12 | Harga Diri

1041 Kata
Bian terkejut melihat Anjani datang bersama Clara. Matanya membulat namun beberapa detik setelahnya Bian berdehem lalu menormalkan ekspresi. Ditambah Clara tiba-tiba melompat dan memeluknya. "Om Bian!" seru Clara. Anjani hendak menahan anak itu tapi terlambat. Ia hanya bisa menarik tangannya kembali ketika Clara terlanjur memeluk Bian begitu erat. Anjani memohon maaf. "Tidak apa-apa," kata Bian. Ia balas memeluk Clara lalu mengusap kepala anak itu. Clara menyengir lebar. Anjani mendengus pelan. Bram tersenyum menatap Anjani dan mereka pun melangkah mengeluari lift disusul Bian serta Clara. Mereka menepi untuk berbincang-bincang. Anjani merasa dia datang di waktu yang salah. Melihat Bian sepertinya sedang sibuk bersama rekan kerjanya. Anjani pun menyembunyikan tangannya yang memegang rantang ke belakang punggung. Ia sangsi bagaimana reaksi Bian ketika Bram mengetahui apa alasannya datang ke sini. "Bagaimana kabarmu Anjani?" tanya Bram pada wanita itu. Anjani tersenyum kikuk, setelah sebelumnya ia melirik sekilas ke arah Bian yang menatapnya datar, "Saya baik, pak." "Baguslah. Ada keperluan apa kamu datang ke sini?" tanya Bram membuat Anjani seketika bungkam. Berbeda pada Bian yang menyipitkan matanya ke arah wanita itu, seolah mengisyaratkan pada Anjani bahwa ia mesti tutup mulut. Anjani mengangguk-anggukan kepalanya untuk Bian, kemudian menatap Bram, "Anu... saya—" Bian segera memotong sebelum Anjani salah bicara, "Saya yang memintanya, pak." "Bunda membawakan makan siang buat om Bian!" ungkap Clara semangat. Seketika Bian mengusap wajahnya dengan geram. Sialan anak ini! Gara-garanya ia mati kutu sekarang. Bian menatap Clara dengan wajah kesal alhasil gadis itu pun menunduk takut. Bram tertawa lalu menakutkan alis, "Benarkah anak manis?" tanyanya pada Clara. Kemudian tertawa konyol menatap Anjani, "Kenapa tidak membawakan sekalian untukku? Kebetulan aku juga sedang lapar. Oh ya, tumben sekali Bian menerima masakan rumahan. Padahal dulu dia selalu bilang tidak akan level makan makanan buatan wanita lain selain ibunya." Bian mendecih dalam hati. Ia tahu Bram sedang mengejeknya saat ini. Bian membuang pandangan kusut. Anjani menampilkan raut bersalah, sekaligus polos, "Maaf. Tapi bapak boleh kok ikut makan bersama Pak Bian. Saya lumayan banyak bawa—" "Ekhem." Bian berdehem menghentikan ucapan Anjani. Wanita itu sontak terdiam. "Bagaimana kalau mengajak teman bapak yang lain saja makan di luar? Saya ada keperluan mendesak dengan Anjani. Maaf sebelumnya," tutur Bian sopan, meredam kekesalan. Bram pun mengangguk saja tanpa menaruh rasa curiga, namun senyum konyolnya terus saja terlontar pada pria itu, "Ya sudah tidak apa-apa. Kalau begitu aku juga permisi. Nikmati waktu makan kalian. " Ia lalu menatap Anjani dengan senyuman, "Sampai bertemu lagi Anjani." Anjani balas tersenyum tipis. "Dadah Om!" celetuk Clara melambai kala punggung Bram menghilang di belokan. Bian menghembuskan napasnya lega. Sekarang keadaan rasanya lebih aman. Ah, tadi ia benar-benar sial karena mulut tak terkontrol Clara. Andai tadi anak itu juga menyebutkan jenis masakan apa yang dibawakan Anjani, sudah dipastikan ia malu sampai urat terdalam. "Saya membawakan makanan sesuai dengan daftar yang bapak kirimkan," ucap Anjani sembari menyodorkan rantangnya. "Semur jeng- mphhh." Namun belum selesai bicara Bian bergegas membekap mulutnya. Ya Tuhan, dua manusia ini memang rentan membuat harga dirinya turun di depan orang-orang. Bian berbisik sebal, "Kecilkan suaramu bisa tidak?"  Clara memandang kedua manusia itu dengan bingung. Ia berjinjit ingin menguping tapi tubuhnya terlalu kecil. Anjani manggut-manggut lalu menurunkan telapak tangan Bian dari mulutnya. "Tapi kenapa?" Bian terkekeh sekali lagi, ia mengusap wajah frustasi. "Lupakan sajalah. Ayo ikut ke ruanganku!" Tanpa babibu Clara serta Anjani pun menyusul langkah pria itu, agak tergopoh-gopoh untuk Anjani karena tongkatnya tidak mampu menyamai langkah kaki manusia. Dan meski begitu, Clara tak pernah sekalipun berjalan lebih dulu. Anak itu selalu berjalan di samping guna menjaganya. Beda dengan Bian yang tidak pernah peka alias selalu berjalan lebih dulu meninggalkan mereka. Dalam perjalanan pun Anjani tak luput dari sapaan-sapaan penghuni kantor. Hingga akhirnya mereka tiba di ruangan kerja Bian yang sangat luas, harum serta nyaman, benda di dalamnya pun tersusun rapi. Sejenak Anjani mengagumi. Tapi dimana Bian? Saat masuk ia tidak melihat pria itu berada di sini. "Wah. Kulsinya gede bangett, empuk, ayo bunda coba duduk di sini," kagum Clara yang langsung menduduki kursi kerja Bian. Mengagumi benda besar nan empuk itu. Anjani menggeleng cepat lalu menghampiri Clara cemas. "Clara cepat turun. Kamu nggak boleh menyentuh apa pun tanpa seizin pak Bian. Paham?" "Biarkan dia." Bian mendadak muncul dari sebuah ruangan di sisi kanan. Dan ruangan itu tidak lain adalah toilet. Clara pun buru-buru turun sebab takut dimarahi Bian. Clara menunduk. "Mau duduk hm?" Bian mengusap rambut anak itu. Clara mengangguk pelan dengan cengiran manisnya. Dan tanpa Clara duga Bian tiba-tiba mengangkat tubuhnya yang mungil untuk duduk di kursi tadi. "Horee." Clara bertepuk tangan. "Telima kasih Om." "Oke." Anjani mengulum senyum menanggapi sikap Bian. "Mana makananku?" tanyanya membuat Anjani tersadar dari lamunan. "Hah. I-iya maaf saya lupa, pak." Anjani lantas mendekat lalu memberikan rantang biru di tangannya. Bian menerima, pria itu langsung membuka isi rantang tersebut di atas meja. Harum masakan itu menguar ke seluruh ruangan yang berhasil membuat perut Bian keroncongan. Pas sekali ini waktunya makan siang. Terutama habis meeting seperti tadi tenaganya seakan terkuras. "Apa kamu tidak capek berdiri terus? Cepat duduk di sofa!" perintah Bian. Anjani mengangguk, sontak meminta Clara turun dari kursi Bian. "Clara sini." Clara menurut dan menghampiri Anjani yang duduk di sofa. Sedangkan Bian kembali duduk di kursinya sembari mulai menyantap semur jengkol buatan wanita itu. Oh waw, Bian akui cita rasa masakan Anjani sesuai sekali dengan lidahnya. "Ternyata tidak sia-sia aku meminta padamu. Masakannya lumayan enak," tutur Bian mengagumi. Anjani tersenyum malu-malu. "Om suka masakan itu?" tanya Clara. "Cala nggak. Bau! " Uhk. Bian tersedak mendengar penuturan Clara. Apa anak itu bilang barusan? Kedengarannya menyindir sekali dengan selera lidah Bian. "Clara diam." Anjani sontak menegur. Ia menggeleng tegas pada Clara. "Kamu lupa kata bunda? Kita harus menghargai selera orang." Clara menggeleng polos. "Cala helan aja kenapa Om Bian suka." Kemudian berbisik ke telinga Anjani. "Pasti habis makan mulutnya bau." "Shtttt." Anjani terpaksa membekap mulut putrinya. Namun sayang sepertinya Bian mendengar, terbukti dari ekspresi pria itu yang menatapnya dengan kurang bersahabat. "Maafkan ucapan Clara, pak." "Tidak masalah. Anak kecil memang tempatnya jujur." Anjani menghembuskan napas lega dan demi mengalihkan perhatian Clara dari Bian, ia mengeluarkan boneka barbie untuk Clara mainkan dari dalam tasnya. "Sekarang kamu duduk tenang sama Fio." Ya, boneka Clara itu bernama Fio. Clara sendiri yang memberinya nama. "Wah Fio!" Clara lantas memeluk boneka kesayangannya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN