Entah sudah berapa lama Selena bertahan tanpa harapan. Semangat hidupnya padam seketika sejak pria itu merenggut kehormatannya secara paksa. Bukan hanya itu, ia kini juga dijadikan tahanan di dalam sangkar yang bahkan tidak ia ketahui ada dimana. Tentu saja tanpa alat komunikasi ataupun televisi. Bahkan kalung pemberian Ethan yang tersemat GPS pun entah sejak kapan tak lagi ada di lehernya.
Pria itu, Hades menempatkan Selena di sebuah ruangan di gedung yang cukup tinggi dengan pemandangan gedung-gedung pencakar langit lain disekitarnya. Perkiraan Selena, ruangan tempat ia tinggal itu adalah sebuah penthouse atau setidaknya apartemen lantai atas.
Selama ia ditahan, Selena dapat mendengar orang-orang berbicara dengan bahasa Rusia, namun ia tak bisa memastikan jika dirinya memang sedang ada di Rusia saat ini. Bisa saja Hades hanya membawa orang-orang itu ketempat ini, sama seperti Selena yang memboyong orang-orangnya ke Paris.
‘Ah, apa yang terjadi di luar sana? Apa ayah sedang mencariku? Apa aku bisa selamat dari setann yang mengurungku?’
Hanya itulah yang bisa terlintas dalam benak Selena setiap harinya.
Rutinitas Selena setiap hari selalu sama. Pagi hari ia bangun dalam keadaan tanpa busana, membersihkan diri dengan langkah tertatih, lalu memakan sarapannya yang telah disiapkan oleh maid yang seperti robot karena tak pernah menunjukkan ekspresi apapun dan hanya menjalankan tugasnya.
Siang menjelang, ia bisa sedikit bersantai dengan menatap keluar jendela kaca dan memperhatikan dunia luar dari atas. Dikamar itu juga ada rak buku dengan isi berbagai genre yang sayangnya tak bisa Selena manfaatkan untuk mengisi waktu karena ditulis menggunakan bahasa Rusia. Jika sudah bosan, wanita itu memilih tidur. Biasanya selepas makan siang hingga menjelang petang.
Saat sore datang, ia mulai kembali waspada dan mempersiapkan hatinya. Karena pria itu akan datang saat hari mulai larut dan mulai menyetubuhinya, setelah mempermainkan tubuh Selena menggunakan alat-alat yang entah apa itu namanya.
“Kau mungkin bukan jalangg, tapi aku akan membuatmu menjadi jalangku!”
Kalimat itu terus berputar diotak Selena setiap kali matahari mulai tenggelam diufuk barat. Ia menjalani kehidupan yang tak pernah diinginkan oleh siapapun. Karena sejatinya, tak ada seorang wanita pun yang rela menjadi pemuas nafsu bejaat pria secara cuma-cuma. Lagi-lagi Selena hanya bisa pasrah.
---o0o---
Tak seperti hari-hari sebelumnya yang amat sibuk, hari ini Hades bisa sedikit mengatur nafasnya dari kejaran pekerjaannya sebagai underboss sekaligus pewaris utama dari kelompok Mafia terbesar di Rusia yang diketuai oleh ayahnya.
Saat sedang longgar seperti ini, biasanya ia akan menghabiskan waktu dengan tidak melakukan apapun. Benar-benar tidak melakukan apa-apa kecuali bergulung-gulung dibawah selimut di kamarnya. Ia bahkan mematikan ponselnya selama waktu istirahat dan hanya suara TV yang mengisi kesunyian kamar bernuansa abu-abu gelap, bahkan cenderung hitam itu.
“Sudah hampir satu bulan adik kami menghilang dan kami masih berusaha mencarinya kemanapun.”
Terdengar suara seorang pria sedang diwawancarai dari televisi yang tak diperhatikan oleh Hades.
“Saat itu padahal aku baru saja berbincang dengannya melalui telephone dan dia bilang sedang ada di restoran. Namun tak sampai satu jam kemudian, bodyguardnya menghubungiku karena tidak menemukan adikku dimanapun.”
“Kami selalu berusaha untuk menjaganya bahkan memasangkan GPS pada Selena. Sayangnya GPS itu tertinggal di restoran dan adik kami tak lagi ditemukan.”
Hades mengangkat tubuhnya saat nama wanita itu disebut. Ia memperhatikan ada empat orang pria dengan wajah yang cukup mirip sedang terlihat sangat sedih saat diwawancara. Sudut bibir Hades terangkat sebelah dan terus menyaksikan acara itu.
“Sampai kapanpun kami akan mencari Selena. Jika ada yang melihatnya, tolong segera menghubungi keluarga kami. Dan Selena, seandainya kau melihat ini sekarang, kami sangat merindukanmu, Princess. Cepatlah pulang!”
“Aku tak akan melepaskannya. Jadi jangan buang-buang tenaga untuk mencari Princess k*****t kalian, tuan-tuan,” sinis sambil tertawa mengejek.
Ia kemudian membuka gelungan selimutnya hingga sebatas pinggang dan menampilkan tubuh atasnya yang atletis. Tangannya kemudian meraih sebuah tablet dari atas nakas dan jemarinya mulai bekerja sama dengan netranya untuk memperhatikan layar.
Setelah menemukan apa yang ia cari, Hades kemudian mengklik file itu. Terlihat itu adalah salah satu video rekaman kegiatan seksualnya dengan Selena. Setiap hari Hades memang selalu merekam dan menyimpannya untuk dirinya sendiri.
Bibir Hades kembali terangkat saat ia memotong sedikit file video itu. Ia kemudian mengetikkan sesuatu sebelum mengirim potongan video berdurasi 5 detik itu pada seseorang. Hades tak pernah khawatir posisinya akan terlacak, karena ia memiliki sebuah tim yang bisa mengalihkan alamat IP setiap perangkat elektronik pintarnya.
Hades telah meletakkan kembali tabletnya ke tempat semula. Sekarang ia terlihat tengah berfikir cukup keras sambil mengetuk-ngetuk dagunya yang tertutupi jambang tipis. Tak lama kemudian, ia menjentikkan jarinya dan mulai memanggil salah seorang pelayannya.
“Ambilkan pakaian yang sudah kupesan di butik biasanya. Lalu berikan pada jallang itu dan paksa dia memakainya untuk malam ini!” Perintah Hades tegas dan tak ingin dibantah.
“Baik, tuan.” Pelayan bernama Rosalie itu langsung melaksanakan perintah tuannya, sementara Hades kembali bergelung dibawah selimut menikmati hari liburnya.
---o0o---
“Apa maksudmu aku harus memakai ini? Ini bukan pakaian, tapi lingerie, Nyonya! Aku tidak mau,” tolak Selena keras.
“Anda tidak bisa membantah, Nona! Ini perintah tuan.” Rosalie memaksa. Wanita berusia 45 tahun itu juga mulai memegangi pakaian Selena untuk dilepaskan.
“Tidak! Aku tidak sudi!” Seru Selena.
Rosalie mengendurkan paksaannya dan menghela nafas panjang. “Tolong saya, Nona! Tolong kami para pekerja disini dan juga tolong diri anda sendiri! Jika anda menolak, tuan tidak hanya akan menyiksa anda, tapi kami semua. Tolong kami, Nnona!”
Wanita yang biasanya tampak seperti robot itu kali ini nampak rapuh hingga memohon-mohon pada Selena. Tak ada lagi raut yang datar maupun bibir yang irit bicara. Rosalie akhirnya mengungkapkan isi pikirannya pada Selena.
Selena masih enggan, namun ia melihat kesungguhan dalam keputus asaan Rosalie. Akhirnya dengan sangat terpaksa, Selena menerima pakaian itu. Pakaian yang biasanya digunakan oleh para belly dancer dengan manik-manik yang menjuntai dan sayangnya lebih minim daripada seharusnya. Rosalie begitu berterima kasih setelah Selena mulai mau mengenakan pakaian itu.
Setelah Rosalie pergi, Selena segera mengambil selimut diatas ranjang dan menutupi tubuhnya yang memiliki bekas biru keunguan disana-sini. Itu adalah memar hasil perlakuan Hades yang selalu memukul Selena setiap wanita itu membantah perintahnya.
---o0o---
Waktu telah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam. Sudah lebih dari tiga jam Selena membungkus tubuhnya dengan selimut, namun ia tidak peduli dan hanya berharap Hades tidak memasuki kamarnya malam ini.
Sayangnya, harapan hanyalah tinggal harapan. Knop pintu kamar Selena telah diputar dari luar dan sosok itu ada dibaliknya. Hanya dengan mengenakan trunk sebatas lutut dan menampilkan bentuk tubuh atletisnya yang terpahat begitu sempurna.
“Aku punya penawaran bagus untukmu hari ini,” ujar Hades sambil tersenyum miring dan berjalan kearah ranjang.
Selena yang sedang duduk diatas sofa disudut ruangan menatapnya dengan jijik. Ia begitu membenci pria dihadapannya.
“Kenapa kau menutupi tubuhmu dengan selimut? Aku membelikanmu pakaian untuk dipakai dan kulihat, bukan malah ditutupi!”
Tangan Hades menyambar selimut berwarna putih itu dan berniat menghempaskannya dari tubuh Selena. Sayangnya, wanita itu mencengkeram erat sudut-sudut selimutnya hingga membuat dia ikut terjerembab saat Hades menarik selimut itu.
“Aaahhh!” Wanita itu meringis sakit.
“Opezdol,” umpat Hades kesal.
Pria itu kemudian mencengkeram bahu Selena dan membuatnya berdiri.
“Padahal moodku sedang baik tadi, tapi kau memancing kemarahanku, Bliatz!” Ia mendorong tubuh Selena hingga terjengkang dan terduduk kembali di sofa.
“Berengsek,” runtuk Selena kesal.
“Jangan membuatku terpaksa membatalkan tawaranku,” bentak Hades.
“Tak akan ada hal baik yang bisa keluar dari mulut biadapmu,” sungut Selena.
“Kau tidak percaya kalau aku bisa berbelas kasihan juga?” Cibir Hades.
“Dunia mungkin sudah kiamat.”
“Terserah kau saja!” Hades menjatuhkan bokongnya keatas ranjang. “Kau mau mendengar tawaranku tidak?”
“Aku terkejut kau memberiku pilihan!”
Hades memutar kedua bola matanya acuh. Moodnya terlalu baik hari ini untuk meladeni cibiran Selena.
“Aku tidak akan meniduri maupun menyiksamu malam ini,” ujar Hades yang langsung membuat perhatian Selena terfokus padanya.
“Pasti ada tapinya!”
“Tentu saja. aku tidak mau rugi, Bergmann!”
Hades kembali berdiri dan mendekati Selena. Telunjuknya kemudian menunjuk pada selimut putih yang membalut tubuh wanita itu. “Hanya jika kau melepas selimut itu dan memberikan pertunjukan untukku!”
Mata Selena mengerjab dengan mulut yang menganga. Ia memang sudah terbiasa dikejutkan oleh perintah-perintah aneh pria itu, dan kali ini perintahnya juga masih bisa membuat Selena tak bisa berkata-kata selama beberapa saat.
“Aku bukan belly dancer ataupun striper, Tuan,” sungut Selena.
“Sebelumnya kau juga bukan jalaang dan aku berhasil membuatmu menjadi jalangku. Lalu sekarang, aku juga bisa saja membuatmu menjadi – apa itu tadi namanya? Ah, belly dancer? Striper? Aku tak peduli apa namanya,” sinis Hades.
“Aku tidak mau!”
“Atau kau lebih menyukai adikkuku dan memilih bercintaa sepanjang malam daripada hanya menari saja?”
“Tidak keduanya!”
“Kau hanya punya dua pilihan Selena. Dan perlu kau ingat, aku adalah bosnya.” Hades mengapit dagu Selena dengan jari-jarinya dan mata biru pucat itu menatap tajam mata biru gelap Selena.
“Tik tok tik tok! Waktumu terus berjalan. Kau mau pilih mana?” Tanya Hades sambil menyeringai.
Selena menghela nafasnya dalam sebelum kemudian membalas tatapan mata Hades dengan sama tajamnya.
“Aku akan menuruti apapun keputusanmu jika kau bersedia menjawab beberapa pertanyaan sederhanaku. Pertanyaan itu tidak akan menyulitkanmu. Bagaimana?” Tawar Selena.
Hades terkekeh dan melepas apitan jarinya dari dagu Selena. “Kau sudah mulai sok pintar, Selena!”
“Jadi?”
“Benar kau akan menuruti semua kemauanku tanpa memberontak?”
Selena mengangguk agak ragu.
Hades membalikkan tubuhnya dan berjalan kembali kearah ranjang. Pada saat itu, Selena baru menyadari bahwa Hades memiliki sebuah tato bergambar dewa Yunani di pundak kanannya yang memang tidak tertutupi pakaian. Meskipun Selena dan Hades sudah sering berinteraksi dalam keadaan polos, namun wanita itu belum pernah sekalipun memperhatikan sosok Hades secara detail.
Hades telah sampai diujung ranjang. Ia duduk disana sambil menyilangkan kakinya. “Apa yang ingin kau tanyakan?”
“Siapa namamu?” Tanya Selena yang dibalas dengan ledakan tawa Hades.
“Wah, kau bisa melucu juga Selena?” Hades masih belum menghentikan tawanya.
“Apanya yang lucu?”
“Sudah hampir satu bulan kau ada disini tapi masih belum mengetahui namaku?”
“Bukankah itu wajar? Aku tak pernah berbincang denganmu dan pelayan-pelayanmu juga seperti robot yang diprogram untuk tidak mengatakan kalimat apapun didepanku!”
“Oke, oke! Itu masuk akal. Jadi, namaku Hades Molchalin Orlov.”
“Hades? Tato yang ada dipundakmu itu?”
“Bukankah itu keren? Hades, king of underworld. Sesuai denganku.” jelas Hades membanggakan dirinya sendiri. “Apa hanya itu yang ingin kau tanyakan?”
“Masih ada yang lain.”
“Oke, langsung saja!”
“Berapa usiamu?”
“Menurutmu?”
“Mungkin tidak terlalu jauh dengan kakakku.”
“Nyaris. Usiaku tiga puluh tahun.”
“Oh!”
“Hanya itu?”
“Sekarang kita ada dimana?”
Hades kembali tertawa. Tawa lepas yang hampir seumur hidupnya belum pernah ia lakukan. Pria itu bahkan tidak sadar telah melakukannya. Obrolan ringan dengan Selena ternyata tidak terlalu buruk.
“Dimana tanyamu?” Hades balik bertanya tanpa bisa menghentikan tawanya. “Tentu saja dikamarmu yang berada di penthouse milikku.”
“Bisakah kau memberitahuku kita ada di kota mana?” Selena terlihat memelas.
“Ehem.” Hades berdehem untuk membersihkan tenggorokannya setelah cukup lama tertawa. “Saint Petersburg.”
“As in Russia?” Selena kembali membelalakkan matanya dengan mulut sedikit terbuka karena terkejut. Reaksi itu justru kembali membuat Hades menahan tawanya.
“Memangnya ada berapa Saint Petersburg di dunia ini? Kau tidak sadar kalau semua orang disini adalah orang Rusia?”
“Mana kutahu? Aku bahkan bangun-bangun sudah ada disini.” Selena mengedikkan bahu sambil mengerucutkan bibirnya.
“Ada lagi yang ingin kau tanyakan?”
"Jika aku bertanya apa pekerjaanmu, apa kau akan tersinggung?" Tanya Selena hati-hati yang kembali disambut gelak tawa Hades.
"Dimana lucunya pertanyaan-pertanyaanku sampai kau terus tertawa seperti itu?" Selena mengernyitkan dahinya keheranan.
"Kau pura-pura tidak tahu atau benar-benar tidak tahu?" Hades balik bertanya dengan masih tertawa.
"Bagaimana bisa aku tahu kalau namamu saja baru kuketahui beberapa menit yang lalu?" Selena menggerutu.
"Bukankah hanya dengan mendengar namaku, kau langsung bisa mengetahui pekerjaanku?"
Selena menggeleng.
"Aku seorang Orlov, Selena! Apa kau masih tidak paham juga?"
Wanita itu kembali menggeleng dengan cepat.
"Oke! Kalau kau benar-benar tidak tahu, besok aku akan mengajakmu mengunjungi tempat kerjaku."
"Kau mengizinkanku keluar?" Selena kembali bertanya dengan nada terkejut.
"Jangan senang dulu. Aku akan terus mengawasimu!"
Binar dari sorot mata Selena meredup seketika dan ia juga langsung terlihat lesu. Tanpa Hades sadari, bibirnya sedikit terangkat begitu juga ujung matanya saat melihat reaksi Selena. Pria itu kemudian berdehem untuk mengalihkan perhatiannya.
"Kau ingin bertanya apa lagi?" Tanya Hades yang sudah siap dengan rentetan pertanyaan Selena yang menurutnya terdengar bodoh.
Wanita itu masih menundukkan kepalanya dengan wajah yang terlihat lesu. “Tidak. Aku sudah selesai. Jadi kalau kau ingin melakukan apapun padaku, langsung saja!”
"Benar, tidak ada lagi?"
Selena mengangguk pasrah.
"Kau tidak ingin bertanya sesuatu yang lebih serius seperti, 'kapan aku akan membebaskanmu?' atau meminta penjelasan yang membuatku menahanmu disini?"
"Aku cukup tahu diri untuk tidak menanyakannya," balas Selena lirih.
Hades tidak langsung merespon. Netranya masih fokus menatap Selena yang tertunduk dengan wajah ditekuk yang anehnya terlihat sangat menggemaskan.
"Bagus! Kalau saja kau bertanya hal itu, mungkin moodku akan memburuk dan aku akan menghabisimu lagi malam ini." Hades tersenyum menyeringai. "Tidurlah! Sudah malam."
Pria itu bangkit dari duduknya tanpa melakukan apapun dan membiarkan Selena menatapnya dengan pandangan bingung.
"Kau mengizinkanku langsung tidur?" Tanya Selena penasaran.
Pria itu membalik tubuhnya yang sudah hampir mencapai pintu. “Aku sudah tidak mood untuk menyiksamu lagi. Kau membuatku sakit perut karena tertawa, jadi anggap saja malam ini adalah hari keberuntunganmu!”
Hades kembali melangkah meninggalkan kamar Selena dan mengunci pintu kamar itu dari luar.
Selena masih belum sepenuhnya percaya akan apa yang baru saja terjadi. Hades tidak terlihat seperti biasanya yang mau meladeni pertanyaan-pertanyaan Selena. Pria itu bahkan membebaskannya begitu saja.
Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Selena segera menuju kamar mandi lalu melepas pakaian kurang bahannya dan mengganti dengan piyama yang memang selalu tersedia dikamarnya. Bukan bermaksud menuruti perintah Hades, namun Selena juga merasa jika saat ini lebih baik ia tidur.
Akhirnya, setelah sekian lama Selena bisa merasakan tidur yang nyaman dan tenang, meskipun belum sepenuhnya damai.
---o0o---