OSIS SMP Teladan Bangsa

1396 Kata
Waktu belum genap menunjukan pukul tiga sore, nampak Mr. D sedang duduk di  bangku yang terbuat dari semen dengan keramik putih di atasnya. Bangku itu berada di bawah pohon mangga yang ada di depan kelas 7E, kelas itu saat siang hari tidak digunakan oleh siswa SMA Teladan Bangsa. Di depan laki-laki yang sudah melewati kepala tiga itu nampak berkumpul anak-anak OSIS SMP Teladan Bangsa,  ada sekitar dua puluh orang siswa yang duduk di sekitarnya. Mr. D sedang briefing anak-anak binaannya terkait dengan kegiatan peringatan bulan Bahasa. Untuk memperingati bulan itu mereka akan mengadakan pelatihan menulis novel yang akan menghadirkan speaker seorang penulis novel best seller, Fikri Habibullah Muharram, penulis buku Tuhan Izinkan Aku Pacaran. “Ada pertanyaan?” ujar  Mr. D setelah dia memaparkan tekhnis pelaksanaan event tersebut. Seorang siswi berkaca mata dengan jilbab lebar mengangkat tangannya, dia adalah Salya Lova, Ketua OSIS SMP Teladan Bangsa. “Mister, apakah yakin acara ini akan dihadiri banyak siswa dari sekolah lain? Mengingat OSIS kita bukanlah yang terkenal di kecamatan ini?” “Pertanyaan bagus, Salya. Sebelum saya menjawab pertanyaan tersebut, izinkan saya untuk bertanya dulu. Yang lainpun boleh menjawab pertanyaan ini, bukan hanya Salya. Dari semua sekolah yang ada di kecamatan kita, OSIS SMP mana yang sudah terkenal? Atau OSIS SMA mana yang sudah mempunyai nama di kecamatan kita? Silakan dijawab yang tahu.” Mr. D menyapu satu persatu anak binaannya dengan matanya. Salya memandangi teman-teman organisasinya, mulai dari yang jenjang kelasnya sama dengannya, sampai adik-adik kelasnya yang masih di kelas tujuh. Mereka membisu, tidak ada yang menjawab satupun. “Silahkan dijawab,” ujar Mr. D lagi. Suaranya memecah keheningan yang tercipta karena pertanyaannya. “Salya? Kamu punya jawaban?” “Saya nggak yakin sih, Mister. Sepertinya memang tidak ada satupun OSIS setingkat SMP atau SMA yang sudah mempunyai nama yang saya tahu,” ujar Salya ragu, dia sama sekali tidak yakin dengan jawabannya. “Begitukah menurutmu? Kamu tahu apa yang menyebabkan organisasi siswa intra sekolah di sebuah sekolah itu tidak mempunyai nama di tingkat kecamatan? Apalagi tingkat kabupaten?” Salya memberikan gelengan lemah di kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan oleh pembina OSIS untuknya itu. Jawaban dari pertanyaan sebelumnya saja dia tadi asal bicara, ditambah pertanyaan lain lagi. “Yang lain punya jawaban? Apa yang menyebabkan organisasi siswa intra sekolah tidak mempunyai nama di tingkat kecamatan dan kabupaten? Arman silahkan dijawab.” Mr. D melihat lurus ke arah siswa yang namanya disebutkan tadi. Siswa berperawakan tinggi agak terkejut, dia tidak menyangka namanya akan disebutkan untuk menjawab. Jika Salya saja yang ketua OSIS saja tidak punya jawaban, apalagi dia yang hanya wakil ketuanya. Tapi dia akan mencoba menjawab walaupun sedikit halu. “Menurut saya sih alasan mengapa OSIS sebuah sekolah itu tidak terkenal dikarenakan ... jenis kegiatan yang dilakukan oleh mereka biasa saja?” ujar Arman ragu. “Benar sekali, Arman. Alasan mengapa OSIS sebuah sekolah itu tidak terkenal di tingkat kecamatan atau kabupaten adalah karena kegiatan mereka biasa saja, tidak unik, tidak spesial, sama saja dengan kegiatan-kegiatan OSIS yang lainnya.” Nampaknya Arman tidak menyangka jawabannya itu benar, padahal dia hanyalah asal jawab dari pada gengsi hanya menjawab dengan kalimat tidak tahu. Teman-teman yang duduk di dekatnya mengacungkan jempol tangannya. “Jadi sudah dapat disimpulkan, supaya OSIS SMP Teladan Bangsa bisa terkenal, baik tingkat kecamatan, kabupaten atau yang lebih tinggi lagi maka yang harus dilakukan adalah ....”   Mr. D tidak melanjutkan kalimatnya, dia menunggu anak binaannya untuk melengkapi. Salya mengangkat tangannya tinggi. “Ya, Salya?” “Yang harus dilakukan adalah mengadakan kegiatan yang tidak biasa, Mister, alias luar biasa. Tapi bisakah kita melakukan kegiatan luar biasa ini?” “Sebuah pertanyaan menarik sekali, bisakah kita melakukan kegiatan yang luar biasa ini? Tidak usah dijawab pertanyaan ini sekarang, saya minta kalian membuat sebuah ulasan tentang ini, bisakah kita melaksanakan kegiatan luar biasa? Ulasannya nanti dikirim ke link yang akan saya kirimkan di grup w******p nanti malam. Semua anggota wajib merespons, termasuk mereka yang tidak hadir di rapat ini. Ada pertanyaan?” Semua anggota OSIS yang ada di sana membisu, mungkin mereka sudah mengerti semua dengan apa yang dimaksudkan oleh pembinanya. Bisa juga mereka sebenarnya masih bingung. “Salya, Arman tugas kalian adalah memastikan semua anggota OSIS memberikan feedback terhadap link yang saya kirim.” “Baik, Mister,” ujar Ketua dan Wakil Ketua OSIS itu  hampir bersamaan. “Okey, sebentar lagi siswa SMA akan beristirahat, itu berarti susana tidak akan kondusif lagi. Sebelum saya akhiri saya mengutip sebuah ayat di Alquran yang terjemahnya seperti ini, Allah itu sesuai dengan prasangka hamba-Nya, artinya adalah jika kita berprasangka baik maka kebaikanlah yang akan Allah berikan, begitu juga sebaliknya. Baik, saya rasa cukup. Kegiatan pembinaaan hari ini saya akhiri, terima kasih sudah menyempatkan waktunya siang ini. Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh.” Siswa dan siswi itu mulai bangkit dari duduknya satu persatu, mereka lalu bergantian mencium tangan Mr. D untuk berpamitan pulang. Sekarang hanya tersisa Salya yang masih berada di tempat duduknya. Mungkin Ketua OSIS yang jelita ini masih ada yang ingin ditanyakan. Bel istirahat meraung, siswa dan siswi SMA mulai riuh keluar dari kelasnya masing-masing. Lalu mereka seperti mengulang aktifitas rutin mereka setiap hari di sekolah, ke kantin, ke mushala atau tergopoh rebutan WC. “Assalamualaikum, Mister.” “Waalaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh, Eh Aldi, ayo sini.” Mr. D beringsut untuk memberikan ruang untuk Aldi supaya bisa duduk di sampingnya. “Terima kasih, Mister. Saya mau minta maaf karena kemarin tidak menepati janji untuk datang menemui Mister saat istirahat,” ujar Aldi sopan. “Nggak apa-apa kok, kebetulan saya juga tiba-tiba ada pertemuan dadakan dengan wali kelas, ada alih tangan kasus siswa. Ngomong-ngomong, kamu sudah kenal belum dengan Salya?” Aldi menoleh ke arah sosok yang disebutkan itu, Salya nampak tidak menduga dia akan dilibatkan di pembicaraan itu. Dia tersenyum kikuk ke arah Aldi. “Secara resmi belum berkenalan, Mister. Tapi saya tahu dia namanya Salya, Ketua OSIS SMP Teladan Bangsa.” “Wah, suprise banget. Saya nggak nyangka Kak Aldi kenal dengan saya.” Mata Alya berbinar. “Saya juga nggak menduga kamu sudah kenal nama saya lho, Salya.” Aldi menyematkan senyum di wajahnya. “Siapa yang tidak kenal dengan Kak Aldi, Danton Paskibra SMA Teladan Bangsa. Lucu ya, Kak, ternyata kita sudah saling kenal,” ujar Salya. “Iya, padahal kita belum kenalan ya. Bagaimana jika kita kenalan dulu aja supaya afdhol?” Aldi mengulurkan tangannya ke arah Salya dengan tertawa, Ketua OSIS itu menyambut jabat tangan Aldi dengan sopan. Mr. D tersenyum kecil melihat kelakuan kedua siswa yang berbeda jenjang, dia merasa tiba-tiba jadi obat nyamuk di antara mereka. “Ehm, saya tinggal dulu ya, Aldi, Salya. Kalian lanjut saja,” pamit pembina OSIS SMP itu akhirnya, dijawab anggukan sopan dari kedua siswa itu. Mereka melanjutkan perkenalan dengan sedikit bertukar cerita, tidak peduli dengan lalu lalang siswa SMA tak jauh dari mereka duduk. Sepasang mata melihat pemandangan di bawah pohon mangga itu dengan bara cemburu. Dia melintas tak jauh dari tempat yang telah membuatnya tidak nyaman itu. Siswi berwajah bulat itu berjalan berdua dengan teman sekelasnya, Dina. Baru saja Ayu menginjak anak tangga pertama yang menuju lorong, Aldi melihat dirinya. “Ay,” panggil Aldi. Yang dipanggil namanya tidak hirau dengan suara itu, dia melanjutkan langkahnya. Danton Paskibra itu pamit meninggalkan Salya, padahal nampaknya siswi SMP berkaca mata itu masih ingin bercengkerama lebih lama dengan Aldi. “Ay, tunggu sebentar,” ujar Aldi. Sosok yang dipanggil itu akhirnya menghentikan langkahnya di ujung lorong keluar. “Ada apa? Lanjut saja ngobrol dengan cabe-cabean itu,” ujar Ayu ketus. “Cabe-cabean yang mana? Oh Salya, dia namanya Salya, ketua OSIS SMP.” Aldi berusaha membenarkan kalimat Ayu yang terdengar kurang sopan menurutnya. “Aku nggak bertanya siapa namanya cabe-cabean itu, aku nggak peduli siapapun namanya,” ujar Ayu ketus, ada sorot sinis di matanya. Dina sepertinya merasa tidak nyaman berada di antara pertengkaran sahabatnya ini, dia berdiri agak jauh untuk mengurangi rasa risih. “Ay, gue cabut duluan ya,” ujar Dina menyela pertengkaran mereka. “Nggak, Dina. Aku juga mau pergi, malas menimpali cowok playboy kayak gini. Katanya tetap menjagaku dalam hati sebagai sosok yang pernah hadir, sebagai orang yang pernah mengisi hari-hari dengan sangat sempurna, ternyata bullshit.” “Ay,” Aldi speechless, dia tidak tahu apa yang harus dikatakan lagi. Ayu dan Dina berlalu meninggalkan Aldi mematung melihat punggung mereka menjauh lalu hilang membaur dengan siswa yang ada di selasar kelas.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN