Bab 10 Bukti Dari Soni

1286 Kata
Aku terpaku, lidahku kelu tidak mampu berkata-kata setelah Mawar mengatakan keinginannya. Benarkah dia seorang ibu? Di mana letak hati dan pikirannya hingga dengan mudah mengungkapkan itu? "Coba kamu ulang?" kataku ingin mendengarnya lagi. "Iya, kita tukeran anak. Shanum aku yang urus, Cahaya kamu yang bawa." "Gila, kamu!" semprotku mulai emosi. Namun, dia sepertinya tidak terbebani dengan reaksiku. Justru sangat santai seolah-olah itu hal biasa. Anak, dia anggap sebuah barang murah, tidak berharga yang bisa ditukar semuanya. Aku tidak habis pikir dengan wanita itu. Bisa-bisanya mengatakan hal yang merendahkan derajat dia sebagai seorang ibu. Inikah wanita pilihan suamiku yang sudah membuatnya berani mengkhianati pernikahan kami? Wanita yang tidak punya hati, tidak punya perasaan dan tidak punya otak. Wanita miskin kasih sayang. "Ya ... ini memang kedengaran sedikit gila, Ranum. Tapi jika aku perhatikan, kamu lebih cocok jadi ibunya Cahaya, dibandingkan jadi bundanya Shanum." "Tutup mulutmu!" sergahku. "Sebejad-bejadnya aku, semiskin-miskinnya aku, tidak akan pernah memberikan darah dagingku kepada orang lain, apalagi menukar layaknya sebuah barang!" lanjutku dengan menekankan setiap kata yang keluar dari bibir ini. Mawar terkekeh seolah-olah ucapanku hanyalah lelucon yang lucu. Dia mengibaskan rambutnya, lalu kembali menatapku dengan menyilangkan kaki jenjangnya. Aku membalas tatapan itu dengan sangat tajam. Dadaku bergemuruh hebat seperti tumpukan amarah yang siap meledak. Semua tentang anak, aku anggap serius. Sekecil apa pun masalahnya, aku akan memasang badan untuk melindungi mereka. "Ranum, kamu jangan emosi dulu. Pikirkan baik-baik yang aku katakan. Aku memudahkan hidupmu. Kenapa? Karena jika kamu bercerai dari Mas Sandi, sebagai ayah dari Shanum, dia pasti akan menuntut hak asuh anak. Dan kamu ... kamu hanya akan membuang-buang waktu jika melawan dia di pengadilan. Kamu tidak punya apa-apa, tidak punya pekerjaan dan penghasilan yang akan memperkuat posisimu dalam mempertahankan Shanum. Pengadilan itu butuh bukti, bukan janji." "Bagaimanapun caranya, aku akan memperjuangkan Shanum. Aku tidak ingin dia jatuh ke tangan ayahnya, apalagi harus diurus oleh ibu sepertimu!" "Hey, aku juga bisa mengurus Shanum. Mendandani dia, mengikat rambutnya ketika akan ke sekolah, menyiapkan sarapan, dan yang pastinya biaya hidup dia akan terjamin hingga anak itu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Dia ingin jadi apa, mau seperti apa, dia tidak akan kekurangan, Ranum." "Hentikan omong kosongmu!" Aku berdiri dengan tatapan tajam ke arah Mawar. "Sampai kapan pun aku tidak akan sudi memberikan putriku pada orang lain! Silahkan urus putrimu sendiri, tidak usah berharap bisa mengambil alih tugasku pada Shanum!" ujarku lagi seraya menunjuk wajah cantik itu, lalu pergi meninggalkannya. Harus aku akui, Mawar memanglah cantik. Namun, sayang sekali, kecantikan paras yang dia miliki tidak secantik hatinya. Dia bahkan lebih keji dari seekor binatang yang dengan sadar menawarkan anaknya kepada orang lain. Sejak kejadian aku memergoki dia dengan Mas Sandi, tidak sedikit pun aku melihat ada rasa bersalah darinya. Kedatangannya menemuiku pun bukan untuk minta maaf, melainkan untuk menukar putrinya dengan anak yang lahir dari wanita lain. Allah ... masih pantaskah dia disebut ibu? Kakiku berhenti melangkah saat sudah sampai di samping Cahaya. Anak itu masih anteng dengan lukisannya yang hampir selesai. Wanita dengan kedua sayap di punggungnya yang kali ini dibuat Cahaya. Niat hati ingin membawa dia pergi, aku urungkan hingga anak itu menyelesaikan lukisannya. "Nda ...," ujarnya saat menyadari keberadaanku. Aku menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan untuk menghilangkan amarah yang masih tersisa gara-gara Mawar. "Sudah gambarnya?" tanyaku membungkukkan badan. "Sudah, Nda. Cantik, ya?" Cahaya memperlihatkan gambar itu padaku. "Cantik sekali, Sayang. Ini, Kakak, ya?" Cahaya menggeleng. "Ini, Bunda." "Bunda? Tapi, 'kan Bunda tidak punya sayap, Kak?" tanyaku. Aku duduk di samping Cahaya yang matanya bergerak ke sana kemari. Cahaya menyimpan kertas itu di pangkuanku, lalu memelukku dengan sayang. "Tapi, pelukan Bunda, hangat. Seperti burung yang memeluk anaknya dengan kedua sayap mereka. Hangat, hangaaat sekali," tutur Cahaya semakin mengeratkan pelukan. "Oh, Sayang ...." Aku membalas pelukan Cahaya, mencium ubun-ubunnya beberapa kali. Tidak terasa, air mataku berlinang dan jatuh di kepala anak tiriku ini. Ah, bukan. Dia bukan anak tiri. Dia anak dari surga yang Tuhan kirim untukku. Aku menoleh ke arah bangku yang tadi aku duduki bersama Mawar. Rupanya perempuan itu sudah pergi. Lihatlah, dia bahkan tidak ingin menyapa putrinya yang jelas-jelas ada di sekitar dia. Hatinya beku, perasaannya tertutup kabut kebencian yang tidak bisa menerima kenyataan. Sungguh disayangkan sikap wanita itu. Waktu kepulangan Shanum dari sekolah masih ada satu jam lagi. Aku memutuskan untuk pulang dulu ke rumah melihat Soni yang tidak memberikan kabar. Jangan-jangan dia tidur dan tidak menyelesaikan pekerjaannya? Awas saja jika itu benar-benar terjadi. "Om ... ayo nangkap kupu-kupu!" Cahaya berseru saat kami sampai dan melihat pria itu tengah duduk santai di teras rumah. Aku langsung turun dari mobil, berjalan mendekati dia yang langsung berdiri saat melihatku datang. "Sudah?" tanyaku. "Rebes, Mbak. Gitu doang mah kecil," ujar Soni, kemudian menyerahkan ponsel yang aku siapkan khusus untuk memantau CCTV. Tidak apalah mengeluarkan uang tabungan yang lumayan banyak untuk membeli CCTV, juga membeli ponsel baru. Mudah-mudahan aku bisa mendapatkan bukti yang akan membuatku menang di pengadilan jika nanti Mas Sandi menuntut hak asuh Shanum. Aku tidak peduli dengan harta gono gini, aku juga tidak peduli dengan nafkah iddah, jika nanti aku mengajukan perceraian. Yang aku pedulikan anak. Shanum jauh lebih berharga dari harta dunia. "Om Oni! Ayo kita nangkap kupu-kupu!" ujar Cahaya lagi menarik-narik kaus yang dipakai pria itu. "Aduh ... nanti dulu nangkap kupu-kupunya, Ay. Om, laper belum makan ini." Cahaya merengut mendengar penolakan dari omnya itu. Kemudian anak itu masuk ke rumah dengan mengentakkan kakinya. Aku menatap Soni dengan mata tajam membuat laki-laki dua puluh lima tahun itu menggaruk tengkuknya. "Bujuk," kataku. "Aku beneran laper, Mbak. Di dapur cuma ada roti doang. Gak masak, ya?" Aku diam. Karena tadi pagi memang tidak memasak sama sekali. Suasana hatiku yang sedang kacau, membuatku malas untuk melayani Mas Sandi meski hanya memberikan dia sarapan pagi. Aku hanya membuat bekal untuk Shanum dan sarapan Cahaya saja. "Pantesan suami selingkuh, istrinya males gini." "Apa?" kataku saat Soni nyeletuk seraya lari ke dalam rumah. Karena Cahaya merajuk, Soni pun membujuk gadis itu dengan berbagai cara yang dia bisa. Sementara aku, memutuskan untuk memasak sambil menunggu kepulangan Shanum dari sekolah. Dua puluh menit berlalu, kini makanan sudah terhidang di meja makan. Soni langsung menghampiriku di meja makan saat aroma masakan masuk ke dalam hidungnya. Begitu pun dengan Cahaya. Gadis itu sudah kembali ceria, tidak lagi merengut seperti waktu kami pulang. Namun, Aya tidak ikut makan. Dia hanya memintaku memotong buah, lalu kembali ke ruang tengah untuk menonton kartun kesukaannya. "Makasih, Son. Aku berhutang budi padamu untuk pekerjaan ini," tuturku di sela suapan. "Gak usah makasih, Mbak. Aku melakukan ini karena dasar suka sama cinta." "Soni ...." "Hehe ... maaf, lidah ini suka jujur kalau di depan kamu, Mbak. Sebentar, aku ambilkan sesuatu untukmu." Aku melihat Soni yang meninggalkan meja makan dan kembali dengan sebuah amplop berwarna cokelat di tangannya. Soni menyimpan amplop itu di depanku, kemudian dia melanjutkan menyantap makanan yang terhidang di depannya. "Ini apa, Son?" tanyaku. "Mbak, lihat sendiri saja. Tapi, tarik napas dulu dan siapkan mental untuk melihatnya. Jika belum siap, sebaiknya tidak dilihat sekarang. Nanti pingsan, lagi." Aku berdecak. Aku tidak akan kaget lagi. Pasti di dalam amplop itu adalah gambar Mas Sandi dan Mawar yang tengah kencan. Makan di restoran, atau belanja barang mahal. Atau ... foto mereka yang sedang di kamar tidur? Itu tidak akan membuatku kaget. Karena aku sudah pernah melihatnya secara langsung. "Doa dulu, Mbak. Minimal doa tolak bala, gitu," ujar Soni lagi saat aku mulai membuka amplop. Aku tidak mengindahkan ucapan pria itu. Tanganku merogoh isi amplop, menarik kertas di dalamnya hingga keluar dan .... Tubuhku tiba-tiba kaku. Mataku terpaku pada gambar yang tidak aku sangkakan sebelumnya. Bukan lagi belati yang menancap di ulu hati. Rasanya seperti dibawa terbang tinggi, lalu dihempaskan pada bambu runcing di dasar jurang. Hancur. Benar-benar hancur. "Allahu Robbi ...." Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN