Menikah

1113 Kata
Pesona Sang Madu 5 Menikah "Ini kamar mu, Dek." Lyra membawa Zahra ke kamar yang sudah disiapkannya. Kamar yang akan di tempati Zahra berada di lantai satu, sementara kamar Lyra dengan Rasyad berada di lantai dua. "Makasih, Mbak." Zahra masuk ke kamar. Sebelum ia masuk ke kamarnya, dia melihat sepintas ke Rasyad yang sedang duduk di sofa ruang tengah. Lyra mengikuti Zahra masuk kedalam kamar dan meminta nya untuk mengganti pakaian, kebaya putih dengan rok batik yang dipakainya sewaktu akad barusan. "Kamu ganti baju dulu, mbak mau bicara sama Bang Rasyad, suami kita." ucap Lyra di ikuti anggukan kepala Zahra. "Oh, ya. Kamar mandinya di sana dan baju-baju kamu di simpan dalam lemari bagian sini ya!" Lyra menunjuk pojok kamar yang ada di depan mereka, memberitahukan kamar mandi dan menunjuk salah satu sisi lemari kayu yang ada di dekat pintu kamar mandi supaya Zahra menyimpan pakaiannya ke dalam lemari. “Semua pakaian Bang Rasyad, tetap disimpan di kamar kami. Ini hanya untuk kamu.” ujarnya memperjelas. Zahra kembali mengangguk, kemudian Lyra keluar kamar untuk menemui Rasyad dan memberi Zahra waktu untuk beberes diri setelah melangsungkan akad nikah di KUA pagi tadi. Ya, Rasyad sudah resmi menikahi Zahra. Sekarang dia memiliki dua istri yang tinggal di rumah yang sama. Sengaja Lyra memberikan Zahra kamar yang jauh dari kamar mereka. Kalian pasti tau kenapa Lyra memutuskan demikian. "Bang." Lyra merangkul Rasyad dari belakang. Diciumi bagian belakang kepala suaminya. Rasyad hanya diam tidak bergeming dengan perlakuan Lyra, tidak seperti biasanya yang senang diperlakukan seperti itu dan membalas mesra setiap pelukan dan ciuman yang aku berikan. "Bang, Kenapa Abang diam?" tanya Lyra. Rasyad mendesah, membuang nafasnya dengan kasar lalu kedua tangannya mengusap wajahnya. "Kamu masih tanya kenapa?” ucapnya dengan suara tertahan. “Berat Dek, abang tidak yakin bisa menjalaninya." Ia berkata sembari memejamkan kedua matanya. "Abang bisa, adek yakin Abang pasti bisa." Lyra mengeratkan pelukannya, menyalurkan kekuatan yang ia punya ke Rasyad. "Dek, jangan menganggap remeh pernikahan. Gadis itu sekarang menjadi tanggung jawab abang dan abang tidak yakin bisa adil pada kalian berdua." "Tidak perlu Bang, Abang tidak perlu berlaku adil. Status dia memang istri abang, tapi hanya sampai dia melahirkan anak Abang. Dan Abang tidak perlu berlaku adil padanya, Abang tidak perlu memperlakukannya seperti Abang memperlakukan adek, karna adek nanti yang akan membantunya, memenuhi semua kebutuhannya, sampai saat itu tiba. Sampai anak kita lahir dan Zahra bisa pergi jauh dari kita.” Lyra tersenyum lebar di akhir ucapannya. Pikirannya sudah sampai ke beberapa bulan kedepan, saat Zahra sudah memberikan anak pada mereka. Rasyad mencebik mendengar penuturan Lyra, lalu dia menyambar jas hitam yang terletak di lengan sofa kemudian berjalan menuju tangga, naik ke atas menuju kamar mereka mengacuhkan semua ucapan Lyra. Lyra menatap tubuh Rasyad yang dibalut kemeja putih lengan panjang dengan lengan yang sudah di gulung sampai ke siku. Tubuh itu, tubuh yang selama empat tahun ini menjadi tempat sandarannya, sekarang harus ia bagi untuk gadis yang sudah ia pilih, gadis yang akan memberikan keturunan pada suaminya, bukan, suami mereka. Terdengar air mengucur dari kamar mandi. Lyra segera menyiapkan baju ganti untuk Rasyad, baju kaos dengan celana pendek selutut. Dreeettt ... Dreetttt... Ponsel Rasyad bergetar, setelah meletakkan baju dan celana ganti di pinggir ranjang, Lyra merogoh ponsel dari saku jas yang dipakai Rasyad saat akad tadi. Ia menggeser tombol hijau di layar ponsel, saat mengetahui siapa yang menelpon. "Assalamualaikum, Maa." "Waalaikumsalam, Lyra. Kalian sedang dimana? Dari tadi mama telepon gak di angkat-angkat Rasyad." Suara cemas mama terdengar dari seberang telepon. "Dirumah Ma, Abang sedang di kamar mandi." jawab Lyra. "Dirumah? Rasyad gak kerja? Apa dia sakit?" Kali ini mama tampak khawatir. Meskipun Rasyad sudah menikah, namun mama masih sangat memperhatikan anak semata wayangnya. "Tidak Ma, Abang sehat. Abang hanya mengambil cuti tahunan, sayang kalau cutinya gak diambil. Biar bisa istirahat dari kerjaan kantor meskipun hanya tiga hari." ujar Lyra menjelaskan, tentunya pernikahan Rasyad dengan Zahra tidak akan pernah Lyra sampaikan pada mertuanya. Memang benar, Lyra meminta Rasyad untuk cuti selama tiga hari tapi bukan karena ingin istirahat dari pekerjaan kantor melainkan karena menikah dengan Zahra. "Owh, ya udah. Mama pikir kenapa-napa karena dari tadi tidak jawab telpon mama. Heum, kalau cutinya lama, kalian pulang ya, mama sudah rindu, ingin bertemu kalian berdua." lanjut mama lagi. "Iya ma, nanti Lyra bicarakan sama Abang." “Ya udah, nanti kabari mama ya. Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumussalam.” Tidak lama setelah Lyra berbicara sama mama mertua, Rasyad keluar dari kamar mandi. Tatapannya terarah pada ponsel yang ada di tangan Zahra, lalu ia mengalihkan tatapannya berpura-pura tidak peduli dan mengambil pakaian ganti yang sudah Lyra siapkan. "Mama tadi yang nelpon, Bang." Lyra memberi tahu Rasyad sebelum lelaki yang sedang memiliki mood buruk itu bertanya. “Hhmmm ....” respon Rasyad sambil berpakaian. Lyra mengambil handuk yang diletakkan Rasyad di kasur, lalu ia membantu Rasyad mengeringkan rambutnya yang masih basah dengan mengusapkan handuk tersebut di kepala Rasyad. "Mama bilang apa?" tanya Rasyad sambil duduk di pinggir ranjang. "Kalau Abang cutinya lama, Mama meminta kita pulang. Katanya, Mama sudah kangen sama kita." Lyra menjawab sambil merapikan rambut Rasyad yang kusut karena handuk yang ia usapkan tadi. Rasyad menatap Lyra, lalu menarik perempuan itu ke pangkuannya. Tatapan mata mereka saling bertemu, jantung mereka berdetak lebih kencang dari biasanya. Ditambah dengan posisi mereka yang sangat intim dengan Lyra berada di atas pangkuan Rasyad. Kemudian tangan Rasyad terangkat, jemarinya mengelus kedua mata, pipi, hidung dan berhenti bibir Lyra. Pandangan Rasyad tidak lepas dari bibir mungil Lyra yang terpoles penuh dengan lipstik warna merah menyala, tatapan penuh gairah yang terpancar dari mata Rasyad mengikat Lyra agar terus berada dalam pelukannya. Entah siapa yang memulai duluan, mereka kemudian saling memagut penuh kehangatan dan menularkan rasa yang tidak bisa terungkapkan. Tidak ada yang menduga jika ciuman mereka tadi berakhir dengan penyatuan mereka di ranjang. Setelahnya, mereka tertidur saling berpelukan. Lyra tersentak dari tidur siangnya, ia mengangkat dengan pelan tangan Rasyad yang melingkar di atas perutnya. Rasyad masih tidur dengan senyum yang terukir dari sudut bibirnya. Dipandanginya wajah Rasyad, sudut bibirnya terangkat tatkala membayangkan yang baru saja mereka lakukan. “Kenapa aku bisa lupa kalau malam nanti adalah malam pertama Bang Rasyad bersama Zahra? Ahh ,, seharusnya ini tidak terjadi bersamaku, seharusnya Bang Rasyad melakukannya bersama Zahra. Jika sudah begini, apa masih memungkinkan bagi Bang Rasyad untuk melakukannya lagi nanti?” Lyra bermonolog di dalam hati. Ia mentertawakan dirinya yang dirasa cukup bodoh karena melupakan status suaminya yang baru saja menikahi Zahra. Kemudian Lyra bergerak pelan masuk ke kamar mandi, membersihkan diri dan setelah itu ia berniat membuatkan Rasyad makanan yang dapat meningkatkan kembali hormon testosteronnya supaya Rasyad bisa melakukan malam pertama bersama Zahra. “Masih ada waktu Lyra, ayo siapkan lagi semuanya.” gumamnya sambil menyemangati diri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN