Suasana berangsur lengang setelah terdengar kumandang azan Magrib dari arah barat tadi. Senja berganti dengan gelap, menyembunyikan keindahan petang dengan malam yang lara. Suara riuh yang terdengar tadi siang mulai berubah dengan kesunyian, terdengar suara jangkrik mengalunkan nada nyanyiannya.
Sesosok bayangan bersandar di tempat favoritnya, di antara ruang kelas dan bangunan koperasi. Sesekali dia membiarkan hidungnya meliar mencium harumnya air-air sisa pembuangan manusia dari WC.
Malam ini lumayan cerah, walaupun sore tadi sudah agak gelap. Hujan urung hadir karena angin bertiup membawa awan kelam itu menjauh.
Terdengar suara cekikikan mendekat, Ocong yakin itu adalah dua suara tuyul kembar yang selalu membuat mood-nya hancur setiap kali datang. Sepertinya ini belum tengah malam, mengapa mereka berani berkeluyuran? Apakah mereka tidak takut nanti ditangkap manusia yang bekerja sebaga penjaga sekolah itu? Bang Mandra misalnya? Ah, dia mana peduli dengan lingkungan sekitar. Di benaknya hanya ada pikiran untuk mencari wifi gratis, jika kebetulan sedang mendapat jatah jaga malam di sekolah. Bang Hasan yang menjaga sekolah, lebih memilih standby di gedung dua. Laki-laki berkaca mata tebal itu selalu menghindari jaga di gedung tiga, entah apa yang menyebabkannya itu?
“Om ....” Terdengar suara tuyul itu.
Entahlah itu suara Anya atau Unyu, Ocong belum bisa membedakan suara kakak beradik itu, karena memang tak penting juga untuk mencari tahunya.
“Om .... ” Suara itu terdengar lagi.
Jika saja Ocong bisa menghela napas pasti akan dilakukannya, sekadar bisa melegakan sesak yang dirasakannya karena kesal dengan makhluk-makhluk botak. Mereka ini selalu berhasil membuyarkan kenyamanannya menikmati malam.
“Om .... ” Suara yang menyebalkan itu berbunyi lagi.
“Apa sih Botak?” ujar Ocong dengan emosi, dia akhirnya menoleh ke arah suara itu.
“Slow, jangan nge-gas, Om.” Kedua Tuyul itu tersenyum sambil menampakkan muka manis.
Ocong terkejut saat melihat ada sosok lain yang berdiri di belakang Anya dan Unyu itu, sosok putih berambut panjang
“Halo, Bang?” ujar sosok bergaung putih panjang itu. Ocong terkesiap, dia segera bangkit dari duduknya.
“Eh, Senja. Maaf aku kira cuma dua makhluk botak ini yang datang, aku bete banget dengan mereka soalnya. Ternyata ada kamu. Ayo silahkan duduk.”
“Ya udah ya, Om, kita cabut dulu. Tante kita main dulu ya” ujar Anya berpamitan. Kalimatnya menghentikan Kunti dari menjawab kalimat Ocong.
“Dank u, Nya, Nyu.”
Kedua makhluk itu berpandangan satu sama lain karena tidak mengerti apa yang diucapkan sosok yang dipanggilnya Tante itu.
“Apa itu artinya, Tante?’
“ Itu artinya terima kasih, itu adalah bahasa Belanda, ” ujar Senja sambil menyematkan sebuah senyuman di balik rambutnya yang menjuntai.
“Oh, bahasa Belanda, ingetin entar kita ngomong pakai bahasa itu, Nyu. Udah ya, Tante, Om Ocong kita cabut dulu.” Anya memberikan kode adiknya untuk meninggalkan tempat itu.
Tanpa menunggu respons dari Ocong dan Kunti, kedua makhluk itu sudah berlari meninggalkan mereka, menuju ke ruang kelas atas. Kunti geleng-gelang kepala melihat tingkah kedua duo botak itu.
“Lucu yah mereka, Bang?” ujar Kunti.
“Lucu kadang-kadang, tapi lebih banyak ngeselinnya menurutku sih.”
“Aku tahu kamu memandang mereka seperti apa, Bang. Terlihat tadi pertama waktu mereka manggil dan kamu cuekin.”
“Ya gitu deh. Eh, by the way kamu mau duduk di sini?”
“Bagaimana jika kita duduk di tangga sana aja, Bang?” Kunti itu menunjuk sebuah arah.
“Tangga yang mau naik ke lantai dua?” ujar Ocong, dijawab dengan anggukan kepala Kunti. “Di sana ‘kan ada tuyul-tuyul itu nanti.”
“Kamu bisa meminta mereka pindah mainnya nggak, Bang?”
“Biasanya sih mereka nggak peduli kalau aku yang ngomong.”
“Nanti aku coba yah, Bang.”
“Kamu coba deh nanti, Senja.Yuk kita ke sana.”
“Ayo, kamu mau lompat atau gimana?”
“Udah nggak zaman lompat-lompatan, hal itu hanya dilakukan oleh para Pocong amatir. Kamu pegang tanganku saja, pakai teleportasi biar cepat sampai.”
“Waw, kamu bisa telepotasi, Bang?”
“Bisa dong, kamu pegang badanku saja.” Ocong mendekatkan badannya ke arah Kunti, sosok berambut panjang itu tanpa diminta lagi memegang kain kafan pink polkadot itu.
Dalam sekejap mereka sudah ada di tangga, dimana mereka bertemu pertama kali, tangga yang menuju kelas 12 IPS
“Abang luar biasa bisa pindah tempat kayak begini,” puji Kunti.
“Hampir semua bangsa Pocong bisa telepotasi, dengan catatan mereka sudah melewati masa penantian dua puluh tahun. Kemampuan ini semacam milik bangsa kamu yang bisa terbang.”
“Hmm, begitu, tapi di bangsaku kemampuan itu lebih cepat dimiliki, hanya sepuluh tahun saja, tapi harus mengikuti semacam penataran oleh senior.”
“Ada yang kayak begitu ternyata di dunia hantu.”
“Iya, Bang. Di sanalah biasanya terjadi perploncoan yang dilakukan kepada bangsa Kunti?”
“Sudah dilaporkan ke KOMNASHAN?”
“Hah? Apa itu, Bang?”
“Komnashan, Komisi Nasional Hak Asasi Hantu.”
“Emang ada, Bang?”
“Belum ada sih setahuku.”
“Aneh banget, Bang, aku kira udah ada yang kayak gitu.”
“Ya kali, Kamu ‘kan lebih sering baca, mungkin tahu ada komisi itu atau nggak. Mungkin ada yang melindung hak asasi kita sebagai hantu dengan nama lainya, misalnya kayak KPAI milik manusia, Komisi Perlindungan Anak dan Ibu.”
“Setahuku sih memang belum ada, tapi itu sebuah ide yang bagus sekali, barangkali bisa dibuat yang semacam itu. Tujuan utamanya adalah untuk melindungi bangsa hantu, secara internal dan eksternal, Bang.”
“Maksudnya gimana internal dan ekstrenal itu?”
“Internal itu melindungi para hantu dari bangsanya sendiri, contoh yang seperti aku sebutkan tadi, perploncoan saat mengambil kemampuan terbang bangsa Kunti. Melindungi secara eksternal maksudnya adalah melindungi dari bangsa manusia, kadang ada bangsa kita yang diperkerjakan oleh manusia secara gratis tanpa imbalan apapun, atau ada bangsa kita yang ditangkap manusia misalnya, walaupun memang belum pernah terjadi sepengetahuanku penangkapan itu pernah terjadi.”
“Sepertinya kamu sudah memikirkan hal ini secara dalam, Senja?”
“Pernah sekali aku memikirkan itu setelah baca mading yang ada di sekolah tempat tinggalku dulu tentang HAM. Waktu itu aku berpikir untuk melakukan yang sama untuk dunia kita, mungkin bisa dicoba ya, Bang.”
“Boleh juga ide kamu itu, Senja. Eh, betewe alasan kamu pindah dari sekolah itu apa? Mungkin kita bisa bertukar cerita”
“Sebenarnya di sana lumayan cukup nyaman, siswanya nggak terlalu ramai. Mereka jarang sekali melakukan aktifitas malam di sekolah, malah seingatku dalam lima tahun mereka hanya melakukan aktifitas malam itu hanya seminggu jelang ada akreditasi sekolah. Ditambah lagi disana ada pohon-pohon besar yang tumbuh di belakang tembok sekolah, jadi kalau aku bosan bisa berayun-ayun di atas pohon itu.”
“Seru yah sepertinya di sana, terus mengapa kamu memutuskan pindah dari sana?”
“Satu-satunya yang membuat tidak nyaman adalah adanya makhluk kolor ijo yang m***m. Semua hantu yang ada di sana tidak ada yang berani melawannya, karena dia adalah penghuni pertama yang tinggal disana.”
“Hmm, begitu yah? Memang begitu sih aturannya, yang pertama tinggal adalah pemilik lokasi. Tapi aturan itu tidak baku, jika pendatang baru bisa mengalahkan penghuni lama otomatis bisa menggantikan posisi pimpinan di sana.”
“Iya sih, tapi di sana Kolor Ijonya sadis, Bang. Badannya kekar sekalii dengan perut six pack, idaman banget pokoknya deh, sayang sekali pikirannya m***m, masa aku mau diperkosa juga. Dulu saat aku memutuskan untuk bunuh diri saat hamil gara-gara hasil perkosaan, masa sudah mati masih juga diperkosa. Memang kalau makhluk Kolor Ijo itu m***m semuanya ya?"
Pertanyaan yang dilontarkan Kunti itu tidak dijawab oleh Ocong, benak hantu itu terbayang wajah salah satu hantu dari bangsa Kolor Ijo yang tinggal di lantai dua, Omes.