Bab 9 Permintaan Mawar

1171 Kata
"Tadi, Kakak disebut gila sama teman-teman, Bunda," adu Shanum sambil menangis. Aku mengambil alih Shanum dari Safira, lalu menenangkan anak itu. Aku memberikan pengertian pada dia untuk tidak mendengarkan apa yang dikatakan teman-temannya. Sebagai guru Shanum, Safira pun ikut membujuk putriku itu agar mau kembali masuk ke dalam kelas karena pelajaran akan segera dimulai. "Yuk, masuk bersama Ibu? Nanti, Ibu akan hukum anak-anak nakal yang sudah membuat Shanum sedih," ujar Safira membujuk. Awalnya Shanum menolak, dia sakit hati dengan olok-olokan teman sekelasnya pada Cahaya. Putriku malah meminta pulang dan tidak mau melanjutkan sekolah. Sebagai ibu, tentu saja aku sedih dengan ungkapan dan tanggapan mereka pada anak istimewa seperti Cahaya. Tidak hanya kali ini saja aku harus mengurut d**a menahan rasa nelangsa mendengar kata-kata yang tidak enak tentang anak sambungku itu. Jika anak-anak yang bicara, aku masih maklum. Namun, jika orang dewasa atau orang tua yang bicara, aku tidak terima. Apalagi sampai mengatakan pada anak-anak mereka untuk tidak dekat dengan anak berkebutuhan khusus dengan alasan yang membuat telinga sakit. Menular, contohnya. Padahal sebenarnya tidak sama sekali. Down syndrome bukanlah penyakit yang bisa menular jika bersentuhan kulit atau berinteraksi dari jarak dekat. Bukan juga penyakit turunan, tetapi kelainan genetik bawaan. Mereka anak istimewa yang dititipkan Tuhan pada orang tua pilihan sebagai penguji kesabaran, serta keimanan. Aku berjongkok mengusap kedua pipi Shanum yang basah oleh air mata. "Sayang, sudah, dong jangan nangis lagi. Lihat, kakak jadi sedih kalau Sha, nangis. Gak apa-apa, jangan dengarkan kata-kata mereka, ya? Mereka belum tahu kalau kakak ini anak Bunda, dari surga," kataku masih membujuk. Shanum melihat pada Cahaya yang merengut menekuk wajah. Bukan kata-kata orang lain yang menjelekkan dia yang membuat Cahaya bersedih, tapi melihat adiknya menangislah yang membuat wajah itu ditekuk ke bawah. "Masuk, yuk. Tuh, kelas lain sudah pada berdoa, loh. Mau Ibu, gendong?" Safira merentangkan tangan pada Shanum. Putriku menggelengkan kepala. Dia mengusap kedua matanya, lalu memeluk Cahaya dengan erat. Gadis berusia lima belas tahun itu membalas pelukan adiknya dengan mengangkat tubuh kecil Shanum di akhir rangkulannya. "Belajar, ya?" ujar Cahaya menepuk-nepuk kepala Shanum. Gadis kecilku mengangguk, lalu melangkahkan kaki dituntun Safira. Dia membalikkan badan, melambaikan tangan padaku dan Cahaya. "Dadah ... Adik!" Setelah memastikan Shanum masuk ke kelasnya, aku dan Cahaya masuk ke dalam mobil, lalu pergi dari sekolah Taman Kanak-kanak itu. Kali ini aku tidak langsung pulang. Aku memilih membawa Cahaya bermain di taman hingga nanti Soni mengabarkan pekerjaannya telah selesai. Mengingat Soni, aku jadi penasaran dengan bukti yang dia miliki. Foto kah? Ah, menyebalkan sekali dia. Kenapa tidak langsung memberitahuku dan malah harus menunggu nanti siang? Dadaku serasa dihimpit batu besar jika mengingat kembali nasib rumah tanggaku. Entah apa yang harus aku katakan kepada ibu dan bapak saat pulang nanti. Selama ini, tidak pernah mereka mendengar kabar buruk dari anaknya ini. Bisa aku pastikan jika kabar yang aku bawa nanti akan sangat membuat kedua orang tuaku kaget luar biasa. Aku yakin itu. "Nda ...!" Panggilan dari Cahaya membuyarkan lamunanku. Aku melihat pada gadis yang juga tengah menatapku lekat. Tangannya terulur memberikan roti yang aku bawa sebagai bekal sarapannya. Seperti Shanum, Cahaya pun menginginkan bekal yang sama seperti yang aku berikan untuk adiknya tadi. "Kakak aja yang makan, Bunda belum mau makan," ujarku menolak tawarannya. "Ini." Dia mengambil s**u, menawarkannya lagi padaku. Aku menggelengkan kepala. Menyuruh dia menghabiskan makanannya. Dia pun kembali fokus makan seraya memandangi air mancur yang berada di taman ini. Kuperhatikan setiap gerak-geriknya yang pasti akan aku rindukan. Iya, dia memang bukan anakku. Tidak lahir dari rahimku. Namun, dia sudah memberikan arti kata sabar yang sebenarnya kepadaku sebagai seorang ibu. Rengekannya, manjanya dia, bahkan kemarahan dia yang kadang meledak-ledak membuatku banyak belajar untuk bisa mengendalikan emosi. Namun, apa yang dilakukan Mas Sandi sudah sangat membuatku terluka sedalam ini. Bagaimana bisa aku akan baik-baik saja ketika tahu, jika satu tahun ini aku berbagi hati dengan wanita lain. Atau mungkin, berbagi raga suamiku dengan wanita lain. Jika di rumah kami saja dia bisa melakukan perbuatan itu, bukan tidak mungkin jika mereka pun pernah melakukannya di luaran sana. Hotel, atau rumah Mawar misalnya. "Kakak, nanti kalau Bunda tidak ada, Kakak jangan nakal, yah?" kataku seraya mengusap kepala gadis itu. Aku merapikan rambut tipisnya yang sedikit berantakan tertiup angin. Dia mengangguk dengan mulut penuh terisi roti, kemudian tersenyum padaku yang mengusap sudut bibirnya. Aku langsung memeluk tubuh gempal anak itu seraya menggigit bibir menahan air mata untuk tidak keluar. Enam tahun bersama bukan waktu sebentar untukku bisa pergi tanpa kesedihan. Meskipun kata orang aku ini bodoh karena mau mengurus anak orang yang berkebutuhan khusus, namun aku abaikan. Bersama Cahaya, bisa mengenal dan mengurusnya adalah anugerah untukku. Aku terus memeluk putri pertama suamiku, hingga akhirnya dering ponsel membuatku harus melepaskannya. "Siapa, Nda?" tanya Cahaya. "Emmh ... Mama," kataku saat tahu Mawar yang meneleponku. "Enggak mau ikut, Mama, Nda. Gak mau." Cahaya menggelengkan kepala saat aku mengatakan ibunyalah yang menghubungiku. "Enggak, kok. Mama, mungkin mau ngobrol saja sama Bunda. Aya, tenang saja, ya? Jangan bicara," kataku memberikan perintah dan langsung dijawab anggukan kepala olehnya. "Halo," kataku seraya menempelkan ponsel ke telinga. "Aku akan ke rumah sekarang, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan. Penting." Aku sedikit terkejut mendengar ucapan Mawar. Tidak bisa. Mawar tidak boleh ke rumah. Jika sampai itu terjadi, rencanaku bisa gagal. Dia pasti akan mempertanyakan keberadaan Soni di rumah itu. "Aku tidak di rumah," kataku seraya mencoba untuk tenang. "Di mana?" "Di taman bersama Cahaya. Jika mau bertemu, ke taman saja." "Oke, aku ke sana sekarang. Tunggu, jangan menghindariku," katanya dengan sangat percaya diri. Aku tertawa sumbang. Menghindarinya? Untuk apa aku melakukan itu? Aku tidak pernah merasa takut atau minder bertemu dengannya. Aku cukup santai untuk dibawa diskusi. Meskipun memang ada rasa ingin menghabisinya saat melihat dia bersama suamiku di atas tempat tidur. Ah, menyebalkan. Kenapa bayangan itu datang kembali setelah Mawar menghubungiku. Pelaku sekaligus pemeran utama dalam drama perselingkuhan mereka. Sebelum Mawar datang, aku sudah memberitahu Cahaya jika akan ada ibunya. Aku menyuruh dia tidak usah takut, karena Mawar datang bukan untuk mengambil dia. Melainkan hanya untuk bertemu denganku saja. Aku juga menyuruh Cahaya bermain sedikit jauh dariku agar dia tidak merasa terancam dengan kedatangan ibunya itu. "Ekhem!" Aku menoleh sejenak, lalu kembali melihat ke depan di mana Cahaya sedang duduk di pinggir air mancur dengan pensil dan buku di tangannya. "Duduk," kataku tanpa mengalihkan pandangan. Wanita itu menjatuhkan bokongnya di sampingku. Sama sepertiku, dia pun tengah menatap buah hatinya. "Aku lihat kamu dekat sekali dengan Cahaya," ujarnya kemudian. "Siapa pun bisa dekat dengan Cahaya, asalkan di hatinya ada cinta untuk anak itu." "Kamu pikir aku ini tidak memiliki cinta?" "Ada, tapi hanya untuk ayahnya saja." Mawar diam. Entahlah apa yang ada dalam pikirannya itu. Tersinggungkah dia dengan kata-kataku? "Aku dengar dari Mas Sandi, kamu akan pulang ke rumah orang tuamu?" ujarnya lagi. "Ya, hari ini." "Em ... aku tidak akan mencegah kamu pergi. Itu sudah menjadi keputusanmu. Tapi ... aku datang ke sini untuk menawarkan sesuatu padamu." Kali ini aku menoleh padanya. Dia yang menatapku, menaikan kedua alis dengan bibir merahnya yang sedikit mengerucut. "Tawaran apa?" tanyaku ingin tahu. "Tukeran anak." Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN