Bab 21 Penyesalan Sandi

1663 Kata

POV SANDI "Bisa, gak kalau sudah menggambar, bekasnya beresin lagi?!" ujar Mawar berteriak seraya memungut kertas dan pensil yang berserakan di lantai. Pemandangan ini sudah tidak asing lagi bagiku. Hal yang tidak pernah aku lihat sebelum Ranum pergi dari rumah ini. Teriakan Mawar, marahnya dia, sudah jadi makanan yang setiap hari aku dengar. Rumah menjadi sangat rame dan berisik. Namun, di sini. Di dalam hati ini ada yang hilang. "Mandi! Astaga Cahaya .... mandi! Dari tadi di suruh mandi, susahnya minta ampun. Apalagi disuruh mati!" "Hey! Apa-apaan, sih kamu ini kalau ngomong gak pernah dijaga? Bisa, kan bicara dengan pelan dan lembut? Kupingku, tuh sakit dengar kamu teriak terus," ujarku keluar dari ruang makan. Baru beberapa suap nasi yang masuk, rasanya laparku sudah hilang.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN