PART 9

1261 Kata
Malam ini Melan sudah berada di rumah orangtuanya. Melan duduk di ruang keluarga dengan segelas s**u strawberry di tangannya. Acara televisi yang sedang menayangkan acara komedipun diacuhkan Melan. Dia hanya menatap gelas yang bergerak menurut keinginan tangannya. Dari belakang, Bunda memperhatikan tingkah anaknya. Dia ambil remote lalu menekan tombol power tanda mematikan televisi. Melan terkejut melihat itu. "Bunda...", Melan akhirnya bersuara. "Kamu udah mirip ABG yang lagi galau. Pucet lagi.", Bunda tersenyum sambil duduk di sebelah Melan lalu mengelus pipi anaknya. "Lagi banyak pikiran aja Bun. Orangtua kalau banyak pikiran juga keliatan kaya Melan sih. Hee !!", candaan Melan sangat garing. "Mikir kerjaan apa mikir Deri? Kamu jujur coba sama Bunda. Bunda nggak bakal macem-macem kok. Janji !!" "Ini mikir kerjaan Bun, sama Deri juga, sedikit." "Tuh kan...." Bunda tersenyum lagi mendengar pengakuan Melan. "Jadi sebenarnya Bunda udah denger cerita kamu dari Dina. Sorry ya, stalking arround, just for making sure about it. Bunda tahu soalnya kamu nggak bakal cerita." "Santai aja Bun, ini masalah kecil kok." "Iya, kecil juga bisa jadi gede nantinya. Sebenarnya masalah kalian itu adalah kalian nggak punya masalah. Kurang kerjaan apa gimana sih pake bikin masalah?" "Ih, maksud Bunda?" "Udahlah, yang penting kamu baik-baikin Deri. Nggak usah cari siapa yang salah, kalian berdua yang salah. Masalah kaya gini belum ada apa-apanya kalau di ranah rumah tangga, Mel. Ini tuh simple. Heran deh...kalian tuh cuma butuh ngomong yang baik aja. Sama bersikap lebih baik. Lagi pendekatan kan gitu !!" "Melan selalu baik ke Deri, Bun." "Iya, putri Bunda pasti baik, cuman nggak semua sikap dan sifat kita itu cocok sama oranglain. Kalau kamu udah milih calon pasangan, ya selanjutnya kalian saling menyesuaikan." "Bukannya pasangan itu harus saling terima apa adanya ya?", Melan tak mau kalah. "Nggak semua.". kemudian Bunda terdiam lalu berdiri. "Udah ah, sisanya kamu mikir sendiri. Masa harus dikasih tau? Udah gede ini. Jangan kelamaan berantem, nggak kangen apa? Nggak pengen quality time gitu? Bunda mau nyusul Ayah ah, ngantuk. Kamu jangan malem-malem tidurnya." Bunda berpaling menuju tangga setelah mencium kening putrinya. Melan masih heran dengan saran Bunda. Tapi dia akan mencoba untuk baik pada Deri sama seperti yang dikatakan bundanya. Melan sendiri bingung, masalah ini bermula dari apa dan akan bermuara kemana. Dia akan mencoba lebih jujur dan terbuka biar Deri kembali. Melan pergi menuju Dapur dan mencuci gelas. Setelah itu, dia naik ke kamarnya dan bersiap untuk tidur. Sebelum mematikan lampu, dia mengambil ponsel dan membuka chatroom tertuju pada Deri. 'Aku minta maaf.' --- send. Hanya kalimat itu yang Melan tulis. Dia berharap Deri membuka pesan itu setelah dia tertidur jadi dia tak harus memikirkan jawaban Deri. Dia belum siap melihat jawaban apa dari Deri. Dia bergegas mematikan lampu. *** Pagi harinya, Deri membuka beberapa pesan yang tadi malam belum sempat ia baca. Pesan pertama yang sangat menyita perhatiannya adalah dari Melan. Setelah membaca, Deri tersenyum manis. Dia berniat membalas beberapa kata namun diurungkan. Beberapa saat merangkai kata namun dihapus kembali. Akhirnya, Deri tak membalas apapun. Deri berpikir, kenapa dia menuntut Melan sementara dia sendiri belum membuat komitmen apapun. Bagaimanapun Melan adalah wanita. Dia tahu bahwa kebanyakan wanita merasa lebih aman jika sudah mendapat jaminan dalam sebuah hubungan. Semoga perkiraan ini benar. Setelah beberapa saat terdiam, kini Deri membuka pesan selanajutnya. Dari Gilang yang mengatakan bahwa dirinya mau berkunjung ke apartemen Deri sekitar jam sepuluh pagi. Hari libur kali ini tanpa Melan.harusnya dia bisa mengajak wanita itu ke tempat-tempat baru, atau berkuliner menu-menu baru. Deri harus bersabar, keadaan akan membaik. Dalam hati, dia terus meyakini hal itu, namun saat bertemu Melan, segala keyakinannya luntur dalam sekejap. Saat ini, dia sudah merasa segar setelah mandi. Rambut hampir kering, ia kibaskan ke depan dan ke samping. Sedikit merapikan apartemennya, dan siap menyambut Gilang. Tak lama, Gilang kini sudah berada di dalam apartemen Deri, bersama Teo. Deri merasa sedikit marah atas kehadiran Teo tanpa sepengetahuannya. Gilang pun mencoba mencairkan suasana dengan mengajak Deri dan Teo untuk duduk. Gilang mengambil beberapa