Terdengar suara burung hantu tak jauh dari tempat Ocong dan Kunti sedang bercengkerama. Angin malam yang bertiup ke arah mereka, terhalangkan oleh tembok pembatas sekolah yang menjulang tinggi. Sesosok hantu berkolor ijo datang mendekat, di wajahnya nampak kegusaran yang tertahan.
“Apa kata lu tadi?” ujar makhluk itu dengan nada tinggi ke arah sosok berambut panjang menjuntai..
Ocong dan Kunti melihat ke arah suara yang mengejutkan itu. Wajah bingung dan tak nyaman tergurat di wajah kedua makhluk yang berbeda bangsa itu.
“Apa sih maksud lu, Mes?”
Suara Hantu Bungkus itu terdengar keras dan tegas, dia berdiri memandang tajam ke arah sosok berkolor ijo itu. Omes yang tadi terlihat galak, tiba-tiba terlihat down karena tatapan mata pimpinan komunitas di sekolah itu, tangannya yang tadi menyilang bersedekap sombong sudah diturunkannya.
“Apa maksud lu tadi ngomong begitu, Mes?” Suara Ocong terdengar lebih keras dari tadi.
“Maaf, Bang. Tadi gue dengar ini makhluk baru ngomongin saudara sebangsa gue, katanya semua makhluk Kolor Ijo m***m. Gue mau protes di bagian itu.”
“Mengapa, Mas?” Kunti yang tadi diam saja menimpali, karena dia merasa keributan ini disebabkan oleh kalimat yang diucapkannya.
“Maaf, Kak Kunti. Tadi kayaknya Kakak bilang makhluk Kolor Ijo m***m semua, saya mau protes di bagian itu aja,” ujar Omes sambil menundukkan wajahnya.
“Oh, begitu. Itu bangsa Mas ya?” ujar Kunti, rasanya dia ingin menutup hidungnya karena pesing yang menyengat dari kolor milik makhluk di depannya itu.
“Iya, Kak,” ujar Omes pendek sambil menganggukkan kepalanya.
“Tadi yang aku maksudkan adalah makhluk Kolor Ijo yang ada di sekolah tempatku dulu, Mas. Di SMA Cakrawala, bukan makhluk Kolor Ijo yang ada di sekolah ini.”
“Iya, Kak. Saya paham sekarang. Maaf tadi saya agak emosi pas dengar hantu Kolor Ijo itu m***m semua.”
“Maaf ya, Mas. Aku enggak bermaksud demikian.”
“Sudahlah, berarti ini salah paham aja ya, Mes. Sini gue kenalin lu dengan penghuni baru ini, namanya Senja,” ujar Ocong menengahi sekaligus memperkenalkan Kunti.
“Selamat datang di sekolah ini, Kak Senja. Nama saya Omes, bukan nama asli sih, tapi itu panggilan Bang Ocong untuk saya di sini. Jadi teman-teman yang lain ikut memanggil kayak begitu,” jelas Omes sambil berusaha menghadirkan senyum di wajahnya.
“Okey, Mas Omes.” Kunti mengangkat kedua jempolnya ke atas.
“Langsung nama juga nggak apa-apa, Kak. Panggil Omes aja.”
“Okey, Omes aja. Berarti kamu panggil aku Senja saja, nggak usah pakai Kak di depannya, deal?”
“Siap, Kak. Eh, Senja. Ya udah saya pamit dulu, kembali ke tempat idola lagi.”
Omes mengangguk pamit dengan sopan kepada kedua makhluk di depannya. Belum sempat Ocong dan Kunti merespons pamit Omes, dia sudah melesat menghilang dari hadapan.
“Abang nggak bilang di sini ada Kolor Ijo juga,” ujar Kunti sepeninggal makhluk berbau pesing itu.
“Bukannya aku udah bilang ya? Atau belum? Lupa dah.” Ocong cengar-cengir aneh. “Senja, rupanya kamu punya masa lalu yang tidak menyenangkan dengan hantu dari bangsa itu ya?”
“Ya, begitulah. Menambah trauma yang sudah ada waktu aku masih berstatus manusia. Abang mau cerita masa lalu Abang waktu masih hidup?”
“Wah, serius mau dengerin ni? Ceritanya panjaaaaaaaaaang dan lamaaaaaaaaaaa.”
Kunti cekikikan mendengar suara Ocong menirukan panjang dan lamanya seperti di iklan tivi. Entah tahun berapa itu ada iklan di tivi seperti itu, walau adanya bukan pada zaman Kunti hidup. Dia sempat melihat iklan tersebut di sebuah televisi yang ditinggal tidur oleh centeng penjaga sekolah.
“Aku punya waktu sepanjang malam dan jika nggak selesai bisa dilanjutkan besok dan besoknya lagi. Aku nggak ada rencana pindah tempat lagi dalam beberapa malam ini, jadi bisa mendengarkan cerita Abang walaupun panjaaaaaaaaang dan lamaaaaaaaaa.”
Ocong dan Kunti tertawa bersamaan, terdengar aneh sekali irama duet mereka itu jika di dengar oleh telinga manusia.
“Okey, aku ceritakan ya. Walaupun menceritakannya akan seperti mengorek kembali luka yang sudah sembuh. Walaupun dengan menceritakannya lagi mungkin akan menguras air mata lagi.”
“Wow, sepertinya cerita Abang menyedihkan sekali.”
Ocong tidak merespons kalimat Kunti, dia terlihat termenung. Matanya nanar melihat rembulan yang sedang bersinar dengan indahnya, lalu dia menatap Kunti dengan menyematkan senyum di wajahnya. Entah seperti apa senyumnya itu terlihat di mata kunti, dia tidak peduli.
“Sepertinya aku belum siap untuk bercerita tentang masa laluku, Senja,” ujar Ocong.
“Aih, padahal aku udah siap-siap untuk mendengarakan cerita lho, Bang.” Sebuah nada kekecewaaan tersirat dari kalimat yang diucapkan Kunti tadi.
“Maaf ya, mungkin lain kali akan kuceritakan. Sampai aku merasa siap untuk itu. Cerita yang kualami sangat terasa berat sekali, sehingga menceritakannya kembali seperti menarik kembali beban yang sudah dibuang jauh sekali. Tapi aku akan tetap bercerita jika sudah merasa siap. Ada beberapa bagian yang sudah kulupakan, karena jika mengingatnya akan merasa tersiksa sekali.”
“Bagaimana jika aku dulu yang bercerita, Bang?”
“Boleh, kamu boleh cerita masa lalu kamu sebelum meninggal.”
“Bukan tentang itu, Bang. Sama dengan yang seperti Abang katakan tadi, menceritakan kembali masa itu seperti mengorek kembali luka lalu. Aku kali ini akan bercerita tentang tempat tinggal aku dulu sebelum pindah ke sini.”
“Oh itu, boleh.”
Ocong mendekatkan badannya yang terbungkus kafan pink itu ke arah Kunti yang duduk bersandar di tembok.
“Aku suka sekali tinggal di sekolah itu, karena di sana ada pohon-pohon besar yang biasa aku gunakan untuk bersantai. Di sana juga ada yang tinggal dari bangsaku, bangsa Kuntilanak, cuma dia dari generasi milenial, belum lama meninggal dan belum bisa apa-apa. Dia selalu meminta perlindunganku, Clara Sinta namanya, dia meninggal saat hamil dan di habisi oleh pacarnya yang tidak bertanggung jawab.”
“Clara Sinta itu nama anak zaman now banget. Dia meninggal tahun berapa memangnya?”
“Tahun 2015 katanya, Bang.”
“Wah, masih muda banget ya umurnya.”
“Iya, makanya dia selalu meminta perlindunganku terlebih saat bangsa Kolor Ijo itu bertingkah di sana.”
“Bertingkah? Maksudnya seperti apa?”
“Memperkosa, dia selalu punya keinginan untuk memperkosa hantu-hantu berjenis kelamin perempuan. Semua yang di sana pasti pernah menjadi korban pelecehannya, Kuntilanak, Suster Ngesot, bahkan Pocong pernah dijahilin dengan ditarik-tarik kain kafannya. Aku membayangkan saat ditariknya kain kafannya itu, semua tulang belulangnya berantakan.”
Ocong mengernyitkan dahinya, dia membayangkan apa yang terjadi dengannya jika tali kafannya itu ditarik, terlebih tali kafan miliknya itu bukanlah tali kafan, tapi tali rafia. Dia juga membayangkan jika yang ditarik itu Pocong Mumun, pasti habis itu si Kolor Ijo yang ada di sekolah tempat btinggal Senja dulu.
”Di sana juga ada hantu anak-anak yang kerap ingin dimangsanya, dasar p***********k kecil. Ada yang namanya Ling ling, dia ini hantu anak kecil keturunan Tionghoa, awal bertemu dengannya dia hanya bisa sedikit bisa berbahasa Indonesia. Karena sepertinya dia meninggal saat baru sampai ke Nusantara bersama orang tuanya. Nah, Ling Ling ini punya dua orang teman hantu Belanda, anak laki-laki dan perempuan, Hans dan Roosie mereka kakak beradik yang awalnya juga sama sekali tidak bisa bahasa Indonesia.”
“Seru yah di sana. Banyak hantu-hantu yang unik, Tionghoa, Belanda bahkan ada Suster Ngesot yang pernah viral karena dilayar lebarkan.”
“Cuma kasihan dia di-viral-kan tapi tak bisa menikmati royaltinya,” ujar Kunti seraya tertawa melengking. Ocong menimpali dengan tersenyum bingung.
“Lain waktu mungkin kita bisa pergi ke sana, untuk mengenal mereka lebih jauh. Jujur aku tertarik dengan Ling Ling tadi, juga dengan Hans dan saudaranya itu. Jika saja aku masih hidup akan kutuliskan cerita mereka menjadi sebuah novel.”
“Abang bisa terkenal kayak Risa Saraswati nanti, novelis yang juga seorang youtuber spesialis makhluk kasat mata. Ocong sang Novelis yang juga Youtuber kenamaan.” Kunti tertawa dengan tertawa khasnya.
“Seru kali ya,” ujar Ocong. Matanya menerawang ke angkasa dengan berbinar.
“Pastilah, Bang. Kalau kita mau kesana ‘kan tinggal menggunakan teleportasi milik Abang.” Kalimat Kunti memutuskan khayal Ocong yang baru saja mengangkasa.
“Bisa saja sih, tapi sementara ini kemampuan teleportasiku belum bisa jauh, paling jauh satu kilometer. Setelah itu tenaga akan terkuras habis sehingga tidak bisa melakukan apa-apa.”
“Tadinya aku pikir kekuatan teleportasi itu tidak ada limit-nya, ternyata ada ya, Bang. Aku sempat berpikir juga Abang akan membebaskan teman-teman di sana dengan mengalahkan kekuatan si Kolor Ijo”
“Kayaknya aku mesti upgrade kekuatan teleportasiku dulu untuk melakukan hal itu. Mungkin juga bisa kita pikirkan cara lain untuk sampai ke sana tidak menggunakan kekuatan teleportasi punyaku. Mungkin dengan menggunakan kekuatan terbang milikmu, sehingga kekuatanku bisa digunakan untuk melawan Kolor Ijo itu.”
“Ide bagus, Bang, sepertinya kita mesti pikirkan rencana ini dengan lebih matang,” ujar Kunti disambut dengan anggukan kepala Ocong.