Sani masih belum percaya pada keputusan Biab karena terdengar sangat berlebihan. Sebelumnya, ia mengira Bian sekedar meminta maaf guna mengembalikan nama baik perusahaan Pradipta, tapi ternyata lebih dari itu. Bian membuat semua media kagum dan tercengang. "Bian lo serius nggak sih oneng? Apa telinga gue yang kejejel kotoran pas denger lo ngomong?" tanya Sani serius. Sebab Bian yang dilihatnya barusan sangat berbeda dengan Bian yang dikenalnya—angkuh, sombong, dan ia tahu Bian tidak mungkin membuang-buang uang untuk hal yang kurang penting—contohnya membantu wanita yang tidak ia sukai. "Gue seriuslah. Gue yang nanggung semua pengobatan Anjani," jawab Bian sembari fokus mengetik sesuatu di laptopnya. Sani yang duduk di hadapan Bian itu menahan tawanya menyembur, "Pftt Hahaha! Kesambet apaan lo jadi baik? Bukannya lo nggak suka deketan sama Anjani. Tadi gue juga liat lo meluk anaknya." "Jangan bacot! Lo nggak akan pernah ngerti permainan gue." Tanpa mereka tahu seseorang menempelkan telinganya di balik pintu. Bian sadar setelah melihat bayangan orang itu dari kacanya yang buram.  Bian berdehem dan mengeraskan suaranya, "Sedang menguping pembicaraan kami?!" Sani langsung menoleh ke arah pintu. Benar saja seseorang tampak menurukan kanopi. Ketika wanita berkemeja biru itu masuk Sani terkejut karena dia adalah Citra—temannya Vanya. "Engh-gak, Pak. Maaf. Saya cuma mau mengantarkan berkas yang harus bapak tanda tangani," kata Citra gugup. "Yasudah sini berkasnya." Bian menampilkan wajah datar dan Citra langsung menyerahkan lima map berisi dokumen penting di tangannya. "Saya akan berikan ke Vanya ketika semua berkas ini selesai saya tanda tangani," ujar Bian. Citra mengangguk lantas berbegas mengeluari ruangan bahkan tanpa menatap Sani sedikitpun. Melihat gelagat aneh karyawannya itu Bian ragu apakah Citra benar menguping pembicaraan mereka atau tidak. Ah, seharusnya tadi Bian menanyakannya. "Ah bentar deh gue kayaknya baru ngeh," ucap Sani melanjutkan pembicaraan. "Lo manfaatin Anjani?" Bian mengangguk. Sani menggebrak meja membuat Bian terkejut. "Parah njengg, kalo kagak mempan gimana?" Bian terkekeh pelan, sabar, kalau saja Sani bukan sahabatnya maka sudah jauh-jauh hari ia pecat pria jomblo itu. Bian menunjuk wajahnya, "Memang sudah berapa banyak wanita yang menolak wajah sama dompet gue?" Sani menggeleng sembari berdecak, "Tapi, bro. Anjani kelihatannya bukan wanita begituan. Sekali lihat wajah sama dompet lo langsung nemplok." "Lo pikir aja apa gunanya Clara." "He?" Sani mengerutkan kening, sadar apa maksud Bian dia memicing, "Ternyata sekarang lo makin pinter sekaligus b******k babi." *** Sejak penolakan Bian malam itu hidup Laura menjadi berantakan. Ia suka minum minuman beralkohol sebagai pelarian lalu berkali-kali meracaukan nama Bian saat kesadarannya mulai hilang. Hans—ayahnya tidak tega melihat putrinya berubah memilukan. Seperti saat ini, meski sudah dilarang oleh Hans datang ke club malam Laura tetap membangkang. "Dad aku mau Bian," racau Laura. Alhasil, Hans mesti memapah tubuh anaknya itu melewati banyak kerumunan orang yang menari di dance floor—menuju mobil. Sesekali beberapa mata menatapnya lalu tertawa. Mungkin mereka menganggap Laura sedang disewa oleh om-om padahal pria yang menggendongnya adalah ayahnya sendiri. "I want Her, Dad. Lakukan sesuatu pleasee. Aku hanya mencintai Bian. Aku hanya ingin dia, Dad," racaunya lagi. Kali ini sambil memukul pelan d**a bidang Hans. Laura meronta-ronta, "Turunin aku. Turunin!" "Shttt tenang." Hans mengusap lembut pipi anaknya itu, "Daddy pasti melakukan sesuatu agar Bian menerima dirimu. Jangan seperti ini sayang Dad tidak sanggup melihatnya," sahut Hans sendu. Lalu berusaha merebut botol minuman di tangan Laura. "Lepaskan minuman ini, sekarang kita pulang ya." "Nggak mau!" Hans mengusap wajahnya gusar namun tetap berusaha tenang. Ia tidak boleh marah pada Laura. Atau putri kesayangannya ini akan membencinya. Hans tidak ingin itu terjadi. "Sayanggg, Dad pasti mengembalikan Bian padamu. Itu janjiku." "Benarkah?" Laura mulai terpancing, wajahnya berbinar, "Bagaimana caranya?" Hans tersenyum lebar dan mengecup sekilas pipi putrinya, "Serahkan semuanya sama Daddy, oke?" Melihat keseriusan di wajah Daddy-nya Laura pun semakin yakin, ia tersenyum sambil menggangguk pelan hingga setuju untuk pulang. Mengalungkan tangan di leher Hans, "Aku sayang Daddy." *** Anjani duduk selonjoran di permukaan rumput hijau taman belakang rumahnya selagi Clara sedang tertidur nyenyak. Niatnya tak lain adalah menenangkan diri dari semua kejadian yang menimpa dirinya akhir-akhir ini. Terutama soal Bian. Ia merutuk dirinya yang terus saja kepikiran sikap aneh pria itu. Misal, siang tadi setelah mereka keluar dari rumah sakit. Bian meminta bayaran atas pengobatan kakinya. Pukul 12 siang, parkiran rumah sakit Citra Surya. "Terima kasih banyak atas semua bantuan bapak. Saya tidak tahu bagaimana membalasnya," kata Anjani ketika dia telah memasuki mobil Bian. Pria itu menyalakan mesin. "Kamu tidak perlu membalas. Itu bukan hal yang besar." Anjani menggeleng cepat kala mobil mulai meninggalkan area parkiran. Ia menatap Bian. "Bapak salah. Justru keputusan bapak sangat berarti untuk saya. Sejak dulu, saya memang ingin berobat tapi saya memikirkan masa depan Clara karena saya tau, mengobati kaki ini enggak sedikit mengeluarkan uang. Saya pikir, lebih baik menabung untuk masa depan Clara." "Saya mengerti," sahut Bian. "Seorang ibu pasti rela mengabaikan kesehatan diri sendiri demi anaknya." Anjani pun tersenyum. Bian melirik sekilas ke wajah wanita itu, namun mendadak pikirannya bekerja akan sesuatu. "Kamu yakin ingin membalas bantuanku?" tanya Bian. Setelah beberapa menit kebungkaman mendominasi mereka. "Tadi kata bapak tidak perlu?" "Entah. Tiba-tiba saja saya berubah pikiran." "Engh, itu juga terserah bapak. Saya tidak punya hak melarang. Lagipula bapak sudah sangat banyak membantu kami," jawab Anjani bermurah hati. "Bagaimana kalau membawakan makan siang?" "Hah?" Anjani sedikit sangsi. Bian berdehem singkat, mobil berhenti saat trafic light menyala merah. Bian menatap Anjani lekat. "Waktu makan siangku sangat terbatas, ditambah kantin kantor lumayan jauh dari ruanganku. Sedangkan makanan di luar tidak terjamin higienis. Jadi, bagaimana kalau kamu saja yang membawakan makan siang untukku?" "Saya ..." "Kalau kamu keberataan tidak apa-apa. Saya tidak memaksa." Anjani terdiam, ia menunduk karena bimbang. "Soal menu apa yang harus kamu masak. Saya yang akan membuat listnya. Jadi kamu tidak banyak repot." "Bu-bukan kan itu maksudku. Kenapa bapak tidak meminta kekasih bapak saja yang membuatkan?" Jujur, Anjani kurang berani bertanya hal ini. Bian tertawa pelan. Tawa yang sangat jarang Anjani lihat. "Apa wajah-wajah sepertiku selalu terlihat memiliki kekasih?" "Maaf. Saya kira—" "Lupakan saja. Apa kau setuju?" Terdiam sebentar, usai berpikir beberapa detik Anjani akhirnya mengangguk pelan, "Baiklah. Kebetulan saya juga suka memasak. Jadi melakukannya bukan hal yang memberatkan." Bian pun mengambil gawainya dari saku celana. Memberikannya pada Anjani, "Masukan nomermu di sana. Sore ini akan saya kirim list menunya lewat pesan." Tepat. Lamunan Anjani buyar saat gawainya berdering. Masuk sebuah pesan dari nomer tak dikenal. 085234xxxxx: List menu minggu ini: -Rendang Jengkol -Semur Jengkol -Nasi goreng jengkol -Jengkol Sambal Cabe Ijo -Jengkol Balado Anjani mengernyit membaca pesan itu. Benarkah dari Bian? Ingin sekali Anjani menertawakan. 085234xxxxx: Jangan tertawa. Saya tau kamu pasti mengejek. "Pft. Aku nggak nyangka dia suka makanan seperti ini," Anjani pun terkikik. Siapa yang tau ternyata pria berkelas seperti Bian menyukai makanan berbahan pete. Anjani mengirim balasan. Anjani: Kenapa tidak jujur saja kalau sebenarnya bapak kesulitan mencari makan siang berbahan jengkol? Ck. 085234xxxxx: ?