Pria itu mendekat ke arah Ariana, tatapan matanya sangat tajam seolah ia tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang. “K-kau, Arabella?” tanyanya dengan sangat penasaran, meski ia tahu kalau saat ini Arabella tengah terbaring di dalam sana. Tapi entah mengapa ia berharap jika saat ini, gadis yang ia temui adalah Arabella.
Ariana mendengus kesal, entah berapa orang yang memanggilnya dengan nama Arabella, jujur saja ia mulai muak mendengarnya. “Namaku Ariana! A-R-I-A-N-A .. Ariana, bukan Arabella!” serunya dengan kesal.
“Tapi wajahnya sangat mirip dengan Ariana.” ucapnya.
“Aku tahu … aku tahu.” Ariana menghela nafas, “Aku tahu aku sangat mirip dengan Annabelle, dan jujur saja aku mulai tidak suka.”
“Bukan Annabelle, tapi Arabella.” ralat pria yang merupakan anak angkat Darshan itu, ya … dia adalah Arkatama yang datang ke rumah sakit hanya untuk memastikan cctv yang ia lihat tadi pagi tentang gadis yang sangat mirip dengan Arabella. Namun, siapa sangka, kalau saat ini ia justru malah melihatnya langsung.
Dan memang benar, kalau Ariana sangat mirip dengan Arabella, dan ia akui itu. Hanya berbeda di warna mata dan juga rambutnya saja. Dan juga sikapnya, karena gadis yang bernama Ariana ini cukup galak, tidak seperti Arabella yang sangat lembut.
“Terserah kau saja.” jawab Ariana dengan ketus, “Sekarang minggirlah, aku ada urusan penting.” ucap Ariana lalu dengan sengaja ia menyenggol bahu Arka, ia masih kesal padanya karena Arka tadi memanggilnya dengan nama Arabella.
Dan jujur saja, sebenarnya Ariana mulai kesal dengan panggilan itu. Karena ia mulai terganggu dengan nama itu. Sejak ia mendengar nama Arabella, ia sudah tidak bisa menjadi dirinya sendiri. Dan satu persatu orang-orang baru muncul dan memanggilnya dengan panggilan Arabella.
Arka masih terpaku saat Ariana menyenggolnya tadi, meski sebenarnya dengan tinggi tubuh Ariana, menyenggolnya dengan bahu, hanya sampai di bawah dadanya saja. “Hei … Ar …”
“Ariana …. namaku Ariana!” serunya, “Ada apa?” tanyanya dengan ketus.
“Boleh aku minta nomor ponselmu?” tanya Arka, ia ingin tahu lebih lanjut tentang siapa Ariana, dan siapa tahu kalau dengan memiliki nomor ponselnya mereka bisa berteman. Dan ia juga ingin tahu kenapa Ariana bisa bersama dengan Abimanyu, bagaimana mereka bisa bertemu dan juga apa sebenarnya hubungan mereka berdua.
“Apa? Nomor ponsel? Oh tidak … tidak, maaf dan terima kasih. Tapi aku tidak mau berkenalan denganmu, kau lihat pria yang ada di sampingku.” Ariana menggandeng tangan Abimanyu, “Dia adalah pacarku, dia sangat pencemburu. Dan akan mengamuk kalau ada pria bod0h yang mendekatiku.”
“Maksudmu, pria gila ini?” ucap Arka pada Ariana.
“Apa kau bilang, gila?” Ariana menggelengkan kepala, ia benar-benar tak suka mendengarnya. Meski ia belum lama mengenal Abimanyu, akan tetapi jika mendengar ada orang yang mengejeknya seperti ini. Ariana benar-benar tidak terima, Ariana paham betul kenapa Abimanyu sampai depresi, itu karena ia merasa sangat bersalah. Dan orang ini dengan jahatnya mengatakan kalau Abimanyu gila. Sungguh sangat jahat. “Dia tidak gila, kau yang gila!” jawab Ariana, lalu ia pergi meninggalkan Arka dan membawa Abimanyu untuk pergi.
Bukannya marah pada Ariana, Arka justru hanya tersenyum melihatnya.Menurutnya Ariana memang sangat galak, tapi entah mengapa ia merasa kalau Ariana sangat manis.
“Akan aku pastikan, kita bertemu lagi.” gumam Arka, lalu kemudian ia pun pergi meninggalkan rumah sakit. Sepertinya ia akan mulai mencari tahu tentang gadis yang bernama Ariana ini.
—
Ariana tidak melepaskan gandengannya dari Abimanyu, ia takut kalau pria ini akan kabur jangan sampai Ariana lalai dalam melakukan pekerjaannya.
Syukurlah, saat Ariana sampai di ruangan dimana ibunya berada. Ibunya sudah mulai sadar, ia terlihat sedang diperiksa oleh dokter saat Ariana datang.
Dokter pun menjelaskan keadaan ibunya pasca operasi, dan kabar baiknya adalah jika semuanya baik-baik saja.
“Terima kasih dokter.” ucap Ariana.
Dokter pun menganggukkan kepala seraya tersenyum, lalu kemudian pergi meninggalkan ruangan itu.
“Ar … siapa dia? Apa dia pacarmu?” tanya ibunya pada Ariana, ia sungguh kagum pada putrinya, karena ia memiliki kekasih yang sangat tampan.
Ariana menggeleng, lalu ia pun menceritakan apa yang terjadi sampai ia bertemu dan harus menjaga Abimanyu. Jika semua itu karena ia harus mencari uang untuk biaya operasi.
“Ar … ya ampun, maafkan ibu.” ucap wanita yang masih tampak cantik di usianya itu.
“Kenapa Ibu harus minta maaf, sudah menjadi kewajibanku untuk berbakti padamu. Doakan saja agar Mas Abi cepat sembuh dan aku bisa bersama dengan Ibu lagi.”
Wanita bernama Dasha ini pun tersenyum lalu menganggukan kepala, “Tapi nanti kau tinggal dengannya?”
“Iya, Bu … seperti yang Ibu lihat, dia terus menempel.”
Dasha mengerti, “Sehebat apa luka yang kau rasakan, Nak. Sampai kau jadi seperti ini?” Dasha menatap Abimanyu dengan sangat sedih. Seolah ikut merasakan betapa sakitnya hati Abimanyu, Dasha pun dulu pernah merasakan hal yang sama. Ia pernah difitnah melakukan hal yang tak pernah ia lakukan, hingga akhirnya ia kehilangan cintanya. Dan Dasha saat itu hampir gila, akan tetapi saat melihat Ariana kecil ia pun mulai bisa menerima takdirnya dan menjadikan Ariana satu-satunya penyemangat hidupnya.
Setelah berbincang dan menjaga ibunya sejenak, Ariana pun berpamitan pulang dan meminta maaf karena ia tak bisa menjaganya. Namun, Dasha adalah seorang wanita yang pengertian, ia memahami bagaimana posisi putrinya saat ini.
Sepanjang jalan menuju lobi, Ariana tak melepaskan pegangannya dari Abimanyu sampai ia merasa Abimanyu akan melepaskan tangannya. Ariana pun mencoba menahan Abimanyu, ia tidak mau kalau sampai Abimanyu kabur dan membuat kekacauan.
“Mas Abi …”
Seolah mengingat sesuatu, Abimanyu pun kemudian berlari seperti sedang mencari sesuatu. Ariana pun terkejut dan mengejar Abimanyu, jangan sampai pria itu membuat kekacauan di rumah sakit.
“Tunggu … jangan lari!” Ariana mengejar Abimanyu yang berlari. Dan tak berselang lama, sampailah ia di sebuah ruangan. Ruangan yang sepertinya sangat familiar bagi Abimanyu, ia pun masuk dan Ariana pun semakin mengejarnya. Ia takut kalau Abimanyu mengganggu pasien yang tengah sakit.
Sesampainya di ruangan itu, Abimanyu berhenti dan berdiri terpaku di depan sebuah ranjang yang diatas ranjang itu ada seorang yang sedang terbaring sambil memejamkan matanya.
Abimanyu mendekat dan menatap seseorang itu dengan tatapan nanar, “Arabella …” lirihnya.
Ariana lekas masuk dan hendak menarik tangan Abimanyu, akan tetapi sebelum ia menarik tangan Abimanyu, ia melihat seseorang yang sedang terbaring, seseorang itu wajahnya sangat mirip dengannya. Wajahnya, hidungnya bahkan struktur wajahnya, semuanya.
Ariana menutup mulutnya seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat, “Ya Tuhan … “