"Kenapa, Bunda?" tanya Shanum melihatku yang terkejut. Aku menatap Shanum dengan tatapan kosong. Ponsel hampir saja jatuh karena tangan yang bergetar saking kagetnya. "Bunda," ucap Shanum lagi seraya mengusap pipiku. "Tidak ada apa-apa, Nak. Shanum, masuk, ya? Sarapan di kelas sama Bu Safira. Tiba-tiba Bunda teringat sesuatu," ucapku seraya membereskan bekal anak itu. "Katanya kita mau nungguin seseorang, mana kok, gak datang-datang?" "Emh ... gak jadi, Nak. Mereka gak jadi datang. Sudah, Shanum masuk, gih. Bunda harus pulang, Bunda lupa matikan kompor, Sayang. Kalau Bunda tidak segera pulang, nanti rumah kita kebakaran," kataku berbohong. Dengan raut wajah kecewa, Shanum keluar dari mobil dengan menenteng tas bekalnya. Dia melambaikan tangan padaku, lalu berlalu masuk ke dalam

