Pesona sang madu 7
Jangan Menghindar, Bang!
“Lihat saja nanti, mbak yakin, jika Bang Rasyad sudah memakan masakanmu, dia pasti ketagihan.”
Ditatapnya wajah Zahra, ada rasa iba menyeruak di dalam hati Lyra. Bagaimanapun, Lyra bisa merasakan apa yang dirasakan Zahra sekarang. Penuh semangat menyiapkan masakan untuk seseorang, tapi orang itu justru tidak memakannya.
Jarum jam sudah menunjukkan di angka sebelas. Mata Lyra sudah mulai mengantuk. Lyra mencoba merebahkan dirinya di kasur, ia sudah tidak peduli lagi dengan rencana malam pertama Zahra dengan Rasyad-suaminya. Masih ada hari esok, karena itu, Zahra hanya berharap Rasyad pulang dalam kondisi baik dan sehat-sehat saja.
"Kamu ada dimana, bang? Pulanglah, Aku cemas menunggumu." Kata-kata itu terus saja terucap dari mulut Zahra, sampai ia merasa lelah dan mengantuk.
Lyra tertidur sebelum Rasyad pulang kerumah, Suara azan subuh membangunkannya pagi ini. Saat terbangun, ia melihat Rasyad sedang tidur di sampingnya. Entah jam berapa ia pulang tadi malam. Bahkan Lyra tidak mendengar sama sekali Rasyad masuk ke dalam kamar. Mungkin karena Lyra tertidur sudah larut malam makanya ia tidak tau kalau Rasyad sudah pulang.
Pelan dilangkahkannya kaki menuju kamar mandi, mengambil wudhu dan menunaikan kewajibannya. Selesai ia Sholat, Rasyad ternyata sudah bangun dan sudah berdiri di belakang Lyra, sedang menungguku Lyra selesai shalat dan kemudian mengambil posisi sholat di sajadah yang Lyra gunakan tadi.
"Bang, pulang jam berapa tadi malam?" tanya Lyra setelah Rasyad menyelesaikan doanya.
"Jam dua." jawab Rasyad sambil membuka baju koko yang dipakai untuk sholat dan menggantinya kembali dengan kaos rumahan yang dipakai sebelumnya.
"Abang pergi kemana? Adek sampai khawatir menunggu. Abang juga tidak bawa Hape, tidak bisa dihubungi." ujar Lyra lagi.
"Tempat teman, cerita-cerita saja. Malas di rumah." ucapnya tanpa rasa bersalah, perkataannya tidak sebanding dengan rasa khawatir Lyra tadi malam.
“Abang masih ngantuk, mau ulang tidur lagi, jangan bangunkan abang ya....” Kemudian Rasyad menidurkan tubuhnya kembali ke ranjang, menarik selimut dan memejamkan mata.
Lyra hanya memandang tubuh yang dibalut selimut yang sedang memunggunginya itu, sebegitu malaskah kamu dirumah, Bang? Tidak bisakah kamu memandang Zahra sebentar saja? Sampai apa yang kita impikan menjadi kenyataan, seorang anak yang berasal dari benihmu sendiri? Kalau sikapmu dingin seperti ini, kapan Zahra bisa hamil?
“Baiklah, mungkin kamu butuh waktu untuk menerima kehadiran Zahra. Adek akan bersabar, tapi jangan lama-lama ya, Bang. Biar kita cepat dapat momongan.” Lyra berbisik di telinga Rasyad dan ditanggapi dengan gidikkan bahu oleh suaminya karena Rasyad masih belum tertidur saat itu.
***
"Waahh, dek. Kamu sudah bangun?" Lyra melihat Zahra sedang mengeluarkan bahan makanan yang bisa di masak dari dalam kulkas.
"Iya mbak, aku sudah biasa bangun pagi dan membuka toko. Oh ya, mbak. Mbak setuju kan, kalau aku yang buat sarapan pagi ini." tanyanya.
"Ya, iyalah lah dek. Jelas mbak setuju. Mbak malah senang kamu gak canggung di rumah. Lama-lama mbak gak masak-masak nih, karena kamu masakin terus." ujar Lyra sambil tertawa kecil.
"Gak apa-apa mbak, biar aku yang masak. Mulai sekarang, urusan dapur biar aku yang handle soalnya aku bingung juga mau ngapain, biasanya pagi ini aku udah repot di toko. Mbak duduk saja ya." pintanya.
“Mau masak apa pagi ini, dek? Pakai pisang sama telur?” tanya Lyra sambil meraih kursi dan duduk dimeja makan.
“Banana Pancake, mbak.” jawabnya sambil mengacungkan sebuah pisang ke udara.
Dan, jadilah pagi ini Lyra duduk di meja dapur sambil melihat Zahra memasak. Sesekali Lyra mendekat dan melihat Zahra mengolah pisang, Lyra akui Zahra ahli dalam urusan dapur. Bahkan Zahra bisa mengalahkan keahlian Lyra yang tidak seberapa. Setelah memasak cemilan enak kemaren sore, menu makan malam dan pagi ini Lyra yakin, sarapan yang di masaknya juga dipastikan enak. Tidak butuh waktu lama, Banana Pancake made by Zahra sudah siap untuk disantap.
"Hhmm .. wangi banget dek. Kamu tata di meja ya, mbak mau bangunkan Bang Rasyad dulu. Kita sarapan bareng." Lyra beranjak untuk naik ke lantai dua, sepintas ia melihat Zahra tersenyum tipis menanggapi ucapan Lyra barusan.
"Loh bang? Bukannya hari ini masih cuti?" Lyra melihat Rasyad sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Padahal cutinya masih ada satu hari lagi, seharusnya besok baru masuk kerja.
"Banyak kerja di kantor dek, lagian di rumah abang juga bosan, gak ngapain-ngapain. Mending ke kantor, ada juga yang mau di kerjakan." ucapnya.
"Sarapan dulu ya bang." kata Lyra sambil merapikan dasi dan baju Rasyad, lalu ia membantu membawa tas kerja Rasyad ke luar.
"Kamu masak apa dek?"
"Zahra bikin Banana Pancake, sepertinya enak loh Bang."
Rasyad menghentikan langkahnya, lalu melihat ke arah Zahra sebentar.
"Abang udah telat dek, takut kena macet. Abang sarapan di kantor saja." katanya sambil mengambil tas kerja yang ada di tangan Lyra, lalu turun tangga dengan cepat dan langsung ke luar.
“Bang, setidaknya minum kopi dulu.” Lyra setengah berlari mengikuti Rasyad yang hendak masuk ke dalam mobil.
“Ahh, abang lagi gak ingin minum kopi.” tolaknya halus."Oh ya dek, nanti malam belum tau pulang jam berapa. Mungkin gak makan malam di rumah, sedang banyak kerjaan di kantor. Kamu makan malam saja duluan ya." Rasyad berkata sambil mengulurkan tangan kanannya, Lyra menyambut tangan kanan tersebut lalu menciumnya dengan takzim dan Rasyad membalasnya dengan mencium puncak kepala Lyra.
Lyra menghela nafasnya setelah mobilnya menghilang dari pandanganku. 'Sampai kapan kamu akan menghindar, bang? Sikapmu tidak hanya menyiksaku, namun menyiksa Zahra juga.' Bathinnya.
***
"Bang Rasyad tidak mau makan masakanku ya, mbak?" tanya Zahra, rupanya dia sudah berada di belakang Lyra.
“Oh, eh.. Bukan begitu dek, dia buru-buru karena sudah telat. Banyak kerjaan di kantor. Malam ini juga pulang malam, katanya. Ayo, kita berdua saja yang sarapan.” Lyra sengaja memberikan alasan Rasyad sudah telat kepada Zahra, supaya Zahra tidak kecewa untuk yang kedua kalinya.
"Kamu jangan berfikir buruk tentang Bang Rasyad ya dek. Dia memang gila kerja." lanjutnya kemudian.
"Tapi aku merasa, Bang rasyad tidak menyukaiku. Seperti menghindariku, Mbak."
"Hanya perasaan kamu saja, dek. Nanti, lama-lama kamu akan tahu juga seperti apa suami kita itu." Lyra menenangkan. Mereka sekarang sudah duduk berhadapan di meja makan, memakan Banana Pancake tanpa Rasyad.
Mbak, mengenai perjanjian kita .. "Zahra menggantung ucapannya.
Lyra menghentikan makannya, dilihatnya wajah Zahra yang berubah serius membicarakan tentang perjanjian yang mereka buat.
“Kenapa dengan perjanjiannya, dek?” tanya Lyra khawatir.
"Jika Bang Rasyad seperti ini terus, kapan perjanjian kita akan berjalan, mbak? Maksudku, aku juga tidak ingin lama-lama berada di antara mbak dan Bang Rasyad." Zahra menunduk setelah mengungkapkan isi hatinya.
Lyra sedikit lega mendengarnya, ia pikir Zahra ingin membatalkan perjanjian tersebut rupanya hanya khawatir perjanjian tersebut tidak berjalan semestinya.
"Dek, nanti malam siap-siap ya." Tiba-tiba saja Lyra menemukan ide. Idenya sedikit gila dan terkesan tidak adil untuk Rasyad, namun tidak ada cara lain untuk mewujudkannya selain ide yang ia pikirkan saat ini. ia juga tidak mau menunggu sampai Rasyad jatuh cinta dulu pada Zahra, jika hal ini terjadi tentu akan memperumit masalah antara mereka.
Mungkin Lyra akan berlaku curang pada suaminya, tapi hanya ini jalan satu-satunya.
'Maafkan adek, Bang. Sekali lagi, semua adek lakukan untuk kita.’