Pesona Sang Madu 6
Siapkan makan malam
Kemudian Lyra bergerak pelan masuk ke kamar mandi, membersihkan diri dan setelah itu ia berniat membuatkan Rasyad makanan yang dapat meningkatkan kembali hormon testosteronnya supaya Rasyad bisa melakukan malam pertama bersama Zahra.
“Masih ada waktu Lyra, ayo siapkan lagi semuanya.” gumamnya sambil menyemangati diri.
Lyra turun dan menuju dapur setelah mandi dan shalat ashar, Rasyad masih tertidur nyenyak. Lyra sengaja tidak membangunkan Rasyad, membiarkan ia beristirahat sejenak sebelum menghabiskan malamnya nanti bersama Zahra. Ternyata Zahra sudah berada di dapur, berkutat dengan wajan dan kompor yang sedang menyala, Zahra sedang memasak sesuatu, tercium dari aroma bawang yang Lyra cium.
"Masak apa dek?" Lyra menghampiri Zahra.
"Eeh, mbak. Maaf, aku pakai dapurnya. Aku bingung mau mengerjakan apa. Aku lihat ada banyak bawang bombay, jadi aku kepikiran untuk mengolahnya menjadi ini."
Zahra menyodorkan piring yang berisi makanan bulat berbentuk cincin, Lyra tidak tahu pasti namanya.
"Apa ini dek?" tanya Lyra.
"Onion ring. Mbak coba deh, selagi masih hangat, lebih enak dimakan sama saos atau mayonaise. Di kulkas aku lihat ada mayonaise, aku ambil ya mbak." jawabnya sambil berjalan menuju kulkas lalu mengeluarkan mayonise kemudian menuangkannya sedikit ke dalam piring kecil.
Lyra mencomot satu onion kemudian mencocolnya dengan mayonaise yang sudah di siapkan Zahra.
"Hhmm, enak dek, gurih. Ini beneran hanya bawang bombay?" tanya Lyra penasaran.
"Iya mbak, ini bawang bombay yang aku celup ke tepung instan crispy. Lumayan mbak, untuk cemilan sore." Dia tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih.
"Kamu pintar juga ya dek, mbak aja gak pernah kepikiran untuk bikin ini." kata Lyra tulus.
“ Aku pernah dibawakan istri Pak Hendra cemilan ini sewaktu jadi pelayan toko. Dari dia aku tau jika bawang bombay bisa dimasak jadi cemilan.”
Tidak terasa hampir dua jam Lyra dan Zahra bercerita. Lyra bahkan sudah melupakan tujuan awal nya yang ingin membuatkan sesuatu makanan peningkat hormon untuk Rasyad. Lyra baru teringat tujuan awalnya turun ke dapur saat Rasyad datang menghampiri mereka.
"Ambilkan minum dek." pinta Rasyad, lalu berlalu menuju ruang tengah. Tempat favoritnya ketika sedang di rumah, duduk di sofa sambil menonton televisi, melihat berita terkini.
Lyra membawakan segelas air putih hangat dan beberapa onion ring yang baru matang dalam sebuah nampan lengkap dengan mayonaise untuk cocolannya. Lalu Lyra duduk mengambil tempat di samping Rasyad.
"Abang baru bangun?" Lyra berbasa basi.
"Sudah dari tadi, tapi malas turun." jawabnya santai. Diambilnya air minum yang barusan kubawa, lalu meneguknya beberapa tegukan.
"Bang, jangan bicara seperti itu." Lyra berkata sambil berbisik, khawatir jika Zahra mendengarnya. Rasyad tidak merespon ucapan Lyra, malah ia langsung berdiri.
"Abang mau keluar, mau ikut?" tanyanya.
"Mau kemana, bang? Zahra gimana? Ikut juga?" tanya Lyra bingung, ia membayangkan satu suami membawa kedua istrinya jalan-jalan, akur dan terkesan lucu. Tanpa sadar, Lyra tersenyum sendiri membayangkannya.
“Kita saja.” ucap Rasyad lagi, masih dengan ekspresi datarnya.
Lyra sebenarnya tidak pernah menolak jika di ajak keluar oleh suaminya, tapi tidak mungkin juga baginya meninggalkan Zahra sendirian di rumah, sementara, Zahra baru saja datang dan tinggal bersama mereka. Sebelum menikah dengan Rasyad, Lyra menyewakan kamar kost untuk Zahra yang tidak jauh dari komplek tempat mereka tinggal sekarang.
"Owh, ya udah. Abang keluar dulu. Belum tau pulang jam berapa." katanya lagi tanpa menunggu jawaban Lyra yang bersedia ikut atau tidak. Lalu Rasyad keluar tanpa mengucapkan salam, bahkan oneon ring buatan Zahra yang Lyra suguhkan bersama air putih tadi tidak di sentuh Rasyad sama sekali.
Lyra cukup terpana melihat sikap Rasyad hari ini, tidak pernah ia bersikap dingin dan cuek, biasanya ia selalu bersikap hangat terhadap Lyra. Kenapa ia bisa bersikap dingin? Apakah Lyra salah jika mengajak Zahra untuk bergabung bersama mereka? Ini supaya mereka bisa lebih dekat dan tidak canggung satu sama lainnya. Toh, pernikahannya dengan Zahra terjadi atas izin nya, yaaahhh,,, meskipun ada sedikit paksaan dari Lyra, tapi semua yang Lyra lakukan murni untuk kebaikan mereka berdua, untuk kebahagiaan rumah tangga mereka.
Lyra menoleh kebelakang, rupanya Zahra sedang berdiri mematung sambil menatapnya di batasan dinding antara ruang tengah dan dapur. ‘Semoga saja dia tidak melihat yang telah terjadi antara aku dan Bang Rasyad tadi, Aku takut dia berfikir yang tidak bagus tentang Bang Rasyad.’ Lyra berucap di dalam hati.
"Zahra?? Dek, ngapain disana. Ayo duduk disini. Kita nonton Tivi." Lyra duduk kembali di tempat tadi, satu tangannya menepuk bagian sofa kosong di sebelahnya. Zahra berjalan mendekat mengampiri Zahra lalu mendudukkan pantatnya di sebelah Lyra.
"Mbak, apa bang Rasyad tidak menyukaiku?" tanyanya setelah duduk di samping Lyra.
"Kenapa kamu berkata seperti itu, dek?" Lyra menjawab pertanyaan dengan mengajukan pertanyaan lain.
"Aku merasa seperti itu, mbak." jawab Zahra.
"Kamu salah dek, Bang Rasyad orang yang sangat baik. Dia selalu menyukai siapapun yang dikenalnya. Dia juga tidak bisa menyakiti perasaan orang lain, apalagi perasaan perempuan. Terlebih lagi, perempuan itu istrinya."
"Dia orang yang penyayang, meskipun ada orang yang jahat padanya, dia dengan mudah bisa memaafkan. Mbak sangat beruntung punya suami seperti Bang Rasyad, meskipun mbak punya banyak kekurangan, Bang Rasyad seolah tidak memedulikannya. Meskipun mbak mandul, Bang Rasyad tidak pernah mengungkit masalah anak. Padahal, mbak tau kalau ia pasti sangat ingin memiliki seorang anak. Mbak meminta kamu menikah dengannya hanya karna mbak ingin dia memiliki keturunan. Seorang anak yang tidak akan pernah bisa mbak berikan." Lyra berkata dengan mata yang berkaca-kaca. Semua kata yang keluar dari bibirnya tulus berasal dari lubuk hatinya yang terdalam.
Berbicara dengan Zahra rasanya berbicara dengan adik sendiri, itu yang dirasakan Lyra. Lyra tidak menganggap Zahra sebagai adik madu yang pantas dicemburui. Zahra benar-benar Lyra perlakukan seperti adiknya sendiri, sesuai dengan janjinya pada Zaimah.
“Oh ya mbak, untuk makan malam ini, biar aku yang masak ya?”
“Kamu bisa masak?”
“Bisa, malah aku suka sekali masak.” Zahra mengangguk antusias.
“Oh ya? Kamu bisa masak apa saja?”
“Banyak, sebenarnya aku punya cita-cita untuk jadi chef. Trus aku mau buka kafe sendiri. Aku pengen punya usaha di bidang kuliner, Mbak.” jawab Zahra, wajahnya berbinar saat menceritakan cita-citanya.
“Kalau begitu, ruko yang mbak kasih ke kamu itu jadiin kafe aja. Kamu bisa jadi pengusaha sekaligus mengembangkan hobi kamu.” Lyra memberikan idenya.
“Benar juga ya, aku nanti bisa bereksperimen buat masakan baru.” ucapnya lagi, “Mbak, urusan dapur biar aku yang handle ya, pokoknya, mbak sama Bang Rasyad tinggal beres aja, tinggal makan.”
“Boleh, tapi mesti enak ya ....” ujar Lyra sambil mengacungkan jari telunjuk, seolah-olah ini sebuah perintah.
“Siap, bos!” Zahra mengangkat satu tangannya di kepala, memberi hormat layaknya bawahan yang patuh pada perintah atasan.
“Kalau begitu, aku eksekusi sekarang ya, Mbak. Mbak boleh jadi juri dan menilai setiap langkah memasakku.”
“Siapa takut. Ayo kita mulai! Mau masak apa? Biar mbak pesan dulu bahan-bahan nya di apliaksi online.”
Zahra menyebutkan bahan-bahan masakan yang dibutuhkan, Lyra memesannya. Lima belas menit kemudian, kurir datang membawa pesanan mereka.
Lyra dan Zahra berjalan beriringan menuju dapur. Makan malam ini adalah makan malam spesial yang disiapkan Zahra untuk Lyra dan Rasyad.
Lyra hanya duduk di meja dapur sambil memerhatikan Zahra memasak, sesekali ia berakting selayaknya chef yang sedang dinilai oleh chef senior.
***
Masakan sudah terhidang di meja, jam makan malam bahkan sudah lewat sepuluh menit. Lyra dan Zahra duduk di meja makan dengan pikiran masing-masing. Menu yang terhidang, sebenarnya dibuat khusus untuk Rasyad, tapi orang yang dianggap spesial belum juga pulang ke rumah. Lyra tidak bisa menghubunginya, karena ponsel Rasyad tertinggal di rumah.
Tiga puluh menit berlalu, orang yang mereka tunggu-tunggu tidak juga menampakkan batang hidungnya.
“Kita makan saja dek, mbak sudah lapar.” ucap Lyra. Ia memutuskan untuk makan berdua saja dengan Zahra. Zahra mengangguk, lalu mengambil dua piring dan menuangkan nasi beserta lauk yang dimasak tadi lalu menyodorkan piring yang sudah berisi nasi dan lauk ke Lyra.
“Hhmmm... Enak banget dek. Nanti ajarin mbak cara bikinnya ya.” Senyum terukir dari sudut bibir Lyra. Sementara Zahra tampak duduk termenung tanpa menyentuh makanan yang ada di depannya.
“Kamu kecewa ya?” Lyra bertanya.
“Sedikit, mbak.” jawabnya
“Lihat saja nanti, mbak yakin, jika Bang Rasyad sudah memakan masakanmu, dia pasti ketagihan.”
Ditatapnya wajah Zahra, ada rasa iba menyeruak di dalam hati Lyra. Bagaimanapun, Lyra bisa merasakan apa yang dirasakan Zahra sekarang. Penuh semangat menyiapkan masakan untuk seseorang, tapi orang itu justru tidak memakannya.