Pesona Sang Madu 8
Sakit, Menyaksikannya.
"Dek, nanti malam siap-siap ya." Tiba-tiba saja Lyra menemukan ide. Idenya sedikit gila dan terkesan tidak adil untuk Rasyad, namun tidak ada cara lain untuk mewujudkannya selain ide yang ia pikirkan saat ini. ia juga tidak mau menunggu sampai Rasyad jatuh cinta dulu pada Zahra, jika hal ini terjadi tentu akan memperumit masalah antara mereka.
Mungkin Lyra akan berlaku curang pada suaminya, tapi hanya ini jalan satu-satunya.
'Maafkan adek, Bang. Sekali lagi, semua adek lakukan untuk kita.’
***
"Apa ini gak keterlaluan, Mbak?" Zahra menatap ragu sama pakaian tipis yang ada dipangkuannya. Sebuah lingerie bewarna hitam.
"Gak ada cara lain, dek. Kamu ingin perjanjian kita cepat selesai kan? Mbak juga begitu."
"Tapi Mbak, aku takut Bang Rasyad marah. Ini pasti akan ketahuan. Aku gak yakin bisa melakukannya." Zahra meremas lingerie hitam yang Lyra berikan.
"Kamu ikuti saja yang mbak katakan. Bang Rasyad marah atau tidak, itu urusan mbak. Biar mbak yang urus, oke!" kata Lyra menenangkan.
Ya, mereka sekarang sedang berada di kamar Lyra. Pagi tadi Rasyad berkata akan pulang terlambat karena banyak pekerjaan. Lyra jeas sangat mengenal suami nya, dia akan meminta haknya jika sedang lelah, mood buruk atau ketika banyak pikiran. Seolah-olah hubungan suami istri itu berfungsi untuk meningkatkan sistem imun ditubuhnya. Dan firasatnya malam ini, Rasyad akan memintanya.
"Kamu pakai lingerie ini, dan tidurlah. Mbak kebawah dulu, mau istirahat juga." Lyra diam beberapa detik, kemudian ....
“Ingat dek, kamu harus berhasil. Mbak gak mau dengar kamu gagal. Kamu harus menaklukkan Bang Rasyad malam ini. Dia sudah sah menjadi suamimu, kamu tidak akan berdosa melakukan ini dengan suami sendiri." Kata Lyra penuh penekanan, ya, Lyra tekankan jika Zahra harus berhasil karena Lyra tidak mau menunda lagi rencana yang sudah mereka jalankan.
Lyra melangkah keluar dan menutup pintu kamar dengan pelan. Hatinya sedikit ngilu membayangkan ranjang di kamarnya yang menjadi saksi penyatuan cintanya dengan Rasyad, sekarang ditempati oleh Zahra. Ditempat itu juga nanti mereka akan melakukannya. Namun, Lyra berusaha untuk kuat dan ikhlas, bukankah dia sudah bertekad untuk merelakan mereka tidur bersama? Toh, dimana tempatnya tidak menjadi masalah bukan?
Mata Lyra tidak bisa terpejam, ia masih mondar mandir di kamar Zahra dengan perasaan tak menentu. Sesekali ia mengintip ke luar kamar menunggu kedatangan Rasyad. Hampir jam dua belas malam, belum ada tanda-tanda kalau Rasyad telah pulang. “Apakah begitu banyak pekerjaan di kantornya sampai ia belum pulang selarut ini?” bathin Lyra berkata.
Lyra menutup mulutnya dengan tangan kanan karena menguap, ia raih ponsel untuk menahan rasa kantuk dengan membuka media sosial berlogo biru. Aplikasi ini mungkin sudah satu tahun lebih tidak ia buka.
Lyra baca semua postingan teman di aplikasi tersebut setelah itu ia berlanjut ke aplikasi chatting, membaca beberapa pesan yang masuk yang belum sempat ia baca, dari sekian pesan yang ada, tidak ada pesan dari Rasyad yang memberi tau alasan ia belum pulang selarut ini.
“Kemana kamu, Bang?” tanya Lyra pada diri sendiri.
Tidak lama kemudian, Lyra mendengar suara mobil Rasyad memasuki garasi mobil di samping rumah mereka. d**a Lyra bergemuruh hebat, di saat mendengar langkah kaki suaminya berjalan menaiki tangga menuju kamar mereka. Lyra meremas ujung baju yang ia pakai, membayangkan kejadian apa yang akan terjadi setelah Rasyad menyadari jika perempuan berlingerie hitam yang tidur diranjang mereka bukan Lyra melainkan Zahra. Meskipun Lyra berharap, Rasyad tidak akan menyadarinya sampai yang Lyra dan Zahra harapkan sudah terlaksana.
Ditepuknya dengan pelan dadanya yang semakin sakit. “Sedang apa mereka sekarang? Apakah mereka sudah melakukannya?” Lyra membathin.
Pikirannya sudah berkelana kemana-mana, membayangkan Zahra tidur dipeluk Rasyad lalu mencium kepala bagian belakang perempuan itu, seperti yang biasa Rasyad lakukan padanya, Lalu ... Akh, sungguh Lyra tidak sanggup membayangkan nya.
Dipeluknya bantal dengan kuat tatkala air mata sudah jatuh ke pipi. Lyra berdoa meminta kekuatan kepada tuhan supaya ia sanggup dan kuat menerima kejadian malam ini.
Brakk ....
Lyra terlonjak, pintu kamar Zahra di buka dengan paksa. Disana, berdiri Rasyad dengan mata dan wajah yang memerah serta rahang yang mengeras. Tangannya di kepal, matanya memandang Lyra sangat tajam, sampai Lyra gemetaran dan menunduk karena takut melihat wajah Rasyad.
Kemudian Lyra bangkit dengan cepat, ia mengumpulkan keberanian untuk menghampiri Rasyad yang masih berdiri menatap tajam ke arahnya, terlihat Zahra berlari tergopoh-gopoh menuruni tangga sambil membenarkan pakaiannya.
"Apa maksud, kamu?" kata Rasyad dengan lantang.
Deg!
Kamu?
Tidak pernah Lyra mendengar Rasyad memanggil nya dengan sebutan 'kamu'. Meskipun dalam keadaan marah sekalipun, ia selalu memanggil Lyra dengan panggilan ‘adek’.
"Apa maksudmu?" tanyanya lagi, kali ini suaranya sedikit membentak. Lyra memejamkan mata karena takut.
"B-Bang .." Suara Lyra tercekat.
Rasyad mendekat. Wajahnya sudah tidak semerah tadi, Lyra lega dan mulai mengangkat wajah untuk melihatnya. Zahra masih berdiri ketakutan di dekat pintu melihat apa yang akan dilakukan Rasyad pada Lyra.
"Apa yang kamu inginkan, dek?" tanyanya melembut.
"Bang, A-aku hanya ingin abang ti--"
Belum sempat Lyra melanjutkan perkataannya, Rasyad menarik tangan Lyra dan membawanya ke luar kamar. Diluar dugaan, setelah Lyra berada di luar kamar, Rasyad menarik Zahra, membawa gadis muda itu ke dalam kamar lalu menutup pintu kamar dengan keras dan menguncinya dari dalam.
Lyra memandang pintu kamar yang sudah tertutup dengan tatapan nanar, dikumpulkannya tenaga untuk mendekat lalu menempelkan daun telinganya ke pintu kayu tersebut.
Lagi, dadanya bergetar dengan hebat diiringi rasa sakit yang menjalar saat ia mendengar suara yang .... Entahlah, ia tidak sanggup mengucapankanya. Yang pasti, saat ini mereka benar-benar sedang melakukannya. Melakukan persis seperti apa yang ia harapkan.
Air matanya jatuh, tubuhnya sudah luruh ke lantai duduk bersandar di pintu kamar mereka. Ingin rasanya Lyra naik ke kamarnya di lantai dua, tapi ia tidak bisa. Kakinya tidak sanggup untuk di gerakkan saking lemasnya.
Setelah tidak mendengar apa-apa lagi dari dalam kamar, Lyra mencoba berdiri, mengumpulkan tenaga menuju tangga untuk naik ke kamarnya. Tidak hanya hatinya yang terasa sakit malam ini, tetapi juga seluruh tubuhnya.
Tidak hentinya air mata mengalir di pipi Lyra, lalu ia merebahkan kepala ke bantal. Satu tangannya mengusap bantal kosong yang ada di samping. Bantal Rasyad.
“Akankah dia kembali ke sini? Tidur di sampingku sambil memeluk tubuhku?” desisnya.
“Aku mengharapkan kedatanganmu, Bang! Saat ini, aku butuh pelukanmu. Aku butuh kamu.” Lyra berucap di sela tangisannya.
Lama Lyra menunggu, sampai harapan akan kehadiran Rasyad di kamar ini menguap begitu saja. Lyra benar-benar tidak bisa merelakan Rasyad tidur bersama perempuan lain, meskipun hanya satu malam. Lyra menderita karena itu. Ternyata, ia tidak sekuat yang ia bayangkan. Mengucapkannya saja yang gampang, ketika hal itu terjadi, justru ia merasa hancur berkeping-keping.
“Aku tidak mau lagi membagimu, Bang. Aku bersumpah, aku tidak akan pernah melakukannya lagi. Cukup malam ini aku menderita, malam selanjutnya aku yang akan selalu berada disampingmu. Ku pastikan itu!”
“Ya tuhan, semoga saja semua ini membuahkan hasil. Semoga saja Zahra bisa langsung hamil, sehingga tidak ada lagi malam pesakitan seperti malam ini.”
Lyra berucap sambil menguatkan hatinya yang masih terasa sakit.