Gadis itu tengah memandangi landscape kota Paris dari teras penthouse. Gedung ini berlokasi di Neuilly-sur-Seine, sebuah daerah di pusat kota yang tidak terlalu jauh dari situs-situs wisata andalan Perancis, seperti menara Eiffel, Arc de triomphe, museum Louvre, dan lainnya. Lokasi ini juga sangat dekat dengan headquarter berbagai brand fashion kenamaan di seluruh dunia, mulai dari Chanel, LV, Hermès, Dior, dan lain-lain.
Dia adalah Selena Fawn Bergmann, putri keluarga Bergmann dan Stiller yang selalu dielu-elukan keistimewaannya sejak lahir. Bagaimana tidak? Ia mampu mematahkan berbagai stereotype dari kedua belah pihak orang tuanya. Atau lebih tepatnya stereotype Stiller, darah yang mengalir dalam tubuh Selena yang berasal dari jalur ibunya. Selena adalah Stiller pertama yang memiliki iris berwarna biru, sementara saudara-saudara lainnya memiliki mata hazel yang identik dan diwariskan dari generasi ke generasi. Selena juga satu-satunya anak perempuan dari kedua keluarga itu. Sebagai gambaran, Selena memiliki 4 orang kakak kandung, 1 sepupu dari adik ayahnya, 2 sepupu dari kakak ibunya, dan 2 sepupu jauh dari ibunya yang semuanya berjenis kelamin laki-laki. Sehingga tak heran jika ia selalu diperlakukan secara istimewa bahkan cenderung berlebihan.
Beberapa jam yang lalu kedua orang tua serta kakak lelaki pertamanya baru saja kembali ke New York, kota asal Selena setelah mengantar dan memastikan keamanan gadis 22 tahun itu selama tinggal di Paris. Ayahnya bahkan membekalinya dengan lima orang bodyguard, seorang supir yang siap mengantarnya kemanapun, dan 2 orang maid yang siap menuruti semua perintah Selena. Gadis itu hanya perlu mengucapkan keinginannya sambil menjentikkan jari dan semua keinginannya akan terpenuhi. Sebuah fasilitas yang diinginkan begitu banyak wanita diseluruh dunia. Tapi tidak jika kau mendapatkan perlakuan itu seumur hidupmu.
Begitulah Selena, semua perhatian yang diterimanya membuat ia merasa sesak dan bagai dipenjara di sangkar emas. Maka dari itu, kesempatan bisa tinggal di Paris ini akan dimanfaatkannya sebaik mungkin. Meskipun ia cukup sering berkunjung ke kota ini maupun kota lainnya di Eropa, tetap saja ini adalah pertama kalinya ia bisa berkunjung kesini tanpa anggota keluarganya yang over protective.
Sunset mulai membuat langit Paris berwarna keemasan dan terlihat sangat menakjubkan dari tempat Selena berada. Tak ingin hanya menikmati pemandangan itu dari atas, ia berencana untuk sedikit berjalan-jalan menikmati kota di sore hari.
“Alice, aku akan jalan-jalan keluar sekalian mencari makan malam. Setelah kau dan Daisy selesai beres-beres, kalian bisa beristirahat atau berjalan-jalan juga jika ingin.” Ujar Selena pada seorang maidnya yang sedang menata pakaiannya di wardrobe room.
“Baik nona. Saya akan panggilkan Aiden untuk mengantar anda.”
“Tidak perlu! Aku bisa memanggilnya sendiri. Kau lanjutkan saja pekerjaanmu!”
Selena segera meraih coat dan tas selempangnya untuk menemaninya menyusuri kota. Saat ini memang sedang pertengahan musim gugur, sehingga udara juga mulai terasa dingin. Bahkan Selena menyempurnakan penampilannya dengan ankle boot berwarna hitam saat hendak keluar.
---o0o---
Dengan diantar Aiden dan bodyguard yang keberadaannya tak bisa terlihat olehnya, Selena menikmati jalan-jalan sore di Paris yang terasa ramai. Paris hampir tak ada bedanya dengan New York. Kota ini bisa dikatakan sebagai kota berkumpulnya berbagai ras dari seluruh dunia, sehingga tidak heran jika kalian akan menemukan beragam bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi oleh sebagian kelompok orang.
Saat waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, Selena meminta Aiden supirnya untuk berhenti disebuah restoran. Awalnya Selena sempat mengajak Aiden bersama para bodyguardnya untuk menyantap makanan bersama, namun mereka menolak karena merasa bahwa tempat itu terlalu mewah untuk lidah merakyat mereka. Akhirnya Selena pun menyerah dan masuk sendiri ke restoran itu.
“Bonjour!” Sapa seorang waitress di dekat pintu menyambut Selena. “Avez-vous une réservation?”
“Pardon me! I don’t speak French.” Balas Selena agak kikuk. Namun waitress itu langsung paham.
“Apa anda sudah membuat reservasi?” Tanya waitress itu.
“Ah, belum. Apa saya harus melakukan reservasi terlebih dahulu?”
“Anda beruntung karena hari ini kami masih memiliki kursi yang available. Saya akan mengantar ke meja anda!”
“Merci.”
Selena membuntuti waitress itu yang membawanya ke meja yang berada di sudut ruangan. Suasana restoran itu cukup ramai hingga hanya menyisakan sedikit kursi kosong untuk pelanggan tanpa reservasi sepertinya. Suasana di dalamnya memang sangat nyaman, bersih, elegan, dan mewah. Wajar saja jika selalu ramai. Apalagi restoran ini juga menyediakan menu-menu kelas wahid yang sayang untuk dilewatkan.
“Apa anda sudah siap memesan?” Tanya waitress yang melayani Selena.
“Ya. Aku mau appetizer Soupe A L’oignon, main course Beef Bourguignon, desert Chocolate Mousse, dan Wine terbaik yang kalian miliki.” Ujar gadis itu begitu lancar menyebutkan pesanannya yang langsung dicatat oleh waitress.
“Selamat menikmati waktu anda di restoran kami sementara chef akan membuatkan pesanan anda.”
Selena tersenyum manis saat waitress itu mulai beranjak dari mejanya. Gadis itu kemudian mengedarkan pandangannya ke sekililing, melihat setiap meja yang sebagian besar dipenuhi oleh pasangan yang sedang menikmati waktunya dengan diner romantis. Meskipun ia melihat mereka dengan senyum menawannya, Selena sama sekali tidak iri dengan pasangan-pasangan itu. Hal ini dikarenakan Selena memang sedang tak ingin berkencan dengan siapapun setelah pernah dikecewakan oleh pacar pertamanya beberapa tahun lalu.
Saat masih asik memperhatikan sekelilingnya, tiba-tiba ponsel Selena terdengar berdering. Tangannya segera meraih ponsel yang berada di dalam tas selempangnya dan terlihatlah nama Liam, kakak keduanya yang sedang menghubunginya. Segera saja Selena menggeser tombol hijau dan menempelkan benda pipih itu di telinga kirinya.
“Bonjour!” Sapanya pada sang kakak sambil terkekeh.
‘Mentang-mentang sedang di Paris, sok-sok-an pakai bahasa Perancis. Padahal cuma bisa bilang bonjour, merci, dan désolé saja.’ Cibir Liam dari seberang.
“Setidaknya aku bisa.” Balas Selena membela diri.
‘Kau sedang apa?’ Tanya Liam.
“Di restoran, menunggu makanan datang.” Jawab Selena.
‘Makan malam dengan siapa?’ Kakak Selena itu mulai menyelidik.
“Sendiri lah! Kan aku belum punya teman disini.”
‘Restorannya ramai?’
“Iya. Penuh sesak malah.”
‘Bodyguardmu bisa melihat dengan jelas?’
“Aku duduk di meja pojok sih, tapi dekat dengan jendela jadi kelihatan dari luar.”
‘Yasudah, kalau ada apa-apa langsung bilang ya! Dan juga kalau makanannya terasa aneh, langsung tinggalkan saja! Jangan dimakan dan langsung muntahkan. Kau bisa makan dirumah.’
“Iya-iya kakak Liamku sayang. Lagipula restoran semewah dan seterkenal ini mana mungkin makanannya aneh? Kakak ada-ada saja!”
‘Kau tidak biasa makan makanan Perancis, Lena. Siapa tahu tubuhmu menunjukkan reaksi lain karena tidak cocok?’
“Ah, benar juga Mr. Chef. Saya akan menurut!” Gadis itu terkekeh.
‘Pulangnya jangan malam-malam!’
“Siap bos!” Seru Selena patuh. “Ah, makananku sudah datang, kak. Aku makan dulu ya?”
‘Yasudah, pelan-pelan makannya, jangan sampai tersedak!’
“Oke! Talk to you later, brother! Love you!”
Selena segera mengakhiri panggilan telephone antar benua itu saat seluruh pesanannya sudah dihidangkan diatas meja. Matanya terlihat berbinar-binar menatap makanan yang begitu menggugah selera dan menggiurkan. Ia memulai dengan mengoyang-goyangkan gelas wine ditangan kanan sebentar sebelum menghirup aromanya yang manis dan nikmat khas anggur merah dengan sedikit aroma leci. Puas dengan menghirup aroma wine, Selena mulai mencecapnya sedikit lalu melanjutkan dengan menikmati makanannya.
Tangannya bergerak elegan saat menyendok sup maupun memotong daging dihadapannya. Seperti pesan Liam, Selena benar-benar menikmati waktunya memakan makanan itu. Saat Beef Bourguignonnya tinggal separuh, entah mengapa Selena merasa begitu mengantuk secara tiba-tiba. Ia bahkan beberapa kali menggelengkan kepala dan mengerjabkan matanya untuk menghalau rasa kantuk itu.
Firasat Selena tidak baik, karena rasa kantuk itu begitu tiba-tiba. Tangannya langsung meraih ponsel diatas meja dan mulai bergerak mencari nomor ponsel Aiden. Sayang, sebelum tangannya menyentuh tombol hijau, Selena sudah tergeletak tak sadarkan diri diatas meja makannya tanpa seorangpun yang menyadari.
---o0o---
Entah sudah berapa lama Selena tertidur. Yang ia rasakan saat ini adalah kenyamanan yang membelai tubuhnya. Kasur empuk dan aroma wangi begitu mendominasi kesadarannya. Perlahan ia mengerjabkan mata dengan sebelah tangan yang mengucek pelan. Netranya menelisik ke ruangan sekitar yang terasa sangat asing untuknya. Ia memang belum pernah menempati kamar penthousenya, namun Selena tahu pasti jika kamar ini bukanlah miliknya.
Gadis itu mulai bangun dan menegakkan punggungnya sambil terus mengedarkan pandangan ke segala penjuru kamar yang didominasi warna putih ini. Matanya baru berhenti saat menatap seorang pria tengah duduk di sofa depan ranjang dengan tatapan angkuh dan dominannya. Selena langsung beringsut dan memundurkan tubuhnya hingga menempel pada sandaran ranjang. Jantungnya terasa berdetak begitu kencang hingga seperti akan keluar dari tulang rusuknya. Irisnya bergerak kacau menandakan bahwa ia sedang ketakutan pada pria asing dihadapannya.
“Ss-siapa kau?” Tanya Selena dengan gugup. “Aa-aku dimana?”
“Welcome to my world, Bergmann!” Seru pria itu sinis, dingin, mengancam, menakutkan, dan dengan aksen Rusia yang begitu kental.
---o0o---