Waktu sudah menunjukkan jam lima lewat empat puluh lima sore. Siswa-siswa SMA Teladan Bangsa sudah lama pulang, guru-guru pun sudah beranjak ke rumahnya masing-masing sejak lima belas menit lalu.
Pak Hasan Arief, Kepala Sekolah SMA keluar dari ruangannya, lalu mengunci tempat kerjanya tersebut. Biasanya beliau memang selalu pulang terakhir.
Dia melihat Aldi yang masih asyik membaca novel di bawah pohon mangga di taman sekolah.
“Aldi, kamu belum pulang?” ujar Pak Hasan Arief.
Siswa beralis tebal yang sedang membenamkan dirinya di lautan imajinasi novel terkesiap. Nampaknya dia tidak mendengar apa yang diucapkan oleh kepala sekolah tersebut.
“Iya, Pak?”
“Kamu belum pulang jam segini? Ini sudah mau Magrib.”
Aldi menghampiri kepala sekolah yang sedang menjinjing tas itu, lalu mencium tangannya.
“Saya mau salat Magrib di sini, Pak,” ujar Aldi seraya melihat jam tangannya, “lima menit lagi azan.”
“Kalau begitu ayo ke depan, lebih baik kamu menunggunya di mushala saja. Di sini sudah sepi, tidak orang satupun.”
“Baik, Pak. Mari saya bawakan tasnya, Pak.” Aldi menawarkan jasa,
“Nggak usah, Al. Saya nggak repot kok. Ayo kita ke depan,” ujar Pak Hasan.
Kepala sekolah itu melangkah menaiki anak tangga memasuki lorong. Aldi mengikuti langkah Pak Hasan yang terkenal baik dan arif bijaksana ini. Sesuai sekali dengan nama yang diberikan oleh kedua orang tuanya, Hasan Arief.
Di lapangan tengah tersisa satu motor, motor Aldi. Dia sengaja pulang sehabis Magrib kali ini, karena memang sedang tidak ada hasrat untuk kembali ke rumah. Ada masalah di rumahnya yang membuatnya tidak kerasan. Ayah dan ibunya kerap bertengkar karena hal sepele, walaupun pemicunya bukanlah sepele menurut Ibundanya. Ayah Aldi sebulan lalu sudah mempunyai istri lagi, istri yang kedua.
“Saya duluan ya, Al,” ujar Pak Hasan pamit, dia menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari tempat motor Aldi diparkir.
“Hati-hati, Pak.”
“Baik, terima kasih. Kamu juga hati-hati ya, Al.”
“Terima kasih banyak, Pak.”
Rumah Pak Hasan Arif tidak terlalu jauh dari sekolah, katanya hanya sekitar lima menit perjalanan menggunakan mobil jika tidak ada kemacetan.
Sepeninggal Kepala Sekolah itu, Aldi menuju mushala yang ada di lantai dua. Dia menyalakan lampu mushala untuk mengusir gelap yang mulai menyelimuti sekitar. Mushala Hubbul Wathan ini hanya digunakan untuk aktifitas ibadah siswa saja, itulah mengapa tidak ada masyarakat sekitar sekolah yang menunaikan salat di sini.
Terdengar azan tak jauh dari Mushala di mana Aldi sedang berdiri di depan mimbar menunggu masuknya waktu Magrib. Aldi mengumandangkan azan menggunakan pengeras suara, sengaja dia melakukan itu agar jika masih ada siswa ataupun karyawan di sekolah bisa salat berjamaah dengannya.
Selesai azan, dia menjalankan salat sunnah qabliyah dua rakaat. Dia menunggu beberapa saat, barangkali ada yang naik ke mushala untuk salat berjamaah. Terdengar suara air keluar dari kran, nampaknya ada seseorang yang sedang mengambil wudhu.
“Alhamdulillah, jadi bisa berjamaah,” gumam hati Aldi.
Dia memasang telinganya memastikan yang sedang mengambil wudhu sudah selesai, saat menoleh ke arah pintu mushala, nampak seorang siswi berkaca mata dengan jilbab lebar tersenyum ke arahnya. Aldi sama sekali tidak menyangka bahwa Salya masih ada di sekolah setelah bertemu tadi waktu Ashar.
“Ikut jamaah ya, Kak Aldi. Tunggu aku siap-siap,” ujar Salya seraya mengeluarkan mukena dari tas ranselnya yang berwarna cokelat terang. Dia lalu mengenakan mukena berwarna biru lautnya itu. Aldi iqamah setelah memastikan Salya sudah siap salat berjamah.
Selesai salat Magrib, Aldi berzikir dan menjalankan salat sunnah badiyah dua rakaat. Selesai salat dia tidak melihat Salya di belakangnya, Ke mana dia? Tapi tasnya masih ada, tak jauh dari tempat dia salat tadi.
Sambil menunggu, Aldi mengecek ponselnya, ada sebuah panggilan tak terjawab dari kontak yang diberikan nama Ay. Sengaja dia memberi nama Ayu Sinta dengan nama kontak itu, Ay itu dalam bahasa Mandarin artinya adalah cinta, walaupun seharusnya menulisnya adalah ai, tidak menggunakan y tapi i.
“Sudahlah abaikan saja panggilan itu, tidak perlu ditelepon balik,” batin Aldi.
“Sudah selesai badiyah-nya, Kak?” Suara itu mengejutkan Aldi saat dia sedang berdialog dengan dirinya sendiri, dia menoleh ke arah suara itu berasal.
“Alhamdulillah sudah, kamu dari mana, Salya?”
“Jamku ketinggalan di WC.”
“Oh, kirain aku kamu pergi ke mana? Aku tadi sempat kepikiran jangan-jangan yang salat di belakangku tadi bukan kamu, tapi ....”
“Tapi apa, Kak? Hantu?”
“Memangnya hantu salat?”
“Ya nggak tahu, aku kan belum pernah menjadi hantu.”
“Ya kali, kamu pernah jadi hantu. Eh, betewe kamu mengapa jam segini masih ada di sekolah? Aku pikir sejak Asar tadi sudah pulang.”
“Tadi aku mencari sesuatu di ruang OSIS, eh malah kelantasan jadi beres-beres. Gara-gara saat mencarinya aku berantakin semua,” ujar Salya sambil tertawa.
“Yuk, kita pulang,” ajak Aldi.
“Ayo, tapi aku ada sedikit masalah ni, Kak. Motorku masa nggak mau hidup sejak tadi, cape nyelah dia masih diam aja. Kalau dia bisa hidup tadi, mungkin aku udah pulang sejak tadi.”
“Bensinnya ada?”
Aman kalau bensinnya Kak. Nggak tahu deh mengapa.”
“Ayo kita lihat, barangkali aku bisa bantu.”
Mereka berjalan menuruni anak tangga satu persatu, Salya mengikuti langkah Aldi di belakangnya, Danton paskibra beralis tebal itu membawa motornya ke lapangan parkir gedung satu, Salya membonceng di belakangnya.
Lapangan gedung satu terlihat gelap, lampu-lampu yang sudah dinyalakan tidak bisa mengusir gelap yang ada di lapangan itu, sinarnya hanya menerangi bagian depan kelas saja.
Nampak motor matic warna putih milik Salya terparkir sendirian di pojok lapangan, Aldi mendorong motor itu ke bagian lapangan yang ada di depan kelas, supaya terang. Dia membuka tangki bensin memastikan bahan bakarnya masih ada, setelah itu dia mencoba men-starter-nya lalu menyelahnya beberapa kali, namun motor itu tak kunjung menyala mesinnya.
“Gimana, Kak?”
“Ada kemungkinan businya mati atau hanya kotor, sayang nggak ada kunci busi jadi nggak bisa dicek kondisi pengapiannya.”
“Kakak nggak punya kunci busi?”
“Punya sebenarnya, hanya saja kemarin sempat diturunkan dari motor pas di-steam di rumah, kelupaan masukin lagi.” Aldi mengingat-ingat di mana dia meletakkan kunci-kuncinya setelah iseng steam motornya sendiri di rumah.
“Yah, gimana dong, Kak?”
“Begini saja, bagaimana jika motor ini kita simpan di sini dulu, kamu pulang aku anterin, besok baru kita urus kondisinya. Bagaimana menurutmu?” Salya nampak berpikir mendengar tawaran Aldi.
“Aku khawatir merepotkan Kakak nanti jika sampai mengantarku pulang.”
“Kalau merepotkan sih nggak, insyaallah.”
“Rumahku jauh loh, Kak. Setengah jam dari sini naik motor.”
“Itu sih dekat, Salya. Aku pikir setengah tahun naik motor.”
“Jauh amat sampai setengah tahun, Kak. Sampai mana itu naik motor sampai setengah tahun, “ Salya tertawa dengan seloroh Aldi. “Jadi gimana ni motorku, Kak?”
“Motor kamu ditinggal di sini, kamu pulang aku antar sampai rumah.”
“Kasihan motorku sendirian di sekolah, Kak. Nanti kalau dia lapar gimana?”
“Gampang, kamu cari rumput aja supaya dia bisa ngemil malam ini.”
“Memang motorku kambing, Kak.”
“Ya habis kamu bilang kalau dia lapar gimana? Udah yuk kita pulang, nanti orang rumah khawatir”
“Jangan khawatir, Kak. Orang rumahku tidak pernah khawatir tentangku.”
“Serius?”
“Ya begitulah, Kak.”
Aldi menghidupkan motor matic-nya, lalu menggunakan helmnya. Salya kembali naik di jok belakang matic yang warnanya senada dengan motor milik Salya. Merekapun keluar gerbang sekolah yang belum dikunci oleh security.