Meminta Maaf

1143 Kata
Pesona Sang Madu 9 Meminta Maaf     Silau, Sinar matahari yang masuk lewat celah gorden jendela kamar menyilaukan mata Lyra. ia berusaha menutupi matanya dengan selimut supaya sinarnya tidak menganggu tidurnya.   Tidak lama kemudian, Lyra menyibak selimut dengan cepat. Meraih ponsel yang ada di nakas kiri ranjang.   Astagaaa, ditepuk pelan kepala yang masih sedikit nyeri, subuhnya terlewat begitu saja efek tidur lewat tengah malam. Bergegas ia menuju kamar mandi, mencuci muka seadanya dan mengambil wudhu lalu mengerjakan sholat yang entah apa judulnya. Meskipun sudah telat, ia tidak ingin meninggalkan kewajibannya begitu saja.   Usai shalat, Lyra melipat mukena beserta sajadah lalu meletakkan kembali ketempatnya semula, ia melihat sisi kasur yang biasanya di tiduri Rasyad lalu meraba sprei yang masih licin tersebut. Dingin, dan tidak kusut sama sekali. Apakah Rasyad tidak kembali ke kamar tadi malam? Apa dia tidur sampai pagi di kamar Zahra? Kembali dadanya sesak membayangkan mereka tidur sambil berpelukan setelah sama-sama bersatu melakukan penyerahan diri dalam hubungan halal suami istri.   “Jadi dimana dia sekarang? Bukankah sudah waktunya sarapan dan berangkat ke kantor?” pikirnya.   Lyra melangkahkan kaki keluar kamar, menuruni anak tangga menuju lantai satu. Ia akan menanyakan kepada Zahra, siapa tau dia melihat Rasyad berangkat ke kantor.   Dan, sekali lagi ia di suguhkan pemandangan yang menyesakkan d**a. Di meja makan, Rasyad dan Zahra sedang sarapan bersama. “Mengapa aku tidak di ajak ikut serta? Apa tidak ada diantara mereka yang berniat membangunkanku dan bergabung bersama?” hatinya bertanya. “Bang Rasyad juga sudah rapi dengan pakaian kerjanya, padahal semua pakaiannya berada di dalam lemari kamar kami. Itu artinya, Bang Rasyad sempat masuk ke kamar untuk mandi dan berganti pakaian. Lalu, apakah ia mengacuhkanku? Menganggap aku benar-benar tidak ada? Atau berpura-pura lupa kalau ada aku, istrinya yang sebenarnya.” tanyanya lagi, masih di dalam hati.   Dengan berpura-pura tidak terjadi apapun tadi malam serta menguatkan diri, Lyra melangkahkan kaki menuju tempat mereka.   "Mbak, sudah bangun?" Zahra bangkit dan menyusul. Nampak rambutnya yang panjang masih sedikit basah bergoyang goyang mengikuti gerakan tubuhnya.   Lyra mencoba untuk tersenyum, lalu menarik kursi yang berada di samping Rasyad. Mereka sekarang duduk bersama mereka dimeja makan. "Masak apa, Dek?" tanya Lyra berbasa basi, padahal ia sudah melihat bubur ayam yang tinggal separo di mangkuk Rasyad. ‘Heumm, rupanya ia sudah mau makan sarapan yang di masak Zahra.’ Lyra membathin.   "Bubur ayam. Mbak mau? Aku ambilin ya?" tawar Zahra.   "Biar mbak yang ambil sendiri." Lyra berdiri dan menghentikan Zahra yang akan mengambilkan bubur ayam untuknya.   Lyra kembali duduk ditempat semula setelah mengambil mangkok yang berisi setengah bubur ayam. Meskipun bentuk dan tampilan bubur ayamnya mengunggah selera, tapi ia tidak bernafsu sama sekali. Pikirannya masih berkelana ke kejadian tadi malam. Rasyad juga, dia diam tidak bergeming padahal ia duduk disamping Lyra.   Kemudian Lyra melirik Rasyad yang ada di sampingnya, sama sekali Rasyad tidak berniat menegurnya pagi ini. Jangankan menegur, Rasyad bahkan cuek seolah Lyra tidak ada di sampingnya. Dia asyik dengan makanan yang ada di depannya, padahal dua hari yang lalu dia sama tidak mau makan makanan yang di masak Zahra. Namun pagi ini, dia tampak sangat menikmati makanannya dan melupakan Lyra yang ada di sampingnya.   "Bang, kerja hari ini?" Lyra mencoba bertanya dan mencairkan suasana yang terasa agak canggung.   "Iya." jawab Rasyad singkat tanpa menoleh pada Lyra.   Zahra yang duduk di depan memperhatikan mereka, dia nampak serba salah. Tidak lama kemudian, dia beranjak masuk ke kamarnya sehingga Rasyad dan Lyra punya waktu untuk berbicara.   "Bang .... Ma--"   "Aku berangkat dulu ya." Rasyad langsung berdiri dan menghentikan ucapan Lyra. Tapi Lyra tidak tinggal diam. diraihnya tas kerja yang berada tidak jauh dari tempat mereka duduk, Lyra membantu membawakannya keluar. Ia berjalan mengikuti Rasyad yang sudah mendahuluinya menuju mobil. Seperti biasanya sebelum berangkat kerja Lyra mecium punggung tangan Rasyad dengan takzim. Dan, untuk pertama kalinya selama mereka berumah tangga, Rasyad langsung masuk ke mobil setelah Lyra mencium tangannya. Biasanya ia membalas dengan mencium pipi atau puncak kepala Lyra.   Lyra meringis, sebisa mungkin ia tahan air mata yang sudah menggenang supaya tidak jatuh ke pipi. Setelah merasa agak tenang, ia kembali masuk ke dalam rumah.   Pintu kamar Zahra sedikit terbuka, Lyra mendekat dan ingin menanyakan sesuatu padanya.   "Dek, Lagi apa?" Lyra mengeetuk pintu kamar, meskipun ia bisa saja langsung masuk, tapi ia memilih menyapa terlebih dahulu.   "Mau ganti sprei, Mbak. Masuk saja!"   Lyra lalu mendorong pintu dan masuk kedalam setelah Zahra mengizinkannya.   "Kotor, dek?" tanya Lyra.   "I-iya Mbak. Anu ... Kena itu semalam." jawabnya ragu dan menunduk. Terlihat wajahnya memerah karena malu.   Baik! Lyra paham!   Tidak ada lagi yang mau ia tanyakan. Segera ia keluar kamar setelah Zahra meminta izin padanya untuk menggunakan mesin cuci.     ***     Siang ini, Lyra memutuskan untuk mengantarkan makan siang Rasyad ke kantor. Sengaja ia tidak mengabari terlebih dahulu, takutnya nanti Rasyad menolak jika Lyra memberitahunya terlebih dulu. Rantang kecil yang berisi nasi, ayam goreng sambel mantah dan lalapan sudah Lyra siapkan.   Lyra mengendarai mobil dengan pelan menuju kantor suaminya, selama diperjalanan ia berdoa semoga Rasyad tidak menolak kedatangannya.   Dia sampai saat jarum jam hampir menunjukkan jam dua belas siang. Sudah ada juga beberapa karyawan yang keluar untuk makan siang. Saat menunggu lift naik, ia berpapasan dengan Rasyad yang baru saja keluar lift. Rasyad memandangnya heran, karena memang tidak pernah Lyra mengunjunginya ke kantor untuk mengantarkan makan siang.   Kemudian Rasyad berbicara sebentar dengan dua orang temannya yang tadi ikut bersamanya turun, lalu dua orang pria yang usianya hampir sama dengan Rasyad tersebut berjalan menuju pintu keluar gedung. “Ada apa, dek?” tanyanya menghampiri. Tatapannya beralih ke rantang yang sedang Lyra pegang.   Wajah Rasyad berubah menjadi datar, biarlah, yang penting ia sudah kembali memanggil Lyra dengan sebutan ‘dek’, bukan “kamu” seperti tadi malam. Tanpa menunggu jawaban, ia membawa Lyra masuk ke dalam lift yang sudah terbuka, naik lagi ke kantornya di lantai 11.   “Tumben, adek membawakan makan siang?” katanya setelah kami berada di ruangannya.   “Adek minta maaf, Bang.” ucap Lyra. Kemudian ia membuka satu persatu rantang dan menatanya di meja segi empat yang berada di sebelah kanan meja kerja Rasyad.   “Hmmm ....” Rasyad duduk di salah satu sofa di depan Lyra.   “Abang maafkan adek kan?” tanya Lyra lagi sambil menyodorkan piring yang sudah berisi nasi dan lauk ayam.   “Jangan diulangi lagi ya, Dek! Adek kan tau, abang belum sepenuh hati untuk menikahi Zahra.” ucap Rasyad, lalu melahap makan siang yang Lyra sodorkan barusan.   “Iya Bang, maaf.” Senyum terbit di wajah Lyra.   Lyra bahagia, ia bahagia karena tidak hanya melihat Rasyad makan dan memaafkan kesalahannya tapi juga senang mendengar pengakuan Rasyad yang tidak ingin lagi ia melakukan kesalahan yang sama. Dan yang paling penting, ucapan Rasyad yang menyatakan kalau Rasyad belum sepenuh hati menerima kehadiran Zahra.   “Tentu saja, Bang. Tentu saja aku tidak akan mengulangi ide gila yang aku lakukan tadi malam. Tidak akan dan tidak akan pernah.” tuturnya kemudian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN