai memandang Amanda, seakan memberikan keputusan itu untuk Amanda. Sedang Amanda mendadak salah tingkah.
“Aku yang harus memilihnya?” Amanda memastikan dan dibalas dengan anggukan oleh Rai. Pria itu mempertipis jarak di antara tubuh mereka agar Amanda bisa menatap dengan jelas ke layar laptop yang tengah menampilkan beberapa foto yang diambil tadi.
Amanda tak kuasa menahan senyum yang menghiasi wajahnya begitu mengamati foto-foto yang ada di sana. kebahagiaan terlukis jelas di wajah keduanya di dalam setiap foto yang ditampilkan. Amanda berharap, wajah yang terlihat tulus di dalam foto-foto tersebut bukan sekadar ilusi yang tertangkap kamera. Ia harap, memang ada ketulusan di antara mereka.
“Bagaimana kalau foto yang ini?” tanya Amanda seraya mengarahkan jari telunjuknya ke layar laptop. Tampak foto keduanya yang tengah memandang lembut dengan senyum yang terlihat indah. Dari semua foto yang diambil, Amanda menyukai yang ini.
Rai mengangguk setuju tanpa ingin berdebat atau berdiskusi terlebih dahulu. Ia hanya ingin Amanda yang menentukan pilihan. Toh, wanita paling tahu foto mana yang bisa dikatakan bagus untuk dicetak dan menghiasi ruang tamu mereka nanti. Amanda tersenyum lebar mendapati respon dari Rai dan memberitahu Sang photographer akan pilihannya.
“Pilihan yang bagus. Dengan melihat foto ini, orang-orang akan merasa iri dengan cinta kalian,” komentar Sang photographer yang tak mengetahui apa pun tentang hubungan keduanya. Andai memang apa yang diabadikan oleh kamera adalah kenyataan yang ada di antara mereka, mungkin Amanda akan merasa senang dengan pujian dari pria itu.
“Terima kasih banyak. Kami akan segera kembali ke hotel bila semuanya sudah selesai,” ucap Rai seraya berdiri. Selepas sesi pemotretan keduanya langsung membersihkan riasan di wajah dan mengganti pakaian keduanya dengan pakaian yang mereka kenakan tadi. Kini, Rai tak ingin berlama-lama di tempat itu. Ia ingin membawa Amanda berkeliling untuk menikmati liburan mereka. Rai yang sangat jarang berlibur akan menggunakan waktu yang ada dengan sangat baik. Ia tak ‘kan mensia-siakan hadiah dari neneknya itu.
Mereka semua berdiri dan saling berjabatan, lalu mereka berpamitan. Rai menggenggam tangan Amanda saat berjalan menuju mobil yang disewa pria itu untuk mempermudah keduanya ke sana-ke mari di Bali. Jika dilihat dari luar, orang-orang pasti akan mengira Amanda sangat bahagia. Genggaman tangan yang kerap dilakukan sepasang orang dimabuk cinta, begitu mudah mereka lakukan kini. Semua terlihat wajar dan tak lagi ada kecanggungan yang mereka rasakan.
Andai saja Amanda bisa terus-terus tenggelam dalam kesemuan itu, maka ia ingin berada di sana selamanya. Egoiskah bila dirinya mulai memperhatikan dan menginginkan pria itu? Tidak, semua ini tak pantas ia rasakan karena bukan seperti itulah yang ada di antara mereka.
“Kamu mau jalan-jalan ke mana?” tanya Rai begitu mereka sudah duduk di dalam mobil, “Nggak mungkin saat liburan begini, kita terjebak di kamar mulu, kan?” lanjut pria itu seraya menatap Amanda seakan menantikan jawaban dari wanita itu, sedang Amanda tampa berpikir sesaat. Ia tak begitu tahu tempat liburan di sana dan rasanya ia tak ada hak untuk meminta lebih dari Rai yang sudah menghujaninya dengan begitu banyak kebaikan. Hal menakutkan yang membuatnya takut menutup mata saat malam hari tiba, ia takut semuanya akan segera berakhir.
“Aku nurut aja, Mas. Aku nggak begitu mengerti daerah sini dan ini pertama kaliku pergi keluar kota seperti ini,” jawab Amanda seraya tersenyum tipis. Apa yang dikatakan wanita itu membuat Rai tercengang sesaat. Apa yang wanita itu lakukan di masa mudanya, hingga tak pernah sekalipun berpergian keluar kota ataupun berlibur seperti ini?
“Belum pernah keluar dari Jakarta sama sekali?” tanya pria itu meneliti.
Amanda mengangguk. “Bahkan Bogor atau Tangerang pun nggak pernah,” Amanda tersenyum kecut, “Aku nggak punya waktu untuk semua itu.”
Rai tergelak pelan. “Ternyata, kamu jauh lebih sibuk daripada aku.” Pria itu menggeleng-geleng, tak menyangkan jika dirinya yang jarang berlibur masih dianggap lebih beruntung daripada Amanda yang tak pernah meninggalkan Jakarta sama sekali.
“Bukan sibuk yang diinginkan, namun kebutuhkan hidup,” Amanda tersenyum masam, “Aku pikir, orang sepertimu nggak akan paham hal seperti ini,” lanjut wanita itu seraya menatap Rai dengan tatapan lekat, sedang yang ditatap merasa bersalah.
Sejujurnya, mau kau memiliki harta berlimpah ataupun tidak. Kau akan memiliki tanggungjawab masing-masing yang harus dipenuhi. Rutinitas yang selalu membuatmu tetap sibuk. Amanda salah jika mengira orang seperti Rai tak akan paham akan apa yang telah dilalui dunia itu. Bukankah setiap manusia memiliki masalahnya masing-masing?
“Hidupku pun nggak seenak yang kamu pikirkan, Manda. Terkadang, ada beberapa hal yang nggak bisa kau selesaikan hanya dengan uang.” Apa yang terjadi di masa lalu dan juga perdebatannya dengan Amanda, membuat pria itu sadar jika uang bukanlah penyelesai semua masalah yang ada di sekitarnya. Uang tak selalu bisa memberikanmu apa yang kau inginkan.
Amanda tercengang sesaat. Apa yang pria itu katakan membuat Amanda mulai berpikir. Masalah apa yang bisa dialami orang seperti Rai? Ia pikir, orang-orang seperti itu memiliki kehidupan yang damai tanpa masalah. Ia lupa, jika masalah adalah teman baik semua manusia di bumi ini. Tak ada masalah, maka kau tak hidup, begitu kata orang.
“Maaf, aku pikir, hidupmu jauh dari kata masalah,” ucap Amanda penuh penyesalan.
Rai mengenggeleng dan berkata. “Aku yang seharusnya minta maaf. Maafkan apa yang kukatakan padamu kemarin. Aku sadar, jika memang nggak seharusnya menganggapmu melakukan semua hal hanya demi imbalan uang.” Pria itu mengulum senyum.
Entah mengapa ketulusan dan kemudahan Amanda meminta maaf, bisa menular pada Rai. Pria itu tak lagi merasa lidahnya kelu saat meminta maaf atas kesalahan yang diperbuatnya secara langsung pada wanita itu. Mungkin, keterbiasaan ini mulai membuatnya nyaman.
“Bagaimana kalau kita berjalan-jalan di pantai hotel saja?” Rai menebak jika mungkin saja Amanda merasa lelah setelah sesi pemotretan mereka, “Aku tahu, kamu pasti capek setelah pemotretan tadi. Besok, aku akan mengajakmu jalan-jalan.”
Amanda mengangguk setuju. Rai segera memberitahukan pada sopir mereka untuk membawa keduanya kembali ke hotel. Dalam perjalanan mereka berbagi tawa dan juga cerita, rutinitas yang sangat Amanda sukai saat bersama dengan Rai yang tak lagi kaku padanya.
Menit demi menit berlalu, setelah membersihkan diri, keduanya berjalan-jalan santai di pinggir pantai. Bercengkrama dengan santai dan berbagi tawa. Keduanya menikmati pemandangan yang menyihir keduanya. Mereka memutuskan duduk di tepi pantai seraya menikmati senja berpulang. Hati Rai begitu tentram saat bersama dengan Amanda.
“Haruskah kita memesan makanan dan menyantapnya di sini?” Rai memecahkan keheningan di antara mereka. Amanda masih terpesona dengan langit senja yang menyihir.
“Apa bisa seperti itu?” tanya Amanda seraya menoleh ke arah Rai.
“Nggak ada yang nggak bisa kulakukan jika kamu mau,” ucap pria itu penuh percaya diri.
Perkataan Rai membuat Amanda merasa dirinya sangat istimewa, membuat Amanda semakin takut dengan ilusi yang diberikan pria itu padanya. Amanda bahkan tak lagi bisa mengalahkan logika yang terus-terusan memaksanya tak terbuai dalam kesemuan itu.
“Kalau begitu, aku ingin mencobanya,” ujar Amanda dengan wajah riang. Meski tahu semua itu tak nyata. Hati kecil Amanda ingin menikmati kesemuan itu.
“Tunggu sebentar. Aku akan ke restoran dan memintanya. Mau request makanan khusus?”
Amanda menggeleng. “Nggak. Apa aja bisa kumakan.”
Rai tergelak, lalu berlalu pergi meninggalkan Amanda setelah berpamitan pada wanita itu. Sepeninggalan Rai, Amanda kembali menenggelamkan dirinya dalam deburan ombak yang menghipnotis. Ia memejamkan mata, menikmati semilir angin laut yang menyejukkan.
Amanda dapat merasakan sentuhan di lengan yang membuatnya tersenyum menebak jika Rai lah yang menyentuhnya. Amanda dapat merasakan ciuman kasar dengan ritme tergesa-gesa yang ia berikan pada lehernya. Ada bau alcohol yang cukup menyengat, tercium saat seseorang itu mengigit pelan bibir Amanda. Membuat Amanda segera membuka mata. Ia tashu benar jika pria yang tengah menciuminya itu bukanlah Rai. Pria itu memang lebih sering mabuk saat menyentuhnya, namun tidak belakangan ini. Apalagi tadi, Rai dalam keadaan sepenuhnya sadar.
Tubuh Amanda di baliknya dengan kasar, dengan gerakan yang begitu cepat, lalu dengan mudahnya ia mendorong tubuh Amanda hingga membuat wanita itu telentang di atas pasir pantai. Ia mengambil tempat di atas tubuh Amanda, mengunci tubuh Amanda yang terbaring kaku. Jantung Amanda seakan berhenti berdetak dalam hitungan detik begitu melihat Jansen yang tersenyum keji padanya. Tak menghiraukan keterkejutan Amanda seakan bisa menebak reaksi wanita itu saat sadar siapa yang tengah menciuminya dengan penuh hasratt.
“Aku bisa memuaskanmu jauh lebih baik daripada Rai.” Senyum sinis terlukis jelas pada wajah pria itu. Amanda terus berusaha memberontak. Amanda kalah cepat dari pria itu yang dengan sigap mengunci kedua tangannya ke atas kepala, sedang sebelah tangannya lagi membekap mulut Amanda saat melihat wanita itu hendak berteriak.
“Kamu mau berteriak? Semua itu nggak ada gunanya. Nggak akan ada yang datang menyelamatkanmu.” Amanda menggerakkan kaki, berusaha menendang pria itu agar pergi dari atasnya, namun apa yang ia perbuat tak memberikan hasil apa pun. Tenaga pria itu jauh lebih kuat daripadanya. Apa yang Amanda perbuat tak mampu menyelamatkan dirinya.
“Nggak usah sok jual mahal. Semua orang juga tahu siapa dirimu.” Pria itu tersenyum keji.
Kedua mata pria itu memerah, menandakan jika dirinya sudah mabuk berat. “Lebih baik kamu nikmati saja permainan kita dan aku akan membayar mahal jasamu.” Senyum pria itu terlihat menjijikkan di mata Amanda. Tubuh Amanda gemetar ketakutan.
Tanpa aba-aba, pria itu kembali melayangkan ciumannya pada leher jenjang Amanda. Merasakan sentuhan pria itu membuat rasa takut Amanda semakin menjadi-jadi. Amanda tak boleh menyerah. Wanita itu mengigit tangan Jansen yang membekap mulutnya.
Pria itu menamparnya dengan kuat dan teriak. “Dasar pelacurr!!” Rasa perih menjalar ke pipi Amanda, menginggalkan rasa panas di sana.
Tangannya bergerak semakin cepat, tak lagi mau mensia-siakan kesempatan yang ada. Pria itu. Dengan amarah pria itu menarik kasar gaun yang Amanda kenakan, tenaganya tak mampu menyobek gaun yang Amanda kenakan, namun mampu merusak kancing bagian depan dari gaun tersebut yang kini mengekspos tubuh bagian depannya.
Amanda masih saja berusaha melawan. Ia tak mau membiarkan rasa jijik dan ketakutan mengalahkannya. Dengan sisa tenaga, Amanda menggerakkan tubuhnya, berharap pria itu segera turun dari atas tubuhnya, namun perbuatannya malah semakin membuat Jansen marah. Kini, pria itu mencengkram kuat wajah Amanda dengan sebelah tangannya dan ia menjadikan bibir Amanda sebagai sasaran dari kegilaannya. Amanda menggerak-gerakkan kepala, tak sudi bila bibir mereka saling bersentuhan. Pantai tempatnya berada sepi, hingga ia tak mungkin bisa berteriak meminta pertolongan. Tak ‘kan ada seorang pun yang akan menyelamatkannya.
Saat pria itu lengah, Amanda menggunakan sisa tenaganya untuk mendorong d**a pria itu. Kali ini, usahanya berhasil. Amanda tak lagi memikirkan hal lain, selain kabur dari sana. Namun belum sempat ia melangkah, pria itu berhasil mencengkram pergelangan kakinya, kemudian dengan cepat kembali mengambil tempat di atas Amanda. Tamparan kembali diberikan pria itu pada wajah Amanda. Kini kedua pipinya terasa sakit, Amanda bahkan dapat merasakan rasa anyir darah yang menghiasi sudut bibirnya.
“Nikmati saja. Aku juga tahu kalau Rai membayarmu untuk menggunakan jasamu. Aku akan membayarmu lebih banyak, jadi nggak perlu lagi jual mahal denganku.”
Pria itu menarik ke atas gaun yang Amanda kenakan, menyisakan pakaian dalam wanita itu. Jansen seakan gelap mata dan kembali menyerang Amanda. Amanda merasa begitu jijik dan ketakutan. Ia tak lagi memiliki tenaga untuk melawan. Amanda pada akhirnya memilih memejamkan matanya erat-erat dan air mata mengalir membasahi pipinya.
Air mata Amanda berlinang deras tanpa bisa ia hentikan lagi. Haruskah ia menanggung beban seberat ini lagi dalam hidupnya? Tak pantaskah dirinya untuk bahagia. Saat asa menguasai hatinya, harapan seakan tak ada lagi, saat itu juga Amanda dapat merasakan beban di atas tubuhnya menghilang. Dirinya selamat. Amanda membuka mata cepat-cepat.
Pria itu sudah mengambil tempat di atas Jansen, memukuli wajah pria itu bertubi-tubi. Pria itu bahkan tak peduli bila lawannya sudah tampak tak sadarkan diri. Matanya seakan menggelap karena amarah yang menguasainya. Tidak, Jansen bisa saja kehilangan nyawanya bila pria itu dibiarkan untuk terus memukuli Jansen seperti orang gila.
Amanda segera memeluk tubuh pria itu dari belakang. “Cukup, Mas. Hentikan ini. Kamu bisa membunuhnya.” Air mata Amanda mengalir semakin deras.
“Aku memang mau membunuhnya!”
Tidak, semau ini tak boleh terjadi. Ia tak boleh membiarkan Rai melakukan kejahatan yang akan merusak masa depannya. Amanda semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Rai. “Aku mohon, Mas. Lepaskan dia. Jangan lakukan ini lagi.”
“Berengsekk … berani-beraninya dia menyentuhmu! Siall!”
“Aku hanya mau pergi dari sini. Aku mohon, Mas,” ucap Amanda dengan suara penuh permohonan, berharap Rai tak ‘kan melakukan hal yang akan disesalinya di kemudian hari.
Rai menghentikan serangannya, lalu menatap nanar kondisi Amanda. Ia tak dapat membayangkan apa yang akan terjadi pada wanita itu bila saja dirinya terlambat. Rai membuka jaketnya, lalu menutupi tubuh Amanda yang terekspos karena perbuatan Jansen.
“Tunggu di sini. Aku belum puas menghajarnya.”
Amanda mencengkram pergelangan tangan Rai, hendak menghentikan pria itu. Ia menatap Rai dengan tatapan penuh permohonan. Sungguh, yang ingin Amanda lalukan adalah segera pergi dari sana. Ia merasa begitu jijik dengan tubuhnya sendiri.
“Aku mohon.”
Rai tak mampu lagi menolak. Ia mendekati Jansen, menendang perut pria itu. “Dia istriku, bodoh!” teriak pria itu sebelum meninggalkan Jansen yang tampak tak sadarkan diri.
Rai merangkul lengan Amanda dan berusaha memberikan tompangan pada Amanda yang terlihat begitu lemah untuk berjalan. Rai yang tak tega segera membawa wanita itu ke dalam gendongannya. Berulang kali ia merutuki dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada Amanda.