9 | Dia Berubah?

1034 Kata
"Di depan semua media saat ini, saya meminta maaf sebesar-besarnya padamu Anjani. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Saya berjanji akan lebih bertanggung jawab," ucap Bian. Kalimat tegas yang membuat semua penghuni aula terdiam. Terutama Anjani, ia tak menyangka Bian mampu merubah sikapnya dalam satu hari. Namun, Anjani akui jika Bian mengatakan itu hanya untuk mencegah nama baiknya tercemar. "Dan sebagai bentuk pertanggungjawaban saya atas kesalahan kemarin. Saya bersedia menanggung semua biaya pengobatan kakimu sampai pulih." Tunggu. Apakah ada sesuatu yang mengganjal telingnya? Anjani sulit percaya ini. Di satu sisi ia menghormati permintaan Bian yang pertama. Entah untuk yang kedua ini Anjani pikir sangat berlebihan. "Pak." Anjani menyela dan Bian langsung menggeleng cepat. Berbeda dengan Clara, gadis itu tersenyum lebar menatap Bian. Meski ia tidak terlalu mengerti apa maksud perkataan pria itu sebenarnya. Suara riuh serta tepuk tangan pun mulai bersahutan. Bidikan demi bidikan kamera menyorot Bian. Mereka seolah sangat mengapresiasi tindakan pria itu. "Saya tidak terima bentuk penolakan apa pun. Mulai besok, saya langsung menyiapkan dokter khusus untukmu," lanjut Bian. "Itu janji saya untukmu di hadapan mereka semua." "Bu Ani." Kilasan momen itu berakhir dibenak Anjani saat seseorang dari arah belakang memanggil namanya. Anjani menoleh. Ia lantas mendapati Bi Ratih bersama Clara berjalan mendekat. "Ayo kita pulang." Anjani ragu berapa menit sudah mereka berdiri di sana. Mungkin lumayan lama, sayang karena keasikan melamun Anjani baru mendengar namanya dipanggil. Sekarang mereka berada di ruangan Vanya. Sekretaris Bjan itu katanya ada urusan dan entah kenapa belum balik juga. Anjani menunggu di sini karena Vanya menyuruhnya. "Bunda mikirin apa?" Nah benar, kan. Ternyata Clara begitu peka terhadap perasaannya. "Tadi dipanggil nggak nyahut-nyahut." "Enggak ada kok." Anjani menggeleng pelan. Dengan satu tangannya yang tak memegang tongkat ia mengusap rambut Clara penuh sayang. "Kamu juga, tadi kemana aja sama bi Ratih?" "Jalan-jalan keliling gedung sama Om Bian sama bi Ratih. Aku juga dikasih satu dus s**u kotak sama Om Bian," ucapnya membuat Anjani membulatkan mata. "Sa-satu dus?" Ia tak percaya. Clara mengangguk lugu. "He em. Om Bian ternyata baik. Bunda tanya aja deh sama Pak Romi. Tadi dia yang bawa sedus susunya ke mobil kita." "Kenapa dia tiba-tiba begitu baik sama anakku?" gumam Anjani. Aneh sekali rasanya sikap Bian hari ini. Padahal sebelumnya Bian sangat risih berada dengan keberadaan Clara. "Susunya masih bagus, kan? Maksud Bunda susunya benar-benar cocok buat kamu?" "Cocok dong. Kata Om Bian dia belikan aku s**u yang paling mahal." "Itu benar, Bu," sela Bi Ratih meyakinkan. Anjani semakin terpaku di tempat. Entah terbentur apa kepala Bian hari ini hingga sikapnya begitu berlebihan. "Memangnya salah kalau saya membelikan sesuatu untuk Clara?" Subjek yang dibicarakan ternyata datang, melenggang masuk kemudian mengacak gemas rambut Clara. Clara cekikikan. Ia mulai nyaman dengan sentuhan Bian. Anjani menunduk. "Maaf. Bukan begitu maksud saya, Pak. Cuma saya rasa apa yang bapak lakukan untuk kami sangat berlebihan." Lalu ia mendongak. Terdiam kala mendapati Bian tersenyum. Sungguh, baru kali pertama Anjani melihat pria itu berekspresi. "Artinya saya peduli. Lagipula sedus s**u kotak sangat murah bagiku," kata Bian, antara sombong atau dermawan. "Bahkan jika anakmu meminta satu truk, detik ini langsung saya belikan." "Serius?" Clara cengo. Menatap Bian penuh minat. "Clara..." Anjani menyela. "Aku mau coklat sama boneka baruuu!" "Oke. Tunggu saja benda itu sampai di rumahmu besok." Anjani menghela pasrah, rupanya Clara sulit diajak kompromi. Setruk coklat dan boneka, Bian kira rumahnya muat menampung benda sebanyak itu apa? "Makasih ya, Om." Clara memeluk Bian erat. Clara memang semudah itu sayang pada seseorang. "Kami pulang dulu, Pak." Anjani pun menggandeng tangan Clara. Mereka baru dua langkah dan tongkat Anjani baru bergeser dari tempatnya tapi Bian kembali menahan mereka. "Tunggu sebentar!" Mereka bertiga menoleh. "Masih ada yang perlu saya bicarakan dengan kamu." Bian menatap Anjani dengan kedua tangan masuk ke saku celana. "Tentang dokter untuk penyembuhan kaki saya?" tanya Anjani. "Bapak tidak perlu repot-repot. Tinggal bapak berikan saja alamat saya. Saya juga tidak ingin menganggu kesibukan bapak." Bian berdecak, ia memutar bola mata malas. "Jangan kira melakukannya akan semudah itu." Netranya berganti menatap bi Ratih dan Clara. "Kalian duluan saja. Nanti Anjani saya antarkan." Anjani sedikit tersentak. Tetapi ia pasrah ketika bi Ratih dan Clara tidak menolak. Sekarang di ruangan itu hanya mereka berdua. Anjani sontak canggung. Beda untuk Bian yang santai dan langsung mengambil jarak lebih dekat. "Saya sudah menemukan dokter terbaik untuk kamu. Hari ini juga kita harus ke rumah sakit dan bertemu dengannya." "Se-secepat ini?" Dari jarak yang tinggal sejengkal ini, Bian mengamati wajah polos Anjani. Cantik. Putih. Meski sudah memiliki satu anak tapi wanita itu tetap terlihat seperti lajang. Ditambah tubuhnya mungil. "Iyalah. Kamu bisa tidak sih jangan bertanya. Tentu saja harus cepat. Setelah pengecekan, kamu dan dokter Ares langsung mengatur jadwal. Besoknya, kalian tinggal meluangkan waktu untuk terapi," kata Bian. Susah payah dia mencarikan dokter terbaik di kota ini. Dan akhirnya dia bertemu dengan dokter Aresta yang biasa dipanggil 'dokter Ares'. "Tapi putriku..." "Mereka aman. Bodygardku sudah pergi menemui mereka." Sekali lagi Anjani dibuat tercengang, selain itu ia sangat bersyukur janji Bian ternyata bukan omong kosong belaka. "Terima kasih." Anjani tersenyum hangat. Bian pun menarik kedua sudut bibirnya, lalu ketika Anjani menunduk ia menyeringai tanpa suara. *** Mungkin kedengarannya mustahil menyembuhkan kaki yang telah dinyatakan lumpuh total, seperti yang dialami Anjani mulai dua tahun lalu. Tepatnya sejak kecelakaan tragis menimpa dirinya, Clara, serta Aldevaro malam itu. Saat dokter memvonis kakinya lumpuh pun Anjani merasa ia tidak pantas lagi untuk hidup. Namun pikirannya masih berjalan dengan normal ketika melihat Clara terbaring lemah di brankar. Gadis itu satu-satunya semangat hidup Anjani, setelah Tuhan memutuskan mengambil jiwa Aldevaro selamanya dari dunia ini. "Apa tidak ada cara lain agar kakinya bisa sembuh? Saya akan bayar berapa pun, dok," kata Bian pada dokter pria bernama Ares. "Memang nggak bisa pak, Bian. Karena ini menyangkut sistem saraf. Lagipula kelumpuhan ibu Anjani sudah berlalu dua tahun. Artinya sistem sarafnya pun sudah lama mati," ujarnya sambil melihat foto hasil CT Scan kaki kanan Anjani. Anjani menghembus pasrah, ia menatap Bian lemah. "Sepertinya memang nggak bisa, Pak. Kita jangan memaksa." "Tapi saya ingin kamu sembuh." Bian bersikukuh. "Dari sebanyak kasus kelumpuhan, presentasi sembuh memang sedikit," lanjut dokter Ares. "Tapi ibu masih punya harapan. Ibu bisa pelan-pelan melakukan fisioterapi, dan itu tidak menutup kemungkinan akan ada keajaiban ibu untuk sembuh."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN