Aku sedikit melebarkan mata, kemudian menggelengkan kepala seraya menyunggingkan senyum manis kepada suamiku itu. Iya, suami. Sampai detik ini, dia masih suamiku. Belum ada kata talak yang keluar dari bibirnya. Namun, tetap saja aku enggan berperan sebagai istri yang harus melayani suami. Rasanya sudah beda. Hambar. Tidak ada lagi cinta ketika menatap wajahnya. Yang aku lihat hanyalah pengkhianatan dia dengan Mawar. Mas Sandi manggut-manggut. Dia menegakkan tubuh seraya menarik napas dalam-dalam. "Yah, sudah aku duga kamu tidak akan menginginkannya. Aku cukup tahu diri akan kesalahanku. Tapi ... bolehkah aku mengucapkan sesal?" Aku sedikit tersentak dengan ucapannya. Namun, kembali aku tersenyum dengan mata menatap pada sepasang netra yang begitu mirip dengan Shanum itu. "Sesal

