~ Reminder: Chapter ini mengandung bahasa kasar serta kekerasan yang tidak sesuai untuk pembaca dibawah umur. Saya dengan sangat meminta untuk kebijaksanaannya dalam memilih bahan bacaan. Segera tutup cerita ini jika kalian merasa masih berusia dibawah 18 tahun! ~
---o0o---
“Ss-siapa kau?” Tanya Selena dengan gugup. “Aa-aku dimana?”
“Welcome to my world, Bergmann!” Seru pria itu sinis, dingin, mengancam, menakutkan, dan dengan aksen Rusia yang begitu kental.
---o0o---
Pria yang bernama Hades itu duduk dengan angkuhnya di kursi sofa yang langsung berhadapan dengan ranjang Selena. Matanya menatap tajam Selena dan iris berwarna biru pucat itu tak sedikitpun menunjukkan tatapan ramah. Belum lagi aura alphanya yang sangat kuat membuat siapapun merinding ketakutan.
Tangan Hades menjentikkan korek api dan mulai membakar cerutu di bibirnya. Ia kemudian menghirup nikotin itu kuat-kuat sebelum menghembuskannya hingga menghasilkan asap putih mengepul dengan aroma yang membuat mual. Ia terus menghisap benda itu hingga habis tanpa mengeluarkan kata-kata apapun dan membuat suasana semakin mengerikan diruangan itu.
“Kau tahu Bergmann, aku sudah menunggu selama belasan tahun untuk mendapatkanmu seorang diri tanpa pengawasan,” ujar pria berkulit pucat dan berambut kemerahan itu.
Selena masih gemetaran diatas ranjang dan mulai meringkuk mencoba melindungi dirinya sebisa mungkin.
“Ss-sebutkan berapa uang yang kau inginkan, ayahku akan memberikannya padamu!”
Hades tertawa sinis. “Uang? Aku tak butuh uangmu Bergmann.”
“Lalu apa yang kau mau?” Tanya Selena lagi.
Pria itu menegakkan tubuhnya dan berjalan perlahan kearah Selena. Langkahnya yang perlahan itu membuat suasana semakin mencekam. Sebelah tangan Hades kemudian membelai pipi Selena pelan yang langsung ditepis oleh gadis itu.
“Jangan menyentuhku!” Selena bersungut-sungut.
“Kenapa? Bukankah perempuan binal sepertimu selalu haus belaian seorang pria?” Hades menampilkan senyum miringnya.
“Apa kau bilang? Aku bukan binal, berengsek!”
Tawa merendahkan pria itu mampu memekakkan gendang telinga Selena hingga ia menutup daun telinganya dengan kedua tangan.
“Mana ada maling yang mau mengaku, Sayang? Kau itu sama saja dengan ibumu yang murahann! Ibu dan anak sama busuknya!”
“Sialann! Jangan menghina ibuku, aawwsshh,” Selena berteriak kesakitan saat tangan kanannya yang hendak menampar Hades justru dicekalnya dengan kuat.
“Lepaskan aku!” Perintah Selena dengan berteriak.
Hades melempar cengkeramannya dengan kasar hingga membuat tubuh Selena terhuyung kebelakang.
“Apa yang kau lakukan? Kau menyakitiku!” Teriak Selena yang belum pernah diperlakukan dengan kasar seperti ini.
Pria jangkung berjambang dengan iris biru pucat dihadapannya ini terlihat seperti monster yang siap menerkam mangsanya. Selena takut, tetapi ia terus berusaha kuat dan melawan.
“Terus saja mengelak Bergmann, tapi memang seperti itulah ibumu!”
Hades kembali membelai surai coklat Selena yang terus ditepis oleh gadis itu, “Apa kau tidak tahu, sudah berapa banyak pria yang ditiduri ibumu saat muda dulu?”
"Aawwsshh!" Sekali lagi Selena berteriak sakit saat rambutnya ditarik paksa oleh Hades yang memintanya untuk bertatapan secara langsung dengan pria kejamm itu.
“Bajingaan!” Selena kembali berteriak, kesakitan sekaligus marah dan kesal. “Apa urusannya denganmu kalaupun ibuku tidur dengan banyak pria? Itu hanya masa lalunya!”
“Tidak akan menjadi masalahku jika ia tidak mengusik hidupku,” balas Hades dengan senyumnya yang menyeringai.
“Apa maksudmu?” Tanya Selena dengan menahan sakit di kulit kepalanya yang ditarik.
“Kalau saja ibumu tidak merebut pria yang disukai oleh ibuku, maka ibuku tidak akan meninggalkanku.”
“Ibuku tak pernah merebut pria manapun," sungut Selena.
“Benarkah? Kalau begitu, kau tidak mengetahui cerita mengenai kedua orang tuamu dengan benar, Bergmann!”
Hades kembali mendorong kepala Selena hingga gadis itu tergeletak diatas ranjang dan mengerang kesakitan di bagian kepalanya.
“Kenapa kau melakukan ini padaku?” Tanya Selena nyalang.
“Aku penasaran, bagaimana reaksi ayahmu jika melihat anak gadis satu-satunya dalam keadaan seperti ini? Mungkin dia akan menangis darah!” Seru Hades kembali tertawa terbahak.
Pria itu merogoh saku jaketnya lalu mengeluarkan sebuah benda pipih yang langsung dioperasikannya. Diarahkan kamera dibagian belakang benda itu hingga citra Selena terlihat jelas dari layar ponsel miliknya.
Selena tampak menyedihkan dan sangat berantakan saat ini. Gadis itu meringkuk serta memegangi kepalanya dengan rambut yang acak-acakan. Gambar yang sempurna untuk memulai balas dendam Hades pada keluarga Selena.
Ckreekkk
“Ayahmu akan langsung terkena serangan jantung kalau aku mengirim foto ini,” ujar Hades puas.
“Jangan! Kumohon jangan lakukan itu,” rengek Selena dengan suara sedihnya dan mata berkaca-kaca.
“Kenapa aku harus mendengarkan ocehan anak dari pria yang sudah menghancurkan hidupku?” Cibir Hades.
“Orang tuaku tak pernah berbuat jahat pada siapapun. Kau pasti salah orang, Tuan. Mereka adalah orang-orang baik!”
“Baik? Baik katamu?” Hades terbahak-bahak. “Ayahmu mencampakkan ibuku demi ibumu, padahal mereka sudah hampir menikah waktu itu. Kalau saja ayahmu tidak tergoda pada wanita seperti ibumu, maka ibuku akan bisa menemukan kebahagiaannya dan tidak menelantarkanku, Bliad’!” Sungut pria itu sambil mengumpat menggunakan bahasa Rusia.
“Asal kau tahu saja, Tuan, orang tuaku sudah bersama sejak high school dan mereka selalu mencintai sejak saat itu. Jadi tuduhanmu salah sasaran!”
Hades kembali tersenyum sinis. Kini ia berjalan kearah nakas dan mengambil beberapa buah benda elektronik disana. Itu adalah kamera dengan berbagai ukuran yang kemudian ia pasang diberbagai sisi dengan objek sosok tak berdaya diatas ranjang, Selena.
“Sayang sekali mereka tak pernah bercerita mengenai kejadian yang sebenarnya, Nona!”
Setelah memastikan semua kamera berfungsi dan mulai merekam, pria itu mendekat kearah Selena. Setiap gerakannya terasa semakin mencekik jalur napas si gadis yang kini memeluk tubuhnya sendiri, seperti trenggiling yang sedang membuat barikade perlindungan dari predator. Sebisa mungkin Selena ingin melindungi dirinya meskipun jauh dalam lubuk hatinya ia tahu jika tidak akan mudah terlepas dari jerat pria jelmaan ibliss ini.
“Kenapa kau memeluk tubuhmu sendiri? Kalau kedinginan, kau bisa memelukku,” sinis Hades seolah tanpa merasa bersalah.
“Bahkan dalam mimpi pun aku tidak sudi,” sungut Selena berapi-api dan membuat Hades terbahak.
Iris biru pucat Hades tampak berkilau dalam redupnya sinar di dalam kamar yang hanya berasal dari lampu tidur diatas nakas. Namun, netra indah dan tajam itu pula yang memancarkan sorot penuh dendam, kemarahan, dan membunuh. Jika saja mata manusia bisa memancarkan sinar laser, mungkin tubuh Selena yang sudah menggigil ketakutan itu akan koyak seketika.
“Saatnya menikmati hidangan utama, Sugar,” ujar Hades dengan sunggingan senyum miringnya.
Selena merasakan suhu kamar ini semakin dingin dan ia semakin mengeratkan pelukannya. Belum pernah sebelumnya ia merasakan ketakutan separah ini, terlebih ia tidak memiliki apapun yang bisa untuk melawan.
Di tengah malam menjelang musim dingin ini, suara rintihan, bentakan, tangisan, umpatann serta penolakan beradu menjadi satu di dalam kamar yang bahkan Selena tidak tahu posisinya ada di bumi bagian mana. Pria itu tidak hanya mengatai dirinya melalui kata-kata kasar serta merendahkan, tetapi juga mempermainkan tubuhnya yang bahkan belum pernah terjamah oleh pria manapun. Semakin Selena merasa kesakitan, sunggingan senyum mematikan Hades semakin lebar. Ia benar-benar definisi seorang pria berhati dingin dan tanpa belas kasihan.
Pada waktu itu pula, Hades baru mendapati fakta yang membuatnya cukup tercengang. Ia selalu mengira bahwa wanita dihadapannya adalah jalangg yang sudah sering melakukan hubungan badan. Namun nyatanya, Hades membuktikan sendiri jika Selena masihlah seorang gadis yang suci.
Teriakan wanita itu semakin menggema saat tubuhnya bagaikan terkoyak oleh sesuatu yang begitu asing untuknya. Hades tanpa penyesalan sedikit pun telah merenggut harta yang selama ini dijaganya dengan sebaik mungkin.
Meski Hades sempat terkejut, tetapi ia sama sekali tidak peduli. Matanya berapi-api dan ia menulikan telinganya pada rintihan Selena yang terdengar menyayat hati. Entah terbuat dari apa hati pria itu, sampai ia begitu tega memporak-porandakan tubuh dan jiwa Selena. Tak ada kata-kata ataupun sentuhan lembut. Semuanya terasa kasar dan menyakitkan untuk gadis yang terus menangis itu.
‘Tuhan, bisakah kau menjemputku ke surgamu sekarang? Kenapa kau mengirimkan setann ini padaku dan tidak mengambil saja nyawaku daripada harus mendapatkan perlakuan seperti ini? Mom, dad, Ethan, Liam, Aaron, Orion, maafkan aku yang telah mengecewakan kalian. Jika aku tidak mati hari ini, tolong segera temukan aku dimanapun tempat ini berada. Aku tidak sanggup menghadapi setann ini lagi. Nanti, jika kalian sudah menemukanku, aku janji aku akan menuruti semua perintah kalian tanpa membantah lagi. Aku akan menjadi anak dan adik yang penurut untuk kalian. Maafkan Lena! Maafkan Selena, Mom, Dad!’
---o0o---
.
.
.
Ps: Kata-kata umpatann sengaja tidak ditranslate, supaya tidak ikutan mengumpat :D