15 | Kiss

1101 Kata
"Enak," ujar Bian usai menghabiskan semangkuk sup-nya, kemudian menatap Anjani yang sedari tadi duduk di kursi sampingnya. "Saya mau tambah lagi boleh?" "Boleh kok pak. Saya membuat supnya cukup banyak." Anjani pun mengisi kembali mangkok tersebut dan memberikannya pada Bian. "Ini." Langsung diterima oleh pria itu dengan tatapan nafsu. Anjani menggeleng pelan seraya menggerakan tongkat menuju kulkas. "Masih panas pak dinginkan dulu ya," sarannya yang dihiraukan oleh Bian. Pria itu justru acuh langsung menyeruput kuah supnya. Uhk. Alhasil Bian tersedak akibat kepanasan. Tenggorokannya seolah tercekik. "A-ni Uhk berikan air..." "Ya ampun pak makanya pelan-pelan makannya." Anjani kaget, cepat-cepat dia mengambil sebotol air dingin dari kulkas, berusaha bergerak cepat memberikannya pada Bian. "Kan saya bilang supnya juga masih panas." Bergegas Bian merampas botol itu dari tangan Anjani. Menenggaknya hingga tersisa setengah nampak sekali dari jakunnya yang naik turun, sedangkan Anjani berinisiatif mengusap belakang pria itu. Dia tak habis kenapa pria seperfectionist Bian begitu kalap saat bertemu makanan. "Bawel kamu," ledeknya ketika selesai minum. Bian mengusap sisa air di sudut bibirnya sembari membuang napas lega melalui mulut, bahkan jasnya yang hitam itu basah kena tumpahan air. "Loh pak ngapain?" Anehnya bukan melanjutkan makan pria itu malah bersandar dipundaknya. "Numpang bersandar sebentar, kuah supnya masuk ke hidung saya, kamu tidak liat saya sedang terengah? Panas. " "Enghh iya bapak bandel sih dikasih tau," sebal Anjani. Bian menggidikan bahu, dia memejamkan mata sambil sesekali mengintip memandang wajah Anjani dari samping. "Cantik." "Bapak bilang apa barusan?" Samar-samar Anjani mendengar tapi tidak jelas. Bian tergelak, "Enghh Tidak ada!" "Pak jangan tidur ya." "Iya. Enghh berikan aku air lagi. Rasanya napasku semakin sesak dan hidungku sakit," pinta Bian, mukanya melas. "Serius pak? Gimana kalau kita ke dokter ya? Saya takut bapak kenapa-kenapa." Anjani memberikan air sekaligus membantu pria itu minum. "Saya tidak apa-apa. Tapi lebih baik saya menginap di sini saja boleh?" "Engh..." "Seluruh badanku terasa lemas dan sulit digerakkan. Ini pasti akan berbahaya untuku menyetir." "Ya sudah." "Eh-eh pak. Ya ampun!" Tanpa Anjani duga pria itu oleng ke pundaknya, seolah hendak pingsan juga matanya sayup-sayup terpejam. "Saya mengantuk." "Kenapa bisa tiba-tiba?" "Ya mana saya taulah!" Bian sebal wanita di sampingnya ini sulit sekali peka. Ya setidaknya menawarkan ke kamar agar beristirahat tapi malah terus bertanya. "Bisa ambilkan ponselku di tas?" Anjani mengangguk, dia mengambil ponsel pintar berlogo apel di gigit dari tas hitam pria itu. "Langsung hubungi kontak dengan nama Sani, ponselnya tidak terkunci." Anjani menggigit bibir bawah, lalu menatap Bian, "Saya nggak tau gimana cara bukanya, pak." "Apa?" Bian tercengang, ia memijit pelipis sebab kepalanya semakin terasa pening. "Ini jaman digital masa kamu tidak tahu?" "Enghh... Hape bapak beda dengan hape saya." Anjani pun memperlihatkan ponsel kunonya yang kecil. Bian mendengus berat, "Ya Tuhan. Kamu istri seorang mantan pengusaha kenapa bisa kuno sekali sih?" Anjani menggeleng sambil mengusap belakang kepala, menyengir dengan wajah tak berdosa ya, "Dulu mendiang mas Varo pernah memberikan saya ponsel model seperti itu, tapi saya kesusahan memakainya jadi saya simpan saja. Yah jadinya lama kelamaan saya lupa. Hehe. " "Apa Varo tidak pernah mengajarkan cara memakai benda ini padamu?" Bian mengangkat ponsel canggihnya di depan wajah Anjani. "Pernah. Sering malah, tapi saya menolak karena saya tidak ingin membuatnya repot. Toh saya sudah nyaman dengan ponsel lama ini," jelas wanita itu. "Mas Varo juga tak pernah memaksa saya mengikuti kehendaknya." "Kamu ini bodoh atau terlalu baik hah? Kesal saya." Bian mengusap wajah dan itu membuat Anjani terkikik pelan. "Saya wanita desa yang miskin, Pak. Dijodohkan dengan mas Varo saja saya sangat bersyukur. Jadi saya tidak mau apa-apa lagi, cukup dicintai Mas Varo saja saya sangat bahagia. Tapi saya nggak mengerti kenapa Tuhan mengambil suami sebaik mas Varo secepat itu, mungkin Tuhan terlalu sayang pada suamiku ya pak." Lalu Anjani membuang napas berat, ekspresinya menunjukan kekecewaan. Bian terdiam mengangguk paham, tak sedikit pun ia ragu pada ucapan Anjani sebab dulu dia sering mendengar kalau Aldevaro sangat mencintai istrinya ini. Bahkan Aldevaro begitu memanjakannya, menuruti semua kemauannya. Pantas saja karyawan-karyawan Halling Group milik Aldevaro dulu merasa sangat senang memiliki atasan seperti Aldevaro. Dan bukan berarti Bian merasa ia tidak becus mengurus Pradipta Group. Kalian lihat sendiri kan, semua karyawannya hidup dengan sejahtera. Sangat sejahtera! "Sudahlah. Aku malas mendengar kisah cinta kolot kalian." "Haha iya." Anjani terkikik pelan. "Tadi katanya bapak mengantuk?" Bian tergelak, sial, dia sampai lupa kalau sedang berakting mengantuk. Bian pura-pura menguap, "Hoaam. Aku memang mengantuk apalagi mendengar ceritamu. Aku juga lelah." "Saya antar ke kamar tamu ya pak." "Ck, seharusnya sejak tadi kamu menawarkan itu." Anjani terkekeh pelan, dia lantas tetap membantu Bian berdiri meskipun dia sendiri kesusahan berdiri. "Pelan-pelan pak katanya badan bapak lemas." "Iya bawel!" Hingga setibanya mereka di kamar tamu di lantai dasar, Anjani menjauhkan lengan pria itu dari pundaknya dan Bian pun mendaratkan tubuh ke bibir kasur. "Nah sekarang bapak bisa istirahat dengan tenang," kata Anjani tersenyum. "Saya keluar dulu ya pak." "Tunggu sebentar." Anjani telah berbalik namun pergelangannya kembali di tarik. Membuat wanita itu kehilangan keseimbangan dan bruk! Anjani kira ia akan jatuh ke lantai keramik tetapi ternyata ia jatuh ke atas tubuh Bian. "Pak," Anjani mengerjap bingung saat sadar wajah mereka sangat dekat. Dia menahan napas. Dan tanpa Anjani duga pria itu menekan tengkuknya hingga bibir mereka menempel selama lima detik. "Hmpph." Kalau saja Anjani tidak menggeplak kepala pria itu secara reflek. "Astaga bapak ternyata modus banget ya!" Bukan hanya menggeplak, bahkan wanita itu juga memelintir bibirnya secara kasar. "Awwh shttt. Swakit Anjwani!" Alhasil Bian menggulingkan badannya sambil meringis kesakitan menyentuh bibirnya. Anjani buru-buru mengambil tongkat yang tergeletak dan meninggalkan kamar. "Rasain! Itu balasan karena bapak berani nyentuh saya. Huh!" *** Anjani POV. Aku buru-buru ke kamar mandi untuk membersihkan bibirku, entah apa yang pak Bian barusan lakukan padaku itu sangat kelewatan dan membuatku kesal. Dia mencium bibirku dengan sengaja, bagian yang sangat aku jaga hanya untuk Aldevaro. Tapi pria itu merenggut kesuciannya setelah sekian lama. "Bapak ngeselin banget sih pak," gumamku sembari mengusap bibir di depan cermin. Membersihkannya dengan air berkali-kali tapi aku tetap saja merasa kotor. Hish menyebalkan! Aku menghembuskan napas pelan. Apa pria itu tak merasa malu dengan tingkahnya seenak jidat mencium wanita lain? Ingatanku pun mendadak berputar saat aku memelintir bibir pria itu secara kasar. Ya ampun! Apa tadi aku memelintir bibirnya sangat keras? Pasti dia begitu kesakitan. Tapi biarlah! Itu adalah balasan. Aku tidak perlu merasa bersalah. Aku pun kembali ke kamar tamu demi memastikan apa pria itu baik-baik saja. Hanya memastikan apa mungkin dia memerlukan obat luka karena bibirnya berdarah. Ck, berlebihan ya. Pintu kamar itu sudah sedikit terbuka, aku pun mengintip dari celah dan kulihat pria itu berbaring ke samping membelakangi pintu. Mungkin telah tertidur lelap. Baguslah. "Sedang mengintip?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN