"Saya ingin mendengar kejujuran dari mulut kamu," ucap Bian memegang lengan Anjani. Menahan wanita itu untuk tidak menghindar dari tatapan matanya. Ia heran kenapa wanita itu lebih memilih berbohong, ketimbang jujur. Toh, apa masalahnya? Ia malah senang mengetahui Anjani rela melakukan hal tersebut untuknya. "Itu... tadi saya jujur kok. Hehe." Anjani menyengir, menggaruk tengkuk salah tingkah. "Benarkah?" Bian menarik kursi roda Anjani lebih mepet ke ranjangnya. Anjani tergelak. Tubuh Bian bergeser 90 derajat menghadap wanita itu. "Coba katakan lagi sambil menatap mataku." "Saya ... " Anjani terdiam menatap ke bawah, merasa sangat ragu mengatakannya. Bian menaikkan dagu wanita itu hingga tatapan mereka bertemu, "Kamu memberiku napas buatan hm?" "Hah? Ba-bapak tau darimana?" "Wanita tua itu. Dia yang memberitahuku." Bian mengernyitkan kening seraya bersedekap. Hanya melihat tatapan pria itu sekilas saja membuat Anjani meremang, "Maaf... saya lancang udah berani nyentuh bapak. Tapi, saya nggak punya pilihan lain karena bapak sedang sekarat." Satu detik, dua detik, hingga detik kelima Bian belum memberikan respon sama sekali. Pria itu hanya menatap Anjani intens tanpa kata-kata. "Dia polos sekali sih?" Anjani menelan salivanya susah payah, moment menunggu sahutan Bian ini sangat menegangkan. Akankah pria itu marah? Lalu Bian merespon dengan ekspresi yang belum pernah Anjani duga sebelumnya. "Hahahahahahah," Pria itu tertawa, tawa yang lepas tanpa ada jaim-jaimnya. Anjani mengerjap, memang apa yang lucu? Namun tiba-tiba... "Uhkk uhkk. Arghh. Batuk sialan!" Bian tersedak tawanya sendiri. "Makanya pelan-pelan ketawanya pak." Anjani lekas-lekas menyodorkan segelas air putih. "Ayo diminum." Bian langsung menerima gelasnya, diminumnya sampai tandas. Dan usai itu ia melirik Anjani, diam-diam wanita itu mengulum senyum. "Kamu mengejekku?" "Enggak kok. Bapak suudzon mulu deh." Bian melipat tangan di bawah d**a, seolah tak jera dia kembali berekspresi marah. "Saya nggak bisa memaafkan kamu untuk hal ini. Kamu berani mencium saya sedangkan saat saya menawarkan diri kamu malah menolak." Apa katanya? Mencium? Anjani memutar bola matanya jengah, "Pak, kan saya tadi baru bilang waktu itu bapak sedang sekarat, jadi saya nggak punya pilihan. Toh, saya nggak berniat sedikitpun buat nyium bapak." "Kenapa bukan Pak Romi atau bi Ratih? Kenapa harus kamu?" "Duh pak! Cuma ada saya di situ, pak Romi dan bi Ratih sedang berada di luar. Bapak keburu Innalillah andai saya buang waktu lagi buat manggil mereka," sahutnya mulai pusing memikirkan bagaimana agar pria di hadapannya ini mengerti. Tuh kan dia nggak salah kira, Bian pasti marah. "Tidak. Saya tetap keberataan atas tindakan kamu. Bagi saya itu tidak adil." Anjani menyentuh keningnya sembari menggeleng dengan pasrah, "Yasudah terserah bapak. Saya hanya ingin membantu. Saya permisi." Sedikit kesal, Anjani pun memutar kursi rodanya membelakangi Bian, bersiap pergi keluar kamar. "Hei mau kemana?" Namun, belum sempat Bian menggapai kursi rodanya, Anjani keburu menjauhi ranjang hingga Bian tak dapat lagi menjangkau wanita itu. Dan demi menahan kepergian Anjani dari ruangan ini, ia berpura-pura kambuh. "Argh. Se... sak," ringis Bian sembari memegangi dadanya dengan ekspresi wajah total menunjukan kesakitan. Lalu ketika Anjani berbalik lagi menuju nakas dan mengambil obat, Bian memuji dalam hati aktingnya barusan. "Cepat minum obatnya." Jelas sekali wanita itu khawatir tetapi masih ada kemarahan terselip di wajahnya. Kemudian dengan perlahan Anjani membantu Bian meminum obat sesak napas yang diberikan dokter Aresta. Lantas raut Bian melega seakan ia benar-benar sesak napas. "Suhu bapak makin panas, tunggu saya ambilkan kompres." Bian mengangguk pelan. Sedangkan Anjani pergi ke kamar mandi yang masih satu ruangan. Dan kembali membawa kain putih yang direndam air dingin. Anjani memangku benda tersebut di pahanya. "Berbaring lagi biar kompresannya nggak jatuh," perintahnya yang langsung diangguki oleh Bian. Pria itu berbaring. Anjani pun mulai memeras kain putih tadi dan menempelkannya ke dahi Bian. Bian tersenyum menatap wajah cantik wanita itu, entah kenapa dia sangat senang mendapatkan perhatian Anjani. Ia merasa seperti anak kecil yang sedang sakit lalu dirawat ibunya. Haha. "Aku hanya bercanda tadi. Jangan cemberut begitu. Saya nggak suka liatnya," ucap Bian menyamping menatap Anjani. "Hmm. Saya nggak marah kok." Sekarang Bian lega melihat ketulusan dari senyum wanita itu. "Terima kasih. Terima kasih karena menyelamatkan saya, kamu rela mempertaruhkan kondisimu sendiri." "Sama-sama," sahutnya. "Saya permisi keluar. Nggak ada yang dibutuhkan lagi kan?" "Ada. Saya butuh kamu," jawab Bian membuat Anjani membulatkan mata. "Temani saya sebentar di sini. Pleasee." "Enghh. Saya juga pengen istirahat." Bian menggeser tubuhnya ke kiri hingga banyak space kosong di permukaan kasur. Lalu menatap Anjani. "Kebetulan banyak tempat kosong di sebelahku, Kamu boleh berbaring," katanya menepuk-nepuk space kosong itu. Menampilkan raut melas. "Aku mohon... sebentar saja." Anjani menghembus pasrah. "Iya-iya." Tak lama bagi wanita itu menaiki kasur karena Bian berbaik hati mengulurkan tangan, Anjani mendaratkan pantatnya di sana lalu menyandarkan punggung ke headboard dengan nyaman. "Kenapa tidak berbaring?" tanya Bian. "Nggak papa. Saya takut nanti ada yang salah paham." Ya ya, Bian lupa kalau wanita satu ini sangat menjaga nama baiknya. Selama beberapa menit keheningan mendera karena mereka fokus pada pikiran masing-masing. Anjani menatap ke depan sebab ia merasa canggung sekasur dengan Bian. Sedangkan Bian mendengus pasrah mengetahui wanita itu sepertinya tidak berniat mengajaknya bicara. Entahlah, Anjani yang cerewet dan bawel itu pergi kemana. "Boleh usapkan kepalaku? Rasanya pening." "Hah?" Anjani menoleh tersadar dari lamunan. "Coba seperti ini," Bian mengambil tangan wanita itu. Mengusapkannya ke kepalanya. "Peningnya sedikit berkurang." Anjani mengangguk, seperti yang diinginkan ia mengusap kepala Bian penuh kelembutan. Sebab Bian sedang sakit jadi dia tak tega menolak. Pria itu pun nampaknya sangat menikmati usapannya. Suntuk belum ada pembicaraan, Bian membuka suara. Meski topik yang dibahas agak mengangkat rasa malunya. "Jadi... apa semua orang sudah tau aku tidak bisa berenang?" Anjani mengangguk cepat, sambil masih mengusap kepala Bian, "Iya. Semuanya udah tau, termasuk dokter Aresta yang menangani bapak." "Apa?!" Bian kaget bukan main. "Shtt pelanin suaranya dong." "Kenapa dia bisa tau? Siapa yang memberitahunya?" Bian hanya tak ingin semakin banyak orang yang mengetahui kelemahannya ini. Apalagi saingan bisnis dan orang-orang dalam lingkup perusahaannya. "Enghh kan dia nanya kenapa bapak tenggelam ya saya kasih tau. Saya salah ya?" "Ck, aku sangat malu." Bian mengusap wajah gusar. "Untuk masalah berenang, sepertinya kamu lebih hebat dariku." "Kenapa harus malu? Banyak kok orang yang nggak bisa berenang. Bapak nggak perlu minder gitu." "Kamu tidak tahu apa masalahnya." Anjani mengerjap tidak mengerti, lalu Bian menghembuskan napas pelan sebelum berkata. "Saya mengidap trauma terhadap kedalaman air."