Anjani menegapkan punggungnya menatap terkejut siapa yang bertanya. "Ibu sedang mengintip siapa?" ulang Bi Ratih menatap heran majikannya. Anjani menghela napas lega, dia kira siapa. "Hehe. Pak Bian." Anjani menggaruk tengkuk salah tingkah. Ia sedikit malu karena ketahuan. "Oh." Bi Ratih manggut-manggut kalem namun sepersekian detik eskpresinya berubah. "Ya ampun pak Bian? Bibi belum sempat minta foto!" kagetnya menempelkan kedua telapak tangan ke pipi. "Shtt jangan keras-keras ngomongnya Bi nanti beliau bangun," bisik Anjani menaruh telunjuk di depan bibir wanita paruhbaya itu. Melirik sekilas pintu kamar tamu. Bi Ratih mengangguk, "Ternyata lagi tidur toh. Terus kapan bapaknya datang bu? Bibi kok nggak tau?" "Lumayan lama setelah aku minta bibi bersihin gudang belakang," sahut Anjani. "Bibi sih aku panggil-panggil buat bukain pintu nggak nyahut." Bi Ratih tertawa, "Ya maaf haha. Bibi nggak denger." "Yasudah sekarang aku mau bangunin Clara buat makan malam. Bibi siapin makanannya ya." "Siap, Bu." *** Bian mengusap sudut bibirnya yang menyisakan noda darah, dia tak menyangka wanita lumpuh itu bisa berubah mengerikan padahal dikecup sekilas saja. Sangat berbeda dengan wanita-wanita yang biasa mendekatinya. Mereka bahkan rela menawarkan keperawanannya pada Bian. Dari kejadian tersebut Bian Sadar Anjani itu bukan wanita sembarangan. Mendekati dan membuatnya peka sepertinya butuh usaha lebih ekstra. Gawai di samping bantalnya bergetar, pria yang berbalut kemeja putih dengan bagian lengan digulung sampai siku itu menggulir layar lalu menerima panggilan. Posisinya tetap rebahan. "Selamat malam, pak Bian," sapa Vanya. "Iya malam." "Dokumen untuk meeting besok sudah saya selesaikan, pak. Apa harus bapak tanda tangani malam ini? Biar saya ke apartemen bapak untuk menyerahkan dokumennya." Bian terdiam mengingat apartemennya kosong, terlebih tidak mungkin juga dia meminta Vanya datang ke rumah Anjani, bisa berabe nantinya, Bian menjawab. "Enghh besok saja. Malam ini saya lelah sekali. Hoamm. Saya ingin tidur." Padahal dia tak sepenuhnya bohong, Bian memang mengantuk. Dan siapa yang tau di seberang sana Vanya mengernyit heran sebab tidak biasanya Bian menunda pekerjaan. Vanya terpaksa menurut saja perintah Bian. "Oh baik kalau begitu pak. Selamat tidur." "Ya." Panggilan pun dimatikan lebih dulu oleh Bian. Ia menaruh kembali gawainya ke tempat semula--di samping bantal. Ia hendak tidur tapi entah kenapa rasanya gelisah padahal sudah berganti posisi dari miring kanan miring kiri. Alhasil rasa kantuknya menguap, maka Bian memutuskan beranjak dari kasur lalu berjalan membuka pintu kamar. Ia celengak-celenguk memastikan suasana aman barulah seluruh tubuhnya keluar. Bian menutup pintu pelan tanpa menimbulkan suara. Ruang tamu di hadapannya kosong, Bian bingung dimana mereka semua berada. Lalu ketika suara denting sendok terdengar cukup nyaring Bian menolehkan kepalanya ke kiri, suara itu dari arah dapur. Kemudian dari balik sekat pembatas antara ruang dapur dan ruang tamu, Bian mengintip kegiatan makan malam mereka. Menatap Anjani yang menyuapi Clara dengan sebuah seringai kecil di bibirnya. *** "Bapak marah?" Pertanyaan itu Anjani lontarkan kala dia Bian memasuki dapur, pria itu baru bangun tidur. "Tidak." "Itu masih sakit? Kayaknya berdarah. Saya nggak sadar kalau memelintirnya terlalu keras, saya obatin ya, pak." "Hm." Bian mengangguk. Ia duduk di kursi depan meja makan. Menenggak segelas air putih dengan ujung mata yang melirik pergerakan Anjani menuju kotak obat di sudut dapur. Wanita itu mengambil kasa dan sebuah salep dari dalam sana. Anjani kembali dan duduk di samping Bian, "Saya minta maaf juga pak." "Ck, saya jadi kesulitan bicara gara-gara kamu. Padahal siang ini saya ada meeting penting," desis Bian masih kesal. "Enghh. Jadi saya harus gimana? Bapak sih berani nyium saya, makanya saya reflek pelintir bibir bapak." "Sadis kamu. Saya kan mencium hanya beberapa detik saja," ucap Bian dengan tak berdosa. Membuat Anjani menyipitkan matanya kesal. "Bodoh banget bapak. Yang namanya wanita pasti nggak akan pernah mau dicium sama lelaki yang bukan siapa-siapanya." Anjani mulai mengeluarkan kasa. Membubuhkan permukaannya dengan sedikit salep lalu menempelkannya sebentar di sudut bibir Bian. Inisiatif pria itu mengambil alih kasa tersebut dari tangan Anjani--mengobati lukanya sendiri. "Jadi kita harus punya hubungan dulu baru saya bisa cium kamu?" "Hah?" Anjani termangu. "Becanda." Anjani menghembus pelan, ia bertutur penuh keyakinan, "Lagipula saya juga nggak akan mau sama laki-laki kayak bapak. Saya tetap mencintai Aldevaro. Cuma Aldevaro yang bisa menggetarkan hati saya." "Sok sekali ucapan kamu," desis Bian tersenyum miring. "Bagaimana kalau kita buktikan? Seberapa lama kamu bisa menahan godaan dari saya." "Hahaha." Anjani justru tertawa seolah Bian membuat lelucon. Aneh-aneh saja kelakukan pria di hadapannya ini. "Ngapain? Lucu banget si bapak. Kurang kerjaan." "Jangan menganggap remeh tantangan ini Anjani. Kamu nggak tau aja kalau saya udah perhatian, semua wanita bakal kepincut dan memohon agar saya nikahi," jelas pria itu tersenyum penuh percaya diri. Padahal dia belum gosok gigi dan jelas-jelas masih ada sisa bayam di gigi. Anjani terkikik pelan, "Yah kalau gitu saya pengecualiannya deh pak." Bian berdecak, "Ck, bilang saja kamu takut kalah kan? Dasar." "Dih bapaknya kepedean. Saya mana takut tantangan kayak gitu. Malah saya kasihan aja nanti kalau bapak yang justru kepincut sama pesona saya. Kan bisa berabe pak." "Nggak terbalik? Justru kamu yang akan termakan pesona saya. Saya mana tergoda sama janda lumpuh kayak kamu. Hahaha." Bian tertawa cukup keras. Lain bagi Anjani yang meringis miris karena kalimat terakhir pria itu. Ya memang seharusnya Anjani sadar diri, setelah Aldevaro mana ada pria yang mau menerima keadaannya saat ini. "Terserah bapaknya deh." "Jadi kamu terima tidak?" "Apanya?" Anjani pura-pura lupa. "Ck, kamu punya golok? Saya lagi pengen potong leher seseorang." Anjani tertawa pelan sembari menepuk-nepuk bahu Bian, "Haha. Kalau leher saya bapak potong siapa dong yang ngikutin tantangannya?" "Saya serius Anjani." Bian menyipit kesal. "Iya-iya becanda, pak. Saya terima deh tantangannya. Tapi awas ya kalau kalah bapak jangan nangis. Saya nggak tanggung jawab loh." Seolah ingin memancing kekesalan Bian, Anjani meledek dengan memicing jahil lalu memutar-mutar telunjuk di hadapan pria itu. "Oke. Ngapain juga saya pake nangisin kamu segala. Saya nggak secengeng itu hanya karena wanita," tandasnya tersenyum angkuh. "Sombong." Bian menggidikan bahu, ia tertawa puas dalam hati sebab ia yakin seratus persen Anjani pasti kalah dalam permainannya ini. "Tantangannya dimulai detik ini. Kita lihat siapa yang paling lama bertahan. Kamu atau saya?" Anjani menaruh kelima jarinya di kening, berlagak hormat. "Siap pak bos!" "Oh ya kamu masuk apa? Saya numpang makan dulu baru pulang." Anjani terkekeh pelan, entah kenapa Bian selalu saja minta makan, Anjani bergumam lalu membuang pandangan, "Ya ya anggap aja balas kebaikan. Belum aku sebut gembel kaya yang minta makan." "Ekhem." Rupanya samar-samar Bian mendengar gumaman wanita itu. Dia menaikan satu alis menatap Anjani. "Oh iya hehe," Anjani tergelak lalu menyengir. Ia membuka tudung saji di hadapan Bian maka terpampanglah beberapa piring berisi makanan, "Saya masak beef steak pak. Enak loh. Bapak cobain deh." Tanpa buang waktu lagi, Bian langsung menyiapkan peralatan makan.