botol minuman dingin lalu ia letakkan di depan kedua sahabatnya. "Kenapa lo kesini?", tanya Deri kepada Teo. "Gue nggak mau hubungan kita tambah buruk, melebihi sebelumnya." "Guys..gini. Gue sengaja bikin kalian ketemu, biar damai please. Nggak ada ngomong kasar, nggak ada kontak fisik, dan nggak ada kebohongan.", sergah Gilang. "Jangan berputar-putar Lang.", pinta Deri. Teo hanya diam melihat Deri mulai mengeluarkan emosi. Bukan ini yang dia mau. Teo dan Gilang setuju untuk membuat Deri mengerti. Hubungan mereka terjalin sejak lama. Ada masalah yang membuat mereka jadi tidak baik, itu wajar. Suatu hubungan selalu mempunyai fase. Hanya saja, durasi break mereka terlalu lama. Bukan Sandra yang menjadi pokok masalah saat ini. Hubungan mereka tidak kunjung membaik karena ego masing-masing untuk menunggu lawannya mengaku kalah. Mereka berdalih, rasa bersalah masing-masing membuat dia mengalah, nyatanya bukan itu yang bikin semua membaik. Gilang memperhatikan kedua sahabatnya dengan teliti. Dia akan mulai dengan orang yang paling tenang, Teo. "Well. Gue pengen Teo jelasin dulu. Deri dengerin baik-baik. Gue nggak mau kita disini sampai lima jam tapi tetep salah faham." "Ok. Gue minta maaf ke elo sama Gilang buat masalah masa lalu kita. Gue nggak mau panjang lebar berdalih karena kita tahu kita sama-sama korban. Gue bener-bener minta maaf kalau ngecewain lo sebagai sahabat.", ucap Teo lebih kepada Deri. "Yang dulu nggak usah diungkit. Gue juga salah. Sorry." "Dan untuk masalah kemarin, gue rasa kita cuma salah faham. Gue nggak mau ngulang masalah sama elo kaya dulu. Jadi gue mau bilang kalau gue sama sekali nggak ada niat mempengaruhi Melan apapun. Gue cuma cerita tentang kita bertiga. Tanggapan dia juga bagus, dia nggak memihak dan dia bisa berpikir rasional." "Lo tertarik sama Melan?" "Tunggu tunggu..haaa...bukan kesitu maksud gue. Lo jangan terlalu kelihatan cemburu lah.", potong Teo yang kini tersenyum ke arah Deri. "Oke, lanjutin!!" "Woow, jadi seorang Deri nggak mengelak kalau dia lagi cemburu? Lang, kemajuan nih bocah !!", Teo mengejek. "Udah deh, lo jangan bikin gara-gara. Gilang ada di pihak gue.", ucap Deri. "No no no... gue netral disini. Jangan eksploitasi gue please.", Gilang membela diri. "Haaaa, oke oke. Jadi yang bener adalah gue respect sama cewek lo Bro. Waktu itu juga gue nggak pergi berdua, tuh Gilang biang kerok yang bikin cerita nggak lengkap. Dia kirim ke elo foto gue berdua ama Melan, dia nggak sempet jepret gue pas bertiga sama gebetan gue, Dina. Keburu pergi." "Dina sahabatnya Melan?", tanya Deri. "Bener banget. Jadi gue emang bener-bener nggak sengaja ketemu sama Melan. Semua karena Dina yang pengen ngenalin sahabatnya." Deri diam sejenak. Dia merasa beruntung karena masalah ini bisa menyelesaikan masalah di masa lalu dan semoga pencerahan untuk masalahnya saat ini. "Gue terimakasih lo mau repot-repot kesini buat jelasin semuanya. Jujur gue juga mau minta maaf soal dulu, sama soal kemaren gue nglabrak lo. Gue Cuma emosi sesaat. Habis itu gue mikir dan sebenernya emang bukan lo satu-satunya alasan gue jadi berantem sama Melan." "Wait, jawaban lo mirip banget kaya jawabannya Melan.", Gilang berkata setelah ingat perkataan Melan. "Maksudnya? Kapan kalian bertemu, dan membahas gue?", Deri terkejut dan heran. "Beberapa hari lalu gue ajak Teo ke apartemen Melan buat bikin drama penjelasan yang mirip kaya gini.", ucap Gilang. "Woow without me anyway. Yaudah, Melan biar gue yang urus. Gue kemarin emosi karena takut aja Melan nyerah.", Deri menunduk. "Jadi sekarang sahabat gue jadi mellowman ya?", Teo heran. Deri sedikit kaget dengan ucapan Teo yang menyebutnya sebagai sahabat. Deri pun hanya bisa membalas dengan senyuman. Mereka melanjutkan pembicaraan seputar kegiatan sehari-hari dan pekerjaan masing-masing. banyak cerita yang terlewat dan harus mereka ulas secara singkat. Cara sederhana yang harusnya segera mereka lakukan dulu, duduk bertiga. Teo memberi beberapa nasehat kepada Deri mengenai hubungannya dengan Melan. Gilang memperhatikan dengan seksama karena sampai saat ini belum ada gadis yang mampu membuat Gilang jatuh cinta. Deri membenarkan dirinya memang cemburu. Dia tidak mau mengakhiri sesuatu yang belum dia mulai. "Sejak pertama bertemu, bukan gue jatuh cinta ke Melan, tapi dia udah lebih dulu bikin gue jatuh cinta. Rasanya lebih indah."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN