Hantu Ketiga

1306 Kata
Senja duduk di bawah pohon mangga sambil membaca sebuah novel, sesekali daun kering pohon itu jatuh menimpanya, tapi dia tidak memperdulikannya. Dia asyik membenamkan dirinya di lembar demi lembar buku cerita tersebut. Sesosok hantu yang terbungkus kafan pink polkadot, duduk di sebelahnya tanpa di sadari oleh Senja. Dia memandang lekat sosok yang sedang asyik membaca itu. Wajah bangsa Kuntilanak ini terlihat sangat berbeda dari biasanya yang selalu tertutupi rambut panjang, kali ini wajahnya terlihat tanpa helai rambut yang menjuntai. “Ciyeee, Om Ocong pedekate ke Tante Senja.”     Terdengar suara Tuyul Botak mengagetkan, Ocong menoleh ke arah Anya yang terkekeh dari kelas ujung dekat tempat sampah sekolah. Hantu bungkus itu kesal karena merasa terganggu. Senja terkejut saat menyadari ada Ocong di sampingnya. “Hey, Kamu ada di sini, Bang?” ujar Senja dengan wajah heran. “Iya, maaf ya kalau aku mengagetkan kamu.” “Sejak kapan Abang ada di sini?” “Kurang lebih sepuluh menitan deh, tadinya mau menyapa cuma khawatir mengganggu kamu yang sedang asyik baca”. “Sorry, aku jadi terkesan mengabaikan Abang. Mohon maaf ya, Bang. Begitulah aku jika pegang novel, selalu terhanyut. Terlebih novel ini menarik sekali. Dari judulnya aja udah keren, Jatuh Hati Tanpa Jeda, begitu dibaca isinya lebih keren lagi.” “Siapa author-nya?” Senja membalikkan novel yang ada di genggamannya itu untuk melihat nama penulisnya. “Kingdenie,” ujar Senja. Pocong mengangguk perlahan mendengar nama penulis novel itu. “Abang kenal dia?” “Nggak, cuma pernah juga baca buku dia secara nggak sengaja dulu. Novel yang lain karyanya adalah Arjuna Item & Makhluk Jenong. Aku pernah baca novel itu, tadinya  aku berpikir itu tentang dunia kita ternyata bukan. Ampun dah, bukunya bucin abis. Eh, betewe, kamu baca novel itu dapat dari mana?” “Aku menemukannya di bangku ini, kayaknya novel ini milik siswa ganteng yang suka lupa waktu saat membaca di sini, Bang.” “Siswa ganteng? Aldi maksudmu?” “Aku enggak tahu namanya. Kan belum sempat kenalan, Bang.” “Kamu yakin dia mau kenalan denganmu?” “Siapa yang akan menolak kenalan dengan makhluk cantik sepertiku, Abang Ocong. Aku suka sekali alis tebalnya yang tersusun rapi itu.” Senja tertawa terkekeh lalu suaranya melengking tinggi. Ocong ingin sekali menutup telinganya, jika saja dia bisa melepaskan tangannya dari kafan. Aneh sekali tertawa bangsa Kunti ini jika sedang tertawa bahagia. “Iya, kamu cantik dalam versi hantu. Berdasarkan versi Aldi yang notabene adalah manusia, kamu itu tidak cantik tapi menyeramkan, Senja.” “Masa sih, Bang?” kata Kuntilanak itu sambil tertawa lagi. “Kalau kamu tidak percaya, bolehlah kamu menampakkan wujud kamu di depan dirinya sesekali. Aldi kadang sampai Isya di sekolah jika sedang gila baca, kesempatan kamu tuh menampakkan wujud. Jika dia nggak kabur atau pingsan kamu bisa kenalan dengannya.” “Iya sih, aku juga tahu sebenarnya itu," kata Senja sambil tersenyum kecil. "Memangnya dia hobi banget baca ya, Bang?” “Banget, dia sering lupa waktu baca novel.” “Kayaknya aku dan dia cocok sekali, Bang. Sama-sama hobi baca.” Senja tertawa melengking lagi. “Iyaaaaaaa.” Ocong memasang muka cemberut karena tidak suka dengan apa yang didengarnya. Dia bete. Mengapa sosok di depannya membahas Aldi terus? Senja tertawa heran melihat kelakuan Ocong, dia tidak mengerti mengapa makhluk pink di depannya bertingkah seperti itu. Senja menggodanya dengan menusukkan telunjuknya ke pinggang Ocong, membuat hantu bungkus itu terkaget-kaget. Ocong melompat menjauhi Senja yang masih berusaha menusuk-nusukan telunjuk ke pinggangnya. Sesosok putih bermata merah mendekati mereka, lalu berdiri di antara Ocong dan Senja yang sedang duduk di bangku taman. Mereka kaget melihat kedatangannya, terlebih Senja yang baru pertama kali bertemu dengannya. “Aku perhatikan kamu makin keterlaluan, Mas,” ujar sosok berkafan putih itu. Matanya yang merah menatap tajam ke arah Ocong. “Maksud kamu apa, Neng?” Ocong balas menatap tapi dengan ketidak mengertiannya. “Sejak datang makhluk Kuntilanak ini, kamu makin keterlaluan, Mas.” “Aku nggak ngerti maksud kamu, Neng.” “Aku jelaskan supaya kamu mengerti, Mas. Kamu keterlaluan semenjak Kuntilanak ini datang, nggak pernah sekalipun berkunjung ke tempatku.” Ocong terdiam mendengar kalimat Pocong Neneng, dia tidak tahu apa yang harus diucapkannya. Berdiri di depan kedua sosok perempuan seperti ini tidak pernah dibayangkannya sejak menjadi Pocong. Dia mengakui Neneng memang pernah mengisi hari-harinya dahulu, membuat malam menjadi indah, hanya sayang Neneng itu termasuk Pocong yang tidak bisa move on dari masa lalunya, dia selalu menceritakan sosok hantu yang pernah mengisi hari-harinya, Drakula. Itulah alasan Ocong akhirnya menjauh darinya, setelah dijauhi ternyata Neneng merasa ada sesuatu yang hilang, yaitu kebersamaan yang sering dilewati berdua dengan Ocong setiap malam. Senja adalah bangsa Kuntilanak yang akhirnya hadir menggantikan hari-hari Ocong yang hampa setelah dia menjauh dari Neneng. “Senja, perkenalkan ini adalah Neneng, dia temanku di sini.” Ocong memperkenalkan sosok berambut panjang di depannya kepada Hantu Bungkus perempuan itu. “Halo, Kak. Panggil aja aku Senja,” ujar Kunti sambil tersenyum. Dia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, namun ditarik kembali saat menyadari Neneng adalah bangsa Pocong yang tentu saja tangannya terikat dalam kafan. Neneng menampakkan wajah tidak bersahabat, mulutnya tertutup rapat, matanya merah menyala. Mata seperti itu menunjukan dirinya sedang dalam kondisi marah. “Kelakuan hantu zaman milenial, nama Senja, itu nama asli, Kun?” ujar Neneng sambil menatap sinis ke arah Senja. “Bukan, Kak. Aku lupa nama asliku sebenarnya, jadi terpaksa menggunakan nama itu.” “Hmm, sudah kuduga itu nama palsu. Mulai sekarang aku beritahu kamu, jangan pernah dekati lagi Mas Jeff.” “Mas Jeff? Siapa dia?” Kunti mengernyitkan dahinya tak mengerti. Lalu dia menatap Ocong mencari penjelasan darinya. “Itu Pocong pink di depan kamu itu namanya Mas Jeff. Jangan pernah dekati dia lagi, mengerti kamu, Kun? Tidak ada sejarahnya bangsa Pocong bisa bersatu dengan Bangsa Kuntilanak.” “Begini ya, Dik Neneng, biar kuperjelas masalah ini. Di antara kita tidak ada hubungan apa-apa. Yang pernah terjadi dulu itu tidak usah dibahas lagi, karena memang tidak sempat terjadi apa-apa di antara kita. Kita cuma teman dulu, sekarang dan seterusnya.”  Pocong berusaha mengambil alih percakapan, dia tidak mau Pocong Neneng mengintimidasi Senja yang akhir-akhir ini telah membuatnya nyaman. “Dulu Mas Jeff ngomong apa saat kita bersama di kuburan baru di tikungan jalan itu?” “Sudah, jangan diingat lagi, Neng. Cerita itu sudah basi dan hilang dimakan usia.” Neneng diam, ada raut kecewa di wajahnya. “Aku pikir aku ini istimewa di hidupmu, Mas Jeff,” ujarnya lirih. “Pernah, kamu pernah menjadi istimewa, hanya saja itu sudah berlalu. Kamu lebih memilih masa lalu kamu yang masih terbenam dalam otak dari pada menjalani cerita baru denganku. Kamu lebih memilih Drakula yang entah ada di mana, dari pada denganku yang selalu ada untukmu, Neng.” Neneng diam, mungkin dia kecewa atau menyesali dengan apa yang terjadi. Entahlah, hal itu tidak penting lagi untuk Ocong. “Ya sudah, jika aku memang sudah tidak berharga lagi di hidupmu, Mas Jeff,” ujar Neneng, sedetik selanjutnya dia sudah menghilang menggunakan teleportasinya, entah ke mana. Pocong kembali duduk di tempat dia duduk sebelumnya, Senja mengikutinya. Dia meletakan novelnya yang tadi masih ada digenggamannya. “Sumpah aku jadi nggak enak lho jadi hantu ketiga di antara kalian, Bang.” “Neneng itu bukan siapa-siapa aku, Senja. Dulu memang aku merasa ada kedekatan dengan dia, tapi bete dengannya saat dia selalu bercerita tentang bangsa Drakula yang jadi mantannya. Padahal dia itu selalu mengejar aku lho, sejak masih hidup dia sudah berusaha menghancurkan hubunganku dengan Meylan. Setelah jadi hantu dia selalu mengejarku ke mana saja, aku pindah tempat dia selalu mengikuti. Saat aku beri kesempatan untuk hadir lebih jauh dan lebih berharga dia sia-siakan.” “Jangan-jangan dia itu jadi hantu penasaran karena rasa cintanya ke Abang.” “Nggak tahu deh, nggak penting menurutku. Udah deh jangan ceritain dia, cerita yang lain saja.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN