Aroma kopi menguar memenuhi indera penciuman. Semilir angin berembus membelai kulit wajah serta rambutku. Langit mulai menghitam tanda air akan turun dari sana. Aku memejamkan mata menikmati udara sejuk yang menenangkan pikiranku ini. "Mbak." Mataku terbuka. Menoleh pada pria yang menggenggam gelas cup berisikan kopi hitam miliknya. "Hem." Aku bergumam. "Aku merasa ganjal dengan kecelakaan yang menimpa Cahaya. Menurut Mbak, ini real kecelakaan, atau dicelakai?" Aku diam mencerna ucapan Soni yang terdengar menuduh. Jika dicelakai, hanya ada satu orang tersangka yang terlibat. Mawar. Mungkinkah dia tega melakukan kejahatan pada putrinya sendiri? "Di mana letak kesengajaan itu, Son?" tanyaku akhirnya. "Tadi aku pergi ke rumah Mas Sandi untuk melihat tempat yang katanya Cahaya

