14 | Musuh

1106 Kata
"Maaf pala lo meledak! Untung hape mahal gue nggak pecah. Jual rumah aja lo nggak akan sanggup ganti hape gue!" omel Laura memandang Anjani sengit. Dia menelisik penampilan wanita itu dari atas sampai ke bawah. Sadar Anjani memakai tongkat ia langsung menarik satu sudut bibirnya. "Oh ya ya ya. Lo ternyata pincang? Pantesan jalan aja nyusahin orang," maki wanita itu penuh kesombongan. Anjani merapatkan bibir, dia tak mau membalas ucapan Laura. Toh, dia telah terbiasa mendengar kalimat tersebut dari mulut orang-orang. Anjani sudah kebal dengan semua hinaan serta perlakuan Seenaknya dari mereka. Lain bagi Clara yang menggertakan rahang, kekesalannya bertambah kepada wanita sombong itu. "Bunda nggak pincang tau! Cuma satu kakinya aja yang nggak bisa gerak," ucap Clara. Laura mengernyit dan mengangkat telunjuk di depan wajah gadis itu. "Heh bocah ingusan diem lo!" "Jangan menunjuk putri saya mbak." Anjani kesal melihat putrinya ikut dihina. Ia menurunkan telunjuk Laura dari depan wajah Clara. Jika tadi rautnya menunjukan rasa bersalah tapi kali ini ekspresi Anjani benar-benar marah. "Apa lo?" tantang Laura melotot. "Anjani?" Seseorang dari belakang memanggil namanya. Anjani menoleh dan berbalik sedangkan Laura melipat tangan di bawah d**a. Anjani menyipit, "Iya. Tapi bapaknya siapa ya? Saya belum kenal." Pria berkemeja abu itu terkekeh pelan, "Gue Sani. Temennya Bian," jawab Sani, menatap Anjani dan Laura bergantian. "Lo berdua kelihatannya ribut. Kenapa dah?" "Barusan hape mahal gue jatuh gara-gara ini si pincang!" seloroh Laura. "Bunda nggak pincang tau!" tandas Clara dengan mata menyala. Dia menarik keras ujung gaun Laura hingga wanita itu nyaris oleng. "Bocah! Jangan sentuh gue dengan tangan kotor lo itu," cacinya setelah menepis kasar tangan Clara. Gadis itu memberenggut kesal. Dia sedikit kesakitan karena tepisan Laura tapi Clara menutupinya dengan amarah. "Clara ..." Anjani menarik anak itu menjauhi Laura. "Lau lo baperan banget sih sama anak-anak!" ujar Sani terbawa emosi. Dasar Laura. Bahkan setelah dipermalukan oleh Bian wanita itu belum juga jera rupanya. "Bukan masalah ini bocah Sani, tapi hape gue," tangkasnya menunjukan gawai di genggaman. "Kalau sampai hape ini rusak gue nggak punya lagi nomer Bian. Lo tau kan dapetin nomor my prince gue itu su... sah, pake banget!" "Lebay lo," cetus Sani tak habis pikir. Clara menakutkan alis menatap Laura, "Bian? Maksudnya Om Bian?" Laura terperangah, "Lo kenal my Prince gue?" "Om mphh—" Anjani bergegas membekap mulut Clara. Takutnya anak ini semakin menambah masalah. "Bukan apa-apa mbak. Kami cuma sekedar kenal aja sama Bian," tutur Anjani menyengir tipis. "Hooh. Lagian ngapain lagi lo lama-lama di sini? Pergi sana Hush. Merusak pemandangan kantor aja," ledek Sani. Laura memberenggut kesal, "Gue juga eneg kali lama-lama deket ini wanita pincang!" Seketika Clara gregetan ingin menghancurkan baju wanita itu. Dia menarik baju Laura hingga empunya mendesis. "Dih apaan sih lo bocah narik-narik baju gue?!" " "Berapa kali aku bilang bunda nggak pincang," ujar Clara mengoreksi. Laura tertawa cukup keras. Andai ini sinetron televisi, maka tawa itu terdengar sangat jahat di telinga mereka. Dia menghardik, "Terserah gue mau nyebut pincang, lumpuh atau apa kek. Toh emak lo itu tetap sama aja. Sama-sama nyusahin orang." Rasanya Clara ingin sekali mencakar wajah Laura ratusan kali. Namun Anjani menahan pergerakan anaknya itu, Anjani memapar senyum tipis kepada Laura seolah mengatakan bahwa perkataan wanita itu bukan apa-apa baginya. Melihat ekspresi wanita bertongkat itu Laura dibuat geli, "Gila kali malah senyam-senyum." "Dasar Laura manusia uler. Mulut lo sekolah nggak?" sindir Sani, dia geram melihat sikap sombong, manja, dan lebay wanita itu. "Mau, gue kasih tau Bian lo datang ke kantor ini supaya nggak dibukain pintu hah?" Oh tidak-tidak! Tentu saja Laura tidak ingin itu terjadi. Dia sudah bersusah payah—melewati terik matahari serta jalanan yang macet demi menemui Bian, Laura tidak mungkin membuang kesempatan emasnya ini. "Jangan dong aelah." Laura menghentakan kaki geram, "Rese lo Sani Markonah!" "Sialan uler!" Kemudian Laura pun pergi dari hadapan mereka sambil mengibaskan rambut—tentunya dengan perasaan gondok. Anjani menghela lega sembari mengusap pipi putrinya sedangkan Sani tertawa puas lalu menatap ibu dan anak itu. "Sekarang lo berdua bisa pulang dengan tenang. Jangan terlalu dipikirin semua perkataan Laura," katanya. "Thanks Om." Clara tersenyum begitu pun Anjani. "Btw kalian habis darimana?" Pertanyaan yang membuat Anjani seketika menggigit bibir bawah—tidak tahu akan menjawab apa. Dan sebelum Clara membuka mulut wanita itu segera permisi kemudian menarik tangan Clara menjauh dari hadapan Sani. "Kami pulang dulu. Terima kasih." Sani mengernyit bingung menatap kepergian mereka. Mungkin sedang buru-buru, pikirnya. Sementara itu di waktu yang sama dan tempat yang berbeda, kesadaran Laura baru bekerja akan sesuatu. "Kayaknya gue pernah liat itu perempuan deh? Tapi dimana gue lupa ish." *** Malam ini Anjani memasak menu makan malam kesukaan Clara yaitu sup ayam wortel. Memang terkesan mainstream tapi Clara sangat menyukainya karena Anjani memasak penuh cinta. Dan walaupun dengan gerak yang terbatas, tidak sama sekali mengikis semangat Anjani bahkan dengan senyum girang ia mengaduk masakan tersebut di panci lalu mencicipinya seujung sendok. "Rasanya udah pas." Anjani tersenyum.lalu mematikan kompor. Sekarang waktunya memanggil malaikat kecilnya itu untuk turun, tetapi saat berbalik bel rumah berbunyi. "Bi Ratih di luar ada orang," seru Anjani. Dua kali tidak ada sahutan dia pun memilih membuka pintu sendiri. "Sebentar-sebentar," ucapnya mendengar bel terus berbunyi. Anjani berusaha menggerakkan tongkatnya lebih cepat menuju pintu. "Siapa ya malam-malam begini?" Setibanya Anjani langsung membuka pintu utama, betapa terkejutnya dia mendapati seorang pria berjas hitam berdiri sambil membawa tas kerja. "Pak Bian." "Selamat malam." Bian tersenyum sekilas. Tanpa menunggu arahan dia lantas melenggang masuk, membuat sang empu rumah menggelengkan kepala. "Bapak kenapa nggak telepon saya dulu sebelum datang?" tanya Anjani menutup pintu. "Apa aku menganggu waktumu?" Anjani menggeleng lagi. Bahkan tanpa diberitahu pria itu berhasil memasuki dapurnya kemudian duduk di kursi ruang makan. "Aku lapar. Berikan aku makanan," pinta Bian bersedekap. "Saya nggak masak jengkol." "Terserah, apa saja asal itu buatanmu, cepat saya lapar sekali!" "Iya-iya." Anjani pun pasrah. Beruntunglah dia membuat sup ayam tadi dengan porsi cukup banyak. Anjani menuangkan sup itu ke mangkok lalu menaruhnya di atas meja—tepat di hadapan Bian. Aromanya yang khas lantas memasuki indra penciuman pria itu—membuatnya begitu lapar. "Dimana gadis bawel itu?" tanya Bian. "Clara sedang tidur, pak. Barusan saya ingin memanggilnya turun untuk makan malam, tapi bapak tiba-tiba datang." Bian menaikkan satu alis, merasa sedikit miris karena kalimat Anjani 'tapi bapak tiba-tiba datang'. Ya memang sih dia  datang tanpa diundang—jadinya pekerjaan wanita itu tertahan. "Jangan bangunkan dia dulu. Saya ingin makan sendiri." Anjani manggut-manggut, "Bapak nggak kesasar kan? Sepertinya bapak baru pulang kerja." "Pulang ke apartemen tidak akan membuatku dapat makanan secepat di rumahmu," jelas Bian menyeringai. "Toh anggap saja ini cicilanmu untuk membalas kebaikanku. "Makanya kamu jangan senang dulu, masih ada tiga permintaan saya yang belum kamu kabulkan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN