"What? Jadi wanita lumpuh itu namanya Anjani?" tanya Laura pada Zeya yang berdiri di sampingnya, setelah dia membaca berita di koran yang terbit dua hari lalu. Dan kalau Zeya tidak memberikannya koran itu, sepertinya dia tidak akan pernah tau. Zeya menarik satu sudut bibirnya seraya bersedekap, "Hooh bego! Lo ketinggalan berita sih." "Sialan!" Laura menggebrak meja. Alisnya menukik tajam lalu mencak-mencak tidak karuan. Obsesi cewek itu kembali muncul, "Argh. Gue baru nyadar ternyata dia cewek yang ditabrak sama Bian. Kenapa nggak mati aja si dia?" "Lo mau dia mati?" Zeya mengerutkan kening. "Kalo sampai dia berani ngerebut My Prince gue kenapa enggak?" "Hahaha." Zeya meledakan tawa meremehkan untuk temannya itu, dia menepuk-nepuk bahu Laura. Zeya tak habis pikir kenapa Laura begitu tahan menyimpan obsesi gilanya untuk pria seperti Bian. Padahal menurut Zeya, Bian itu biasa saja. "Lau-lau, lo bodoh banget deh. Mau berapa kali lo dipermalukan sama Bian. Kemarin aja semua tamu undangan pada nyudutin lo. Udahlah lupain itu cowok napa si. Mending buat gue," candanya kembali tertawa. Merasa sangat diremehkan tangan Laura lantas terkepal, dia menunjuk wajah Zeya, "Diem Zey! Lo nggak tau aja apa yang bisa gue lakukan ke wanita itu." Zeya pun mendengus keras lalu melempar tatapan permusuhan. Dia berdecih pelan. Lama-lama dia muak meladeni sikap sombong Laura. Terlebih sifat manja-nya itu—sebab setiap menyelesaikan masalah Laura selalu mengandalkan kekuatan ayahnya sebagai rekan bisnis Bian. Dia akan merengek di depan Hans. "Hani!" panggil Laura pada manajer pribadinya. Tak lama seorang pria dengan dandanan layaknya wanita—atau biasa disebut waria masuk ke ruangannya. "Iya nyonya? Honey coming." Sebenarnya Laura risih jika harus memanggil waria itu dengan nama Hani, atau Honey? Ck, terserah saja yang penting orang yang bekerja padanya mampu diandalkan. Sedangkan Zeya mengulum senyum melihat kedatangan Hani. "Ck, ambil koran ini. Lo catet itu alamat toko kue milik wanita lumpuh." Pria yang lebih suka dipanggil 'Honey' itu sontak menangkap gulungan koran yang dilempar Laura. "Sekejap," Dia membolak balik lalu membaca sekilas halamannya di atas meja sambil mengernyit, kemudian terkekeh pada Laura. "Nyonya Honey, di korannya ada banyak toko kue terus nggak ada gambar wanita lumpuh. Eike bingung nih." "Pftt." Zeya menahan tawanya menyembur. "Toko kue Clara Hani!" gertak Laura dan Hani pun menyengir lebar seraya menggaruk tengkuk. "Bilang dari tadi dong nyonya, kan lebih gampang. Eike juga nggak bakalan pusing." "Hish yaudah pergi sana!" usirnya. "Engh... terus catatan ini eike simpan saja nyonya?" Laura menghentakan kaki kesal, dia membentak, "Kirimkan pada Tio, se-ka-rang!" Meringis takut, Hani terpaksa buru-buru meninggalkan ruangan sebelum kena amukan macan. Bergegas menuju garasi dimana Tio— supir pribadi wanita itu biasa membersihkan mobil majikannya di jam-jam seperti ini. *** Sesuai jadwal yang diterapkan oleh dokter Ares, Anjani mesti melakukan serangkaian terapi guna memulihkan saraf-saraf yang mati pada kaki kanannya. Terapi dilakukan setiap dua kali dalam seminggu, sore di rumah wanita itu. Awalnya Anjani keberatan saat dokter Ares harus bolak-balik ke rumahnya dan Anjani ingin dia saja yang datang ke klinik pria itu. Mengingat rumah dokter itu berjarak jauh dari rumahnya. Tetapi karena semuanya di handle oleh Bian, Anjani bisa apa. Pula Bian mengatakan padanya akan menggaji dokter Aresta tiga kali lipat dari gaji normal. Ya begitulah Bian, namanya pria berduit sesukanya memakai uang. "Terapi manual hari ini sudah selesai ya, Bu. Bu Ani bisa mencoba menggerakkan kaki ibu sedikit demi sedikit, tapi ingat sesuai prosedur yang tadi saya contohkan ya," tutur dokter Ares merapikan alat medisnya. "Baik dokter, terima kasih." Anjani tersenyum. Dia merasa kakinya lebih enakan usai melakukan pergerakan terapi barusan. "Artinya bunda bentar lagi sembuh ya dok? Bunda bakalan bisa jalan?" tanya Clara di samping Anjani. "Insya Allah dek. Asalkan rajin minum obat, terapi, lalu makan makanan yang sehat. Adek juga jagain bundanya ya," sarannya pada Clara. Gadis itu tersenyum sumringah. "Siap dokter!" Anjani berkata menatap dokter Aresta, "Mari dokter saya antar ke depan." "Ah tidak usah. Ibu istirahat saja," tolaknya sopan. Berdiri dari sofa lalu menundukan tubuhnya sejenak. "Selamat sore." Dokter Aresta pun keluar melalui pintu utama. Fyi, mereka melakukan terapi tadi di ruang tamu ini. Dan ketika melihat jam dinding menunjukkan pukul lima sore, Anjani lantas meminta Clara masuk ke kamar untuk mengerjakan PR hariannya. Tentu gadis baik itu menurut perkataan ibunya. Sementara itu Anjani bergerak pelan membersihkan ruang tamu, lumayan berantakan karena mainan Clara yang berserakan. *** Tepat usai membersihkan ruang tamu bel rumahnya berbunyi, Anjani lantas membuka pintu dan yah, Bian lagi yang bertamu. "Pak Bian ke sini, memangnya pekerjaan bapak udah selesai?" tanya Anjani. Seperti biasa Bian nyelonong masuk seolah rumah Anjani adalah rumahnya sendiri. Pria itu langsung menjatuhkan tubuh ke sofa, memejamkan mata. "Kamu lupa nama belakangku apa?" "Enghh. Pradipta." "Berarti perusahaan itu milik saya kan, sesuka saya dong mau datang dan pulang jam berapa. Toh, tidak ada siapa pun yang berhak melarang." "Yasudah terserah bapak." "Ck, sepertinya kamu malas bertemu saya hari ini," tebak Bian bersedekap. "Iyah. Saya capek pengen istirahat," bohong Anjani pura-pura memijat lengannya yang tidak pegal. Ia hanya tidak ingin pria itu melakukan hal aneh lagi padanya seperti kemarin. Bian terkekeh pelan, "Kalau gitu saya juga pengen istirahat. Ngomong-ngomong kamar kamu dimana?" "Hah?! Ma-maksud bapak kita istirahatnya sekamar?" Mata Anjani membola. Dia ambigu atas pertanyaan Bian. "Itu kamu yang bilang. Saya kan cuma nanya," dengus Bian samar-samar menyeringai. Ia sengaja memancing keambiguan Anjani. Wanita itu mendengus pelan kemudian menggeleng. "Nggak jadi deh saya duduk di sini aja," katanya berjalan menuju sofa, duduk di samping Bian dengan mengambil jarak cukup jauh dari pria itu. "Loh." Bian mengernyit. Anjani menghembuskan napas sekali lagi sebelum kemudian memeluk bantal sofa, menatap Bian dengan ekspresi khawatir. "Bapak mending pulang. Saya nggak enak sama tetangga. Apalagi yang sebelah kanan namanya bu Marni, dia pagi tadi tanya kenapa bapak ada di rumah saya." "Tinggal beritahu saya pacar kamu. Beres kan? Hidup kamu ini ribet sekali," jawabnya enteng. "Astaga bapak ... " Anjani mulai frustrasi meladeni Bian. Dan tiba-tiba saja ramai terdengar sorakan dari luar rumahnya. "Pak Bian! Pak Bian! Saya mau minta foto pak!" "Bu Ani ayo ajak keluar sebentar pak Bian-nya." "Duh beliau ganteng banget kayak artis." Anjani buru-buru mengintip ke balik jendela, benar saja banyak ibu-ibu berkerumun di depan pagar rumahnya demi melihat seorang Bian Pradipta. Duh, rasanya Anjani ingin lenyap saja. Apa nanti kata mereka? "Tuh kan pak. Ibu-ibu jadi ngebet pengen ketemu bapak," gerutu Anjani menatap Bian. Pria itu ikut mengintip juga. "Cepat keluar gih pak, biar mereka semua pada bubar." Pria berkemeja hijau itu mengangkat bahu, "Enak saja. Saya nggak mau sampai dilabrak sama suami mereka. Najis." "Yah hujan." Entah pertolongan datang pada Anjani atau Bian, hujan tiba-tiba mengguyur kota. Alhasil, kerumunan ibu-ibu tadi kelabakan meneduhkan diri ke rumah masing-masing. "Baguslah. Bubar sana hush-hush. Hahaha." Bian bertepuk tangan sementara Anjani mencebikan bibirnya. "Jadi karena hujan, saya boleh lebih lama mampir di rumah kamu dong?"