18 | Melawan Ketakutan

1020 Kata
Malam ini, entah sampai kapan hujan akan mengguyur kota. Membuat jalanan becek dan aktivitas-aktivitas di luar sana tertahan sementara. Sama dengan tertahannya seorang pria yang sedang menyesap kopi sambil duduk menaikkan satu lutut di sofa ruang keluarga. Bian meniup-niup sembari sesekali menyesap secangkir kopi di tangannya. Tubuhnya berbalut selimut abu tebal berbahan wol, sedangkan  matanya fokus menonton drama action dari TV layar lebar yang menyala di depannya. Ya sebenarnya Bian sadar tingkahnya kelewat santai sebagai tamu. Namun ia terlanjur nyaman dengan posisi ini. Peduli setan gue sama Anjani. Haha, gumamnya. Tapi ngomong-ngomong, dimana wanita itu? Kenapa lama tidak muncul setelah memberikan kopi? Ah, Bian jadi merasa kurang asik kalau harus sendirian di ruangan sebesar ini. Padahal kan niatnya bertamu tidak lain agar bisa menggoda Anjani, mencuri perhatian wanita itu sebagai usaha pertamanya memenangkan tantangan mereka. "Dimana sih dia?" "Pak." Mendadak dari belakang wanita itu muncul. "Darimana saja kamu?" Dengan cardigan biru dan rok coklat semata kaki. Anjani bergerak mendekat, "Saya habis mendongengkan Clara. Dia nggak mau tidur sebelum di dongengkan sama saya. Hehe." "Hmm." Sekarang wanita itu mendaratkan p****t di sampingnya setelah kemudian menaruh tongkat di sandaran sofa. "Bapak tidak pulang?" "Hujannya masih lebat." "Padahal bapak pakai mobil, nggak akan kebasahan juga." Bian mendengus pelan menatap Anjani, dia terus mencari alasan. "Ya kamu tahulah jalanan pasti licin saat hujan begini. Kamu mau saya kecelakaan?" "Duh amit-amit pak. Saya nggak pernah berpikiran begitu." Anjani menggeleng pelan. "Makanya biarin saya numpang di rumahmu dulu. Apalagi cuacanya dingin sekali. Bisa-bisa saya mati kedinginan," tutur Bian kembali memfokuskan pandangannya ke TV. Anjani akhirnya menghela pasrah, kini terserahlah saja pria itu akan berapa lama ada di rumahnya. Anjani bosan mengusirnya secara halus. "Saya ke dapur dulu ambil kue," ujar Anjani meraih tongkat dan tanpa menunggu jawaban  Bian dia berjalan ke dapur lalu datang lagi membawa setoples kue puff pastry. Instingnya menebak Bian pasti merasa hampa tanpa mengemil apa-apa. Dan benar saja, belum sempat Anjani menaruh toples itu ke meja Bian lebih dulu merebut, lalu memakan isinya.  "Kwuenya swangat ewhnak," ujarnya dengan mulut penuh. Anjani terkikik kecil. "Terima kasih. Itu saya buat sendiri." Bian termangu, dia menelan cepat isi mulutnya dan menatap Anjani tak percaya, "Emhh artinya semua kue di tokomu itu kamu sendiri juga yang membuatnya?" "Iya resepnya dari saya, tapi yang membuatnya semua tangan-tangan karyawan saya." "Aku heran," cicit Bian. Dia menatap Anjani intens. Bahkan menjeda kegiatan ngemilnya. "Kamu bilang dari kampung, tapi kamu mampu menjalankan usaha toko kue." "Sebenarnya memang nggak mudah. Dulu awalnya saya cuman jualan pake gerobak sama bi Ratih, alhamdulillah kue kami disukai banyak orang. Dan setelah punya cukup modal barulah kami memilih mendirikan toko sendiri, akhirnya sampai detik ini toko kue Clara lumayan dikenal orang." Bian manggut-manggut paham, entah kenapa mendengarnya membuat ia semakin penasaran kisah hidup wanita itu terutama setelah ditinggal Aldevaro. "Oh ya, saya liat bapak ada mempromosikan toko kue kami di website perusahaan bapak. Saya mengucapkan terima kasih banyak karenanya toko kue kami semakin hari semakin ramai," kata Anjani mengulas senyum tipis. Bian bersedekap penuh bangga di balik selimut tebalnya. "Ya ya nggak masalah. Pria baik dan tampan sepertiku memang suka menolong." Anjani memutar bola mata jengah, ia membatin, "Setelah dipuji pria ini selalu saja membanggakan diri, huh." Dan saat Anjani mengubah pandangannya ke TV, scene yang beradegan dewasa tampil di sana. "Enghh ya ampun! Film apa yang bapak tonton?" pekiknya menutup wajah dengan kedua tangan. "Memangnya--" Ketika melihat TV Bian lantas meluapkan tawa mengejek. "Pfttt. Hahaha." Dia menatap Anjani sambil tertawa, entah apa yang lucu bagi pria itu. "Kamu sok polos sekali sih. Adegan itu biasa terutama untuk mereka yang sudah menikah." "Tapi ..." Anjani mengintip layar TV-nya dari celah jari. Adegan tadi sudah berhenti. Rasanya ingin sekali menggeplak kepala Bian karena menggunakan smart TV-nya untuk menonton film seperti itu. Terlebih benda tersebut sering Clara gunakan menonton film kartun. "Ingin mencobanya lagi tidak?" Plak. "Itu sih maunya bapak." "Benar-benar kamu." Bian mengusap lengannya yang ditabok Anjani. "Saya udah biasa sih," celetuk Bian menyeringai. "Tapi kalau dengan kamu rasanya beda." "Pak." "Nyoba?" Bian semakin m***m. "Gunting taman saya cukup tajem buat motong punya bapak." Ucapan wanita itu bikin Bian merasa ngilu di bagian bawahnya. "Heh dasar." *** "Om nggak pulang?" tanya Clara muncul ke permukaan, dia sedang berenang lalu mendapati Bian berdiri di tepi kolam. Tadinya Bian ingin mencari Anjani namun ia tidak menemukan wanita itu dan justru nyasar ke sini. "Nanti." Bian duduk di tepi dengan menenggelamkan setengah kaki setelah menggulung setengah celananya. Clara menepi di dekat pria itu. "Oh iya hari ini kan hari minggu. Om libulan di rumah aku?" Satu alis Bian naik, kata 'liburan' seakan kurang tepat menggambarkan perasaannya kini, entah kenapa Bian merasa ketika di rumah ini ia bukan sekedar liburan tapi lebih merasa 'pulang'. Makanya dia betah berlama-lama daripada di apartemennya yang sunyi. Terlebih setiap pulang ke sana dia hanya berhadapan dengan banyak dokumen yang membosankan. Tapi di rumah ini, ia seolah menemukan arti pulang sesungguhnya. Istirahat, makan, lalu bercanda ria dengan Clara. Lelahnya tak lagi terasa. "Sepertinya begitu boleh." "Kalo gitu om temenin Cala berenang," pinta Clara. Ia menarik kaki Bian agar ikut menyebur ke kolam. "Ayo." "Ti-tidak aku sedang tidak ingin berenang." Bian lantas menggeleng cepat. Ia sedikit ketakutan untuk ajakan Clara. "Ih Om kok malu-malu?" Clara terpaksa naik ke permukaan dengan senyum sumringah, sigap Bian menarik kaki dari kolam lalu berdiri menghadap anak itu. Sungguh, Bian tidak pernah secemas ini sebelumnya hanya dengan dorongan pelan milik anak kecil di pahanya. "Tidak jangan memaksaku." Tanpa ingin menyakiti, Bian menahan tangan Clara agar berhenti mendorongnya ke kolam. Pelipis laki-laki itu perlahan banjir oleh keringat. "Ih ayo Om." "Jangan memaksaku Clara." Dan tepat ketika Bian lalai menahan sebelah tangan anak itu, Bian kehilangan kendali akan keseimbangan dirinya, kakinya terpeleset dan tercebur ke kolam renang yang tadi airnya tenang--kini bergelombang setelah tubuh Bian jatuh tanpa persiapan ke dalamnya. "Yeayy. Hahaha." Clara bertepuk tangan, ia tersenyum sumringah. Lantas berlari kecil ke kamar mandi usai berhasil menjahili Bian. Namun siapa yang tahu di dalam kolam sana Bian sedang berjuang melawan ketakutannya. Nyaris tenggelam. Berulang kali dia berusaha muncul ke permukaan demi mengambil napas. Karena sejujurnya, Laki-laki itu tidak bisa berenang. "To-tolong aku."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN