Bel terdengar tiga kali meraung, menandakan jam pelajaran SMP Teladan Bangsa sudah berakhir. Siswa yang berjumlah lebih dari seribu orang siswa itu berhamburan keluar kelas secara bersamaan, walaupun sekolah terbagi menjadi tiga komplek gedung, tetap saja mereka menuju ke lapangan yang sama. Serentak mereka mengarah ke lapangan gedung depan di mana motor-motor mereka terparkir di sana. Tetapi tidak semua siswa memarkirkan kendaraannya di lapangan parkir sekolah, beberapa memilih menyimpan motornya di kantin luar sekolah.
Tidak semua siswa langsung mengeluarkan motornya untuk menuju pulang, beberapa siswa masih terlihat jajan di kantin sekolah dan mushala.
Salya dan Arman, Ketua OSIS dan Wakilnya sedang bercakap-cakap di depan mushala, nampaknya mereka baru saja menunaikan salat Zuhur.
“Assalamualaikum.” Terdengar suara dari belakang kesua siswa SMP Teladan bangsa itu.
“Waalaikumsalam,” ujar mereka menjawab hampir bersamaan.
Salya menoleh ke belakang, diikuti juga oelh Arman. Di belakang mereka nampak seorang siswa SMA yang beralis tebal. Sebuah senyum tersemat di wajahnya.
“Hai, Kak Aldi,” ujar Salya sambil membalas senyum itu.
“Halo, Maaf, aku ganggu nggak?”
“Nggak kok, Kak. Oh iya ini kenalin Arman, Wakil Ketua OSIS.”
Arman mengangguk sopan seraya mengulurkan tangannya yang disambut oleh Aldi, dia menyebutkan namanya sendiri.
“Aku sudah kenal nama Kakak adalah Kak Aldi,” ujar Arman.
“Wah, Kok bisa, Man?”
“Pastilah, Kak. Siapa yang nggak kenal dengan Kak Aldi yang nge-hits di SMA. Banyak yang kagum dengan Kakak di SMP, bahkan aku dengar-dengar ada fans base-nya segala.”
“Astaga, yang benar, Man?”
“Iya, Kak. Cuma aku lupa nama fans base-nya apa,” kata Arman sambil berusaha mengingat-ingat nama basis fans Danton Paskibra yang ada di hadapannya. Namun ingatannya tidak terpanggil.
“Nggak nyangka aku udah kayak selebritis aja ya di SMP,” ujar Aldi sambil tersenyum. Dia lalu melihat jam tangannya. “Aku pamit dulu ya, sebentar lagi bel masuk.”
“Okey, Kak,” jawab mereka bersamaan.
Aldi menuruni tangga mushala, melewati lorong menuju ke ruang kelasnya. Di sana nampak Tedi dan temannya Edo, anak kelas 12 IPS 1. Entah apa yang mereka lakukan di lorong itu.
Aldi berjalan hendak melewati mereka, malang dia tidak melihat kaki Tedi yang sengaja dijulurkan ke tengah jalan sehingga membuatnya tersandung. Tertawa kedua anak IPS itu membahana mengisi lorong yang mempunyai lebar kurang dari tiga meter.
Aldi tersungut, dia berusaha menstabilkan lagi posisi berdirinya yang sejenak terhuyung. Tanpa merasa salah kedua siswa itu masih terbahak keras.
“Kakak sengaja ya, Kak?”
Aldi mendekati mereka dengan tersungut, tetapi tidak dihiraukan oleh mereka tatapan kesalnya. Sebuah pukulan di bagian belakang kepalanya membuat Aldi menoleh kaget, ada seorang Kakak kelasnya ternyata di belakang.
“Ada apa, Kak? Tiba-tiba mukul aja tanpa tahu sebab masalahnya.”
“Lu kenal gua siapa kagak?” Siswa berbadan besar itu mendorong tubuh Aldi hingga terjajar ke tembok lorong.
“Kenal, Kak. Nama Kakak adalah Agung kelas 12 IPS 1.” Aldi berusaha menenangkan dirinya yang mulai dikuasai emosi karena merasa di-bully.
“Kalau lu udah tahu nama gua, lu juga harus tahu, Salya itu pacar gua. Jangan pernah dekati dia lagi,” kata Kakak kelas itu sambil meletakkan telunjuknya di dahi Aldi.
“Salya?” Aldi mengernyitkan dahi, apakah yang disebutkan namanya itu sama dengan yang dia kenal.
“Salya Lova, lu jangan pura-pura nggak kenal. Kemarin gua lihat lu makan berdua di warung tenda dengannya. Sekali lagi gua lihat lu berdua dengannya lu bakalan ...” Agung membuat gerakan membuat garis lurus dari leher kirinya sampai kanan dengan menggunakan telunjuknya. “Camkan itu!”
“Maaf, Kak. Gua nggak tahu Salya itu pacar Kakak,” ujar Aldi santai, seolah apa yang dikatakan Kakak kelasnya tadi tidak mempengaruhinya sedikitpun.
“Gua udah kasih tahu sekarang, jangan pernah dekati dia lagi.” Agung kini menunjuk d**a Aldi dan menekannya keras. Aldi tersenyum.
“Jadi lu nggak peduli dengan apa yang gua bilang barusan?” Suara Agung terdengar kesal, intonasinya meninggi.
“Kok Kakak menyimpulkan begitu?”
“Lu senyum-senyum kayak gitu, itu tandanya lu nggak peduli.” Tedi membantu menggertak Aldi yang masih terlihat santai.
“Gua tonjok aja ni, Bocah,” ujar Edo seraya mengepalkan tinjunya ke arah wajah Aldi.
"Woy!” Sebuah teriakan menggagalkan aksi intimidasi Edo.
Ketiga anak 12 IPS 1 itu menoleh, nampak Rifal, Lukman dan Nina dari ujung lorong masuk. Mereka setengah berlari mendekat.
“Cuma pengecut yang hobinya main keroyokan,” ujar Rifal, dia mendorong badan Edo.
“Lu jangan ikut campur.” Agung menghadang kedatangan mereka dengan badannya yang kekar.
“Kalau nggak mau kita ikut campur, lu jangan kayak anak kecil.” Lukman mendorong badan besar Agung, tubuhnya terjajar selangkah ke belakang.
Rifal dan Nina melongo melihat apa yang dilakukan Lukman. Mereka tak menyangka temannya melakukan hal itu, tak menyangka pula Agung yang berbadan kekar itu bisa terdorong ke belakang oleh Lukman.
Agung memberi kode kedua temannya untuk meninggalkan lorong, Tedi dan Edi beranjak, mereka berdiri di belakang Agung.
“Kita lanjut sepulang sekolah, kalian akan menyesal karena telah berurusan dengan gua.” Agung menunjuk keempat anak paskibra itu bergantian, aksinya itu ditanggapi dengan senyum remeh.
“Diantos pokoka mah*” ujar Rifal, disambut tertawa ketiga temannya bersamaan.
Ketiga preman sekolah itu meninggalkan mereka, nampak sekali Tedi dan Edo tidak menerima mereka pergi begitu saja. Tapi keputusan pimpinan mereka harus diikuti, jika tidak mau akhirnya wajah merekalah yang babak belur.
“Lu nggak apa-apa, Al?” tanya Rifal.
“Nggak, Kak. Mereka belum sempat ngapa-ngapain tadi.”
“Syukurlah, ada masalah apa?” tanya Rifal lagi.
“Si Agung cemburu.”
“Cemburu?”
“Iya, kemarin gua sempat pulang dengan Salya, dia melihat itu katanya.”
“Salya? Siapa dia?”
“Salya Lova bukan? Ketua OSIS SMP TB?” ujar Nina.
“Iya benar dia, Kak Nina.”
“Waw, kok lu bisa pulang bareng dia, Al? Dia ‘kan ngehits banget. Gua juga pengen anu sama dia,” ujar Lukman dengan tertawa lebarnya.
“Apaan sih, Lukman, anu-anu,” ujar Nina.
Mereka tertawa bersama di lorong itu, suara mereka membahana karena memantul di antara tembok-tembok.
“Eh, Al, emang gimana kabar hubungan lu dengan si Ayu? Kok tiba-tiba jalan sama Salya?” Rifal tiba-tiba kepo.
“Ya nggak gimana-gimana sih, Kak. Begitu-begitu aja.” Jawaban Aldi membuat ketiga Kakak kelasnya itu mengernyitkan dahi.
“Ah, sudahlah. Ngapain juga bahas itu. Skuy, kita cabut ke kelas, sedikit lagi bel.” Baru saja Rifal menggenapkan kalimatnya, bel masuk terdengar meraung.
Mereka bergegas menuju kelasnya masing-masing yang sama-sama ada di lantai dua, mengikuti mereka di belakang berhamburan siswa yang baru datang.
Terlihat Ayu dan Dina berjalan santai menuju kelasnya, kontras sekali dengan yang lain tergopoh menuju kelasnya. Aldi berlari melewati mereka, Ayu menatap kesal saat Aldi berlari melewatinya tanpa menoleh.
“Al,” panggil gadis itu.
Aldi menghentikan larinya lalu menoleh, sebuah senyuman diberikan setelah tahu siapa yang memanggilnya.
“Halo, Ayu, Dina. Maaf aku nggak tahu yang kulewati tadi kalian,” ujar Aldi.
Ayu melangkah mendekati pemuda yang satu meter di hadapannya, Aldi deg-degan dengan apa yang akan terjadi karena wajah gadis itu terlihat serius sekali. Sebuah tamparan keras mampir di pipi kanan Aldi, panas sekali rasanya. Semua siswa yang kebetulan lewat terpukau menyaksikan pemandangan drama itu.
“Apa salahku?” Aldi memasang muka bingung seraya mengangkat kedua telapak tangannya ke atas.
“Dasar, Playboy!” Ayu berjalan meninggalkan Aldi yang masih bingung, Dina menyusul di belakangnya
“Ay, apa salahku?”
“Pikir saja sendiri, Playboy!”
Mereka berjalan terus, lalu menaiki anak tangga menuju kelas mereka yang ada di lantai dua, sebelah kelas Aldi. Sedangkan Danton Paskibra beralis tebal itu masih berdiri mematung di lapangan basket. Mungkinkah hadiah tamparan yang diterimanya dari Ayu disebabkan oleh Salya?
_________________________________________________________
Pojok Kata
Diantos pokoka mah (Bahasa Sunda) Ditunggu pokoknya