BAB 05 Steamy

2102 Kata
Hades terus membawa Selena menyusuri koridor gelap bangunan itu. Dengan tertatih mengimbangi langkah Hades yang lebar, akhirnya keduanya sampai disebuah ruangan luas yang tampak kosong. Pria itu melepaskan Selena dengan sedikit mendorong hingga tubuh wanita itu tersungkur. Hades mengambil sebuah benda dari saku dalam jaketnya dan mengarahkan benda itu kearah kepala Selena. “Bangun!” Seru Hades memerintah dengan nada dingin. Selena mendongak menatap Hades yang langsung membuatnya ketakutan. Betapa tidak, pria itu sedang menodongkan pistol kearahnya dengan wajah memerah dan rahang yang mengeras. CRAKK Pria itu mengubah mode pistolnya menjadi on dan peluru siap meluncur kapanpun ia menarik pelatuknya. “Kubilang bangun,” bentak Hades. Selena menurut. Ia menumpukan kedua tangannya dan berusaha berdiri dengan benar meskipun kesulitan. Netranya tak mampu menatap Hades secara langsung, begitupula dengan wajahnya yang terus menunduk ketakutan. “Berdiri disana!” Hades menunjuk pada papan target yang berjarak sekitar 25 meter darinya. Selena memutar tubuhnya dengan ragu-ragu. Pundaknya sedikit didorong oleh Hades agar berjalan dengan lebih cepat. Butuh beberapa menit untuk Selena sampai ditempat yang dimaksudkan dan itu mengikis kesabaran Hades. “Ambil apel di meja itu dan letakkan diatas kepalamu!” Perintah pria itu yang membuat Selena gemetaran. Wanita itu tak langsung menuruti perintah sang raja. Tubuh terutama tangan dan kakinya yang gemetar membuat Selena kesulitan meraih buah berwarna merah yang dimaksud Hades. DORR “Aaahhh!” Selena memekik saat Hades melepaskan tembakannya. Peluru itu mengenai paha kiri Selena dan membuat wanita itu langsung terusungkur kembali. “Itu akibatnya kalau kau tidak mengindahkan perintahku!” Selena menekan bekas luka yang mengoyak celana jeansnya sambil merintih kesakitan. Ia bahkan sampai berkaca-kaca karenanya. Hades melangkah cepat kearah wanita itu, kemudian mengambil kursi yang tinggi dan meletakkannya didepan papan target. Setelahnya ia mengangkat tubuh Selena yang semakin hari semakin terasa ringan dan mendudukkannya diatas kursi. Tangannya meraih apel di meja samping papan target kemudian meletakkannya diatas kepala Selena. “Urusan kita belum selesai!” Seru Hades dengan tatapan tajamnya. “Langsung bunuh saja aku, Hades,” pinta Selena dengan tatapan nyalangnya. Pria itu menyeringai, “tidak semudah itu, Selena!” Telapak tangan besar Hades mengacak poni Selena dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya, “diam disini dan jawab pertanyaanku dengan benar!” Selena memperhatikan punggung Hades yang berjalan menjauh hingga sampai pada jarak yang telah ditentukan. Tatapan kebencian terhadap pria itu semakin besar dan ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan pernah memaafkan perlakuan pria itu padanya. Hades mengarahkan kepala pistolnya kembali kearah Selena yang sedang meringis kesakitan. Matanya berkaca-kaca dan tubuhnya bergetar. “Dengarkan peraturannya, Selena! Jika jawabanmu bohong maka peluruku akan menembus apel dikepalamu. Jadi, jika kau terus bergerak gemetar seperti itu, aku tidak bisa mengarahkan tembakanku ke tempat seharusnya dan mungkin akan langsung mengenai kepalamu. Permainan ini akan berakhir setelah kau menjawab semua pertanyaanku dengan jujur. Paham?” “Ii-iya.” “Oke! Pertanyaan pertama, kenapa kau bisa sampai babak belur?” “Tt-temanmu memukuliku.” “Dan kau tak menghindar atau membalas?” “Aa-aku sudah bb-bilang kalau ttidak -hiks- pernah belajar bela diri.” Selena mulai terisak dan terbata. “Apa kau tidak memiliki naluri alamiah untuk membalas?” Selena ingin menggeleng, namun ia teringat peringatan Hades untuk tidak bergerak. “Aa-aku -hiks- aku tidak tahu caranya.” “Lemah!” DORR “Aaaakkkhhh!” Selena memekik dengan tubuh yang bergetar, menyebabkan apelnya jatuh dan ia menangis semakin kencang. “Aa-ku menjawab dengan -hiks- jujur. Kenapa kau menembak?” Tanya Selena ketakutan. “Aku tidak menembak apel di kepalamu, sugar. Kenapa kau begitu ketakutan?” Pria itu malah mencemooh sambil mengisi ulang peluru di pistolnya. “Ambil kembali apel dipiring itu dan letakkan dikepalamu!” “Aa-aku akan mati karena se--rangan jantung -hiks- jika bukan karena pelurumu,” gerutu Selena sambil menuruti perintah Hades. “Kukira kau akan belajar cara membela diri jika kutinggalkan di dojo. Tapi kau terlalu lemah Selena!" Hades kembali mencibir. "Lagipula, apa yang bisa diharapkan dari seorang tuan putri lemah sepertimu?” Hades menyeringai dan kembali mengarahkan pistolnya pada wanita itu. “Darimana kau mendapatkan ponsel tadi?” Selena masih terus terisak dan tak bisa menjawab pertanyaan Hades. DORRR Satu peluru kembali ditembakkan yang melewati sisi kanan kepala Selena yang membuat wanita itu kembali berteriak menangis histeris. “Cepat jawab!” Hades mempersiapkan pistolnya kembali. “Aa-aaku tidak sengaja -hiks- menemukannya.” “Dimana? Milik siapa?” “Aa-aku tidak tahu. Aa-ku membuka setiap -hiks- laci disana ddan menemu-kannya.” “Kau menghubungi seseorang?” “Bbelum sempat, kkau sudah -hiks- merebutnya.” Hades menghela nafasnya seraya menonaktifkan pistol yang kemudian disimpannya kedalam saku jaket dan berjalan mendekat kearah Selena. Tangan kanannya ia letakkan dibawah bahu Selena sementara tangan kirinya di bawah lutut wanita itu. Tanpa aba-aba, Hades mengangkat tubuh Selena sekali lagi dan menggendongnya bridal style, namun wanita itu tak memberikan respon apapun kecuali isak tangis yang tak kunjung berhenti. “Belum saatnya kau bisa mendapatkan akses itu, Selena,” ujar Hades sambil terus membawa wanita itu melangkah memasuki sebuah ruangan lain. Ruangan itu tampak seperti kantor pada umumnya dengan meja, kursi, rak buku, computer, dan furniture lainnya. Hades mendudukkan Selena diatas meja hingga kaki wanita itu menggantung. Ia kemudian melangkah kearah rak dan mengambil sebuah kotak putih dengan tanda plus berwarna merah. “Lepaskan celanamu!” Perintah Hades setelah sampai didepan Selena lagi. Wanita itu membelalakkan matanya terkejut, “kk-kau mau apa lagi?” “Aku tidak bisa mengambil peluru dipahamu kalau kau masih memakai celana,” jawab Hades datar. “Kk-kau yang mengambilnya? Aa-apa tidak bisa me-manggilkan dokter?” Tanya Selena meragukan. “Ini hanya luka ringan. Aku biasa melakukannya sendiri,” jelas Hades. “Kkalau infeksi bagaimana?” “Kenapa kau begitu takut dengan infeksi padahal tadi memintaku langsung membunuhmu?” Hades menyindir. “Mau melepas sendiri atau aku yang melepaskan?” “Aa-aku bisa sendiri.” Selena dengan hati-hati menyentuh kancing celana jeansnya. Irisnya masih menatap lekat-lekat Hades yang melihatnya dengan tajam pula. “Jangan mengulur-ulur waktu!” Seru pria itu tidak sabar. Kancing celana itu sudah terlepas dari kaitannya. Begitupula dengan resleting yang sudah terbuka. Namun Selena tidak lekas membuka celananya. Ia hanya merasa canggung membuka pakaiannya didepan pria setengah setan itu. “Malu? Aku bahkan sudah sering melihatmu tanpa busana, Selena!” “Tetap saja,” gerutu wanita itu lirih. Hades kembali mengangkat tubuh Selena dan membuat wanita itu berdiri agar lebih mudah melepaskan celananya. Meskipun lambat, Hades berhasil membuat Selena melepaskan celananya sendiri dan menyisakan celana dalam yang sedikit tertutup t-shirt putihnya. Ia kemudian mendudukkan Selena kembali keatas meja. Lutut Hades ditekuk dan ia kini berada diantara kaki Selena. Tangannya mulai bergerak teratur mengambil peralatan operasi kecil dari hecting set untuk mengeluarkan peluru dari sisi dalam paha wanita itu. "Bagaimana? Sampai saat ini, apa kau sudah mengetahui pekerjaanku?" Tanya Hades disela-sela kegiatannya. "Iisshhh." Selena meringis merasakan sakit di kakinya. "Kalian hanya orang gila yang berkumpul dan melakukan kekerasan." Hades terkekeh tanpa mengalihkan fokusnya. "Bagaimana jika aku berkata, are you lost baby girl?" Selena mencengkeram bahu Hades dengan tajam hingga kuku-kukunya bagai tertancap disana dan akan melukai pria itu jika saja ia tidak mengenakan jaket yang cukup tebal. "Please, don't! That was so cringy!" Hades mengambil pinset dan mengambil peluru dari paha Selena lalu mengangkatnya agak tinggi, mencoba memperlihatkan benda kecil itu pada Selena.  "Aku tahu itu terdengar aneh, tapi sepertinya hanya itu yang akan membuatmu paham mengenai siapa diriku." KLANG Suara bulir peluru bertumbukan dengan baki hecting set terdengar menggema diruangan yang hanya ada mereka berdua ini. Hades melanjutkan mengobati bekas luka tembak Selena dan menutupnya dengan perban.  "Aku tidak tahu kau juga pernah menonton film itu," ujar Selena. (365 DNI) "Setidaknya aku tahu bagaimana citra seorang Don dimata awam," balas Hades tenang. "Kau dan dia sama saja, menculik seorang wanita untuk kepuasanmu sendiri." "Tapi aku tidak menculikmu untuk membuatmu jatuh cinta padaku." "Bisa saja kau yang akan jatuh cinta padaku!" Hades mencebik meremehkan, "kau pikir aku pria lemah yang akan dengan mudahnya terkena Lima syndrome?" "Tidak ada yang tahu rencana Tuhan," balas Selena. "Atau mungkin kau yang akan terkena Stockholm syndrom?" Hades menaik turunkan alisnya sambil menatap Selena dengan senyum nakalnya. "Aku terkesan mengetahui orang sepertimu memiliki pengetahuan yang luas tentang dunia medis." Selena mencibir. Pria itu menegakkan lututnya dan berdiri dihadapan Selena karena kegiatannya membungkus luka di kaki Selena telah usai. Sebelah bibirnya terangkat naik, terlihat menyeringai pada wanita itu. "Banyak hal yang tidak akan kau ketahui tentangku, Selena." Hades mengacak ringan rambut Selena seraya membersihkan hecting setnya dan menyingkirkan bekas-bekas darah di kain kasa yang tak terpakai. Saat akan mengembalikan kotak obat ke tempatnya semula, Hades baru menyadari bahwa luka-luka Selena akibat serangan dan tamparannya tadi masih terlihat jelas di berbagai bagian tubuh wanita itu. “Apa mereka tidak mengobati lukamu?” Selena menggeleng. “Kau punya mulut Selena,” tegas Hades. “Aku tidak tahu. Saat aku bangun tidak ada siapa-siapa diruangan itu dan badanku masih terasa sakit," jelas wanita itu lirih. Hades menghela nafasnya kasar dan membuka kembali kotak obatnya. Ia mengambil kapas yang ditetesi alkohol dan mulai membersihkan luka robek di pelipis Selena. Rasa alkohol yang dingin dan perih membuat Selena meringis menahan sakit. “Tahanlah!” Perintah Hades. Selena mengikuti perintah itu dalam diam. “Kenapa kau menembak dan menyiksaku kalau pada akhirnya akan mengobatiku?” “Karena aku belum puas memainkanmu,” jawab Hades datar seraya berpindah mengobati sudut bibir Selena. Kalimat itu membuat Selena semakin membenci Hades karena menganggap dirinya sebagai mainan dan bukan manusia. Iris biru gelapnya menatap lekat iris biru pucat Hades yang posisinya kini terlalu dekat dengannya dan begitu mengintimidasi. Namun bukan berarti bisa membuat Selena berhenti menatap mata yang sejernih air danau itu. “Dari awal, aku memang tak pernah ingin membunuhmu,” tambah Hades. “Kau hanya ingin menghancurkanku hingga berkeping-keping. Aku tahu itu,” balas Selena tanpa mengalihkan pandangannya. Pria itu tersenyum miring sambil terus mengoleskan salep di bibir Selena. Ia sangat suka saat tawanannya patuh dan tidak membuatnya sakit kepala seperti saat ini. Entah angin apa yang sedang berhembus diruangan itu, tiba-tiba Hades merasa aneh berada dalam jarak sedekat ini dengan Selena. Bukan aneh dalam artian jijik. Entahlah, ia bahkan tidak paham karena tiba-tiba saja udara terasa begitu panas. Gerakan jarinya mengoleskan salep pada wanita itupun mulai melambat sementara netra Hades yang sejak awal memperhatikan sudut bibir Selena seolah tak ingin melepaskan pandangan itu. Mengikuti nalurinya, perlahan Hades mulai semakin mendekat pada tawanannya dengan tangan yang ia turunkan ke bawah. Tanpa Selena sadari, kini hidung keduanya telah menempel, seolah saling bertukar udara yang membuat mereka larut dalam suasana. Tak butuh waktu lama hingga bibir Hades menyentuh bibis Selena dan mulai melumatnya dengan lembut. Selena terkejut dan ia membelalakkan matanya. Meskipun tidak memberontak, namun ia juga tidak membalas ciuman itu. Jantungnya berdetak kencang sementara otaknya masih mencoba memahami perlakuan Hades yang begitu tiba-tiba dan tak terduga. Memang hampir setiap malam dalam satu bulan terakhir, Hades selalu menyetubuhi Selena, namun pria itu bahkan tak pernah menyentuhkan bibirnya ke tubuh Selena. Tidak satu incipun kulit Selena yang pernah dicicipi pria itu. Wajar saja Selena merasa terkejut saat Hades menciumnya, terlebih itu bukanlah sebuah ciuman paksaan dan ia melakukannya dengan halus serta lembut. Tangan kiri Hades merambat naik kearah tengkuk Selena dan menahannya untuk memperdalam ciuman mereka. Sementara kepalanya mulai bergerak miring kekanan-kiri secara bergantian. Selena yang bahkan belum pernah berciuman itupun bingung harus berbuat apa. Ia memang membenci Hades, namun anehnya ia tak bisa melawan saat pria itu memperlakukannya dengan halus seperti ini. Akhirnya Selena memutuskan untuk mengikuti nalurinya dan mulai menutup mata menikmati kelembutan Hades yang jarang-jarang bisa ia temukan. Saat Hades menggigit ringan bibir bawah Selena, wanita itu sedikit melenguh dan membuka bibirnya. Kesempatan itu dimanfaatkan Hades untuk menjulurkan lidahnya kedalam mulut Selena dan mengabsen satu-persatu bagian mulut wanita itu. Dengan perlahan, Hades menuntun Selena untuk berbaring diatas meja kerjanya yang entah sejak kapan sudah bersih dari kertas-kertas yang kini berserakan dibawah. Pria itu begitu menikmati cumbuannya. Meskipun cara Selena berciuman masih sangat kaku dan canggung, namun itu terasa manis, memabukkan, dan membuat Hades ketagihan. BRAKK Terdengar sebuah suara yang langsung menghentikan aktivitas keduanya, tepat saat tangan kanan Hades mulai meraih ujung kaos Selena dan berniat membukanya. Mereka melepaskan pagutan panasnya lalu mengalihkan pandangan kearah pintu secara bersamaan. Pintu ruang kerja Hades terbuka. Terdapat dua orang tengah berjalan masuk dengan percaya dirinya. “Oh, sepertinya aku mengganggumu Hades,” ujar seorang pria sambil mengangkat kedua tangannya setinggi bahu dan terkekeh. Hades mengenal kedua orang itu dan segera menyembunyikan Selena di balik punggung lebarnya. “Mau apa kau kemari?” Tanya Hades dengan emosi yang tiba-tiba meninggi. “Loh? Apa salahnya seorang adik ingin mengunjungi kakaknya?” ---o0o---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN