Tengah malam sudah terlewati hampir tiga jam lalu, tidak ada bulan yang nampak di atas menemani bintang-bintang. Dingin malam mulai membentuk embun-embun yang jatuh ke genting-genting bangunan sekolah SMA Teladan Bangsa. Kunti menghela napas panjang setelah menyelesaikan ceritanya, terlihat ada air mata merambati pipinya. Ingin sekali Ocong menyeka air kesedihan itu, tapi apa ada tangannya ada di dalam kafan pink polkadot-nya. Sebuah kemustahilan dia melakukannya dengan menggunakan kepala untuk melakukannya seperti memukul Omes tadi. “Kamu yang kuat ya, Ai,” ujar Ocong setelah mereka terjebak dalam keheningan setelah cerita. Kunti menatap Ocong lalu berkata, “ Jika aku kuat aku tidak akan terjebak di dunia astral seperti ini, Bang. Aku menjadi Kuntilanak

