Anjani baru belanja kebutuhan pangan, ia akan memasuki dapur untuk menaruh semua sayurannya, tetapi langkahnya berhenti saat samar-samar terdengar suara minta tolong dari arah kolam renang. Sontak wanita itu termangu dan menjatuhkan plastik belanjaan ke lantai. Ia ingat pagi tadi, bi Ratih sempat mengatakan padanya bahwa Clara ingin berenang. "Anakku?" gumamnya cemas. Buru-buru wanita yang mengenakan dress tunik putih itu menggerakan tongkat menuju kolam, setibanya Anjani terkejut bukan main karena yang ditemukannya adalah Bian. "Astaga Pak Bian!" Anjani lihat pria itu kesulitan muncul ke permukaan, atau ralat, Bian mungkin tidak bisa berenang. "To-tolong akh--" Anjani menggigit bibir bawahnya cemas. "Coba berenang ke tepi pak." "Ti-tidak. Hmpph. Tolong Anjani." Pria itu berulang kali nyaris tenggelam, berulang kali pula muncul ke permukaan demi mengambil napas. Anjani semakin takut karena ketinggian air kolamnya cukup membuat siapa pun yang tidak bisa berenang mungkin tenggelam. "Sa-saya tidak. Akh... " Di saat inilah otak Anjani berpikir keras. Mencari cara agar bisa menyelematkan Bian. Memanggil pak Romi? Tidak-tidak, itu adalah pilihan yang sangat membuang waktu. Namun akhirnya keputusan besar diambil oleh Anjani. Dengan penuh keyakinan ia menjatuhkan tongkat, menanggalkan dressnya menyisakan tank top putih serta celana hot pants hitam, wanita itu menceburkan diri. Meski dengan gerakan satu kaki yang terbatas, rasa keram yang mulai melitit kaki kanannya, Anjani berhasil meraih tubuh Bian dan menyeret pria itu ke tepi kolam. Pada permukaan yang kering, Anjani membaringkan tubuh laki-laki itu sekuat tenaga. Terdengar seperti sebuah kemustahilan. Namun itulah kenyataan. Uhk. Bian terbatuk dan memuntahkan air. Wajah pria itu memucat, tubuhnya lemas serta tangannya begitu dingin. "Bertahan pak." Anjani terus memompa d**a pria itu. Berharap Bian mampu mengambil napas dengan normal. Uhk. "A-ani..." lirih Bian terdengar sangat lemah. Dan satu lagi keputusan besar yang tak pernah Anjani pikirkan sebelumnya, ia menutup hidung pria itu, membuka mulut Bian lalu menyatukan mulut mereka untuknya memberikan napas buatan. *** "Majikan saya nggak papa kan, Dok?" tanya Bi Ratih pada dokter Aresta. Mereka berada di kamar Anjani. Majikannya itu terbaring lemah di kasur. Dokter Aresta tersenyum tipis usai menurunkan kedua ujung stetoskop dari telinga, "Nggak papa. Bu Ani hanya keram karena terlalu memaksakan diri untuk berenang." "Syukurlah. Bibi takut banget bu Ani kenapa-napa." Ia menghembuskan napas lega. "Aku kuat kok Bi," sela Anjani. Ia merasa tubuhnya baik-baik saja. Cuma kaki kirinya masih sedikit keram kala digerakan, sedangkan kaki kanannya yang lumpuh tetap mati rasa. Bi Ratih berdecak kesal. "Untung aja bibi sama Pak Romi cepat datang menyelamatkan kalian. Kalau nggak? Duhh. Bibi nggak bisa bayangin bakalan gimana." "Sebetulnya aman-aman saja bu Ani berenang, karena berenang juga merupakan salah satu terapi fisik untuk kelumpuhan. Asal dilakukan sesuai prosedur dan tidak tergesa-gesa," tutur dokter Aresta. Anjani terkejut, ia baru tahu hal tersebut. "Oh ya, saluran pernapasan pak Bian juga sudah saya bersihkan. Ini obat sesak napas untuknya. Kalau beliau batuk-batuk minta dia minum lebih banyak air putih," lanjutnya memberikan beberapa tablet obat. Bi Ratih lantas menerima. "Saya permisi dulu ya." Setelahnya pun dokter Aresta pergi meninggalkan ruangan, dan diantarkan sampai ke depan oleh pak Romi. Clara yang sedari tadi diam karena merasa bersalah duduk di bibir kasur lalu memeluk Anjani, "Maafin Cala ya Bun. Suwer deh, aku nggak tau Om Bian nggak bisa berenang. Gara-gara aku Om Bian dan Bunda jadi sakit." Anjani mengusap lembut rambut gadis itu, "Bunda maafin kok sayang. Tapi habis ini minta maafnya sama beliau." *** Bian terbangun setelah beberapa kali batuk, ia menyentuh dadanya yang agak sesak lalu menyandarkan punggung pada headboard. Tenggorokannya pun terasa gatal serta seret. "Minum dulu air putihnya pak." Melihat sodoran segelas air putih, pria yang mengenakan sweater rajut hitam itu menolehkan kepala ke kanan. "Ayo toh pak diminum supaya nggak batuk lagi." Bian menerima sodoran tersebut dan tersenyum tipis, "Terima kasih." Ia meminumnya hingga tersisa setengah. Kemudian mengembalikan gelasnya. Tepat setelah itu bi Ratih bertanya, "Bapak ingat kenapa bisa di sini nggak?" Pertanyaan wanita itu membuat Bian tergelak, dia tersenyum masam tanpa menjawab Bi Ratih. Terlebih di rumah ini pasti semua orang sudah tahu dia tidak bisa berenang. Sungguh, Bian sangat malu karena kelemahannya satu itu. "Bapak tadi hampir tenggelam. Syukur bu Ani cepet nolongin bapak," paparnya. Heran akan sesuatu Bian mengernyit, "Anjani menolong saya?" "Iya toh pak. Hebat kan majikan saya? Kaki kirinya sampai keram karena nolongin situ. Lebih hebatnya lagi bu Ani ngasih napas buatan untuk bapak." Bian melongo mendengar penuturan wanita itu. Tunggu? Apa telinganya tak salah dengar. "Upss." Bi Ratih lekas membekap mulut, ia keceplosan. "A-apa? Ulangi perkaatan bibi." "Enghh maaf keluar dulu pak pengen ke toilet." Bian menatap wanita itu bingung. Tanpa berkata lagi bi Ratih buru-buru mengeluari kamar. Jika kalian berpikir wanita itu murni keceplosan padahal nyatanya tidak, bi Ratih sengaja agar Bian tahu apa yang telah dilakukan majikannya guna menyelamatkan pria itu. Lalu kenapa dia bisa tahu Anjani memberi napas buatan? Jawabannya karena bi Ratih datang di moment saat Anjani beraksi. Ah, mengingatnya bikin Bi Ratih terkikik pelan setibanya di depan pintu. Dan ketika ia berpapasan dengan Anjani yang menggunakan kursi roda. Bi Ratih mengulum senyum dan langsung melesat pergi tanpa satu kata pun. Anjani bahkan dibuat heran kenapa bi Ratih kelihatan senyam-senyum. Namun dia hiraukan, Anjani langsung menjalankan kursi rodanya memasuki kamar tamu tempat Bian beristirahat. "Ternyata bapak udah siuman ya?" tanya Anjani setibanya dengan tampang polos, menghadap Bian, seolah tidak pernah terjadi apa pun antara ia dan pria itu. Sebab itulah yang Anjani inginkan. Dia takut Bian marah karena ia telah berbuat lancang. "Rebahan lagi pak jangan dipaksa bangun. Bapak masih lemas. Oh ya, tadi air putih yang dikasih bibi udah diminum?" Bian mengangguk pelan, matanya menyorot Anjani dari bawah ke atas. Ia sangsi, apakah benar apa yang dikatakan bi Ratih tentangnya dan Anjani barusan. "Kenapa kamu memakai kursi roda?" Dan Bian hendak membuktikan ucapan wanita tua itu. "Enggak papa," jawab Anjani menggeleng. Ia mengalihkan pembicaraan dengan menempelkan punggung tangan ke dahi Bian. "Suhu bapak juga belum turun. Sebentar ya saya ambilkan kompres." Namun pria itu menahan lengannya, "Aku bertanya Anjani, kenapa kamu harus kursi roda? Kamu sudah bosan memakai tongkat?" Anjani menggugup, ragu-ragu ia menatap Bian, "Enghh. Kaki saya sedikit keram." "Karena?" "Biasa kok. Bapak kan ngerti keadaan saya." "Bohong."