23 | Dia Kekasihku

1061 Kata
Mata Bian melebar mendengar penuturan Anjani, bukannya membela wanita itu malah membuka jalan lebar untuk Laura membawanya pergi. Apalagi sampai membeberkan bahwa dia sering numpang makan di rumah ini. "Baguslah, ayo kita pergi Bi." Laura sudah menggenggam pergelangan Bian tetapi dihempaskan kasar oleh pria itu. "Lepaskan saya Laura!" perintah Bian tegas. Laura bahkan sedikit tertunduk karna Bian menghempas tangannya barusan. "Saya nggak mau ikut dengan kamu. Lagipula siapa kamu berani memaksa saya?" "Tapi Bi--" "Loh bukannya ini pacar bapak?" Anjani menatap bingung keduanya. "Ya bukanlah," Bian mengusap wajah gusar. Gusar karena Anjani selalu saja tak peka pada keadaan. "Kamu ini nggak bisa membaca situasi apa? Kamu nggak lihat saya risih di dekat dia?" tunjuk Bian pada Laura. Wanita itu menghentakan kaki geram. "Aduh saya makin bingung." Anjani dibuat gelagapan. Ia sungguh tak mengerti apa sebenarnya problem dua manusia itu. Ia menatap Bian dan Laura bergantian, "Kalau kalian punya masalah selesaikan di rumah masing-masing aja ya. Jangan bikin ribut di rumah saya. Enggak enak sama tetangga." "Anjani." Kini Bian memijat pelipisnya yang mulai pening. Sakitnya belum pulih total sudah ada masalah baru, ditambah ketidakpekaan Anjani. Rasanya Bian ingin sekali mengurung wanita itu di kamar dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. "Dia bukan siapa-siapaku. Usir dia sekarang." "Kamu tega Bi." Laura mulai memohon. Anjani menggeleng cepat, "Eh katanya temen, bapak dong yang ngusir." "Kan ini rumah kamu." "Bener juga ya," Anjani menepuk jidat, barulah memasang tampang kesalnya pada Laura sambil berkacak pinggang. "Mbak silahkan angkat kaki sekarang, saya nggak mau sampai ada keributan di sini." Bian mengulum senyum, sebab ia melihat tidak ada kecocokan sedikitpun untuk Anjani berakting marah seperti itu. Malah kelihatan konyol sekaligus lucu. "Diem lo pincang!" ancam Laura menunjuk Anjani. Lalu menatap Bian dan memohon, "Bi... pleasee ikut aku." "Saya nggak mau! Berapa kali saya harus bilang urusan kita sudah selesai sejak malam pertunangan itu Lau. Saya nggak mau menikah dengan kamu." "Menikah?" Anjani membeo. Ia pikir masalah kedua orang itu sepertinya sangat rumit. Bahkan Bi Ratih yang hendak menyajikan minum mengurungkan niatnya dan kembali ke dapur. Tapi dia diam-diam mengintip dari balik tembok. "Satu kesempatan, Bi. Kasih aku satu kesempatan untuk berubah. Akan kubuktikan aku layak buat kamu."  "Kesempatanmu sudah habis Laura," sahut Bian tegas. "Lagipula saya sudah punya yang baru." "Apa?! Siapa dia?! Biar aku kasih pelajaran supaya nggak berani lagi deketin kamu." "Dia," Telunjuk Bian mengarah pada Anjani. Anjani terkesiap kaget sedangkan netra Laura melebar. Entah jawaban konyol apa yang Bian lontarkan. Lalu kenapa pria itu harus menunjuk dirinya? "Eh bu-bukan..." Anjani memundurkan langkahnya sembari menggeleng. Itu tidak benar, hish pembohong, lihat saja akan ia geplak kepala pria itu sesudah ini. "Anjani kekasihku, kamu mengerti tidak?" "Janda pincang ini?" Laura sungguh tak percaya. "Jaga bicaramu Laura," tegur Bian. Ia berjalan mendekati Anjani kemudian memeluk wanita itu dari belakang. Anjani lagi-lagi dibuat tersentak. "Pak..." "Memangnya kenapa? Dia lebih cantik." "Stop bertingkah konyol Bi, wanita ini pincang. Kamu buta apa? Aku bahkan lebih sempurna darinya." "Bapak ngapain malah peluk saya? Lepas pak," pinta Anjani melonggarkan lingkaran tangan Bian di pinggangnya. Bian memutar bola mata jengah, namun ia tak akan melepaskan Anjani begitu saja. "Pftt haha. Kamu bohong, dia aja risih dipeluk kamu. Berhenti berakting Bi." "Saya nggak berakting. Kamu lihat ini." Dan dalam sekali sentakan, Bian memutar tubuh Anjani menghadapnya lalu meraup bibir wanita itu secara tiba-tiba. Menciumnya dalam sampai Anjani kehilangan keseimbangan, tongkatnya terjatuh. Beruntung Bian peka, ia menahan p****t Anjani agar wanita itu tetap berdiri menerima pagutannya. Berulang kali Anjani mendorong d**a Bian agar menjauh, tetapi Bian menangkap tangannya lalu membawa melingkari leher pria itu. Sementara Laura mengepalkan tangan melihat adegan di hadapannya. Menyadari sebentar lagi Anjani kehabisan napas, barulah Bian melepaskan ciuman. Saat itulah Anjani menghirup udara dalam-dalam.  Bian menangkup wajah wanita itu, "Permintaan ketiga, jadi kekasihku." *** "Bagaimana nyonya? Apa perlu kita menculik Bian," tanya Hani ketika melihat majikannya mengeluari pagar. "Kita pulang sekarang!" "Tadi katanya--" "Cepet Hani!!" "Eh iya-iya nyonya." Hani lantas mengangguk, ia berasumsi kejadian tak mengenakan baru saja terjadi pada majikannya itu. Hani pun bergegas membuka pintu mobil untuk Laura. Di susul dirinya memutari depan mobil lalu duduk di samping majikannya itu. Ya apa boleh buat? Kemarahan Laura sudah seperti makanan sehari-hari untuknya. "Cepet jalan pak!" perintah Hani. Sedangkan Laura terdiam namun matanya menatap penuh geram ke rumah Anjani, sebelum kemudian mobilnya perlahan jalan. "Tunggu lo Anjani sialan, gue bakalan ngerebut kembali My Prince gue!" *** "Bapak lancang banget sih pak! Rasain nih rasain." Anjani memukul Bian yang duduk di sofa berulang kali dengan sapu. Ia kesal atas kejadian tadi pada pria itu. Bagaimana tidak? Lagi-lagi Bian menciumnya tanpa izin. "Heh ya ampun saya kan sudah minta maaf Anjani. Saya kepepet gatau lagi mau gimana caranya menghindari wanita itu." Bian berusaha menghindar. "Awwh. Berhenti memukuli saya." Sebenarnya juga Bian tak begitu kesakitan mengingat badannya yang kekar. Ia hanya berpura-pura agar Anjani menghentikan pukulannya. Namun wanita justru gencar melayangkan sapu tersebut ke badannya. "Saya nggak peduli. Ini kedua kalinya bapak cium saya sembarangan, terus bikin saya hampir kehabisan napas." "Bi tolong jauhkan wanita itu dari saya." Ketika Anjani lengah, Bian berlari dan berlindung di balik bahu bi Ratih. Wanita itu terkikik. "Kalian berdua kayak anak kecil toh." "Lagipula saya cuma bercanda tadi," cicit Bian. "Bercanda apaan sampai bapak meminta saya menjadi kekasih bapak dihadapan orang lain?" Anjani berdiri lalu berkacak pinggang. "Bapak kira itu lucu?" "Ck, masa kamu tidak mengerti," decak Bian keluar dari persembunyian--yaitu bahu Bi Ratih, "Saya melakukannya hanya untuk memanas-manasi Laura. Agar dia tidak mengangguku lagi." Anjani mendengus, namun tetap menatap pria itu tajam. "Ya maksud saya permintaan ketiga itu tetap berlaku, tapi hanya saat kita berada di sekitar Laura." Sekarang Anjani menyipitkan matanya pada Bian, ia pikir kalau pria itu telah... "Jangan anggap saya sudah kalah dalam tantangan kita," ucap Bian seolah membaca pikiran Anjani. Bian tersenyum sinis. Anjani terkekeh pelan lalu bersedekap. "Saya juga mana mau jadi pacar bapak." "Cih munafik kamu." "Mending bapak pulang sana. Nanti mbak Laura itu datang lagi. Saya juga yang repot." Anjani berjalan menuju sofa untuk duduk, rasanya lumayan lelah memberikan hukuman pada Bian. "Oh sekarang kamu berani mengusir saya. Oke, saya pergi." Bian kelihatan ngambek, tetapi Anjani tidak pernah menganggapnya serius. Dan tiba-tiba telepon rumah di meja samping sofanya berbunyi menarik perhatian Anjani, ia mengangkat telepon tersebut. "Halo, iya saya ibunya Clara." "Apa?! Clara kecelakaan?!" Langkah Bian di undakan tangga berhenti, punggungnya menegap dan menatap dengan jantung berdegup kencang pada wanita itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN