Kata yang paling sulit diucapkan selain kata cinta adalah kata maaf. Entah egomu yang terlalu besar atau kau merasa begitu rendah setelah meminta maaf yang membuat kata itu sulit diutarakan. Padahal, terkadang yang kita perlukan hanyalah sepatah kata maaf untuk memperbaiki hati yang luka. Kata maaf yang penuh ketulusan.
Amanda keluar dari kamar mandi dan mendapati Rai tengah berdiri di balkon kamar mereka. Wanita itu hanya memandang Rai dari kejauhan dan tak berani untuk mendekati pria itu. Hatinya belum siap untuk kembali direndahkan, meski apa yang pria itu katakan adalah kenyataan. Pria yang dipanggilnya ayah lah yang menjerumuskannya ke dalam kehidupan seperti ini, namun dirinya yang memilih untuk melanjutkan kehidupan mengerikan itu. Lalu, apa haknya untuk merasa tersinggung ataupun marah dengan semua ucapan Rai padanya?
Amanda tak lagi ingin terbuai dengan punggung yang tak ‘kan pernah menjadi tempatnya bersandar. Wanita itu memutuskan untuk berjalan ke tempat tidur dan merebahkan tubuhnya di sana. Ia harap, kantuk segera menjemputnya agar ia tak perlu lagi berbagi cerita dengan Rai. Amanda memang bodoh karena sempat terbuai dengan kebaikan Rai yang seakan memanusiakan dirinya. Namun sayang, dirinya hanyalah wanita rendah yang tak sebanding dengan orang-orang seperti Rai yang memiliki kehidupan yang tak pernah memikirkan perihal uang. Kehidupan yang kerap membuat orang-orang seperti Rai menganggap, jika Amanda hanya menyukai uang.
Amanda memejamkan matanya dan berusaha tidur, namun tak bisa ia lakukan. Jantung Amanda berdebar kencang begitu merasa tempat kosong di sebelahnya telah diisi dengan orang yang diyakininya adalah Rai. Amanda memutuskan pura-pura tidur agar tak harus berhadapan dengan Rai. Hatinya kacau dan ia tak tahu bagaimana cara menghadapi Rai setelah apa yang terjadi. Ia tak tahu ekspresi seperti apa yang harus ia tunjukkan pada pria itu. Rai pasti terkejut dengan perkataan Amanda sebelum ke kamar mandi tadi atau merasa aneh dengan ucapannya.
“Apa kamu sudah tidur?” pertanyaan yang keluar dari mulut Rai membuat Amanda semakin tak berani bergerak. Ia membiarkan dirinya menjadi batu dengan tubuh yang mengambil posisi miring, membelakangi Rai. Ia takut bila Rai tahu dirinya belum tidur dan kembali membahas hal yang sempat membuat hatinya remuk. Hatinya perlu diistirahatkan dari rasa sakit.
Rai tersenyum tipis saat tak menerima respon apa pun dari Amanda. “Kamu pasti marah dengan semua yang kukatakan tadi?” tebak Rai. Mengetahui Amanda sudah terlelap, membuat Rai lebih berani mengutarakan isi hatinya pada wanita itu. Sesungguhnya, tanpa bertanya pada Amanda, ia bisa menebak jika perkataannya tadi pastilah menyinggung wanita itu.
Sedang Amanda tersenyum tipis dengan mata yang masih terpejam. Ia berkata dalam hati, “Apakah aku pantas untuk marah saat kamu mengatakan kenyataan tentangku?” lidah Amanda terasa kelu dan tak berani mengutarakan pertanyaan yang mengisi sanubarinya itu. Ia takut bila Rai menganggapnya tak pantas untuk merasa marah ataupun tersinggung. Ia ngeri membayangkan respon atau jawaban yang akan pria itu berikan untuknya.
“Aku memang sudah keterlaluan dan wajar jika kamu marah,” lanjut Rai lagi masih dengan mata yang memandang punggung Amanda, “Nggak seharusnya aku merendahkanmu seakan kamu bukan manusia yang tak mempunyai harga diri. Aku bersalah.”
Ada jeda sebelum pria itu melanjutkan perkataannya. “Maafkan aku,” ucap pria itu setengah berbisik, namun Amanda masih dapat mendengar jelas permintaan maaf Rai. Entah bodoh atau memang hati Amanda sudah menjadi lemah, hingga ia menerima permintaan maaf pria itu. Hatinya yang sempat tersakiti dengan mudahnya memaafkan penghinaan pria itu. Mungkin memang dirinya adalah seorang wanita murahann yang tak punya harga diri. Akan tetapi, Amanda dapat merasakan ketulusan dari ucapan maaf Rai dan tak mampu mencegah rasa bahagia yang menjalar perlahan dan mengisi setiap relung sanubarinya.
“Aku sudah memaafkanmu,” ucap Amanda dalam hati dengan senyum yang terukir pada wajah wanita itu. Sedetik kemudian, Amanda dapat merasakan tangan Rai yang melingkar pada perutnya, pria itu memeluknya erat-erat dan Amanda tak mampu mencegah jantungnya yang berdegup kencang karena kelembutan yang pria itu tunjukkan padanya.
“Kamu bukanlah seperti w*************a dan murahann di luar sana. Mungkin, aku hanya nggak suka melihat ada pria lain yang mendekatimu. Nggak seharusnya, aku menyakitimu dengan kata-kataku. Oleh karena itu maafkan aku,” pria itu bergumam pelan, sementara hati Amanda bergejolak senang dengan semua permintaan maaf pria itu. Hati Amanda berdesir hanya dan untuk sesaat ia dapat merasakan bila ada orang yang masih menginginkannya.
Tak ada lagi kalimat yang keluar dari mulut Rai, membuat Amanda berpikir jika pria itu pasti sudah tertidur. Amanda ingin menikmati kehangatan yang pria itu bagi dan berlama-lama di dunia mimpi. Ia akan memikmati setiap detik yang ada karena semua akan berakhir begitu ia membuka mata. Hati Amanda dipenuhi dengan rasa bahagia. Kantuk menjemput keduanya dan wajah damai mereka terlihat. Hati keduanya merasa begitu tenang.
Mentari pagi mengintip secara malu-malu melalui celaahh gorden. Amanda mengerjapkan matanya. Tadi malam, tidurnya nyenyak sekali. Ia bahkan tak terbangun sama sekali berkat kehangatan yang Rai bagikan untuknya. Namun kini, tangan pria itu tak melingkar dan mendekap tubuhnya, membuat Amanda mulai berpikir jika apa yang terjadi kemarin hanya mimpi yang kini telah berakhir. Amanda tersenyum tipis dan mengubah posisi tidurnya. Ia duduk di tepi tempat tidur dan memandang sekeliling, ia tak menemukan Rai di kamar mereka, membuat Amanda bertanya-tanya kemana pria itu pergi? Apa Rai merasa ganjal bersamanya setelah apa yang terjadi di antara mereka?
Suara decoder pintu yang terbuka, membuat Amanda mengarahkan pandangan ke sumber suara. Matanya bertemu dengan mata Rai, keduanya saling tersenyum kikuk. Entah mengapa ada rasa yang mengganjal hati. Rai yang merasa malu dengan permintaan maafnya tadi malam, sedang Amanda yang tak tahu harus bersikap seperti apa setelah permintaan maaf pria itu. Meski, pria itu meminta maaf saat mengira dirinya sudah tertidur, itu sudah cukup bagi Amanda.
“Kamu baru bangun?” tanya Rai seraya berjalan ke arah tempat tidur mereka, “Aku membelikan sarapan untuk kita berdua,” lanjutnya lagi sembari meletakkan dua Styrofoam yang dibawanya dengan kantong plastik itu ke meja bulat dekat jendela kamar.
Amanda tersenyum dan beranjak dari tempat tidur. “Makasih banyak, Mas,” ucap Amanda begitu sudah berdiri di samping Rai, “Kamu makan saja dulu. Aku mau mandi.”
Rai menggeleng. “Kamu mandilah dulu dan kita akan sarapan bersama,” pria itu tersenyum manis pada Amanda, membuat senyum yang sama menular pada Amanda.
“Kalau begitu, aku mandi dulu ya, Mas.” Rai mengangguk sebagai respon dari ucapan Amanda, sedang Amanda segera beranjak menuju kamar mandi.
Selang beberapa menit, Amanda sudah kembali bergabung dengan Rai dan menyantap makanan yang dibelikan pria itu untuknya. Sesekali mereka bertukar pandang dan berbagi senyum, seperti seorang yang baru mengenal dan entah mengapa malah terkesan kikuk.
“Setelah ini, kita akan ke pergi untuk bertemu dengan photographer yang nenek pesan,” Rai memecahkan keheningan di antar mereka. Ia tak ingin terus-terusan terjebak dalam kecanggungan yang membuatnya merasa tak nyaman. Mereka butuh pengalihan agar tak lagi membahas hal-hal yang membuat rasa sakit kembali menjalar ke penjuru hati.
“Photographer?” Amanda menautkan kedua alis dan menatap Rai penuh tanya.
Rai mengangguk. “Nenek meminta kita melakukan foto prewedding dengan gaun pengantin dan juga jas untuk kenang-kenangan,” Rai menjelaskan, “Nenek sudah menyewa photographer dan juga gaun yang harus kamu kenakan untuk pemotretan. Tadinya, aku mencoba menolak, tapi setelah dipikir-pikir nenek ada benarnya. Kita butuh foto sebagai kenang-kenangan yang bisa dipajang di ruang tamu yang ada di rumah. Lagipula, ini jauh lebih baik daripada nenek memaksa kita untuk membuat resepsi yang merepotkan.”
Amanda mengangguk setuju. Ya, daripada harus membuat resepsi yang hanya membuang-buang uang, melakukan sesi pemotretan ini jauh lebih baik. Lagipula, ia bisa merasakan menjadi pengantin sesaat yang tampil cantik dengan gaun yang menawan. Setidaknya, akan ada satu hal yang bisa membuatnya mengenang hari di mana ia pernah menjadi seorang pengantin.
“Kamu nggak masalah, kan?” tanya Rai memastikan, “Kalau memang nggak mau melakukan foto ini. Aku bisa membujuk nenek untuk membatalkannya.”
Amanda menggeleng cepat. “Nggak masalah sama sekali. Aku malah menantikannya,” ucap Amanda dengan senyum girang, “Setidaknya, aku bisa merasakan mengenakan gaun pengantin,” lanjut wanita itu masih dengan senyum yang sama. Sementara Rai tercengang melihat kebahagiaan wanita itu akan hal yang menurut Rai begitu sederhana. Mungkin memang Amanda memiliki mimpi yang sama dengan kebanyakan wanita di dunia ini. Yang menginginkan pernikahan yang membuat mereka seperti ratu sehari. Dengan gaun indah dan juga riasan wajah yang akan semakin menonjolkan kecantikan wanita itu.
“Apa menurutmu, kita harus mengadakan resepsi? Aku bisa meminta nenek membantu mengadakan semua itu di hotelnya, jika kamu memang menginginkannya.” Rai terdiam. Ia merasa terkejut dengan perkataan yang baru saja keluar dari mulutnya. Bukankah ia tak menyukai hal yang merepotkan, lalu mengapa dengan bodohnya ia bertanya pada Amanda. Entah mengapa, melihat kebahagiaan yang menghiasi wajah Amanda membuatnya ingin melakukan sesuatu untuk membuat wanita itu semakin bahagia. Mungkin dirinya sudah gila.
Amanda sendiri tak mampu mengenyahkan keterkejutannya saat mendengarkan pertanyaan Rai. Namun dengan cepat wanita itu mengubah mimic wajahnya, ia tak ingin Rai merasa tak nyaman dengan keterkejutan yang ia tunjukkan. Lagipula, Amanda tak ingin besar kepala.
“Nggak perlu, Mas. Kamu juga bilang nggak mau melakukan resepsi karena merepotkan. Sejujurnya, aku juga merasakan hal yang sama, jadi kita nggak perlu mengadakannya.”
Rai tersenyum tipis. “Tapi, bila kita mengadakannya untuk kalangan keluarga saja, menurutku hal itu nggak begitu merepotkan,” pria itu menatap Amanda lekat-lekat, “Aku pikir, semua wanita pasti ingin menjadi ratu sehari. Aku hanya ingin membuatmu merasakan sensasi itu. Melihatmu betapa senang karena akan menggunakan gaun pengantin, membuatku berpikir jika membuatmu menikah dengan cara yang sangat sederhana adalah hal yang egois.”
Amanda tak mampu menahan gejolak yang menguasai sanubarinya. Ia tahu jika dirinya tak boleh terbuai akan kebaikan maupun perkataan pria itu, namun dirinya tak mampu menahan rasa yang mulai menjalar ke penjuru hatinya. Rasa diinginkan dan bahagia yang tak pernah ia dapatkan. Ia tak menyangka pria itu mau memikirkan dirinya dan semua ini bagai mimpi indah.
“Nggak perlu, Mas. Aku bersungguh-sungguh,” Amanda tersenyum menenangkan, sedang Rai menatapnya dengan tatapan meneliti, “Mengenakan gaun pengantin saat foto prewed nanti sudah lebih dari cukup bagiku. Setidaknya, ada hal yang nantinya bisa kukenang.”
Rai menarik napas panjang dan menghelanya perlahan. Ia tak lagi ingin memaksa Amanda jika memang wanita itu tak menginginkan resepsi. “Cepat habiskan makananmu. Kita harus segera ke Taman Ujung di Karangasem untuk melakukan sesi pemotretan. Nenek yang memilihkan tempat itu untuk kita karena banyak yang menggunakan tempat itu untuk prewed.”
“Aku akan segera menghabiskan makananku,” ucap Amanda bersemangat yang membuat Rai tergelak melihat wajah gembira Amanda yang tampak seperti anak kecil yang senang saat menerima mainan yang diinginkannya. Dalam diam Rai mengamati wajah Amanda yang kini sudah menyantap makanannya dengan lahap. Wajah polos dan cantik Amanda seakan mampu mengalihkan fokusnya. Ia merasa bersalah karena membuat wanita itu terluka.
“Maaf karena aku selalu menyakitimu dengan kata-kataku,” ucap Rai di dalam hatinya. Pria itu ikut menyantap makanannya bersama dengan Amanda. Sesekali, mereka membicarakn konsep foto prewedding yang disampaikan nenek pria itu disambungan telepon. Tak ada lagi kecanggungan di antara mereka, seakan kata maaf yang telah disampaikan tanpa sepengetahuan Si pengucap telah diterima oleh Amanda itu mampu memperbaiki kembali hubungan di antara mereka. Bukankah ajaib kata maaf yang sederhana. Dengan mengucapkannya secara bersungguh-sungguh, maka luka di dalam hati bisa sirna begitu saja.
Beberapa menit kemudian, keduanya sudah tiba di tempat yang telah diberitahukan oleh nenek dari pria itu. Di sana mereka bertemu dengan Ageng yang tidak lain adalah seorang photographer yang disewa oleh nenek dari pria itu. Tim dari photographer tersebut mempersiapkan Amanda dan juga Rai. Amanda yang telah selesai dihias, bahkan tak percaya dengan tampilan dirinya di cermin yang tampak cantik, seperti bukan dirinya sendiri.
Tema dongeng dengan latar belakang istana kerajaan adalah tema yang dipilihkan oleh nenek dari pria itu. Amanda sendiri merasa jika dirinya telah berubah menjadi Cinderella yang telah menemukan pangerannya. Pria yang datang bak pangeran yang menyelamatkan meski dengan cara yang tak diduganya. Walau bagaimanapun, Amanda tetap bersyukur karena diselamatkan oleh Rai. Ia tak tahu bagaimana hidupnya tanpa pria itu.
Latar belakang utama untuk foto pre wedding di Taman Ujung Karangasem adalah bangunan arsitektur kerajaan dengan ciri khas penggabungan arsitektur Belanda, Arab dan Bali. Selain menonjolkan sisi arsitektur, Taman Ujung Sukasada terkenal juga akan kolam yang luas serta kebersihan taman yang sangat terjaga. Tempat yang sangat sempurna untuk mengabadikan potret mereka sebagai sepasang suami istri. Walau semuanya dimulai dengan kebohongan, namun dusta itu tak bisa terlihat oleh lensa kamera yang mulai mengabadikan keduanya.
Keduanya berpose seperti sepasang suami istri yang dimabuk cinta. Membiarkan Sang photographer mengarahkan keduanya dan mereka seakan larut dalam pandangan mata yang penuh kelembutan. Entah karena arahan Sang photographer atau suasana yang ada di sana yang membuat keduanya seakan tenggelam. Untuk sesaat mereka sempat ditipu oleh hati yang mengatakan jika apa yang ada di antara mereka bukanlah sekadar kebohongan semata.
“Bisa kalian lebih dekat lagi dan berpelukan. Jangan lupa tatapan penuh cintanya ya,” ucap Sang photographer yang membuat Rai menarik Amanda ke dalam pelukannya.
Keduanya saling bersitatap, meneliti sepasang netra mereka masing-masing. Kelembutan yang ada di sana, membuat senyum terukir secara otomatis di wajah mereka. Dalam hati Amanda terus berdoa agar waktu bisa berhenti untuk sesaat dan membiarkannya lebih lama berada di dunia dongeng bersama dengan pangeran yang menemukannya itu.
Meski cerita dongeng adalah kebohongan semata, Amanda ingin menenggelamkan dirinya sendiri dalam dusta yang entah mengapa terasa begitu manis. Tatapan mata Rai yang melembut seakan berkata jika Amanda bukanlah istri bohongannya.