Pesona Sang Madu 10
Zahra hamil
Sebulan kemudian,
Zahra berlari menuju kamar mandi sambil menutup mulutnya.
Brakk ....
Pintu kamar mandi tertutup dengan cepat sampai menimbulkan suara keras saat daun pintu beradu dengan kusen plastik yang bewarna biru muda tersebut.
"Zahra kenapa?" tanya Rasyad, Lyra menggeleng karena ia juga tidak tahu kenapa Zahra seperti itu.
"Gak tau, Bang. Tadi biasa-biasa aja." Mata Lyra masih menatap ke pintu kamar mandi yang masih tertutup.
"Coba kamu lihat, Dek!" Perintahnya.
Lyra berdiri dan menyusul Zahra. diketuknya pelan pintu kamar mandi.
"Dek ...." Lyra memangil dari luar.
Tidak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka.
"Dek, kamu sakit? Wajahmu pucat sekali." Lyra mengusap wajah Zahra dan membimbingnya ke luar kamar mandi.
"Pusing, Mbak." jawabnya. Kedua tangannya mengenggam erat tangan Lyra. Terasa kalau telapak tangan Lyra basah oleh keringat.
"Kamu kurang tidur, ya?" tanya Lyra lagi kemudian ia menuntun Zahra untuk berjalan menuju kamarnya.
"Nggak, malah aku tidur nyenyak tadi malam. Pagi tadi juga tidak apa-apa. Ini saja, pas mau sarapan mendadak pusing ... dan mual." ujarnya.
"Kita ke dokter, ya?" ajak Lyra.
"Gak usah, Mbak. Aku tiduran aja. Siapa tau habis tidur, enakan." tolak Zahra sambil menidurkan tubuhnya di kasur.
"Baiklah, nanti kalau masih lemes bilang mbak ya. Kita ke dokter."
"Iya, mbak."
Setelah bangun, Zahra sudah kembali seperti biasa. Dia tidak merasa pusing dan mual lagi. Jadi Lyra beranggapan, kalau Zahra hanya masuk angin biasa.
Namun, esok paginya, Zahra kembali mual dan muntah saat mau sarapan. Lalu, Lyra berinisiatif membawa Zahra ke dokter.
Mereka ke dokter bersama sekalian dengan Rasyad mau ke kantor. Lyra dan Zahra di antar ke klinik tidak jauh dari kantor Rasyad, setelah menurunkan mereka di depan klinik, Rasyad langsung menuju kantornya.
“Kami nanti pulang naik ojol saja ya, Bang.” kata Lyra sebelum ia turun dari mobil.
“Jadi abang tidak perlu izin lagi untuk mengantarkan kami pulang.” Lanjutnya kemudian ia meraih tangan Rasyad dan menciumnya.
“Iya, hati-hati ya dek.” jawab Rasyad sambil mengusap kepala Lyra. Zahra yang duduk di kursi belakang memandang mereka dengan tatapan yang tidak suka.
“Iya ... Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Lyra dan Zahra duduk di ruang tunggu poli umum setelah melakukan pendaftaran. Keadaan klinik belum terlalu ramai karena masih pagi. Hanya ada beberapa orang yang mengantri, masing-masing ditemani oleh salah seorang anggota keluarganya.
Ponsel Lyra berbunyi. Tulisan ‘My Lovely Hubby’ tertera di layar ponsel. Segera Lyra menggeser tombol hijau ke samping kanan untuk menjawab panggilannya.
"Hallo, Assalamu'alaikum, bang."
"Wa'alaikumsalam, Dek. Gimana Zahra?"
"Belum diperiksa, Bang. Masih menunggu dokter, kami nomor antrian tiga. Abang sudah di kantor?"
"Sudah, baru saja sampai. Nanti kabari abang, ya, Dek!"
"Iya, Bang. Nah, itu dokternya sedang menuju kesini." ucap Lyra karena melihat seorang lelaki dewasa memakai snelling putih dengan menenteng tas hitam dan diikuti oleh seorang perawat memakai seragam biru berjalan dibelakangnya.
"Udah ya, Bang. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." jawab Rasyad mengakhiri pembicaraan kami.
Tiga puluh menit kemudian, seorang perawat memanggil nama Zahra. Merekapun masuk kedalam ruangan. Zahra dibantu oleh seorang perawat memeriksa berat badan dan tekanan darah, lalu ia diminta berbaring di tempat tidur yang sudah disediakan untuk diperiksa dokter.
Setelah menjawab beberapa pertanyaan dari dokter, dokter meminta perawatnya untuk membawa Zahra ke bagian Poli Kebidanan dan Kandungan. Saat itu, hati Lyra mulai bertanya-tanya, "Kenapa Zahra dipindahkan ke poli kandungan? Apa Zahra hamil?"
Sepanjang perjalanan di lorong menuju Poli Kebidanan dan Kandungan, Lyra berdoa, semoga saja hasil pemeriksaan nanti menyatakan jika Zahra hamil, jika memang demikian, itu artinya tidak lama lagi ia akan memiliki anak. Lyra tersenyum senang sambil melirik ke arah Zahra yang berjalan bersisian dengannya.
Tidak seperti Poli Umum, Poli Kandungan lebih ramai. Namun dokter yang praktek dibagian ini lumayan banyak, jadi pasien tidak perlu khawatir menunggu lama untuk dapat giliran.
Karena Zahra mendapat rujukan dari poli umum, mereka tidak perlu melakukan pendaftaran dan mengantri, dengan diantar perawat bagian umum tadi, kami bisa langsung masuk ke dalam menemui dokter kandungan.
"Suaminya kenapa tidak ikut?" tanya dokter tersebut, sambil menggerak-gerakan sebuah alat di atas perut Zahra. Ia berucap sambil terus menatap layar datar yang tergantung di dinding.
"Suaminya sedang kerja, Dok. Saya kakaknya." Dengan cepat, Lyra menjawab pertanyaan dokter tersebut.
Dokter tersebut berbalik kemudian duduk di kursinya, lalu seorang perawat membantu Zahra membersihkan sisa gel di perut dan membantu Zahra untuk bangun.
"Hhmm ... Begini. Usia kandungannya baru 4 minggu. Saya akan resepkan obat, vitamin dan penguat janin." Dokter yang memeriksa Zahra tadi menulis sesuatu di kertas resep.
"Dijaga kandungannya, pusing, mual dan muntah di pagi hari itu biasa di trimester pertama ini. Usahakan minum s**u dan makan makanan bergizi." Lanjut dokter yang berkaca mata tersebut. Dia tersenyum ramah dan menyalami kami untuk memberi selamat. Lalu perawat menyerahkan kertas resep yang harus Lyra tebus di apotik klinik.
Bagi Lyra, ini adalah berita yang paling bahagia yang ia terima selama empat tahun terakhir ini. Matanya sampai berkaca-kaca karena menahan haru di dalam d**a. Lyra sangat senang, seolah-olah yang hamil itu dia, bukan Zahra.
Tidak hentinya Lyra mengucapkan kata syukur pada tuhan atas rahmat yang diberikan Nya melalui Zahra. Rasa yang teramat sakit yang ia rasakan pada malam itu, menguap begitu saja ketika mengetahui kehamilan Zahra.
Lyra bersyukur.
Lyra berbahagia.
Lyra ikhlas dengan semua kenangan pahit malam itu.
Lyra benar-benar bahagia.
Kemudian ia menghubungi Rasyad untuk menyampaikan berita bahagia tersebut. Dan respon Rasyadpun sama, suaranya bergetar mengucapkan syukur ketika Lyra mengabari kehamilan Zahra.
"Dek, tunggu disana ya! Biar abang yang antar kalian pulang." Rasyad meminta Lyra untuk menunggunya di klinik, ia sendiri yang akan mengantarkan mereka pulang ke rumah.
Mobil Rasyad berhenti pas di depan pintu masuk klinik. Lyra dan Zahra langsung menghampiri. Rasyad buru-buru turun dari mobil, berlari kecil menyusul kami yang sedang berjalan ke luar klinik.
Tiba-tiba saja, Rasyad langsung memeluk Zahra. Dia memeluk Zahra dan mengabaikan Lyra yang berdiri disamping mereka. Beberapa pasang mata melihat ke arah mereka, seolah mereka adalah sepasang manusia yang sedang meluapkan kerinduan karena sudah lama tidak bertemu. Lyra yang berdiri di sampingnya merasa menjadi orang asing yang tidak berarti apa-apa.
“Bang ....” Lyra menepis rasa cemburu dengan memanggil Rasyad.
Rasyad tertegun dan sadar dengan keadaan, lalu mengurai pelukannya. Rasyad menjadi kikuk dan salah tingkah menatap Lyra. Dia kemudian tersenyum, lalu mengenggam tangan Lyra.
"Ayo kita pulang." ajaknya.
Lyra mengangguk, menggamit tangan Zahra dan membantunya naik ke dalam mobil.
"Kita makan dulu ya. Belum ada yang makan kan?" tanya Rasyad.
"Adek masih kenyang, Bang. Sudah sarapan tadi. Zahra yang belum makan." jawab Lyra, lalu aku melihat ke kursi belakang tempat Zahra duduk.
"Kepengen makan apa, dek? Biar sekalian kita beli." tanya Lyra.
"Aku gak pengen makan apa-apa, Mbak." jawab Zahra.
"Ya udah, kita ke mini market saja. Beli s**u dan cemilan. Sekalian nambah isi kulkas yang sudah kosong." ujar Rasyad berinisiatif, ia langsung membelokkan mobilnya ke minimarket.
*
Mobil Rasyad memelan ketika memasuki pekarangan rumah, setelah keluar di minimarket tadi akhirnya mereka makan juga di Saung Sunda yang tidak jauh dari minimarket tempat mereka berbelanja.
Mobil berhenti tepat di depan teras rumah, Lyra membantu Zahra turun dari mobil dan membawanya masuk kedalam rumah. Sementara Rasyad mengeluarkan semua barang belanjaan dari bagasi mobil dan membawa nya ke dalam rumah.
"Kamu istirahat saja ya, Dek. Ingat pesan dokter tadi, kandunganmu masih lemah jadi jangan terlalu capek." kata Lyra.
"Iya, makasih ya, Mbak."
"Kalau mau apa-apa, bilang sama mbak. Jangan sungkan. Kepengen makan apa, tinggal sebut saja, nanti biar mbak masakin." Zahra mengangguk mengiyakan.
Zahra telah diantar Lyra masuk ke kamar untuk beristirahat. Kemudian Lyra juga masuk ke kamarnya di lantai dua untuk mengganti pakaian yang dipakainya tadi dengan pakaian yang lebih santai sementara Rasyad masih mengambil beberapa belanjaan yang masih tertinggal di bagasi mobil.
Usai ganti baju dengan daster, pakaian kebesaran Lyra jika berada di rumah, Lyra keluar kamar hendak membantu Rasyad membereskan belanjaan dan menyimpannya ke dalam kulkas.
"Bang ...." Lyra memanggil. Tidak ada tanda-tanda jika Rasyad ada di dapur. Lyra kemudian berjalan ke depan barangkali masih ada barang belanjaan yang mau diambil dari bagasi mobil.
"Bang ...." Lyra kembali memanggil. Rasyad juga tidak ditemukan di depan rumah.
Mobilnya masih terparkir di luar, itu artinya ia masih berada disini. Tapi dimana?
Jantung Lyra berdetak lebih cepat. Reflek ia melangkahkan kaki menuju kamar Zahra. Dari celah pintu kamar yang tidak tertutup sempurna, Lyra melihat mereka saling berpelukan. Lalu tangan Rasyad tampak sedang mengelus perut Zahra.
Nafas Lyra menjadi sesak. Dadanya naik turun menahan gelombang cemburu. Haruskah ia menangis menyaksikannya? Menyaksikan dua orang yang sedang berbahagia karena sebentar lagi akan memiliki buah hati?