Motor scoopy Aldi berhenti di sebuah warung tenda yang ada di pinggir jalan sebelah kiri. Salya menurunkan kakinya dari step, saat Aldi menstandarkan motornya di samping motor pengunjung lain warung itu.
“Mau ngapain kita di sini, Kak?” Salya berdiri di samping motor menunggu Aldi melepas helm half face-nya.
“Biasanya apa yang akan dilakukan manusia-manusia lapar seperti kita di warung tenda seperti ini?” ujar Aldi dengan sebuah senyum kecil di wajahnya.
“Numpang foto untuk update status?” jawab Salya sekenanya.
“Itu adalah sebuah ide bagus, Salya. Skuy, kita ke dalam.”
“Serius, Kak? Aku sih pengen makan kalau di tempat kayak gini.” Sebuah senyuman kecil melengkap kalimat gadis itu.
“Iya, numpang foto untuk update status sambil makan, gimana?”
“Ide bagus, Kak.”
“Skuy!”
Aldi mengajak Salya masuk ke warung tenda, kedatangan mereka disambut senyum ramah empunya warung tersebut. Hanya ada sepasang muda-mudi yang sedang makan di sana. Sang pemuda mengenakan pakaian serba hitam, topi yang digunakannya dipasang terbalik dengan bagian depan di belakangnya, sedangkan sang pemudi yang ada di hadapannya menggunakan pakaian serba denim berwarna biru, bagian depan topinya menutupi wajahnya. Sekilas Aldi mengenal wajah siapa di balik topinya, tapi dia tidak ambil peduli.
Seorang pelayan warung tenda datang menghampiri Aldi dan Salya yang baru saja duduk, di wajahnya tersemat senyum ramah.
“Mau makan apa, Mas?” ujar pelayan itu, dia menggunakan baju putih bertuliskan nama sebuah cafe terkenal.
“Aku mau ayam goreng bagian sayap, Mas. Salya mau makan apa?”
“Ayam goreng bagian sayap juga, Kak.”
“Ayam goreng sayap dua ya, Mas. Nasinya mau yang biasa atau nasi uduk?” kata pelayan itu sambil mencatat pesanan mereka.
“Aku nasi uduk, Kak.”
“Okey, nasi uduk dua. Minumnya kamu mau apa, Salya?”
“Teh manis panas, Kak.”
“Teh manis panas satu dan teh tawar panas satu ya, Mas,” ujar Aldi sambil menoleh ke arah pelayan itu.
“Baik, ayam goreng bagian sayap dua, teh manis panas satu, teh tawar panas satu. Ditunggu ya pesanannya.”
Pelayan itu berlalu meninggalkan meja mereka, dia terlihat bicara dengan pelayan bagian menggoreng.
Dua buah teh datang meramaikan meja mereka beberapa menit berselang, uap mengepul dari gelas-gelas teh yang ada di depan mereka.
“Kamu itu jangan sering-sering minum yang manis-manis, Salya?”
“Lho mengapa, Kak? Khawatir diabetes ya?”
“Nggak bukan itu, kalau kamu sering minum yang manis-manis nanti kamu akan kelewat manis.” Aldi tersenyum saat menyelesaikan kalimatnya, Salya tersenyum.
“Ya ampun, Kak. Aku tiba-tiba mau terbang di-bucin-in begitu.” Salya tersipu.
“Jangan sekarang terbangnya. Kamu ‘kan belum makan, nanti terbangnya nggak akan jauh.”
“Oke deh, makan ayam goreng dulu ya, Kak.” Sebuah senyum manis terlihat di wajah gadis SMP itu.
“Iya dong. Sekalian nanti kamu pakai sayap ayam, supaya terbangnya lebih mengangkasa.”
“Kakak bisa aja, lalu Kakak mengapa pesannya teh tawar? Bukan teh manis aja?”
“Aku sengaja pesan teh tawar. Buat apa pesan teh manis? Jika ada sosok manis di hadapanku malam ini.”
“Waduh, dua kali aku di-bucin-in malam ini. Bisa sampai langit ketujuh ni aku terbang, Kak.” Salya tersipu lagi.
Sepasang mata dari meja seberang mencuri pandang beberapa kali ke arah Aldi dan Salya yang sedang berbincang. Ada api cemburu melihat keseruan antara kedua insan muda itu. Pelayan mengantarkan pesanan mereka, lengkap dengan lalapan dan sambal. Sebuah kata mempersilahkan terdengar sebelum pelayan itu berlalu meninggalkan mereka.
“Aku sering makan di sini, Salya. Terlebih saat pulang telat seperti ini,” ujar Aldi sambil mendekatkan ayam goreng miliknya.
“Oh, pantes. Kayaknya pelayannya sudah kenal Kakak.” Salya juga mendekatkan piring miliknya.
“Mungkin karena sudah sering banget ke sini, biasanya malam minggu saat pulang telat dari sekolah aku makan di sini. Tentunya dengan tidak masih menggunakan seragam sekolah seperti ini.”
“Biasanya Kak Aldi pulang telat mengapa? Apa yang Kakak lakukan di sekolah?”
“Nggak ada, aku enggak melakukan apa-apa. Hanya membaca novel sepulang sekolah dan lupa waktu, akhirnya bakda Magrib baru pulang dari sekolah. Malah aku pernah pulang Isya karena sehabis salat Magrib di mushala malah lanjut baca lagi.”
“Kakak baca novel di mana biasanya?”
“Pohon mangga.”
“Pohon mangga yang di taman itu, Kak?” Aldi merasa ada sesuatu di kalimat yang diucapkan oleh Salya itu.
“Iya, ada apa memangnya di sana?” Aldi mengernyitkan dahinya.
“Saranku jika baca novel sampai lewat jelang Magrib jangan di situ, Kak.”
“Mengapa? Ada apa memang di sana?’ Aldi menatap Salya, dia mengulangi lagi pertanyaannya. Danton Paskibra itu merasa gadis berkaca mata di depannya itu ada yang ingin disampaikan lewat kalimatnya.
“Mmm, gimana yah?” Salya berpikir sejenak, “nggak sih, Kak. Cuma di sana itu ‘kan mulai gelap jam segitu. Baca novel dengan pencahayaan kurang akan merusak mata, Kak.”
Aldi memandang Salya dalam, dia merasa masih ada yang disembunyikan darinya. Sepertinya gadis ini tahu sesuatu tentang apa yang ada di pohon mangga taman. Aldi melanjutkan makan sambil tetap bertanya-tanya dalam benaknya.
“Terima kasih sudah repot-repot mengantarkanku pulang ya, Kak,” kata Salya mengganti topik pembicaraan.
“Lho? Siapa yang mengantarmu pulang?”
“Kakak ‘kan katanya mau mengantarku pulang?” Salya mengernyitkan dahinya, gadis itu tidak mengerti dengan maksud kalimat sosok di depannya.
“Iya benar. Aku bukan sudah mengantarmu pulang, tapi akan mengantarmu pulang, Salya.”
“Susah ngobrol dengan Kakak.” Salya memasang wajah cemberut, Aldi tertawa melihatnya.
“Maafkan aku, Salya. Cuma bejanda.”
“Becanda Kak, bukan bejanda. Jangan diubah katanya.” Salya tersungut.
“Iya, maksudnya itu.”
Salya meneguk teh manis di depannya beberapa kali, nampaknya ada yang ingin disampaikannya sehingga dia menenangkan dirinya dengan minum.
“Aku ingat tadi sore, Kak. Waktu Mr. D memperkenalkan kita tadi, Kakak bilang sudah kenal aku. Jika boleh kutahu Kakak kenal aku dari mana?” ujar Salya sambil meminum lagi teh miliknya perlahan.
“Siapa yang tidak kenal dengan ketua OSIS SMP Teladan Bangsa, Salya Lova. Pastilah aku kenal.” Aldi melengkapi kalimatnya dengan sebuah senyum.
“Jadi Kakak kenal aku karena ketua OSIS?”
“Nggak juga sih. Sebenarnya aku mengenal kamu sebelum menjadi ketua OSIS, Salya.”
“Serius?” Salya menatap tajam, dia penasaran dengan apa yang akan diucapkan lagi oleh Aldi.
“Iya, aku suka iseng melihat-lihat mading SMP. Tak sengaja kulihat visi dan misimu saat mencalon ketua OSIS dengan foto kamu di atasnya. Sehari setelahnya foto kamu tersebar hampir di setiap sudut sekolah bersamaan dengan calon lainnya. Jadi mau nggak mau saat lewat aku harus melihat wajah kamu yang manis.”
“Aku harusnya kesal atau senang sih, Kak? Nada suara Kakak sepertinya kesal banyak melihat fotoku tapi di ujungnya ada bucin lagi.”
“Terserah kamu mau senang atau kesal, Salya. Satu hal yang pasti adalah aku senang akhirnya bisa mengenalmu lebih dekat.”
“Lebih dekat? Maksudnya gimana, Kak?”
“Ya, lebih dekat, “ Aldi menjengkali meja dengan jari telunjuk dan jempolnya, mulai dari dirinya menuju ke Salya. “Kita sekarang lebih dekat, hanya berjarak lima jengkal tangan saja.”
“Hmm iya, Kak. Iya," Salya terlihat menggelengkan kepalanya karena lagi-lagi itu hanyalah sebuah joking. "Betewe, aku juga senang akhirnya kita lebih dekat, Kak.”
“Maksudmu?”
“Seperti Kakak bilang tadi, sekarang kita hanya berjarak lima jengkal saja. Jujur, sebelumnya aku ingiiiiiiiiiiiiin sekali kenal dengan Kakak. Awalnya hanya melihat Kakak latihan paskibra di lapangan belakang, terus aku ingin tahu siapakah Danton paskibranya. Aku sempat kepo-in i********: Panca Karsa, ada foto yang menandai @Angkasa putra, aku mencari tahu siapa sih yang ditandai itu, ternyata Danton yang ingin kukenal namanya. Kakak boleh percaya boleh juga tidak dengan apa yang kulakukan setelahnya.”
“Apa tuh?” Aldi mengernyitkan dahi, pemuda itu mulai terseret cerita gadis di depannya.
Salya menunjukan foto-foto di galeri ponselnya hasil screenshot dari i********:, dia menunjukan beberapa foto Aldi sedang menggunakan atribut paskibra lengkapnya saat latihan dan lomba.
“Waw, aku tidak menyangka ada seorang fans di sini.” Aldi tertawa lebar memamerkan deretan giginya yang rapi, disambut dengan senyum malu-malu Salya.
“Maaf ya, Kak, jika aku lancang.”
“It’s okey, nggak apa-apa. Aku nggak keberatan kok, santuy aja. Sebentar ... ” Aldi membuka ponselnya dan mencari sesuatu di galeri fotonya. “Aku juga mempunyai ini.”
Salya tersenyum saat Aldi juga ternyata punya beberapa foto dirinya di galeri, salah satunya saat dia tertawa di depan teman-teman yang mendukungnya menjadi ketua OSIS.
“Iiih, foto dari mana itu?” ujar Salya, dia heran dari mana Aldi mendapatkan foto yang sama sekali tidak pernah beredar itu.
“Aku yang foto, itu waktu pengumuman ketua OSIS terpilih.”
“Aku tahu momennya, Kak. Cuma waktu itu aku nggak lihat ada Kakak kayaknya, apalagi sampai foto.”
“Aku foto dari jauh, menggunakan kamera DSLR.”
“Hmmm, niat banget sih, Kak.” Salya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
“Iya dong, niat banget mau dekat kamu, Salya.”
“Aku jadi takut dengan Kakak kalau seperti ini.”
“Lho, takut mengapa?”
“Aku takut halu lebih jauh.”
“Ya makanya jangan cuma halu, Salya.”
“Nah, ini makin aku nggak ngerti, Kak”
Percakapan mereka terus berlanjut sambil menikmati ayam goreng di piring masing-masing. Mereka tidak perduli dengan mata-mata yang bergantian menatap, apalagi yang menganggap Aldi dan Salya siswa tidak baik yang sedang dimabuk asmara. Hal itu mungkin disebabkan karena sudah malam masih di luar menggunakan seragam sekolah.