11 | Surprise

1124 Kata
Rutinitas Anjani bertambah mulai hari ini, yaitu memasak makan siang untuk sang bos arogan dan pemaksa bernama Bian Pradipta. Kebetulan juga dalam seminggu ke depan Clara libur semester, jadi jadwalnya menjemput anak itu setiap pukul 12 siang, tidak akan bertabrakan dengan jadwal mengantar makanan untuk Bian. Setidaknya pada minggu ini ia cukup tenang. Anjani mengaduk perlahan semur jengkol di dalam wajan berukuran sedang dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya mengapit tongkat agar tetap seimbang. Seketika aroma masakan itu menguar ke seluruh ruangan. Membuat perutnya ikut keroncongan. Jujur bukan perkara mudah bagi Anjani memasak semur jengkol, pasalnya ia juga sangat jarang menyantap makanan satu ini—bukan tidak suka. Terlebih Clara yang sangat anti akan baunya. Tapi tenang, semur jengkolnya buatannya sekarang sudah dimasak sebaik mungkin,  resepnya ia baca begitu teliti dari internet. Sehingga tidak menimbulkan bau yang sangat menyengat ketika disantap. "Bunda masak apa? Laperr." tanya Clara. Anak kecil itu menuruni undakan tangga bersama boneka teddy bear kesayangannya. Sambil mengusap perut ia menguap, padahal baru saja bangun tidur siang selama 2 jam. Merasa tidak ada respon dari bundanya Clara mendekat lalu menaiki sebuah kursi kecil—yang sengaja ditaruh di depan kitchen set. Hingga kepalanya sejajar dan Clara pun bisa mengintip apa yang bundanya masak. Anjani mendengus geli melihat tingkah putrinya itu; baru bangun tidur langsung kelaparan. "Astaga!" Clara bergegas menutup hidungnya yang mengerucut dengan tangan. "Cala nggak suka masakan ini. Bau!" ungkapnya jijik membuat Anjani yang sedang mengaduk terkekeh kecil. "Sttt. Nggak boleh ngomong begitu Clara. Kamu harus menghargai makanan," tegurnya. Wanita itu tersenyum tenang. "Lagian ini bukan buat kamu kok. Makan siang kamu ada di atas meja, udah duluan bunda siapkan." Clara mengernyitkan kening, "Terus itu buat siapa?" "Om, Bian," jawab Anjani. "Kenapa Bunda yang masakin?" "Enggak papa. Anggap aja sebagai bentuk terima kasih kita sama beliau. Dia banyak membantu kita." Clara manggut-manggut paham, tanda ia setuju keputusan Bunda. Lalu Clara pun bertanya sembari menampilkan wajah ceria, "Berarti hari ini kita ke gedung itu lagi dong?" Anjani mengangguk pelan seraya tersenyum tipis. Dan gedung yang dimaksud Clara sebenarnya adalah kantor perusahaan Bian. "Clara ikutt," ungkapnya bersemangat. "Boleh." Seketika Clara melompat girang, entah apa sebenarnya yang membuat anak itu kelewat senang Anjani tidak tahu. Namun, ia ikut bahagia melihat respon Clara. Anjani menaruh spatula-nya kemudian mengacak gemas rambut Clara, "Tapi kamu makan dulu gih. Bunda nggak mau kamu kelaperan." "Okeee." Clara mengacungkan jempol, ia berlari kecil mengambil piring, sendok, serta gelas. Lalu menaiki kursi dan membuka tudung saji, menyantap lauk pauk kesukaannya. Meski baru berusia 5 tahun, anak itu sudah mandiri— makan tanpa perlu disediakan lagi. Clara duduk membelakangi Anjani. "Di sana kita ngapain aja?" tanya Clara. Anjani menjawab tanpa menoleh, tangannya mematikan kompor, "Cuman nganter makanan doang kok, habis itu pulang. Kita nggak boleh lama-lama karena di sana orang-orang sibuk kerja. Kita nggak boleh sampai menganggu mereka." Bahu Clara merosot, kunyahannya memelan. "Padahal Clara mau main sama Om Bian." Anjani menghela napas, ia menghampiri Clara dan mengusap pelan bahu anaknya, "Nanti aja ya kalau beliau nggak sibuk." Clara pun terlihat pasrah mengangguk. Anjani tersenyum tipis, ia kembali ke kitchen set guna menyiapkan semur jengkol buatannya ke dalam rantang kotak dua susun berwarna biru. Tak lupa Anjani menambahkan nasi pada kotak terbawah.  "Bu Ani," panggi Bi Ratih mengalihkan perhatian Anjani. Ia menoleh lalu pelan-pelan menggerakan tongkat demi menghadap Bi Ratih. "Ada apa bi?" "Alhamdulillah pendapatan toko kue bulan ini meningkat drastis, Bu," ungkap bi Ratih. Kemudian menyodorkan amplop tebal berisi uang. Anjani memang mempercayakan hasil pendapatan toko kuenya kepada Bi Ratih. "Serius, Bi? Kenapa bisa? Biasanya pendapatan toko kue kita stabil, bahkan malah menurun." "Bibi juga nggak tau, Bu." Bi Ratih mengetuk dagu dengan telunjuk, "Apa jangan-jangan karena pak Bian. Ibu sadar tidak? Sejak banyak wartawan datang ke rumah kita. Toko kue jadi semakin ramai." Anjani menggeleng tidak tahu, ia terdiam sebentar, kalau dipikir-pikir ucapan bi Ratih ada benarnya. Anjani kemudian menerima amplop tadi, mengintip isinya lalu menghembus penuh syukur. "Coba ibu lihat juga halaman ini." Bi Ratih memperlihatkan gawainya, benda pipih tersebut menampilkan bagian depan toko kue Anjani. "Pak Bian ternyata mempromosikan toko kue ibu di website perusahaan mereka." Sejenak Anjani tercengang. Ia menatap lebih lamat dan tentu benar. "Cala mau lihat!" Clara menyelip di antara keduanya lalu merebut gawai di tangan Anjani, "Wah, bunda lihat! Ada muka aku." Ekspresinya lantas cerah berbinar. Jelas terpampang di layar tersebut, toko kue dengan nama 'Bakery and Pastry Clara'. Juga foto Clara yang sedang tersenyum sembari diedit menggunakan topi koki. Ditambah caption serta kalimat-kalimat persuasif yang membuat siapa pun yang membaca penasaran akan cita rasa kue buatan Anjani. "Kapan ya Om Bian ngambil fotonya?" gumam Clara terkikik. "Aku benar-benar nggak tahu, Bi. Pak Bian juga nggak bilang ke aku," ujar Anjani heran menatap bi Ratih dengan alis terpatri. Namun seusainya seulas senyum tipis ia perlihatkan. "Mungkin Pak Bian ingin memberikan kejutan. Toh, bagus kan. Toko kue ibu pasti selalu ramai setiap bulan," kemudian bi Ratih tertawa pelan, seolah menertawakan kekesalannya dulu kepada Bian, "Nyesel deh bibi ngatain beliau jahat, Bu." "Alhamdulillah." Anjani tersenyum lagi, "Pak Bian ternyata nggak seburuk yang kita pikirkan ya, Bi. Kita mesti banyak-banyak berterima kasih." Bi Ratih mengangguk cepat. Anjani mengusap dadanya penuh kelegaan. Entah bentuk terima kasih apa yang bisa ia berikan pada Bian. Pria itu di awal memang terkesan jahat, tapi setelah mereka kenal lumayan lama. Bian baiknya terlalu berlebihan. "Simpan di tempat biasa, Bi. Awal bulan kita bagi rata untuk semua karyawan," pinta Anjani mengembalikan amplop tadi ke tangan bi Ratih. "Siap, Bu." Bi Ratih pun pergi meninggalkan dapur dan menuju tempat penyimpanan uang. Giliran Clara mendekat lalu memeluk bundanya erat, "Clara makin nggak sabar pengen ketemu Om Bian. Cepat ya, Bun. Clara pengen ngucapin terima kasih karena dia udah banyak bantu bunda." Begitu pun Anjani. *** "Tunggu, Bian," ucap Bram. Pria berjas abu itu sedikit mempercepat langkahnya demi menghampiri Bian. Padahal mereka baru saja keluar dari ruangan yang sama—yaitu ruang meeting. Tapi Bram lupa menahan rekan bisnisnya itu karena terlalu asik membahas hal penting dengan sang sekretaris. Bian mendengar namanya dipanggil segera berhenti lalu menoleh, ia menatap Bram. "Ada yang perlu kita bicarakan pak?" "Sebenarnya bukan hal yang penting. Aku hanya ingin menanyakan kondisi wanita itu," jawab Bram. "Siapa?" Bian mengernyit. "Anjani." Sesaat ekspresi Bian berubah tak minat. Selalu Anjani, Anjani dan Anjani, sejak tragedi kemarin penghuni kantornya seolah tak henti membicarakan wanita itu. Memang, apa yang istimewa dari wanita lumpuh itu? "Apa keadaannya baik-baik saja?" Sekarang keduanya mengobrol sambil berjalan pelan lalu memasuki lift. "Iya, baik. Bapak belum bicara dengannya kemarin?" "Sudah. Kami lumayan membicarakan banyak hal, dia wanita yang ramah dan baik. Ya meskipun keadaannya kurang sempurna seperti itu," sahut Bram. Bian mengangguk mengiyakan. Dan tepat ketika pintu lift terbuka ia menghadap dengan subjek yang dibicarakan.  "Nah, itu dia." "Om Bian!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN