Pagi ini Selena bangun dalam keadaan yang jauh lebih baik. Ia bahkan tersenyum menatap langit dari jendela kamarnya yang dilapisi kaca.
Setelah mandi pagi, Selena kembali ke kamarnya dengan mengenakan bathrobe berwarna putih. Telah ada satu set pakaian yang disiapkan oleh pelayan diatas ranjangnya. Selain piyama, pakaian Selena juga diatur oleh sang raja penthouse, siapa lagi kalau bukan Hades. Meskipun bukan pakaian bermerk ataupun dengan selera fashion yang bagus, setidaknya pakaian itu masih layak pakai dan nyaman digunakan. Meskipun terkadang Hades juga mengirim pakaian-pakaian kurang bahan jika dia ingin.
Dan hari ini, sesuai dengan janji Hades semalam, ia akan mengajak Selena ke tempat kerjanya yang entah itu seperti apa. Pasalnya, Selena diberikan pakaian yang terlalu kasual untuk ikut ke kantor, jika itu benar adalah kantor. Sebuah t-shirt putih, jaket kulit berwarna hitam, celana jeans model straight leg, dan ankle boots.
Tok tok
Pintu kamar Selena diketuk dan terdengar suara kunci diputar dari arah luar. Rosalie muncul dari balik pintu itu dan menatap Selena datar.
“Tuan sudah menunggu anda di depan.” Ujar wanita paruh baya itu tanpa ekspresi.
“Lima menit lagi.” Ujar Selena seraya menyambar pakaian di atas ranjang dan mulai mengenakannya.
Benar saja, ia hanya membutuhkan waktu kurang dari lima menit dan telah menyelesaikan kegiatannya. Selanjutnya ia mengambil ikat rambut dan menggulung rambut brunettenya yang memiliki panjang sepunggung menjadi berbentuk cepol.
Wanita itu kemudian mengikuti Rosalie keluar dari kamarnya. Ini adalah pertama kalinya Selena bisa melihat isi penthouse tempatnya tinggal. Ia memang tak pernah diberikan kesempatan barang sekedar keluar kamar, jadi tidak heran jika netra Selena bergerak tak tentu arah memperhatikan keadaan penthouse itu dengan seksama.
“Ikuti aku!”
Suara yang terkesan datar dan dingin itu menghentikan kegiatan Selena menjelajahi penthouse dengan matanya. Kepalanya kini menoleh kearah sumber suara yang ternyata adalah milik Hades. Pria itu telah rapi dengan setelan yang memiliki vibe senada dengan pakaian Selena.
Hades berjalan kearah pintu lebih dulu, sementara Selena masih diam ditempatnya. Menyadari tawanannya tertinggal dibelakang, Hades menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Selena.
“Jadi ikut atau tidak? Kalau tidak, kembalilah ke kamarmu!” Seru Hades mengembalikan kesadaran Selena.
“Ii-iya. Aa-aku ikut!”
Wanita itu berjalan terburu-buru kearah Hades lalu mengikuti langkah pria itu meninggalkan penthouse. Keduanya turun ke lantai bawah menggunakan lift khusus yang hanya digunakan oleh penghuni penthouse. Setibanya di basement, Hades tidak membawa Selena kearah mobil-mobil yang terparkir. Kakinya berjalan ke tempat yang lebih sepi dan hanya ada sebuah motor sport disana.
Selena menatap kebingungan saat Hades mulai menaiki motor itu dan memakai helm full face berwarna hitam.
“Pakai ini!”
Hades mengulurkan helm yang serupa dengan ukuran yang sedikit lebih kecil.
Selena menerima helm itu tanpa mengurangi sedikitpun raut kebingungannya.
“Kk-kita naik ini?” Tanya Selena memberanikan diri.
“Menurutmu?”
“Ttapi ini berbahaya! Bagaimana kalau terjadi apa-apa saat dijalan?”
“Takut?”
“Aa-aku belum pernah naik motor.”
“Belum terlambat kalau kau ingin masuk kamar lagi.” Ujar Hades cuek sambil memutar kunci motornya dan mulai menghidupkan mesin yang terdengar menggema di basement.
Selena terlihat ragu dan mulai menimbang-nimbang keputusannya.
“Kuhitung sampai lima. Kalau kau tidak mengatakan apapun, kuanggap kau ingin kembali ke kamar dan orang-orangku akan dengan senang hati mengantarmu. Tapi aku tidak bisa menjamin apa yang akan mereka lakukan nanti didalam kamarmu.”
Wanita itu masih kebingungan.
“Satu.”
Selena memandangi motor itu lekat-lekat dengan netra yang bergerak kesana-kemari.
“Dua.”
Kakinya bergerak satu langkah mundur ke belakang.
“Tiga.”
Hades memainkan gas motornya.
“Empat.”
Selena mengernyitkan dahinya hingga berkerut-kerut.
“Lim,-”
“Bb-bagaimana cara naiknya?” Tanya Selena tepat saat Hades hampir menyelesaikan hitungannya.
Pria itu menurunkan standard samping motor dan turun dari atasnya. Ia berjalan kearah Selena hingga keduanya saling berhadapan. Tangan kanannya mengambil helm ditangan Selena dengan tangan lainnya membuka gelungan rambut wanita itu dengan kasar, hingga membuat Selena memekik sakit. Setelahnya, Hades memasangkan helm itu ke kepala Selena, masih dengan kasar.
“Apa kau tidak bisa melakukannya dengan lebih halus?” Gerutu Selena.
“Apa itu halus?” Hades balik bertanya seraya mengangkat tubuh Selena dan mendudukkannya diatas motor.
Hades kembali duduk di sadel depan dengan Selena berada tepat dibelakangnya. Pria itu menyeringai ketika melihat wanita itu dari kaca spion yang masih mencoba menormalkan detak jantungnya. Selena masih shock setelah Hades mengangkat tubuhnya hingga terasa seperti terbang sesaat.
“Pegangan!” Perintah Hades.
Selena terlihat kebingungan, namun ia segera paham dan mulai meraih sisi kanan kiri jaket Hades untuk digenggamnya.
“Kau mau merusak jaketku?” Sinis pria itu sambil menarik kedua tangan Selena untuk melingkari pinggangnya.
“Apa harus seperti ini?”
“Kau tidak lagi protes saat menyentuh milikku, tapi sekarang menawar hanya karena memeluk pinggangku?”
Selena mencebik kesal. “Ayo berangkat!”
Hades memutar kedua bola matanya. Ia pun segera menambah gigi dan mulai menjalankan motornya keluar basemen dengan percepatan yang tiba-tiba. Selena tersentak kebelakang dan mau tidak mau semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang Hades agar tidak jatuh.
Jangan bayangkan jika perjalanan mereka akan seromantis muda-mudi yang memadu kasih dengan berboncengan diatas motor. Hades memacu kendaraan beroda dua itu dengan kecepatan rata-rata100 kilometer per jam meskipun jalanan St. Pietersburg sedang cukup padat. Bibir Selena berkomat-kamit merapalkan doa yang bahkan sebelumnya hanya ia lantunkan sebulan sekali di gereja, karena dia bukanlah wanita religious dan hanya akan beribadah saat diseret kedua orang tuanya.
Dengan kecepatan seperti itu, motor Hades bisa mencapai tujuannya dalam waktu singkat. Lokasi ini berada di pinggiran kota dengan suasana yang terkesan rawan kejahatan. Hades membawa motornya kesebuah bangunan berderet seperti ruko dan memarkirkannya di basement. Disana juga sudah ada kendaran-kendaraan lain dengan berbagai jenis.
Setelah itu ia memerintahkan Selena untuk mengikutinya dari belakang dan mulai masuk kedalam gedung. Berbeda dari penampilan diluar yang tampak seperti ruko pada umumnya, bagian ini terlihat memiliki aura yang lebih gelap, namun terkesan mewah dan elegan dengan sentuhan klasik dari material kayu diberbagai sudut. Beberapa orang terlihat berpapasan dengan keduanya. Mereka berhenti dan memberikan salam pada Hades yang tak ditanggapi apapun oleh pria tiga puluh tahun itu.
Langkah Hades semakin kedalam, memasuki sebuah ruangan yang cukup luas dan terlihat beberapa orang tengah berlatih bela diri disana. Sama seperti sebelumnya, orang-orang di ruangan itu menghentikan aktivitasnya sesaat untuk memberi hormat pada Hades, lalu kembali melanjutkan latihannya.
Selena berdiri disebelah kanan Hades dan ikut memperhatikan orang-orang itu dengan seksama.
“Kau pemilik dojo ini?” Tanya Selena mencoba menebak yang dibalas kekehan sinis Hades.
“Masih belum paham juga rupanya?” Cibir pria itu.
“Mau berlatih denganku, bos?” Salah seorang yang ada diruangan itu berteriak dan mendekati Hades. Ia adalah seorang pria yang berusia dan berperawakan tak jauh berbeda dengan Hades.
“Awasi dia selama aku bekerja!” Perintah Hades sambil melirik kearah Selena.
Pria itu ikut menatap Selena dan memperhatikannya berulang dari bawah keatas.
“Kalian ingat semua peraturannya kan, James?”
“Boleh memperlakukannya semau kami, tidak membunuhnya, tidak membocorkan informasi, dan dilarang mengeluarkan ponsel ataupun sejenisnya.” Jawab pria bernama James seolah sedang membaca peraturan tak tertulis dari Hades.
“Bagus! Aku pergi dulu.”
Hades menepuk bahu James dan melenggang pergi.
“Kau mau kemana?” Tanya Selena membalikkan tubuhnya bersiap kembali mengikuti Hades.
Selena memang berada didepan kedua pria itu saat berbincang tadi, namun ia sama sekali tidak paham dengan pembicaraan keduanya karena mereka menggunakan bahasa Rusia yang sama sekali tidak dimengerti Selena. Selama hampir satu bulan di negara itu, Selena hanya mampu mempelajari kata-kata umpatan, itupun karena ia terlalu sering mendengar Hades mengumpat saat sedang bersamanya. Diatas ranjang.
Hades tidak menjawab pertanyaan itu dan langsung melenggang pergi.
Saat Selena akan mengikuti Hades, tangannya ditahan oleh anak buah Hades yang bernama James tadi. Selena berbalik menatap pria itu dengan bingung sekaligus was-was.
“Jangan mengganggunya!”
James menarik Selena ke area berlatih bela diri.
“Ayo ikut bermain!” Seru James.
“Aa-aku tidak pernah belajar bela diri.” Tolak Selena gugup.
“Aku tidak sedang bertanya, Blad!” Sinis pria itu sambil menghina dan mengumpat.
Selena sering mendengar umpatan itu dari Hades, iapun tahu apa artinya. Tapi tak ada gunanya membela diri dari sebutan itu. Lagipula, Selena kini merasa bahwa ia memang tidak ada bedanya dengan jalangg seperti yang diucapkan James, karena setiap hari selalu menjadi pemuas nafsu Hades.
“Lepaskan jaketmu dan kita bisa langsung bermain.” Perintah James.
Selena ragu-ragu dan tak lantas melepaskan jaket kulit itu dari tubuhnya. Pada saat itu juga, seseorang menarik jaket Selena dari belakang dengan cepat hingga sepenuhnya terlepas. Ia adalah seorang wanita berperawakan fit dan cukup manis dengan rambut hitam yang dikepang dua.
“Lelet!” Cibir wanita itu.
“Kau mau mulai, Marisha?” Tanya James.
“Boleh?" James mengangguk. "Oke! Aku mulai.”
Wanita itu mematah-matahkan jarinya sebagai tanda pemanasan dan menyeringai kearah Selena yang tidak paham dengan obrolan kedua orang itu.
‘Sebaiknya aku belajar bahasa mereka,' batin Selena.
Bbuakkk
Suara pukulan Marisha terdengar menggema. Selena langsung terjengkang ke belakang karena tidak siap dengan pukulan yang ditujukan kearah wajahnya dengan tiba-tiba. Kepalanya terasa pening dan telinganya berdengung. Ia juga merasakan bahwa ujung bibirnya robek karena rasa anyir darah mulai terasa oleh indra pengecapnya.
“Bangun! Lawan aku!” Perintah Marisha kali ini dengan bahasa yang dipahami Selena.
“Sudah kubilang kalau tidak pernah belajar bela diri!” Seru Selena kesal.
“Tidak peduli! Permainan ada ditangan kami dan kau harus mengikutinya!”
James mengangkat tubuh Selena yang masih terjerembab di bawah dan menjadikannya samsak Marisha sekali lagi.
Selena tak pernah bisa menghindar apalagi membalas. Ia terus mendapatkan pukulan dan dipaksa berdiri kembali meskipun tenaganya sudah menipis. Lagi-lagi Selena menyesal pada keputusannya. Jika saja ia memilih tinggal di kamarnya, setidaknya ia tidak akan babak belur seperti ini.
Tiga puluh menit sudah Selena menjadi samsak hidup. Pada pukulan terakhir Marisha, dunia Selena langsung berubah gelap karena ia tidak sadarkan diri. Orang-orang itu terlihat acuh pada kondisi Selena. Mereka bahkan ogah-ogahan memberikan pertolongan pada wanita itu. Jika saja Hades tidak memperingatkan mereka untuk tidak membunuh Selena, mungkin mereka akan meninggalkan tubuh itu begitu saja disana.
---o0o---
Hades baru selesai mempelajari paper worknya selepas jam makan siang. Ia berniat untuk melihat keadaan Selena di dojo. Namun tempat itu terlihat sepi. Hanya ada beberapa orang yang tampak merapikan peralatannya.
“Dimana tawananku?” Tanya Hades.
“Pingsan bos, di ruang kesehatan.”
“Sendirian?”
“Tadi James dan Marisha yang membawanya.”
Tanpa berkata apapun, Hades berjalan kearah ruang kesehatan yang masih ada di gedung yang sama. Ia membuka pintu berwarna abu-abu itu dan mendapatkan kejutan dari Selena. Wanita itu tengah sendirian disana, berdiri ditepi brankar, dan terpergok tengah mengoperasikan sebuah ponsel yang tanpa sengaja ia temukan diruangan itu.
Hades melangkahkan kakinya lebar-lebar dan cepat seraya merebut kembali ponsel itu dengan mata berapi-api dan wajah yang merah padam.
PLAK
Tangan kanannya menampar pipi kiri Selena hingga wanita itu terjatuh di brankar. pria itu juga membanting dan menghancurkan ponsel yang digunakan Selena hingga pecah berkeping-keping.
Luka akibat pukulan Marisha tadi masih basah, sekarang Hades menambahnya dengan kekuatan yang sama besarnya.
Hampir setiap saat menerima perlakuan kasar seperti ini membuat air mata Selena mengering. Ia hanya bisa menyentuh pipinya dengan sebelah telapak tangan sambil menatap Hades nyalang.
“Darimana kau mendapatkannya?” Tanya Hades yang kini sudah mencengkeram kedua bahu Selena. "Siapa yang memberimu?"
Wanita itu tak menjawab dan terus menatap tajam Hades.
“Kau tidak ingin menjawab, huh? Mungkin pelajaranmu masih kurang!”
Hades melepaskan bahu Selena dan kini malah menarik pergelangan wanita itu keluar ruangan. Langkah kaki Hades yang lebar membuat Selena kesulitan mengimbanginya hingga jalannya pun tertatih tatih. Hades tidak peduli. Bahkan jika Selena terjerembab sekalipun, ia tetap akan menyeret wanita itu kemanapun ia mau.
Saat ditengah jalan, mereka bertemu dengan Marisha yang tengah meminum air mineral dari botolnya. Hades berhenti sesaat dan menatap tajam wanita itu.
“Kau yang membuatnya sampai seperti ini?” Hades menanyakan tentang sumber luka Selena.
“Dia tidak mati bos! Aku masih menuruti perintahmu.” Marisha mengedikkan bahunya.
“Dia memang tidak mati, tapi tidak bisa melayaniku dalam keadaan seperti ini!”
Marisha memutar bola matanya mencemooh sementara Hades kembali menyeret Selena menjauh.
"Aku bisa melayanimu, bos!" Teriak Marisha sambil terkekeh.
---o0o---