13 | Strange Request

1086 Kata
"Oh ya, apa aku terlalu memberatkanmu? Maksudku kamu kan memakai tongkat, melangkah saja pasti sulit. Apa perlu aku persiapkan supir khusus untuk menjemputmu setiap siang?" tanya Bian, kembali membuka pembicaraan setelah perhatian Clara hanya tertuju pada Fio. Akhirnya anak itu diam juga. Memang kadang Bian kesal ketika Clara terus saja mengoceh apalagi menyindir dengan mulut jujurnya. Mata Anjani melebar mendengar pertanyaan Bian, ia menggeleng cepat isyarat menolak. Lagi-lagi pria itu berlebihan, pikirnya. "Nggak usah, pak. Tapi kalau bapak mau, bapak sebaiknya persiapkan supir khusus, bukan menjemputku tapi mengambil makanannya saja, karena hanya minggu ini saya ada waktu luang untuk ikut mengantarkan." Lain maksud Anjani dia akan selalu menolak tawaran Bian. Tetapi mengingat pria itu memiliki banyak kesibukan, pasti akan sangat merepotkan. Bian menangkap ketidaknyamanan dari raut Anjani. Dia lantas mendengus pelan, "Tidak bisa. Aku hanya ingin menerima masakan itu langsung dari tanganmu dan juga makan tepat di hadapanmu," katanya bersikukuh. "Tapi—" "Memang kesibukan apa yang kamu punya minggu depan? Serahkan semuanya padaku. Aku akan mengirim orang-orang kepercayaanku agar mengatasinya." Sontak Anjani dibuat membungkam. Dia kebingungan harus menjawab apa. Menolak lagi pun rasanya agak canggung. Anjani herannya, kenapa Bian begitu ingin ia yang selalu membawakan makanan untuk pria itu? Padahal menitip kan bisa. Lagipula Bian sudah tau bahwa Anjani memiliki toko kue yang kerap kali ia kontrol tiga kali seminggu. "Minggu depan Clara kembali sekolah dan setiap siang saya selalu menjemputnya, pak," papar Anjani. Bian menelan makanannya lalu tersenyum meremehkan. "Gampang." Anjani mengerjapkan matanya heran. Dan tangan pria itu tiba-tiba bergerak menelpon seseorang, "Cepat datang ke ruanganku," perintah Bian dalam tiga detik. Yang membuat Anjani ragu apakah orang yang ditelpon sudah menjawab atau tidak. Bian langsung mengakhiri panggilan. Anjani mengernyit. Kira-kira siapa yang dihubungi Bian? Tak lama pintu ruangan ini pun diketuk kemudian masuklah seseorang. "Anjani?" Dia tak lain adalah Vanya. Wanita itu membulatkan mata kala netranya bertubruk dengan netra Anjani. "Tante Vanya!" Clara menyapa. Belum juga keheranannya terjawab Clara lebih dulu mendekat dan memeluknya. "Jadi yang tadi ditelpon Om Bian itu tante Vanya?" tanya Clara. Vanya menganggukan kepala sembari tersenyum. Wanita berseragam khas kantor itu hendak menghampiri Anjani, namun lewat delikan mata Bian mengisyaratkannya agar menghampiri. Clara pun melepas pelukan, kembali ke sofa sedangkan Anjani menahan hasratnya bertanya. Tiba di samping meja pria itu Vanya menautkan alis mendapati rantang biru—yang saat ia tatap lebih lama Vanya sadar isinya semur jengkol. Pftt. Ingin sekali Vanya tertawa. Bian berdehem membuat Vanya tersadar. "Eh. Ada keperluan apa, Pak?" Sebelum menjawab Bian mengeluarkan dua lembar uang berwarna biru dari dompetnya, menyelipkannya ke tangan Vanya, "Ajak Clara belanja di kantin kantor ini. Belikan semua yang dia inginkan." "Pak—" Anjani menyela lalu Bian berdecak sebal. "Diamlah." Tanpa bertanya banyak hal lagi Vanya pun segera menghampiri Clara, "Ayo Clara. Tante akan tunjukan semua makanan enak di kantor ini." "Asikk." Dan namanya anak kecil kalau diajak jajan tentu tak akan menolak. Sepeninggal Clara serta Vanya dari ruangan, Anjani lekas berucap pada Bian. "Terima kasih, pak. Terima kasih. Saya jadi merasa dengan membuatkan makanan saja tidak cukup membalas semua jasa bapak." Meski ia menilai apa yang dilakukan Bian justru berpotensi membuat Clara menjadi anak yang boros. Bian terkekeh pelan. Dia lanjut menyuap makanan, mengunyah, lalu menelannya pelan-pelan sembari menatap Anjani, "Lah terus. Kamu ingin membalas kebaikan saya dengan cara apa?" Anjani menyengir tipis. Benar sekali pertanyaan Bian, ia sendiri ingin membalas kebaikan pria itu tapi ia bingung bagaimana caranya. Mulai dari pengobatan, memanjakan Clara, serta meramaikan toko kuenya. Semua itu sangat membantu penghidupannya dan Clara. Melihat Anjani yang terdiam, Bian menarik satu sudut bibirnya. "Kalau begitu saya punya lima permintaan." Anjani mendongak menatap lekat pria itu. Alisnya bertautan. "Pertama sudah kamu lakukan, yaitu membuat makan siang setiap hari untukku," ucap Bian dan Anjani pun menganggukan kepala. Baiklah, jika lima permintaan itu dapat membuat Bian merasa terbantu Anjani mau tak mau melakukannya. "Sekarang permintaan kedua karena tepat sekali kamu berada di ruangan ini," lanjut Bian. Dia berdiri meninggalkan meja kerja dengan membawa kotak bekal yang masih berisikan setengah porsi. Menaruh benda tersebut ke meja tamu—tepat di depan sofa lalu mendaratkan p****t di samping Anjani. Wanita itu menelan saliva kasar ketika Bian semakin mendekatkan wajahnya. Reflek Anjani memundurkan kepalanya. "Ja-jangan terlalu mepet, pak," lirih Anjani. Tangannya mendorong pelan d**a pria itu agar menjauh. Bian menyeringai. Anjani menutup mata kala jarak makin terkikis bahkan hidung mereka nyaris bersentuhan, kepala Bian justru oleng ke telinga kiri wanita itu. "Suapi aku," bisiknya membuat Anjani tergelak dan lekas membuka mata. "Boleh?" "I-iya boleh pak," sahut Anjani gugup. Gugup karena ia baru saja berpikiran aneh tentang apa yang ingin dilakukan pria itu. Anjani merutuki sikap konyolnya itu. Bodoh. Mungkin gara-gara melihatnya menutup mata Bian jadi menertawakannya cukup lama. "Tapi bukannya tangan bapak baik-baik saja?" tanya Anjani polos. Ekspresi Bian yang tadi menatapnya penuh senyuman kini malah mendatarkan bibir. Menghembuskan napas keras lalu membuang pandangan ke arah lain. "Pekerjaanku terlampau banyak, jadi aku akan makan sambil disuapi olehmu sementara jari-jariku sibuk mengetik." "Ohh." Anjani manggut-manggut dengan ekspresi tak pekanya. Wajah Bian memerah kesal. Sial. Mengapa wanita itu tampak tidak terpengaruh sama sekali dengan godaannya tadi? Bahkan tak terlihat rona merah di wajahnya sedikit pun. *** Anjani melangkah keluar ruangan Bian. Cukup lama dia berada di sana dan setelah makanan Bian habis barulah dia permisi pulang. Sementara bertepatan itu Clara baru kembali dengan banyak belanjaan di tangan. "Makasih ya Om Bian sama tante Vanya," ucap Clara menatap bergantian subjek yang disebutkan. Vanya mengangguk tersenyum tipis begitu pula Bian. Anjani ikutan berterima kasih lalu mereka berdua pun melangkah meninggalkan ruangan Bian. Anjani membawa kembali rantang kosong di tangannya dan satu tangan lain menggandeng Clara. Ya kosong, sebab Bian makannya lahap sekali layaknya belum makan dua hari. Beruntunglah sebelum Clara selesai belanja dia telah selesai menyuapi pria itu. Jika tidak Clara pasti bertanya mengapa ia menyuapi Bian. Entahlah, Anjani tidak tahu sampai kapan ia bisa menyembunyikan permintaan kedua Bian tadi dari Clara. Lama-lama anak itu pasti akan tahu—baik sengaja atau tidak. Baru Clara. Bagaimana kalau orang lain? Mereka mungkin menganggap dirinya memiliki hubungan khusus dengan Bian. Namun karena asik melamun tiba-tiba Anjani tidak sengaja menyenggol bahu seseorang ketika mereka berpapasan. Alhasil, orang tersebut memekik panik. "Ya ampunn handphone gue!" Dia melotot kaget melihat gawainya tergeletak naas di lantai keramik lalu menatap Anjani geram,  "Lo jalan ngeliat pakai mata nggak sih hah?! Liat tuh hape gue jatuh." Anjani kelabakan, ia menatap Laura penuh rasa bersalah, "Maaf mbak saya nggak sengaja. Saya minta maaf." Lain untuk Clara yang memandang wanita berpakaian  dress off shoulder merah itu dengan marah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN