Anjani kaget mendengar pengakuan Bian, ia menatap pria itu dengan alis bertaut. Tidak mengherankan sebenarnya jika seseorang tidak bisa berenang, tapi mendengar kata 'takut kedalaman air' sangat jarang Anjani temui. Dan Bian jadi orang pertama yang Anjani ketahui mengenai kondisi trauma seperti itu. Baginya ini langka. "Saya takut, cemas, dan gemetaran ketika melihat kolam, danau, atau sejenisnya yang punya kedalaman," aku Bian dengan wajah sendu. Tersirat kesedihan dari matanya. "Lalu kalau saya memaksakan diri untuk berenang, saya akan sulit bernapas." Dulu Anjani tak pernah sekasihan ini pada pria itu. Kiranya pria seukuran Bian terlampau mustahil memiliki masalah yang rumit, mengingat Bian punya segalanya; wajah tampan, cerdas, dan harta yang sepertinya tak akan habis hingga tujuh turunan. "Kamu tahu kenapa?" Pula Bian rasanya tak pernah seingin ini menceritakan beban hidupnya kepada seseorang. Ia selalu menyimpan rapat-rapat rahasia hidupnya, sekalipun pada ibunya. Pria itu menghembuskan napas berat. Anjani menggeleng pelan. "Waktu kecil seseorang pernah berusaha melenyapkanku di dalam kolam." Anjani menegang terkejut. "Bapak serius?" "Hm. Sampai sekarang aku tidak tahu apakah manusia sialan itu masih hidup. Padahal aku ingin sekali melenyapkannya," sahut Bian sendu. Ia sedikit mendongak menatap Anjani, "Kamu tidak percaya?" "Emhh." Anjani terdiam. Ada sedikit keraguan yang ia simpan. "Yasudah kalau tidak, ya tidak masalah. Saya hanya ingin bercerita," sahut Bian. "Saya percaya kok." Akhirnya Anjani pun memantapkan hatinya percaya pada pria ini. Lagipula Bian tak mungkin berbohong sampai mempertaruhkan nyawanya sendiri. "Memangnya bapak ingat bagaimana rupanya?" "Tentu ingat, apalagi saat hendak tenggelam selalu wajahnya yang muncul di pikiranku." "Kasihan." Bian terkekeh pelan. "Kamu diam-diam saja yaa. Jangan sampai orang lain tau." Anjani mengangguk pelan, lalu tanpa disangka ibu jari Bian terangkat mengelus pipi wanita itu. Anjani hendak memundurkan kepala tetapi tangan Bian yang lain menahannya. "Pipi kamu hangat," ucap Bian dengan senyum memesona. Berharap Anjani akan luluh melihat wajah tampannya. Namun dengan pelan Anjani justru menurunkan tangan Bian dari pipinya. Tersenyum masam. "Bapak sengaja kan menggoda saya biar saya kalah duluan? Hayooo." Ekspetasi kemenangan Bian hancur seketika. Wanita ini benar-benar sulit ditaklukan. "Sok tau." Pria itu menundukan wajah dengan tengsin. Kemudian tanpa izin memeluk kaki Anjani seperti guling sembari memejamkan mata. "Tetap di sini, temani aku sampai aku tertidur." *** Keesokan harinya... "Om masih sakit?" tanya Clara pada Bian yang berbaring. Gadis itu memakai seragam TK berwarna hijau putih. Ya, hari ini Clara kembali bersekolah. Sedangkan kondisi Bian belum sepenuhnya pulih, pun tak ada keinginan sama sekali untuk pria itu pulang ke apartemen. Ia bisa cuti sesuka hati, toh tak akan ada yang melarang juga. "Iya. Memangnya kenapa?" "Padahal Cala pengen belangkatnya diantar sama Om Bian. Biar bisa pamer ke temen-temen kalau aku punya Om baru," sahut Clara polos. Bian terkekeh pelan, "Mungkin besok baru bisa," ujarnya. "Badanku masih pegal-pegal." Tampak ekspresi Clara berubah sedikit murung, namun kepalanya mengangguk kecil pertanda menyetujui ucapan Bian. Clara hendak turun dari kasur tapi Bian menahannya. "Sebentar," Pria itu beringsut meraih laci nakas, mengambil dompet lalu mengeluarkan selembar uang berwarna merah. Mengulurkannya pada Clara. "Aku juga kecewa tidak bisa menemanimu, jadi ambil ini sebagai gantinya." Clara meneguk ludah menatap uang itu, "Serius nih Om? Nggak kebanyakan?" "Serius, tapi jangan katakan pada Anjani aku memberimu uang. Deal?" tawarnya mengajak berjabatan. Clara mengetuk dagu, melirik uang itu sembari berpikir, "Deal," putusnya menyengir lebar. Clara memeluk Bian. "Makasih Om." "Tidak masalah. Kalau kurang tinggal bilang padaku. Oke manis?" "Oke." Clara mengacungkan kedua jempolnya yang mungil, lantas ia menyimpan uang itu ke dalam saku rok. Gadis berkepang itu sangat senang akan sikap Bian. Seperti kejadian kemarin ia sempat berpikir Bian akan marah-marah tapi ternyata Bian langsung memaafkannya. Sekarang Clara merasa Bian ini mirip mendiang Aldevaro--yang selalu memanjakannya. Bian tersenyum kecut setelah Clara mengeluari kamar, maybe, rencanannya mengambil hati Clara sepertinya berjalan lancar. Satu orang lagi memasuki ruangan. Dia Anjani. Wanita itu membawa nampan berisi segelas jus jeruk dan obat milik Bian. Menaruhnya di nakas. "Ini obat bapak. Saya akan mengantar Clara ke sekolahnya sebentar jadi, kalau bapak butuh sesuatu panggil aja bi Ratih," ucapnya. Bian mengambil dan menggenggam tangan wanita itu, mata Anjani membulat. "Jangan lama ya, saya butuhnya kamu bukan bi Ratih." Bukannya tersenyum dengan pipi merona, Anjani justru bergidik geli mendengar kalimat Bian, ia menarik kembali tangannya. "Iya..." *** Setelah pencarian yang lumayan menguras waktu dan tenaga, Laura bersama asisten pribadinya--Hani, akhirnya menemukan rumah yang mereka cari sejak kemarin. Mobil mereka berhenti di depan rumah tersebut. "Lo serius ini rumahnya?" tanya Laura pada Hani sembari menatap rumah bercorak putih abu itu. Hani mengangguk yakin, ia menjelaskan, "Iya nyonya, setelah Honey selediki dengan sepenuh hati, rumah ini benar milik Anjani Zelena, Istri dari mendiang Aldevaro Pramesta." "Gede amat," desis Laura tidak suka. "Salah kali lo." "Iya nyonya!" Pria yang mengenakan aksesoris mengkilat di leher dan pergelangannya itu menepuk jidat, "Duh gak percaya amat. Mana mungkin eike bohong." "Mana mungkin wanita lumpuh itu orang kaya?" gumam Laura mengerucutkan bibir. "Ck, yasudah lo cek duluan tuh, kalau salah bulan ini gue turunin gajih lo," ancamnya. Hani berdecak sabar, "Iye-iye." Usai menuruni mobil ia kembali menyembulkan kepala ke kaca mobil menatap majikannya, "Tapi kalau bener dinaikin nggak?" "Gak!" Hidung Hani kembang kempis. Ia pun meninggalkan mobil lalu berjalan menuju rumah Anjani, Laura mengintip dengan harap-harap pemilik rumah tersebut bukanlah wanita lumpuh yang ia temui kemarin. Karena jika iya, ia merasa tersaingi dengan kekayaan wanita itu. Sedikit membungkuk di balik pagar dan menilik dua orang yang baru keluar, sejenak Hani membulatkan mata kemudian tersenyum ria karena instingnya benar. Salah satu antara mereka memakai tongkat yang Hani yakini adalah Anjani. Satunya lagi memakai seragam sekolah TK--yang Hani duga adalah Clara, putri Anjani. Hani lantas memasang tampang sopan, ia berkata, "Permisi." Menghentikan langkah keduanya menuju bagasi. Anjani mendekat dan membuka sedikit pagarnya, mengernyit heran sebab wajah di depannya ini sangat asing, "Maaf mas-nya siapa?" "Enak aje mas mas. Nama eike Honey. Panggil 'Ho-ney'," ujar Hani mengoreksi. Anjani lantas sadar apa maksud pria itu, apalagi melihat penampilan mencoloknya. "Iya, mas Honey." Clara yang penasaran akhirnya mendekat dan membisik, "Dia cowok apa cewek Bun?" "Shtt." Anjani lekas membekap mulut Clara. "Bener ini rumah Anjani?" tanya Hani sembari mengipas wajahnya. "Iya saya Anjani dan ini rumah saya. Ada perlu apa ya?" Hani manggut-manggut sembari menatap sekeliling rumah Anjani, "Enggak, nanya doang eike, siapa tau dapat doorprize. Thanks." "Kok dia aneh Bun?" "Heh. Dasar b***k keci," kekeh Hani, ia pun meninggalkan mereka dan kembali memasuki mobil Laura. "Bener kan eike nyonya? Dia Anjani." Laura menggebrak setirnya kesal. Dan tiba-tiba pandangan Hani terfokus pada mobil putih yang terparkir di basement rumah Anjani. "Nyonya, lihat mobil putih di basement itu, bukankah itu mobil Bian?"