PART 10

1926 Kata
Melan terlihat mondar-mandir di perusahaan. Saat ini dia ikut membantu menyelesaikan kasus penggelapan dan pembajakan beberapa buku terbitannya. Dia sedikit lupa dengan masalahnya dengan Deri. Uni meminta Melan tidak terlalu ikut campur. Biar saja tim investigasi yang menyelesaikan. Dia boleh membantu jika dirasa perlu untuk memberikan kesaksian atau bukti data. Uni takut Melan memforsir kerjaan hingga dia kelelahan. Pasalnya, bulan ini ada beberapa peluncuran buku baru. Buku yang sangat bermutu namun ditulis oleh penulis baru. Jadi, tugas berat di pihak marketing untuk mempublikasikan karya itu. Melan mempelajari beberapa data di meja kantornya. Dia meminta jus strawberry kepada Pak Pardi untuk menemani hari siangnya yang terasa terik. Siang ini dia malas keluar. Dia berencana delivery makanan saja. Dia akan menghabiskan jeda makan siangnya untuk mempelajari beberapa hal yang selanjutnya harus disusun strategi. Melan membuka chatroom dan melihat pesan yang ia kirim pada Deri dua hari lalu belum dibalas. Dia mendesah dan berencana mengirim pesan lagi, 'Aku menunggu balasanmu.' Lama dia terdiam, dan akhirnya menekan tanda send. Tak puas karena sama sekali tidak ada balasan, akhirnya Melan lebih memilih menghubungi sahabat Deri. Beberapa saat Gilang berbincang dengan Melan dan haslinya kini Melan tahu bahwa Deri sedang sibuk bersama Teo. Selain mereka memulai kembali pertemanan, kini juga memulai kerjasama. Deri sangat dibantu Teo untuk masalah dana dengan bank dan sebagainya. Gilang memberitahu bahwa Deri akan membuka proyek baru di Lombok, kemungkinan Deri sedang sibuk dengan hal itu juga. Melan pun mengerti dan lebih memilih melanjutkan pekerjaannya. Melupakan Deri sekilas. Kini mereka harus kembali pada realitas tanggungjawab masing-masing. *** Keesokan harinya, Melan mengunjungi Deri saat jam makan siang. Dia membawa beberapa makanan untuk Deri dan sengaja keluar kantor lebih awal. Sebelum jam dua belas, ia sudah sampai di kantor Deri. Dia terhenti di depan meja resepsionis yang melarang Melan naik karena belum ada janji. Masalah klasik yang sering muncul di beberapa perusahaan besar. Satu tangan menahan kepergian Melan. Dia kembali membawa Melan masuk dan naik menuju ruangan yang ingin dituju Melan. Dalam lift, dia berkata, "Ada gue, Mel. Kita bisa bertemu Deri." Keluar lift, mereka disambut sekretaris yang diketahui bernama Romi. Dia pun menyapa, "Selamat siang Pak Teo. Ada yang bisa saya bantu?" "Oh, saya mendadak kesini mau menyerahkan berkas penting. Deri ada di ruangan?", sahut Teo. "Maaf, pagi ini Pak Deri sudah terbang ke Lombok. Kiranya dua hari ke depan baru kembali." Teo kini menghadap Melan, "Waah, kita telat Mel. Mmmhhh....Mau makan siang bareng?" "Okedeh, daripada ni makanan sia-sia. Kita makan di mobil nggak papa ya?" "Nggak masalah." Akhirnya Teo dan Melan pergi ke mobil merah milik Melan. Mereka makan di dalam mobil sesuai permintaan Melan karena dia sudah tidak mood lagi untuk pergi ke tempat lain. Selagi makan, Teo menceritakan hubungan dia dengan Deri yang sudah membaik. Mereka sering menghabiskan waktu bersama dan kini memulai kerjasama. Sekali lagi, Melan bahagia mendengar kabar itu. "Gue gemes banget sama kalian. Ngapain sih betah berantem lama-lama? Nggak capek? Gue kalau berantem sama Dina palingan cuma dua hari. Nggak bisa nahan kangen kalau gue. Heee", kata Teo bangga. "Nggak tahu, rasanya masih ada yang perlu gue kenali dari Deri. Mungkin kita masih belum cocok satu sama lain?" "Yakin? Lo belum ada rasa apapun ke Deri, Mel?" "Menurut lo?" "Gue yakin 99% kalau lo punya rasa ke sahabat gue. Minimal rasa peduli. Gue tahu Deri emang terlalu suka berunding sama pikiran dia sendiri, tapi kayanya lo juga gitu. Kata nenek gue, proses kenalan itu seumur hidup. Jadi, mulai sekarang kalian harus sering berunding, sampe berantem juga nggak papa lah. Asal nggak saling diem. Nakutin!!" "Iyadeh, yang lagi kasmaran sama sahabat gue, sekarang bisa jadi peri cinta gini. Kasih-kasih nasehat bijak. Hee...well selamat buat elo sama Dina. Gue harap kalian bisa serius. Kasihan tuh, Dina udah sering patah hati gara-gara diPHP cowok'" "Gue kayanya udah yakin sama Dina. Tinggal nunggu waktu yang tepat buat nembak." "Pake nembak-nembak segala?" "Maksud gue pengungkapan Mel. Itu penting dalam suatu hubungan." Melan memahami perkataan Teo barusan. Memang benar, selama ini belum ada pengakuan apapun dari dia dan Deri. Tapi Melan takut untuk mengucapkan kata itu. Kata orang, satu hal bisa menguap jika sering diungkapkan. Lagi-lagi Melan berbincang dengan batinnya sendiri. "Mel, kalau lo mau tahu, gue ada info sedikit nih. Sandra, mantan Deri, cewe yang bikin gue ama dia berantem, kemarin ngasih kabar. Dia dalam waktu dekat ini mau ketemu gue, mau minta bantuin urus cerai sama suaminya." "Urusannya sama lo apaan?" "Dia nggak berani minta tolong orangtuanya karena malu. Gue juga bingung mau bantu kaya gimana. Tadinya gue nolak, tapi setelah gue tahu dia lagi hamil besar, gue jadi kasihan. Kayanya ini juga masalah finansial deh.", ungkap Teo. "Deri tahu?", tanya Melan yang dijawab gelengan kepala oleh Teo. Kenapa Sandra tiba-tiba datang? Apakah masalah Sandra akan memperumit hubungannya dengan Deri? Melan akan menganggap hal ini sebagai selingan saja. Semoga Teo bisa membantu Sandra dengan sangat cepat. Di sisi lain, ada sedikit ketakutan bahwa Deri akan menaruh kepedulian lagi terhadap Sandra. Namun, Melan yakin, Deri tak akan bertindak bodoh dengan kembali pada mantan yang sudah jelas membuangnya. Melan meninggalkan Teo. Kini mereka berpisah untuk melanjutkan pekerjaan masing-masing. Melan memilih menghubungi Dina dan mengabarkan ujung percakapannya dengan Teo mengenai Sandra. Melan berharap, Dina juga bisa bersikap bijak dan memahami Teo, serta menjaganya. *** Dua hari kemudian, Melan kini sudah menanti kabar dari Deri. Seharusnya dia kembali dari Lombok siang ini. Sudah ketiga kalinya Melan menghubungi Deri lewat telepon, namun tak diangkat. Ada apa dengan Deri? Apa mungkin dia sudah tak mau lagi berhubungan sama Melan? Tapi Gilang dan Teo mendukung mereka untuk baikan. Melan berpikir makin dalam. Dia belum mau kehilangan Deri, belum hingga dirinya sendiri yakin. Sosok yang selalu hadir dalam bayangannya setiap saat. Masih ada banyak hal yang ingin Melan lalui bersama Deri. Dari sekian pria, hanya Deri yang bisa membuat dia terpikat secara cepat. Melan akui, pilihan orangtuanya kali ini sangat tepat. Beberapa saat kemudian, Melan sudah siap di ruang rapat didampingi Uni. Dia menunggu beberapa staf lagi dan akan segera memulainya. Selain Melan dan Uni, kiranya ada sekitar sepuluh staf yang sudah hadir dan terlihat sibuk dengan kegiatan masing-masing. Saat membuka beberapa berkas, Melan teralihkan pada sebuah panggilan atas nama Deri di ponselnya. Dengan sigap Melan ambil benda itu ditangan dan memutar kursi menghadap ke jendela besar yang menampakkan awan putih disana. "Halo, Deri?", sapa Melan cepat. "Maaf, apa anda memiliki hubungan dengan pemilik ponsel ini?", terdengar suara wanita di balik telepon. "Anda siapa? Saya calon istrinya.", setengah berbisik agar tak ada yang mendengar. "Syukurlah, saya mau kasih kabar bahwa pemilik ponsel ini sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Saya menemukan ponsel ini setelah kecelakaan beruntun tak jauh dari bandara. Saya juga sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Saya lihat nomor terakhir yang menghubungi nomor ini adalah anda, jadi mungkin lebih baik jika saya segera mengabari." Melan menunduk, matanya memerah namun sulit berkata-kata lagi. Kerongkongannya tiba-tiba kering mengeras. Ada airmata yang sulit jatuh mendengar kabar itu. Uni yang menyadari perubahan Melan kini sudah ikut menunduk melontarkan beberapa pertanyaan untuk menyadarkan dia. Melan masih diam. "Rumah sakit apa?" Hanya itu yang bisa diucapkan Melan membalas pernyataan wanita tadi. Terlihat sudah mendapat jawaban, kini Melan menyerahkan pimpinan rapat kepada Uni. Dia harus pergi ke rumah sakit. Uni mengangguk namun dia sedikit khawatir dengan Melan yang harus pergi dalam keadaan kalut seperti ini. "Lo pake taxi ya, Mel? Please!!", Melan pergi setelah setuju dengan Uni. *** Melan kini sudah berada di lobby rumah sakit. Dia bergegas pergi ke ruang UGD untuk mencari Deri. Dia berputar-putar tapi Deri tak ada. Dia bertanya kepada beberapa perawat namun korban kecelakaan sekarang telah menyebar. Ada yang masih ditangani di UGD, dan ada yang sudah dipindah ke ruang perawatan. Melan kini menuju ruang perawatan yang sudah diberitahukan para perawat. Lantai tiga, tempat dimana para korban dirawat. Melan tak habis pikir kenapa dia tak bertanya kepada pusat informasi tentang nomor kamar Deri. Dia justru sudah berputar-putar mencari dimana Deri terbaring. Beberapa ruangan sudah dilewati dan nihil. Pria itu tak ditemukan. Satu ruangan lagi yang harus dia buka. Dia melangkah dengan lelah menuju kamar bernuansa putih itu. Dia mengetuk kemudian membuka dengan sopan, lalu dia melihat seorang wanita tua terbaring disana. Bukan Deri. Melan menyerah dan duduk di luar kamar rawat sambil menggosok-gosok wajahnya. Dia hembuskan nafas berat lalu mengangkat wajahnya perlahan. Dia terkejut melihat sosok yang sudah membuat dia kebingungan dari tadi kini berdiri bersalaman dengan seorang dokter yang kemudian pergi. Dengan langkah cepat, Melan menghampiri Deri. Deri kaget dan heran melihat Melan dengan segala penampilan kacaunya. Kini wanita itu sudah berdiri di depannya dengan isak tangis yang ditahan. Ada satu air mata lolos dari pelupuknya. Melan menatap Deri dengan teliti. Pria itu baik-baik saja, syukurlah. Hanya luka kecil di pipi kiri. Gulungan kemeja sampai siku pun tak mengisyaratkan ada luka apapun di bagian tangan. Dia juga bisa berdiri dengan baik. Melan lega. Setelah terdiam beberapa saat, Melan yakin Deri baik-baik saja. Melan pun memilih untuk melangkah pergi tanpa berkata satu katapun. Melan merasa marah karena Deri berhasil membuatnya khawatir tak karuan. Deri yang sadar atas tindakan itu langsung berbalik dan menarik tangan Melan. "Tunggu.", ucap Deri setelah berhasil membuat Melan berhenti. "Kamu mau pergi begitu saja?" "Lalu apa yang harus kulakukan?", tanya Melan. "Entahlah, aku kira kamu kesini buat....", ucapan Deri menggantung, "Yasudah pergilah!!", Deri menyerah. Deri melepaskan genggamannya di tangan Melan. Mereka masih terdiam saling berhadapan. Tak ada yang bergerak. "Kamu mau aku pergi?", ucapan Melan berhasil membuat Deri menatap mata Melan dengan lemah. Mata Deri kian memerah, Melan bisa melihat itu. "Kamu yakin biarin aku pergi sekarang? Jawab!!", lanjut Melan sedikit meninggikan suara. "Kamu jahat, Der. Kamu acuhin aku, kamu bikin aku khawatir, dan sekarang......." Belum sampai Melan menyelesaikan kalimatnya, kini dia sudah berada dalam pelukan Deri. Melan meronta melepaskan pelukan itu, namun Deri lebih kuat menahannya. "Maaf. Bukan itu yang aku mau.", kata-kata dari Deri berhasil membuat Melan kembali tenang. "Aku butuh kamu, Mel. Apa kamu nggak bisa rasain itu? Aku .....aku.....aku sayang sama kamu. Jangan pergi!!" air mata Deri kini terasa hangat di pundak Melan. Melan luluh dan tubuhnya luruh ditahan Deri. Pengakuan Deri membuat sekujur tubuhnya lemas. Apa selemah ini Melan terhadap Deri? Dia juga membutuhkan Deri lebih dari apapun sekarang. Kondisi Deri yang baik-baik saja merupakan anugerah yang sangat besar ia rasakan. Melan mengeratkan pelukan di tubuh Deri agar dia tak jatuh. Dia menutup mata dan menangis sejadi-jadinya. Dia tak bisa membayangkan jika saat ini Deri terbaring dan bukan berdiri dihadapannya. Deri terus memeluk Melan hingga tangis wanita itu reda. "Udah tenang?", tanya Deri melepas pelukannya pelan. Melan mengangkat tangan memegang pipi kiri Deri, "Apa ini sakit?" "Hatiku lebih sakit, Mel. Sakit saat bayangin kamu nggak bakal dateng lagi ke aku." "Sekarang aku disini." "Maafin aku yang terlalu emosi.", Deri menggenggam kedua tangan Melan lalu menciumnya satu per satu. Deri menunduk. "Jangan lemah Deri. Kuatlah, aku butuh kamu kuatkan. Kita mulai dari awal, oke?" Deri mengangguk dan kembali memeluk Melan. Perasaan yang berkecamuk kini sudah lega. Mereka kembali. Melan meminta Deri untuk membawanya bertemu dokter yang tadi bersalaman dengan Deri. Melan mau memastikan kondisi Deri. Setelah menolak, Deri akhirnya kalah dengan tatapan memohon dari Melan. Dia menarik tangan Melan menuju ruangan dokter tersebut. Di dalam ruangan, dokter hanya menjelaskan ulang bagaimana kondisi Deri dan semua memang hanya luka luar yang tidak terlalu parah. Deri bahkan bisa langsung pulang. Mendengar itu, Melan tersenyum. Kini dia bisa pulang bersama Deri dengan tenang. Kecelakaan beruntun yang dialami Deri merusak lima mobil di samping dan belakangnya. Beruntung, Deri berada di dalam taxi urutan paling belakang dari rentetan kendaraan yang mengalami kecelakaan. Taxi tersebut tidak terlalu rusak dan Deri hanya terpanting ke depan lalu terbentur kaca di kirinya. Semua sudah diusut oleh polisi. Deri hanya bertindak sebagai korban dan akan memberikan beberapa keterangan sebagai saksi mata kejadian itu. Koper Deri masih utuh. Berkas penting didalamnya juga aman. Kini Melan dan Deri berada di dalam taxi lain menuju apartemen Deri. Selama di dalam taxi, Deri dan Melan tak pernah melepas genggaman tangan masing-masing. Sesekali Melan menyandarkan kepalanya di pundak Deri untuk menenangkan diri. "Jangan buat aku khawatir lagi, Der!!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN