Apakah Aku Dibohongi?

1173 Kata
Ariana terhenyak saat ia sadar dan ternyata Abimanyu tengah menciumnya, Ariana mencoba mendorong tubuh Abimanyu lalu menghindar dan mencoba untuk bangun. “Apa yang kau lakukan?” pekiknya terkejut, Ariana juga mengusap bibirnya yang basah karena perbuatan Abimanyu. “Aku mencintaimu, Arabella.” ucapnya. “Untuk kesekian kalinya kau kembali membuatku kesal!” Ariana pun duduk sambil mengatur nafas untuk menetralkan emosinya. Jika bisa saat ini ia ingin sekali memukul kepala Abimanyu, akan tetapi ia menahannya karena takut depresinya akan semakin parah jika ia melakukan itu. “Arabella …” panggil Abimanyu. Seraya mendelik kesal, Ariana pun menjawab, “Sebenarnya kau ini benar-benar depresi atau hanya pura-pura?” tanyanya dengan kesal, meski begitu Ariana menahan suaranya agar tak terdengar keluar. “Baru kali ini aku melihat ada orang gila me-sum.” Ariana terus menggerutu kesal. Tapi kemudian Abimanyu pun kemudian mendekat pada Ariana, “Arabella …” “H-Hei … jangan dekat-dekat!” Ariana mengangkat tangannya untuk menghentikan gerakan Abimanyu, “M-mau apa kau?” “Aku mencintaimu.” ucapnya. Ariana kembali menghela nafas, “Aku tahu kau mencintai Arabella, tapi sayang aku ini bukan dia. Bagaimana sih caranya agar kau mengerti!” rupanya gadis ini mulai kehilangan kesabaran, ternyata mengurusi pria yang memiliki gangguan pikiran tak semudah yang ia bayangkan. “Ar …” “Baiklah … baiklah, sebaiknya sekarang kau tidur ya …” potong Ariana, jujur saja ia mulai mual mendengar Abimanyu terus berkata kalau ia sangat mencintai Arabella. Ia membaringkan Abimanyu dan mengusap rambutnya dengan lembut, “Sekarang kau tidurnya.” ucap Ariana dengan lembut, ia sudah mulai bisa kembali menguasai emosinya. Abimanyu mengangguk lalu memejamkan mata, “Peluk …” “A-apa …” “Peluk aku, Ar …” “Haissh … padahal rencananya aku ingin melarikan diri dan tidur di kamarku.” gumam Ariana pelan. “Kalau begini caranya bagaimana aku bisa kabur dari dekapan bayi kingkong ini.” Ariana memeluk Abimanyu sambil mengusap-usap rambutnya dengan lembut. Ia bahkan tidak bisa bergerak, karena kini Abimanyu tengah mendekapnya dengar erat. “Cepatlah sembuh, Arabella … agar bayi kingkong ini tidak terus menempel padaku.” Karena mengantuk, Ariana pun kembali tertidur sambil memeluk Abimanyu. Sepertinya akan sangat sulit untuknya melarikan diri, jika Abimanyu terus begini. Untuk itulah Ariana mencoba untuk pasrah, sebab jika ia terus terjaga yang ada ia akan sakit karena kurang istirahat. Apalagi esok hari ia harus memiliki tenaga yang banyak, karena ia harus pergi ke rumah sakit untuk menjenguk ibunya. Dan setelah itu ia juga memiliki tugas mengurus bayi besar ini. Mengalah dan tidur dalam pelukan Abimanyu adalah pilihan terbaik untuk saat ini pikirnya. — Keesokan harinya Darshan mendapatkan laporan dari anak buahnya, kalau orang bertabrakan dengannya kala itu adalah memang seorang gadis yang bernama Ariana. Dan wajahnya memang sangat mirip dengan Arabella, ia juga mendapatkan fotonya dan hanya sedikit informasi yang ia dapatkan tentangnya. Sungguh sangat disayangkan. “Cari lagi informasi tentangnya, aku sangat penasaran padanya.” ucap Darshan. “Ada apa, Pah?” seorang pemuda tampan duduk bersebrangan dengannya di meja makan. Dia adalah Arkatama, seorang pemuda yang merupakan anak angkat dari Darshan. Ia diadopsi saat ia masih berusia sepuluh tahun, dan ia adopsi karena ia adalah seorang anak yang sangat pintar. Dan kepintarannya menarik perhatian Darsha, kala ia menjadi salah satu donatur di panti asuhan yang selama ini membesarkan Arkatama. Darshan pun memberikan berkas yang sedang ia pegang pada pria yang akrab dipanggil dengan panggilan Arka, “Kau bisa lihat sendiri.” ucapnya. Arka pun melihat sebuah foto yang dimana didalamnya terdapat seseorang yang sangat mirip dengan Arabella, “Ini …” “Dia sangat mirip, bukan?” Arka pun mengangguk, “Bahkan mereka seperti pinang dibelah dua.” Darshan setuju dengan apa yang dikatakan oleh Arka, sebab apa yang dikatakannya memang benar. Gadis yang diketahui bernama Ariana itu sangat mirip dengan Arabella. “Apa Bella punya kembaran?” tiba-tiba saja Arka bertanya hal itu padanya. “Sepertinya pikiran kita sama.” Arka lantas mengangguk, “Hanya seorang kembaran yang memiliki wajah yang sangat mirip seperti ini.” “Apa selama ini aku telah dibohongi.” gumamnya, lalu pikirannya kembali ke dua puluh tahun silam. Dimana saat itu ia sedang menunggu istrinya yang akan melahirkan. Namun, saat itu Darshan yang memang akan bercerai dengan istrinya, meminta dokter untuk mengambil anak kembarnya yang akan dilahirkan. Namun, setelah bayi itu lahir. Darshan diberitahu jika salah satu bayinya meninggal. Dan kala itu ia pun percaya, dan membawa serta salah satu putrinya untuk ia bawa pergi. Saat itu ia bahkan tidak mau lagi melihat wanita yang ia anggap telah mengkhianatinya. “Bisa saja gadis ini adalah kembaran Arabella.” “Kau benar, kenapa aku baru terpikir sekarang. Sebaiknya aku segera mencari tahu kebenarannya, apa selama ini putriku benar-benar meninggal ataukah … aku telah dibohongi dan hidup dalam permainannya selama ini.” — Pagi ini Ariana bangun dan bersiap untuk pergi ke rumah sakit, dan rencananya ia akan meminta ijin pada Syahima agar ia diberikan ijin sebentar untuk menemani ibunya. Namun, saat Ariana kan menghampiri Syahima di kamarnya ia mendapatkan pesan kalau ternyata Syahima dan Cakra tengah melakukan perjalanan bisnis keluar negeri. Dan ia menitip pesan pada pelayan, agar Ariana bisa menjaga Abimanyu sementara mereka pergi. “Oh Tuhan, cobaan apalagi ini?” gumamnya, ia duduk dengan lemas, karena ternyata Syahima membebankan Abimanyu padanya. Selama ini wanita itu terlalu lelah mengurus putranya, untuk itulah saat Cakra akan melakukan perjalanan bisnis ia pun ikut dan akan sejenak melepaskan bebannya. Pandangan Ariana kini tertuju pada Abimanyu yang tengah duduk di sampingnya, pria ini memang tak pernah bisa jauh dengan Ariana, ia terus saja menempel dan tak mau sejenak saja membiarkan Ariana bergerak sesuai keinginannya. “Jadi, apa aku harus membawanya ke rumah sakit?” Ariana tampak berpikir sebentar, “Tapi nanti dia mengamuk tidak ya …” Abimanyu tersenyum melihat Ariana yang tengah menggerutu sendirian. “Lihatlah dia, disaat aku pusing begini dia malah tersenyum. Untung saja kau kurang satu centi, jadi aku maafkan.” gumam Ariana. Akhirnya, mau tidak mau Ariana pun membawa Abimanyu untuk pergi menuju ke rumah sakit. Karena ia harus melihat kondisinya yang baru saja selesai dioperasi. Setelah melakukan perjalanan bersama, Ariana pun mengajak Abimanyu untuk masuk. Ia terus menasehatinya agar nanti ia tak membuat masalah, “Kau jangan nakal, jangan asal memeluk, jangan mencium sembarangan, mengerti.” ucap Ariana. Namun, Abimanyu sama sekali tak menjawab dan hanya diam menanggapinya. “Kenapa aku merasa seperti sebuah tape rusak, jika bicara dengannya.” Ariana terus mengomel pada Abimanyu sampai ada seseorang yang memanggil pria yang bersama dengannya. “Sedang apa si gila berada di sini?” ucapnya dengan nada menghina. Mendengar kata gila, jelas itu menarik perhatian Ariana. Karena satu-satunya orang yang mendekati gila di sana hanya Abimanyu. Dan benar saja, rupanya orang itu tengah menatap ke arah Abimanyu dan mengatainya gila. Mendengar hal itu Ariana pun tak terima, karena menurutnya kata gila tidak pantas diucapkan. “Hei kau .. siapa yang kau panggil gila?” ucap Ariana dengan nada kesal. “Kau … kau Arabella kan?” tanya pria itu. “Bukan, aku hantunya!!!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN