Setelah perjalanan yang cukup membuat badan sakit akhirnya mereka tiba di rumah Meneer Piter, itu adalah sebuah bangunan yang sangat besar sekali. Belum pernah dia membayangkan akan berada tepat di depan rumah dengan arsitektur seperti ini, tapi kali ini dia berada tepat di terasnya. “Selamat datang di rumahku, Aini,” ujar Meneer Piter, disambut senyuman Aini yang nampaknya masih bingung. Seorang perempuan berkulit cokelat terang dan hidung bangir keluar dari pintu dengan seorang anak kecil berusia sekitar dua tahun di gendongannya. Melihat kedatangan suaminya, perempuan berpakaian eropa itu tersenyum lebar, tapi ada tanda tanya besar di wajahnya tentang siapa perempuan yang bersamanya. “Sayang, perkenalkan ini Aini, dia adalah anaknya Bang Sabenih, teman Papa yang tinggal di De Nabang

