Gung-gung

1429 Kata
Kumandang azan Magrib terdengar dari mushala Hubbul Wathan yang ada di komplek sekolah Yayasan Teladan Bangsa. Mereka yang sering mendengar panggilan salat itu pasti kenal itu adalah suara milik Aldi Angkasa Putra, Danton Paskibra SMA Teladan Bangsa. Sepertinya dia sengaja selalu pulang melewati Magrib, mungkin salah satu alasannya supaya tidak telat salat Magrib karena SMA TB tempat dia menimba ilmu selalu pulang melewati jam setengah 6. Selesai mengumandangkan azan, Aldi menjalankan salat sunnah qobliyah dua rakaat. Lalu menunggu beberapa saat barangkali ada yang bisa mengimaminya atau bersedia jadi makmum. Dia melirik jam dinding sudah lima menit berlalu, tapi tidak ada yang menyusul untuk berjamaah. Dia bersiap menjalankan salat sendiri, nampaknya dia tidak berjamaah salat Magrib petang ini. Terdengar suara keran mengeluarkan air, sepertinya ada yang akan menemaninya salat Magrib, tidak jadi munfarid. Aldi menunggu dengan berdiri menghadap kiblat. “Assalamualaikum, Kak.” Terdengar suara yang dikenalnya mengucapkan salam. “Waalaikumsalam watohmatulloh,” jawab Aldi lalu menoleh ke arah suara yang terdengar dari ambang pintu. Sebuah senyuman menyambut wajah Aldi sedetik setelah dia menoleh. Ketua OSIS SMP TB itu terlihat berbeda dengan pakaian casual-nya, dia sudah tidak menggunakan seragam sekolahnya. “Jamaah ya, Kak,” ujar Salya sambil melepas kacamatanya. Aldi hanya mengangguk menjawab kalimat itu, dia menunggu Salya mengenakan mukenanya sambil berdiri menghadap kiblat. Sang Imam menoleh ke belakang memastikan makmumnya sudah siap. Imam salat itu membaca ayat demi ayat dengan suaranya yang indah, tiga rakaat terasa singkat sekali jika yang memimpin salat mempunyai suara yang merdu. Selesai salam, Aldi memimpin berdoa. Setelah menggenapkan hajat kepada Allah subhana wataala, Aldi menggeserkan duduknya mendekati Salya yang masih bermukena. “Entah sebuah kebetulan atau disengaja, tapi aku senang bertemu kamu lagi,” ujar Aldi. “Aku sengaja, Kak.” Sebuah senyuman diukir di wajah Salya sambil mencopot mukena dan melipatnya.  “Waw, sengaja.”  Aldi geleng-geleng kepala mendengar apa yang diucapkan oleh Salya. Entah apa alasannya sengaja bertemu lagi, mungkinkah apa yang dirasakannya sama dengan yang dirasakan gadis berkaca mata ini? “Iya, Maaf ya, Kak,” ujar Salya sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf v. “Aku sih nggak keberatan, Salya. Senang malah,” ujar Aldi sambil tertawa, “Skuy, kita keluar. Di sini cuma ada kita berdua, khawatir nanti tergoda Setan.” “Emang di sini ada setan, Kak?” “Pasti ada kalau Setan, Salya” “Kakak percaya dengan Setan?” “Setan itu sifat dari makhluk yang bernama Iblis, kelakuan makhluk itu disebut dengan Setan. Allah menciptakan Iblis tapi tidak menciptakan hantu.” “Hantu? Semacam Kuntilanak, Pocong dan saudara-saudaranya nggak ada, Kak?” “Iya, mereka itu nggak ada, hantu itu cuma halusinasi, Salya. Jika mereka ada, pasti sudah lama Kakak bertemu mereka.” Salya menghela napas, nampaknya ada sesuatu yang membuat dia tidak setuju dengan pernyataan sosok di depannya. Di kelas samping mushala nampak dua makhluk botak sedang mendengarkan percakapan dua manusia di dalam mushala itu dengan gemas. “Kita pulang yuk, Kak. Aku agak lapar ini.” Ajak Salya. “Ayo, aku sih bukan agak, tapi lapar banget.” Aldi mengusap-usap perutnya. “Wah, kayaknya bakalan habis banyak makannya ni, Kak.” “Kayaknya iya, betewe kita makan di mana, Salya?” “Bagaimana jika di tempat kemarin? Warung tenda itu? Aku suka sambalnya, enak.” Salya memberi ide. “Boleh.” Mereka menuruni tangga mushala perlahan, Salya jalan duluan, sedangkan Aldi mengikuti di belakangnya. Di lapangan itu hanya tersisa motor Aldi sendirian. “Sekarang aku yang bayar ya, Kak. Gantian, kemarin ‘kan Kakak yang bayar,” ujar Salya setelah kakinya sampai di lantai lapangan tengah. “Bolehlah, kebetulan memang aku lagi bokek ni,” ujar Aldi sambil tersenyum. “Kebetulan sekali aku baru dapat transferan dari Papa. Yuk, kita berangkat, Kak.” “Naik motor bareng atau motor masing-masing, Salya?” “Masing-masing aja, Kak. Kasihan kalau motorku ditinggal di sini, nggak ada rumput” “Nanti juga dia makan daun-daun kering yang jatuh.” “Kakak, motorku itu mesin, masa makan daun kering,” Salya tersungut mendengar seloroh Aldi. “Dari pada makan rumput, susah carinya, ‘kan.” “Kayaknya kalau diterusin akan lama ni, Kak. Aku tunggu di lapangan depan aja ya, Kakak nyusul.” “Ngapain jauh-jauh jalan, naik motor aja,” Aldi menepuk-nepuk jok motornya yang sedikit berdebu. “Nggak jauh ‘kan, Kak, cuma dua langkah.” “Dua langkah raksasa ya.” “Dua langkah kakiku, Kak. Langkah kanan dan kiri, dua langkah ‘kan jadinya.” Giliran Aldi yang tersungut, dia tidak menyangka Salya bisa berguyon seperti itu. Lagi dia mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya ke atas. “Udah, yuk naik.” Aldi men-stater motornya, hingga mesinnya hidup. Pemuda itu lalu memberi kode Salya untuk naik. Motor melintasi lorong yang menuju ke gedung satu, jalan ini lebih sempit dari pada lorong yang menghubungkan gedung dua dengan gedung tiga.  *** Mereka berhenti tepat di warung tenda di mana mereka makan beberapa malam yang lalu. Motor beat putih milik Salya parkir tepat di samping scoopy Aldi. Saat masuk ke warung, seperti biasa sebuah senyum ramah menyambut kedatangan mereka. Aldi memilih meja tempat kemarin mereka makan, matanya melihat sosok muda-mudi yang juga malam lalu ada di warung ini. Dia mengenali mereka dari topi yang dipakai pemuda itu dengan bagian depannya menghadap belakang. Sang pemudi pun masih sama, dia menyamarkan wajahnya dengan bagian depan topi yang dikenakannya. Seorang pelayan yang biasa datang menghampiri mereka sambil membawa sebuah notes di tangannya. “Sudah siap memesan, Mas?” ujar pelayan itu sambil bersiap menulis. “Salya?” Aldi mempersilahkan sosok d depannya memesan lebih dulu. “Aku pesan yang seperti kemarin, Kak. Ingat nggak?” “Pastilah, pesanan kita ‘kan mirip kemarin, hanya berbeda manis dengan tawar saja.”  “Aku kira Kakak nggak ingat.”  “Ingat dong, ada beberapa hal yang sengaja kupendam sampai ke bawah sadar, supaya tak pernah kulupa hal itu.” “Hmm, nge-bucin-nya entar aja, pesan dulu, Kak,” ujar Salya yang disambut senyuman pelayan yang berdiri di samping mereka. “Maaf, Mas ... ” Aldi menggaruk kepalanya yang sepertinya tak gatal. “Pesan ayam goreng bagian sayap dua, nasinya nasi uduk dua. Jangan lupa minumnya teh manis dan teh tawar, dua-duanya panas, bukan hangat ya, Mas.” Pelayan itu mencatat pesanan Aldi, Sebenarnya dia sudah hafal dengan pesanan Aldi, pasti sama selalu sama, ayam goreng bagian sayap dan teh tawar panas. “Baik, ditunggu ya pesanannya, Mas,” ujar pelayan itu sambil berlalu. Aldi tiba-tiba teringat kejadian tadi sore di lorong gedung dua, saat dia dikerjai oleh tiga orang kakak kelasnya. Kebetulan sekali memang hal ini ingin ditanyakannya langsung.  “Salya, aku mau tanya boleh?”  “Boleh dong, Kak.” “Kamu ada hubungan apa dengan Agung?” “Agung mana, Kak?” Salya mengernyitkan dahi. Mungkin banyak nama Agung yang dia kenal selama ini. “Agung kelas 12 IPS 1.” “Anak TB juga, Kak?” “Iya,” jawab Aldi pendek. “Agung ...” Salya mengingat-ingat nama yang disebutkan tadi, “Oh dia, aku memanggilnya Kak Gung-gung. Yang badannya kekar kayak Thanos itu ‘kan?” “Iya dia, yang suka pakai anting sebelah.” “Aku menyebutnya Kak Gung-gung,  dia teman sekolah Kakakku di SMP dulu, nothing special with him.” “Aku tadi hampir dikeroyok dia dan teman-temannya, Tedi dan Edo.” “Dikeroyok? Apa penyebabnya. Kak?” “Katanya mereka melihat kita makan di sini, dia mengancam jika melihat kita berdua lagi makan akan seperti ini .....” Aldi menirukan apa yang pernah dilakukan oleh Agung di lorong itu, membuat garis lurus dengan telunjuknya dari leher bagian kiri ke bagian kanan. “Apa artinya itu, Kak?” “Artinya jika dia melihat kita bersama lagi akan dikelitikin di leher,” ujar Aldi sambil tertawa kecil, Salya ikut tertawa. “Aku nggak ada hubungan apa-apa dengan Kak Gung-gung, Kak?” “Nggak ada? Lalu mengapa dia cemburu seperti itu.” “Nggak ada, Kak. Dia pernah memang nembak aku tapi aku tolak, pedekate lagi lalu nembak lagi aku tolak lagi. Seingatku sampai lima kali aku tolak dia.” “Astaga, luar biasa kuat dia, sampai lima kali ditolak dan masih berusaha.” “Pejuang tangguh, Kak. Mungkin sekarang dia masih berjuang.” “Sepertinya masih juga sampai sekarang, Salya. Terbukti dari usahanya melarangku dekat dengan kamu.” “Sepertinya iya sih, Kak. Sudahlah abaikan saja.” Percakapan mereka terjeda dengan datangnya pesanan teh mereka, disusul dengan ayam goreng sayap. “Alhamdulillah, tiba juga pengobat rindu lapar ini. Skuy, kita gas,” ujar Aldi sambil menarik piring miliknya.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN