Sesosok anak kecil berambut poni melangkah mendekati Ocong dan Senja yang sedang bercengkerama di bawah pohon mangga, kehadirannya tidak disadari oleh dua sejoli yang sedang asyik itu.
“Awas ada si Dora, Om!”
Terdengar teriakan Tuyul Botak entah dari mana asalnya. Hanya terdengar suaranya saja, tetapi makhluknya tidak kelihatan.
Ocong menoleh dan mendapati sesosok makhluk anak kecil melangkah menghampirinya, di bagian pelipisnya nampak merah lebam. Hantu Bungkus itu sebenarnya sering melihat makhluk ini namun dia belum pernah sedekat ini dengannya. Dia mengetahui nama makhluk ini adalah Norma, Neneng pernah memberitahukannya dulu.
“Halo, Norma. Ayo ke sini,” ujar Ocong dengan memodifikasi suaranya supaya cocok untuk anak kecil.
Makhluk itu menghentikan langkahnya lalu berdiri mematung, matanya memandang hantu bungkus itu dengan tajam.
“Ayo kesini, Jangan takut, Norma,” kata Hantu Bungkus itu lagi.
Senja ikut memanggil, seraya melambaikan tangannya ke Norma. Makhluk kecil itu berlari ke arah Senja lalu memeluknya, dia menangis tiba-tiba. Tangisannya yang keras membuat Ocong dan Senja bingung.
“Hey, ada apa?” ujar Senja dengan tatapan tak mengerti ke arah Ocong.
“Aku takut, Tante. Papaku galak sekali, aku pasti dimarahi setelah ini” ujarnya, tangisan keras terdengar lagi setelahnya.
Neneng tiba-tiba hadir di samping Senja, mungkin saja tangisan itu mengganggunya. Neneng berjongkok di hadapan Norma.
“Mengapa? Papa kamu marah lagi?” ujar Neneng.
Norma memandang Hantu Bungkus perempuan di depannya, sepertinya dia mengenali sosok bermata merah tersebut. Hantu kecil itu mengalihkan pelukannya ke arah Neneng.
“Tante .... ” Norma menangis lagi sambil memeluk erat Pocong Neneng.
“Sudah ... sudah ... nggak usah dipikirkan lagi. Itu ‘kan cerita lama, nggak usah diingat-ingat lagi,” ujar Neneng. Dia membelai kepala Norma dengan menggosokan kepalanya ke kepala mahluk kecil itu.
Dua makhluk botak berlari ke arah mereka, lalu berdiri di belakang Ocong. Nampaknya mereka ingin tahu apa yang terjadi dengan makhluk berponi dan berapakaian TK itu, hanya saja mereka takut dengan Neneng.
“Tante, temani aku main yuk,” ujar Norma sambil menarik-narik kain kafan Neneng.
“Mau main di mana, Norma?”
“Tante mau temani aku main masak-masakan?”
“Tante punya ide lebih baik dari pada permainan itu, Norma.”
“Apa itu, Tante?”
“Bagaimana kalau kita main ke komplek pemakaman di tikungan itu. Seminggu ini ada tiga penghuni baru, salah satunya adalah anak-anak seusia kamu. Kita ke sana yuk, pasti seru.”
“Ayo, Tante. Aku jadi nggak sabar,” ujar Norma sambil tersenyum, muka mendungnya berubah menjadi lebih cerah.
Norma kembali menarik-narik kain kafan Neneng. Ada raut khawatir di wajah Neneng dengan kelakuan anak kecil ini, dia takut Norma salah tarik saat memaksanya seperti ini. Jika saja dia menarik ikatan di tubuhnya bisa berantakan semua belulangnya, akan menjadi PR banget untuk dirinya supaya bisa kembali normal setelah tulangnya berantakan.
“Coba peluk badan Tante, Norma. Kita akan langsung menuju ke sana menggunakan kekuatan teleportasi bangsa Pocong,” ujar Neneng yang lalu diikuti oleh Norma permintaannya itu. Dalam hitungan detik tubuh mereka tidak lagi nampak di depan Ocong dan Senja.
“Pergi juga tuh anak kecil rese,” ujar Unyu sambil keluar dari balik badan Senja.
“Mengapa kalian sembunyi, Nya, Nyu?” ujar Senja.
“Malas banget sama dia, Tante. Biasanya dia kalau lihat kami niat jahilnya langsung naik, pasti setelahnya celana-celana kami yang jadi korban.”
“Celana kalian?”
“Iya, Tante. Si Dora itu hobi banget melorotin celana, ‘kan malu jika dilihat yang lain. Emang kita tuyul apaan bisa dilecehkan seperti itu,” ujar unyu tersungut.
Mimik muka Tuyul itu memicu gelak tawa Pocong dan Senja. Sebuah kombinasi yang menarik sekali di saat mereka melakukan koor tertawa seperti itu, Ocong tertawanya mengorok seperti suara babi, sedangkan Senja yang notabene adalah bangsa Kuntilanak jika urusan tertawa mungkin juaranya, tertawanya melengking tinggi yang bisa membuat telinga tuli.
“Eh, ngomong-ngomong mengapa kalian menyebutnya Dora? Bukannya namanya Norma?” ujar Senja ingin tahu.
“Dia itu mirip Dora, Tante. Makanya kita memanggilnya seperti itu,” jawab Anya.
“Dora, itu yang di tivi, Tante. Mau ke mana kita ....” Unyu menimpali kalimat kakaknya dengan menirukan karakter Dora yang pernah dilihatnya di televisi pos security di bagian depan gedung satu.
Senja dan Ocong melongo, nampaknya mereka tidak mengerti dengan yang ditirukan oleh Unyu.
“Sudahlah, Om dan Tante pasti udah lama banget nggak nonton tivi,” kata Unyu tersungut.
“Yang aku ingat terakhir nonton tahun sembilan delapan, setelah itu akhirnya aku juga mati karena kerusuhan yang terjadi tahun itu,” kenang Ocong.
Mata Hantu Bungkus itu menerawang ke angkasa, melewati daun-daun pohon mangga yang membentuk siluet.
“Sudahlah, nggak usah diingat hal itu. Abang ambil hikmahnya aja, dengan Abang meninggal di tahun itu akhirnya kita bisa bersahabat malam ini,” ujar Kuntilanak itu seraya mengusap-usap bahu Ocong.
“Maafkan aku, Senja. Aku kadang tiba-tiba menjadi sentimentil jika ingat peristiwa itu.” Terlihat mata Hantu bungkus itu berkaca-kaca.
“Lepaskan aja semuanya, Bang. Mulai sesuatu yang baru, cerita baru dengan makhluk baru,” ujar Senja. Dia nampak tersenyum, terlihat lewat sela rambutnya yang menjuntai menutupi wajah yang khas.
“Iya, Om. Benar tuh, kata Tante Kunti. Kalau Om tidak meninggal mungkin nggak akan kenal dengan kami Duo Tuyul yang menggemaskan.” Kalimat Anya diikuti oleh gelak tawa dirinya dan adiknya.
“Terima kasih, Senja. Juga terima kasih untuk kalian, Anya dan Unyu yang menyebalkan.”
“Menggemaskan, Om. Bukan menyebalkan.” Salah satu tuyul itu protes.
“Iya, menggemaskan hingga pengen cubit pakai tang.”
“Astaga, seram amat, Om” ujar Anya, adiknya melongo membayangkan dirinya dicubit menggunakan tang.
“Cabut yuk, Bang. Sebelum kita dicubit pakai tang,” ujar Unyu. Dia menarik-narik tangan Anya supaya segera pergi.
“Ya udah, kalian cabut sana, sebelum tang mampir ke tubuh mini kalian.”
Ocong menakuti mereka dengan memperbesar matanya, setelah itu matanya dibuat merah menyala seolah sedang marah. Apa yang dilakukannya sontak membuat kedua makhluk itu lari tunggang langgang meninggalkan mereka. Terdengar lagi tertawa Ocong dan Kunti bersamaan, sebuah kombinasi yang indah menurut makhluk astral yang mendengar, tapi tidak demikian jika ada manusia yang mendengarnya, bisa rontok semua bulu yang ada di badan.
“Ngomong-ngomong Abang tahu cerita si Norma hingga seperti itu? Sepertinya dia ada trauma yang dibawanya sampai sekarang. Aku sih menyimpulkan sepertinya dia meninggal karena perlakuan Papanya.”
“Aku nggak tahu, Norma itu makhluk introvert yang susah didekati. Satu-satunya yang dekat dengannya hanyalah Neneng. Pasti dia tahu kisah anak itu.”
“Siapa lagi kira-kira yang tahu dengan cerita Norma, Bang?”
“Mungkin si Omes, biasanya bangsa Kolor Ijo punya kemampuan membaca hal-hal yang pernah terjadi dengan makluk lain.”
“Si Omes yang dulu pernah ketemu itu, Bang?”
“Iya, yang dulu pernah ketemu di tangga kelas itu.”
“Iya, aku ingat itu. Dia waktu itu protes saat aku bilang bangsa Kolor Ijo m***m semua.”
“Iya, itu dia.” Ocong mengangguk melengkapi kalimat pendeknya.
“Aku ingin dengar cerita tentang Norma, Bang, Yuk kita ketemu Omes atau Abang panggil dia, bisa kan?”
“Bisa aja, tapi dia biasanya nggak mau jauh dari rumahnya, karena kekuatannya ada di sana. Jika mau dipanggil paling di depan kelas yang dekat ring basket itu. Kamu mau ke sana?”
“Ayo, Bang.”
“Okey, pegangan. Kita on the way.” Kunti memegang kafan milik Ocong lalu dalam sekejap mereka sudah berpindah ke tempat yang tadi disebutkan.