22 | Terciduk

1029 Kata
Laura memicingkan mata ke mobil yang ditunjuk Hani, pria itu mengatakan kebenaran, setelah Laura melihat plat nomor mobilnya ternyata persis seperti punya Bian. Bahkan bukan persis lagi, itu mobil nyata adalah milik Bian.            "Sialan! Lo bener Han, itu mobil My Prince gue kenapa bisa disitu sih?! Ngapain Bian di rumah Anjani?" gumam Laura kesal. Ia menggebrak setir dengan kuat menyalurkan amarahnya. Ketika amarah majikannya mode on begini, biasanya Hani lebih berhati-hati, "Eike juga nggak tau nyonya, baru nyadar." "Apa jangan-jangan..." Hani menggantung ucapannya membuat Laura memicing kesal pada pria itu. "Apa?! Lo mau ngomong apa?!" "Eh enggak-enggak," elak Hani. "Pantesan dari kemarin Bian nggak keliatan! Gue bakal kasih pelajaran itu si wanita lumpuh. Beraninya dia ngurung My Prince gue di gubuk ini." Laura sudah akan membuka pintu mobil tetapi Hani menahan pergelangannya. "Stop nyonya, don't now, kita jangan gegabah, biarin mereka pergi baru deh kita samperin Bian." "Maksud lo?" Laura mengernyit tak mengerti. "Duh nyonya begini," Hani berdehem singkat sebelum memulai penjelasan, "Honey liat dari tampangnya Anjani itu wanita baik-baik, jadi kalau kita bikin keributan di rumah mereka pasti tetangganya bakalan nyerang kita. Kita cari aman aja nyonya, setelah mereka pergi, kita culik Bian. Gimana?" Laura tampak menimbang-nimbang sebelum kemudian menganggukan kepala, "Lumayan ide lo." "Honey gitu lohh." Hani bersedekap bangga. Bertepatan seorang pria paruhbaya membuka kedua sisi pagar untuk memudahkan mobil majikannya mengeluari pekarangan rumah. Pria tua itu adalah pak Romi. Laura lantas memerintah supirnya, "Mereka otw keluar, cepet mundurin mobilnya pak!" Beberapa menit setelah mobil Laura mundur  lebih jauh dari sisi pagar, mobil Anjani mengeluari pekarangan rumah tersebut. Tampak dari belakang Laura mendapati tangan mungil melambai melalui kaca mobil. Hah! Itu pasti tangan milik Clara—bocah menyebalkan yang menarik dressnya kemarin. "Kayaknya nggak ada Bian deh di sana nyonya," ucap Hani. "Pasti disembunyikan sama mereka. Ish." Usai mobil Anjani sudah pergi dan menghilang di belokan. Laura kembali memerintahkan supirnya memajukan mobil mereka hingga ia bisa mengintip pekarangan rumah Anjani. Hanya tampak satu wanita tua sedang menyapu di sana. "Cuma ada mbok-mbok, apa perlu eike turun buat nanya lagi nyonya?" tanya Hani. "Nggak perlu, sekarang gue yang bakal ketemu Bian secara langsung." Laura lantas mengeluari mobil dan mendekati pagar. Membuat Bi Ratih yang sedang menyapu itu menegapkan punggung, mendekat menatap Laura heran. "Emh mbak-nya siapa? Dan ada perlu apa toh?" Dengan bersedekap Laura bertanya, "Ada Bian?" "Bian?" Pikiran bi Ratih sedikit lemot. Ia baru ingat, "Oh... pak Bian, ada di dalem. Situ siapanya ya biar bibi panggilin." "Bilang aja gue temennya. Cepet lo panggilin! Gue punya urusan penting sama dia," seloroh Laura kelihatan kesal. "Iyee santai... emang aneh wanita kaya jaman sekarang," kekeh Bi Ratih berbalik, menaruh sapu lidinya dengan tak santai. Namun baru selangkah ia berjalan Laura kembali merengek. "Ya ampun gue kapan dibukain pagar? Panas nih. Lama-lama kulit gue gosong tau nggak?" Wanita yang mengenakan floppy hat itu mengipaskan tangan. Astaga, sepertinya bi Ratih harus menambah stok kesabaran. Wanita itu pun mendekat guna membukakan pagar. "Katanya tadi cepet-cepet panggilan pak Bian," gumam Bi Ratih yang di dengar Laura. "Hishhh... ya dibukain dulu lah. Lo nerima tamu nggak ikhlas amat." Bi Ratih menggidikan bahu, "Matahari pagi padahal sehat loh mbak buat kulit. Bibi aja sering berjemur pagi-pagi." Laura benar-benar malas mendengar ocehan wanita itu, setelah memasuki pekarangan dan duduk di sofa teras ia memutar bola mata dengan jengah. "Lo mau panggilin Bian atau gue yang masuk ke dalam hah?!" Bi Ratih tergelak, ia mencebikan bibir ke arah Laura dan bergegas memasuki rumah. "Pak Bian ada tamu di teras... katanya temen bapak." Suara bi Ratih terdengar sampai teras. Sesaat Laura meneguk ludah, Ya Tuhan... saat pria itu turun nanti sepertinya ia harus mengomel. Kadang-kadang Laura juga sedikit mengeluarkan emosinya demi membujuk Bian. Sedangkan di dalam kamar Bian mengernyit bingung usai bangun, "Teman darimana? Kan gue ga ngasih tau siapa pun gue di rumah Anjani." Namun Bian tetap mengeluari kamar. "Iya saya turun. Suruh dia tunggu sebentar." Setibanya di teras barulah keheranan pria itu terjawab, mata Bian melebar. "Babyyy!! Kangenn!" Bahkan belum sempat ia mengambil ancang-ancang untuk lari, Laura secepat mungkin memeluknya. "I miss you so much Bi." "Lepass. Kamu ngapain ke sini hah?" *** Bian tahu kapan dia harus mengontrol emosi, dan sebagai contoh yang bisa kita ambil adalah kesabaran pria itu menghadapi Laura saat ini. Jika saja tempatnya berpijak bukanlah rumah Anjani, maka seperti Biasa Bian akan memarahi Laura hingga mempermalukannya di depan semua orang. Masalahnya lingkungan ini terlalu kondusif untuk mereka berdebat seujung kalimat pun. Maka Bian terpaksa membiarkan Laura masuk lalu duduk di sofa sambil bergelayut manja di lengannya, sesekali Bian mendorong jidat wanita itu agar menjauh. "Temannya pak Bian mau minum apa?" Bi Ratih yang sedari tadi memperhatikan di balik tembok dapur pun tak berani berkutik. "Nggak usah nawarin deh, takutnya air di sini nggak higienis, terus bikin perut gue kembung." "Bodoh, jaga bicaramu. Sebagai tamu seharusnya kamu nggak menghina Lau." Bian memberikan tatapan tajamnya. Lalu namanya Laura tetaplah Laura, manja dan suka berbuat seenak hati. "Apaan sih Bi, terserah aku dong kan dia nanya sama aku." Bian menghela napas, ia menatap bi Ratih. "Sediakan air putih biasa pakai es aja Bi." "Oke siap." Alhasil Laura mengacungkan jari tengahnya pada wanita tua itu. Ck, sikapnya sangat tak pantas ditiru. "Wah, ada tamu ya?" Suara lembut itu berasal dari pintu utama, sosok Anjani yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Wanita itu menggerakan tongkat mendekati Laura dan Bian dengan senyum cerah. "Dia temen saya, namanya Laura." "Ohh." Namun senyum itu terganti kernyitan manakala Anjani menatap lebih lekat sang tamu berdress seksi itu, "Kayaknya kita pernah papasan deh mbak Laura, tapi dimana ya?" Laura menggidikan bahu acuh, menurutnya Anjani berlagak sok lugu di hadapan Bian. "Mbak ingat nggak?" "Apaan deh? Sok polos. Ngapain gue ingetin lo. Kayak nggak ada kerjaan aja." Anjani mendengus geli, "Yah kok malah marah-marah? Saya cuma nanya." "Mending nih ya lo jauhin Bian mulai sekarang. Dia pacar gue, kita punya hubungan spesial dan manusia lumpuh kayak lo pasti mau manfaatin cowok gue doang." "Lau tutup mulut kamu—" "Oh pacarnya. Saya nggak pernah punya niat begitu kok mbak," sahut Anjani santai, "Tapi kalau bener pak Bian pacar mbak. Silahkan aja bawa pergi. Dia dari kemarin numpang makan terus di rumah saya." "Anjani kamu..."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN