Kelebihan Milik Bangsa Omes

1443 Kata
Dalam sekejap Ocong dan Senja sudah berada di lapangan tengah, sebuah tempat yang biasa dijadikan tempat berkumpul siswa jika ada pengumuman yang disampaikan oleh pihak sekolah, baik jenjang SMP maupun SMA. Hantu bungkus itu mengajak Senja untuk duduk di pinggir lantai keramik di belakang ring basket.  Posisi lantai yang lebih tinggi sekitar tiga puluh sentimeter membuat posisi duduk mereka mengulurkan kaki turun ke permukaan lapangan basket. “Pasti seru ya kalau pagi atau siang di lapangan ini, Bang? Ramai dengan siswa,” ujar Senja membuka pembicaraan. “Seru, seru banget malah. Kalau pagi ada lebih dari seribu siswa dan siang tiga ratus lebih, lumayan berisik,” jelas Ocong. “Waw, mengagumkan sekali. Sepertinya sekolah ini favorit ya, Bang?” “Iya, sekolah favorit untuk kaum manusia. Tidak untuk kaum astral seperti kita.” “Iyalah, Abang. Bangsa kita ‘kan enggak sekolah lagi.” Ocong dan Senja tertawa, lagi suara koor mereka terdengar unik di bangsa kaum astral. Tanpa mereka sadari sepasang mata dari makhluk berbadan hijau memandang dengan iri dari lantai dua. “Eh, katanya abang mau manggil Omes. Aku ‘kan mau mendengarkan cerita tentang Norma itu,” ujar Senja mengingatkan. Hantu Bungkus itu mengangguk. Suara bangsa Kuntilanak itu terdengar merajuk, tangannya menarik-narik kain kafan milik Ocong. Sesosok hijau muncul di hadapan mereka, Senja itu menyambut kedatangannya dengan sebuah senyuman. “Tuh, nggak perlu dipanggil sudah datang makhluknya.” Hantu bungkus berkafan pink itu juga menyambut bangsa Kolor Ijo yang baru datang itu dengan senyuman. “Maaf, kayaknya gue mendengar ada yang menyebut-nyebut nama gue,” ujar Omes seraya bersedekap. “Mulai banyak gaya dah si Kolor Ijo.” Ocong tertawa, membuat Omes yang tadi datang dengan percaya diri tiba-tiba down. “Eh, bukan banyak gaya ini, Bang. Gue merasa ganteng aja kalau berpose kayak gini, jangan salah mengambil kesimpulan.” Omes meng-klarifikasi apa yang dilakukannya. “Iya, Mes. Lu emang ganteng.” Ocong meledek, disambut tertawa kecut Omes. “Udah nggak usah dibahas, Bang. Nanti malah menyebabkan ketampananku sirna," kata makhluk berkolor Ijo itu. "Ngomong-ngomong ada apa ‘ni nyebut-nyebut nama tadi?” “Begini, Mes. Barusan kita bertemu dengan Norma di taman bawah pohon mangga. Senja pengen tahu cerita lengkap tentangnya. Biasanya ‘kan lu masalah yang kayak gini ahlinya.” “Norma, Bang?” Hantu berbau pesing itu mengernyitkan dahi. “Iya, Norma. Hantu bocah di komplek gedung dua.” “Oh iya dia. Maaf, terlalu banyak cerita yang ada di otak jadi rada lemot ni,” seloroh Omes. “Emang lu masih punya otak, Mes?” guyon Ocong, disambut tertawa mereka bertiga. Koor tertawa yang tercipta dari mereka bertiga lebih unik lagi, ditambah suara tertawa Omes yang membahana. “Sebentar, aku memanggil ingatan tentang Norma dulu.” Bangsa Kolor Ijo itu tiba-tiba memasang wajah serius, dia duduk bersila di permukaan lapangan basket dengan telapak tangan tertelungkup memegang lututnya. Sekitar dua menit selanjutnya dia membuka mata. “Udah ingat, Mes?” kata Ocong dengan tak sabar. “Pastilah, Bang. Sebuah kelebihan bangsa Kolor Ijo adalah bisa mengetahui cerita yang bahkan belum diceritakan sama sekali oleh makhluk Astral. Jadi pertanyaannya seharusnya adalah bukan udah ingat, tetapi udah dapat belum.” Omes tersenyum. “Hebat, berarti lu juga tahu kisah hidup gue dan Senja pada msaa lalu walau belum diceritakan?” “Iya, Bang. Asal gue tahu wajah dari yang mau gue cari tahu ceritanya, Bang.” “Kayak gimana itu cara kerjanya, Mes?” “Sederhananya gini, Bang. Prinsip kerjanya hampir sama dengan browser, aku search cerita yang aku butuhkan di sana. Data-data yang tadi gue cari tinggal baca deh. Gampang sekali.” “Waw, kayak google ya?” celetuk Ocong.  “Semacam itu, tapi berbedanya adalah dalam browser gue file yang dicari sudah dipastikan valid. Tidak bercampur dengan berita hoax kayak di internet.” “Mes, jujur ya, aku nggak ngerti bahasa itu, browser, search apalagi tadi tuh, google?” Senja garuk-garuk kepalanya yang tak gatal. "Nanti aku jelaskan tentang itu,” ujar Ocong seraya menatap Senja penuh arti. Sebenarnya Hantu Bungkus itu agak heran karena Kunti tidak mengetahui nama-nama yang disebutkan tadi, padahal dia kan hobi baca buku? “Mau gue ceritakan dulu tentang istilah-istilah tadi atau lanjut cerita tentang Norma?” Omes memastikan. “Lanjut aja dulu, Mes.” Lampu senter menyorot random membelah kegelapan yang tersisa antar gedung dua dan gedung tiga. Sorot itu mengganggu hasrat Ocong mendengarkan cerita Omes. “Kayaknya gagal ‘ni mendengar cerita,” ujar Ocong seraya menatap cahaya yang memancar lewat  senter. “Siapa itu, Bang?” ujar Senja sambil ikut melihat ke arah cahaya itu. “Biasanya yang suka ke belakang jam segini itu dua orang, kalau nggak si Mandra ya Bang Hasan.” “Mereka siapa, Bang?” “Penjaga malam sekolah. Sebenarnya ada empat orang penjaga sekolah, cuma mereka jaga bergantian. Si Mandra, Bang Hasan, Bang Ali dan Bang Lukman. Tapi yang biasanya suka patroli keliling gedung tiga itu ada dua orang, si Mandra dan Bang Hasan. Biasanya kalau Bang Lukman itu kalau patroli ya sampai ke pohon mangga aja, Bang Sali biasanya lebih memilih stay di lapangan tengah aja.” Senja mengangguk-angguk, dia mencerna apa yang dijelaskan oleh Hantu Bungkus berwarna pink polkadot di depannya itu. Terdengar suara bercakap-cakap dari taman sekolah, sepertinya dari bawah pohon mangga “Suara itu jarang sekali kudengar di sekolah saat malam,” ujar Ocong. “Penjaga malam baru kali, Bang,” celetuk Omes. “Bukan, kalau nggak salah dengar itu seperti suaranya Aldi dah.” Suara Ocong terdengar tak pasti. “Waw, Aldi. Siswa beralis tebal itu ke sekolah jam segini, kita ke sana yuk, Bang,” ajak Senja. “Boleh. Tapi janji jangan ganggu mereka, jangan menampakkan wujud.” “Siap, bosque.” “Mes, kita lanjut nanti ya.” “Okey sip, Bang. Nggak masalah." Omes mengangkat kedua jempol tangannya ke atas. “Ayolah, Bang.” Senja bersuara manja sambil menarik-narik kafan Ocong, dia nampak tak sabar. “Ayo pegangan.” Dalam sekejap mereka sudah ada kembali di taman bawah pohon mangga. Nampak Aldi dan Bang Lukman di sana, mereka sepertinya sedang mencari sesuatu. “Lu yakin novel ketinggalan di sini, Al?” tanya Bang Lukman. “La iya, Bang. Beneran di sini, di bangku ini. Apa udah ada yang ke sini ya?” “Kalau manusia kayaknya belum ada dah, nggak tahu kalau makhluk yang bukan manusia.” Bang Lukman tertawa. “Maksud Abang hantu?” “Nggak perlu diperjelas, bisa aja ‘kan itu novel dipinjam Miss Kunti” “Bang Lukman kalau cerita suka ngaco.” “Ya kali, Al. Lu lagi udah mau jam empat pagi kayak gini  datang ke sekolah cuma mau ngambil novel ketinggalan.” “Gue baru ingat, Bang. Kalau ngambilnya pagi, gue khawatir keburu ada yang nyomot.” “Sekarang aja udah nggak ada, Al.” Aldi menggaruk-garuk kepalanya, dia sepertinya mulai tidak yakin dengan ingatannya sendiri. Novel itu sangat berharga baginya karena pemberian dari seseorang yang sangat istimewa di hatinya. Dia memaksakan untuk datang ke sekolah dalam jam yang tidak wajar. Hantu Bungkus dan Kuntilanak itu memperhatikan apa yang dilakukan dua manusia itu dari kejauhan. Ocong berbisik ke Senja. “Novelnya masih ada di kamu ya?” tanya Ocong. “Masih, Bang.” Senja mengeluarkan sebuah buku dari saku pakaiannya. “Astaga, aku baru tahu bangsa Kuntilanak punya kantong di bajunya.” “Banyak hal yang masih dirahasiakan, Bang.” Senja tersenyum untuk menanggapi kalimat Ocong, “Salut dah buat bangsa Kuntilanak. Kamu mau memberikan novel milik Aldi?” ujar Ocong seraya menatap dua orang manusia yang berdiri sekitar lima meter di depannya. “Iya, kasihan juga dia bela-belain ke sekolah jam segini, cuma mau ngambil novel aja.” “Kamu simpan aja di tempat yang kira-kira belum dicari.” “Gimana kalau disimpan di bangku itu, Bang?” Senja menunjuk bangku yang berada di bawah pohon mangga yang satunya lagi. “Ide bagus, sini aku bantu. Kamu masukkan novelnya ke ikatan tali pocongku,” Ocong menawarkan bantuan. Senja mengangguk, dia menyelipkan novel milik Aldi di ikatan tali pocong Hantu Bungkus itu, dalam sekejap buku itu sudah ada di bangku yang dimaksudkan. Ocong mengunakan kekuatan teleportasinya walau dekat. Ocong naik ke atas dahan pohon mangga di atasnya, lalu melompat di atasnya. Apa yang dilakukannya membuat daun-daun berguguran. Sontak penjaga malam yang bersama Aldi itu mengarahkan sorot senternya ke arah daun-daun yang berjatuhan itu karena terkejut. “Nah itu, kayaknya buku lu dah, Al.”  Bang Lukman datang menghampiri buku itu lalu menunjukannya ke Danton Paskibra itu. Aldi menggaruk kepalanya, dia tidak mengerti mengapa posisinya berpindah ke bangku pohon mangga yang lain. Dia yakin sekali novelnya tertinggal di bangku di mana dia biasa melewatkan sore.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN